Oleh: Ali Usman | Kompas, 13 Oktober 2024
Kepada
orang Indonesia yang mengaku diri keturunan Yaman, “habib” dan termasuk
para “muhibbin” (pengagum atau pecinta habib), dengan segala
atributnya, saat menonton laga Timnas U20 Indonesia vs Yaman beberapa
hari lalu, dukung siapa? Dukung Indonesia karena tinggal di sini, atau
dukung Yaman karena lebih cinta tanah leluhur? Cinta Indonesia atau
Yaman?
Pertanyaan-pertanyaan itu
juga dialami oleh penulis buku ini, Agustinus Wibowo, meski dalam
konteks berbeda. Dikisahkan, tahun 1989, saat Agustinus Wibowo masih
usia 8 tahun, sebagai keturunan Tionghoa, dihadapkan pada pilihan sulit,
dukung atlet China Yang Yang atau atlet Indonesia Ardy Wiranata, dalam
laga final bulu tangkis dunia di Istora Senayan, Jakarta? Lebin cinta
Indonesia atau China?
Dualisme
identitas pada diri Agustinus Wibowo membuat dirinya sejak kecil
dirundung pertanyaan besar: siapakah aku? Kalau saya orang China,
mengapa negeri leluhur itu masih jauh dan asing? Tetapi, kalau saya
orang Indonesia, mengapa setiap hari saya harus selalu diingatkan bahwa
saya adalah China? (halaman 13-14).
Agustinus
Wibowo, dalam kenangannya, bahkan sering diolok, China! China sipit!
Pulang ke negaramu sana! Orang asing! Bersamaan dengan itu, ia coba
menghadirkan kebanggannya sebagai orang China, yang menurut doktrin
keluarganya, dikenal sebagai orang pekerja keras, disiplin, cerdas, dan
berperadaban luhur.
Namun
demikian, saat usianya beranjak dewasa, umur 19 tahun, untuk pertama
kali Agustinus Wibowo pergi ke tanah leluhurnya, China. Setelah di sana,
apa yang terjadi? Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, bahkan lebih
buruk. Selama di China, ia bahkan dilarang berbaur dan tinggal bersama
warga asli China. Dan yang paling membuatnya terganggu, menurut
Agustinus Wibowo, orang-orang China “jorok”, punya kebiasaan (saat itu)
meludah sembarangan; meludahnya ekstrem, dengan bunyi seperti orang
menggaruk-garuk pangkal kerongkongan sekeras-kerasanya, lalu melontarkan
cairannya seperti hendak menembak musuh.
Atas
pengalaman di luar nalar tersebut, lagi-lagi Agustinus Wibomo
bertanya-tanya: apakah ia benar-benar berasal dari leluhur yang sama?
Sampailah pada kesimpulan, bahwa tanah itu ternyata tidak lebih dari
bayang-bayang imajinasi. Identitas hanyalah ilusi. Tak ada yang
benar-benar asli atau dalam entitas tunggal.
Agustinus
Wibowo dikenal sebagai penulis petualang yang memiliki ketertarikan
pada isu-isu identitas. Lahir dari keluarga minotitas etnik dan agama,
sejak kecil ia memendam banyak kegelisahan dan selalu merenung, mengapa
orang bisa saling bermusuhan karena perbedaan identitas? Pencarian
jawaban dari pertanyaanya itu membawa ke dalam perjalanan tidak hanya di
Indonesia, tapi juga melanglangbuana ke China, India, Pakistan, Asia
Tengah, Mongolia, Papua Nogini, Belanda, Suriname, dan lain sebagainya.
Ia bahkan sempat tinggal di Afghanistan selama hampir tiga tahun sebagai
jurnalis.
Meski buku setebal 667
halaman ini berangkat dari pengalaman personal penulisnya, tetapi
pikiran pembaca dibawa ke persoalan-persoalan lain yang jauh lebih luas.
Problem identitas tidak hanya individu, tapi juga kelompok dan
kewargaan dalam kasus-kasus di berbagai penjuru dunia. Agustinus Wibowo
berhasil menggambarkan persoalan pelik itu dengan menggunakan perspekif
sejarah yang menyala kuat di satu sisi, dan refleksi diri—cogito ergo
sum: aku berpikir, maka aku ada, kata Rene Descartes—di sisi lain.
Mengapa
sejarah? Karena dengan menelusuri setiap peristiwa menggunakan kacamata
sejarah, menurut Agustinus Wibowo, kita akan tahu bahwa
identitas-indentitas yang dianggap penting sebenarnya terus berubah.
Identitas China tidak selalu komunis, dan bukan hanya komunisme. Sejarah
komunisme China yang tidak sampai seratus tahun itu hanya seujung kuku
dari ribuan tahun sejarah China. Begitu pula dengan Indonesia, tidak
selalu sebagai negara berpenduduk muslim tersebesar di dunia. Agama
besar yang paling mendominasi sejarah panjang peradaban Indonesia
justru agama Hindu dan Buddha.
Melalui
sejarah, dapat menjernihkan persoalan. Contoh kasus, konflik Islam
versus Barat, atau tepatnya Israel-Palestina, tidak bisa dilepaskan dari
konteks politik Timur Tengah. Pertama, runtuhnya kekhalifahan Utsmani.
Kedua, berdirinya negara Israel. Ketiga, situasi Perang Dingin yang
menjadikan Timur Tengah sebagai medan perang proksi antara Uni Soviet
dengan Amerika. Keempat, berebut lahan minyak. Dan kelima, konflik
internal di kalangan umat muslim sendiri, antara kelompok Sunni dan
Syi’ah (halaman 461-469).
Di
Jerman, saat masyarakatnya dipisahkan oleh Tembok Berlin, antara Jerman
Barat dan Jerman Timur, mucul persepsi, kedua kutub ini tak mungkin bisa
dipersatukan kembali. Masyarakatnya selalu bertanya: apakah kita
benar-benar berbeda dan harus diisolasi oleh tembok? Apakah masyarakat
di seberang tembok itu berbahaya sehingga perlu mengurung diri dan
dilarang berinteraksi? Bukankah sama-sama sebagai warga Jerman?
Puncaknya
pada 9 November 1989, ketika ribuan warga Jerman Timur membanjiri
perbatasan dan menuntut gerbang Tembok Berlin dibuka. Luapan massa yang
sangat mendadak itu membuat para penjaga perbatasan tidak bisa berbuat
apa-apa selain membukakan pintu gerbang dan membiarkan orang yang sekian
lama terpenjara di dalam negeri sendiri akhirnya berbas menginjakkan
kaki ke barat. Mereka akhirnya menemukan bahwa orang-orang di seberang
tembok ternyata sama sekali bukanlah monster menakutkan, melainkan
orang-orang biasa yang sama dengan mereka sendiri.
Sampai
di sini, dapatlah diketahui, bahwa persoalan identitas, yang semula
menjadi problem personal Agustinus Wibowo, bisa ditemukan pula pada
persoalan identitas kewargaan global. Agustinus Wibowo memang bukan
orang pertama yang merefleksikan soal identitas diri, tapi ia termasuk
orang yang berhasil, dengan menulis pengalaman personalnya itu, membuat
orang lain juga terlibat di dalamnya.
Tahun
1980-an awal, Ahmad Wahib pernah melakukan perenungan soal identitas
dan keagamaan dirinya. “Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan
sosialis. Aku bukan Buddha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan
komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah
yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai
suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari
kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat.
Memahami manusia sebagai manusia”, tulis Wahib dalam catatan hariannya.
Agustinus Wibowo melampaui Ahmad Wahib. Selamat membaca.
Judul : Kita dan Mereka: Perjalanan Menelusuri Akar Identitas dan Konflik Manusia
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, 2024
Tebal : 667 halaman