Showing posts with label jalaluddin rakhmat. Show all posts
Showing posts with label jalaluddin rakhmat. Show all posts

Abu Yazid dan Muridnya

Oleh: Prof  Dr. Jalaluddin Rakhmat

Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu.

Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, "Tuan Guru, saya sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan."

Bayazid menjawab, "Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.". Murid itu heran, "Mengapa, ya Tuan Guru?". "Karena kau tertutup oleh dirimu," jawab Bayazid. "Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?" pinta sang murid. "Bisa," ucap Bayazid, "tapi kau takkan melakukannya.". "Tentu saja akan aku lakukan," sanggah murid itu.

"Baiklah kalau begitu," kata Bayazid, "sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, "Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang." Lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, "Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!"

"Subhanallah, masya Allah, lailahailallah," kata murid itu terkejut. Bayazid berkata, "Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.". Murid itu keheranan, "Mengapa bisa begitu?"

Bayazid menjawab, "Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci, seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.". "Kalau begitu," murid itu kembali meminta, "berilah saya nasihat lain.". Bayazid menjawab, "Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!"

Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan takabur. "Hati-hatilah kalian dengan ujub," pesan Iblis.
Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya. Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt.

Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi saw, "Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?" Nabi menjawab, "Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber-istiqamah-lah kamu."

Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi. Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadat, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama.

Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata kepada Nabi, "Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah." Nabi hanya berkata, "Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya."

Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, "Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?" Sahabat yang ditanya menjawab, "Allahumma, na'am. Ya Allah, memang begitulah aku." Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi. Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, "Siapa di antara kalian yang mau membunuh orang itu?" "Aku," jawab Abu Bakar. Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, "Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku'."

Nabi tetap bertanya, "Siapa yang mau membunuh orang itu?" Umar bin Khaththab menjawab, "Aku." Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, "Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?" Nabi masih bertanya, "Siapa yang akan membunuh orang itu?" Imam Ali bangkit, "Aku." Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, "Ia telah pergi, ya Rasulullah." Nabi kemudian bersabda, "Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku…."

Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah. Selama di tengah-tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid Al-Busthami kepada santrinya.

- dari sini.

Doa Ibu untuk Anaknya

(Jalaluddin Rakhmat)

Ya Ghaffar, ya Rahim
Kau letakkan di rahim kami anak-anak ini
Kau amanatkan diri-diri mereka pada lindungan kasih-sayang kami
kau percayakan jiwa-jiwa mereka pada bimbingan ruhani kami
Kau hangatkan tubuh-tubuh mereka dengan dekapan cinta kami
Kau besarkan badan-badan mereka dengan aliran air susu kami

Tuhan kami, kami telah sia-siakan kepercayaan-Mu
kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu
hawa nafsu telah menyeret kami untuk menelantarkan buah hati kami
tidak sempat kami gerakkan bibir-bibir mereka untuk berzikir kepada-Mu
tidak sempat kami tuntun mereka untuk membesarkan asma-Mu
tidak sempat kami tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi-Mu

Kami berlomba mengejar status dan kebanggaan
meninggalkan anak-anak kami dalam kekosongan dan kesepian
Kami memoles wajah-wajah kami dengan kepalsuan
membiarkan anak-anak kami meronta dalam kebisuan
Kami terlena memburu kesenangan
sehingga tak kami dengar lagi mereka menangis manja
sambil memandang kami dengan pandangan cinta
seperti dulu, ketika mereka mengeringkan air mata mereka
dalam kehangatan dada-dada kami

Dosa-dosa kami telah membuat anak-anak kami
menjadi pemberang, pembangkang, dan penentang-Mu
Dosa-dosa kami telah membuat hati mereka
keras, kasar, kejam, dan tidak tahu berterima kasih
Sebelum Engkau ampuni mereka, Ya Allah ampunilah lebih dahulu dosa-dosa kami

Ya Allah, berilah kami peluang untuk mendekap tubuh mereka
dengan dekapan kasih sayang kami
berilah kami waktu untuk melantunkan pada telinga mereka
ayat-ayat Alquran dan Sunnah Nabi-Mu

Berilah kami kesempatan untuk sering menghadap-Mu
dan memohon kepada-Mu seusai salat kami
untuk keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan anak-anak kami

Bangunkan kami di tengah malam untuk merintih kepada-Mu
mengadukan derita dan petaka yang menimpa anak-anak negeri ini.
Izinkan kami membasahi tempat sujud kami
dengan air mata penyesalan akan kelalaian kami

Ya Allah, ya Jabbar, ya Ghaffar
Anugerahkan kepada kami para pemimpin kami kearifan
untuk mendidik anak-anak negeri ini dalam
kesalehan Berikan kepada mereka petunjuk-Mu
sehingga mereka menjadi suri teladan bagi kami dan anak-anak kami
Limpahkan kepada mereka perlindungan-Mu
supaya mereka melindungi kami dengan keadilan-Mu
Jauhkan mereka dari kezaliman
sehingga kami dapat mengabdi-Mu dengan tentram dan aman

Ya Rahman, ya Rahim
Indahkan kehidupan kami dengan kesalehan anak-anak kami
Peliharalah anak-anak kami yang kecil
Kuatkanlah anak-anak kami yang lemah
Sucikan kalbu mereka
Bersihkan kehormatan mereka
Sehatkan badan mereka
Cerdaskan akal mereka
Indahkan akhlak mereka
Gabungkanlah mereka bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Mu
yang mencintai Nabi-Mu, keluarganya yang suci, dan sahabatnya yang mulia
yang berbakti kepada orangtuanya yang bermanfaat kepada bangsanya
yang berkhidmat kepada sesama manusia

Wahai Zat yang nama-Nya menjadi pengobat
yang sebutan-Nya penyembuhan
yang ketaatan-Nya kecukupan
sayangi kami yang modalnya hanya harapan
dan senjatanya hanya tangisan

Jagalah Otak Anda

Jagalah Otak Anda (Oleh KH. Jalaluddin Rakhmat)

dari http://bahteraijabi.org/jgotak.html

Di sebelah barat Amerika, pada masa Wild West, 13 September 1848. Sebuah kecelakaan bersejarah terjadi. Kecelakaan yang mengubah paradigma dalam kedokteran dan psikologi. Seperti dalam cerita-cerita cowboy, semuanya bermula dari pembangunan rel kereta api. Phineas Gage adalah yang punya lakon. Ia memimpin sekelompok orang yang bertugas meledakkan bukit dan bebatuan. Pada siang hari yang panas, Gage memasukkan mesiu ke dalam lubang di bukit batu. Secara tidak sengaja ia mendorong mesiu itu dengan batang besi yang pendek. Tiba-tiba mesiu meledak tepat di depan wajahnya. Batang besi itu menerobos masuk dari pipi kirinya, melintasi otak di belakang matanya, menyeruak ke luar batok kepalanya, dan mendarat kira-kira 23 meter di sampingnya. 

“Setelah luka kepalanya sembuh, Gage tampak hidup normal. Ia berbicara rasional dan kemampuan berpikirnya tampak utuh. Tapi segera orang melihat ada perubahan besar dalam dirinya. Dahulu Gage dikenal sebagai pengusaha yang sabar, energis, dan cerdas dengan “jiwa yang serasi”. Setelah kecelakaan, ia tampaknya kehilangan beberapa karakternya yang esensial. Ia menjadi kasar, berangasan, pemberang, temperamental.

Walaupun ia melahirkan banyak rencana, ia tidak mampu melaksanakannya. Menurut orang yang mengenalnya, “Gage bukan lagi Gage yang dahulu.” (Norman E. Rosenthal, The Emotional Revolution)
Sebelum kecelakaannya, pada usia 25 tahun, Gage mampu memimpin kelompok besar. Setelahnya, ia tidak mampu melakukan pekerjaan yang rutin. Ia mengembara ke segenap pelosok negeri tanpa ikatan personal dengan siapa pun. Pada usia 38 tahun, ia meninggal secara misterius setelah berkali-kali mendapat serangan kejang-kejang (tidak salah lagi karena kecelakaan itu). Kepalanya diawetkan”

Kecelakaan itu memperjelas hubungan antara apa yang terjadi pada otak dengan perilaku manusia. Sebagian kecil otak yang rusak karena batang besi itu telah mengubah perilaku dan akhirnya jalan kehidupan Gage. Dengan teknologi brain-scanning yang mutakhir, kepala Gage diteliti lagi. Dr Antonio Damasio, direktur Brain and Creativity Institute, Amerika, dengan timnya menyimpulkan bahwa perilaku Gage yang aneh terjadi karena kerusakan pada korteks prefrontal, bagian otak paling depan, tepat di belakang dahi. Semua pasien yang mengalami kerusakan pada bagian otak itu mengalami transformasi kepribadian yang mengenaskan. Mereka menjadi kasar, tumpul perasaan, pembual, dan gagal dalam hubungan interpersonal. Ketika bergaul dengan orang lain, ia mirip robot yang tanpa hati, tanpa rasa, juga tanpa kendali. Mereka bisa lulus dalam tes kecerdasan, tapi gagal dalam merencanalan masa depan. Mereka sulit mengambil keputusan. Rupanya, tanpa melibatkan emosi, kita tidak bisa menentukan mana yang harus kita lakukan. Salah seorang pasien Damasio, walaupun cerdas, tidak bisa menentukan kepan dan jam berapa ia ketemu lagi dengan dokternya.

Dahulu, diperlukan ada kecelakaan untuk mengetahui pengaruh otak pada perilaku manusia. Sekarang, berkat teknologi kedokteran mutakhir, kita dapat melihat kerusakan otak kapan pun. Di antara teknologi scanning yang menakjubkan adalah SPECT, singkatan “single photon emission computed tomography”. Anda tidak perlu menghapalnya dan tidak usah menerjemahkannya. Karena menyangkut emisi foton, wilayah yang membicarakannya termasuk kedokteran nuklir. Satu dosis kecil radioisotof diinjeksikan ke dalam darah. Darah mengalir ke dalam otak, membawa radioisotof itu. Berbeda dengan MRI dan CAT yang menunjukkan anatomi otak dan bagaimana otak kelihatan, SPECT merekam fungsi otak dan bagaimana otak bekerja. Kita dengarkan penjelasan Dr Amen, direktur rumahsakit dst, tentang SPECT: “Hasil SPECT sebenarnya sangat mudah dibaca dan dipahami. Kami melihat daerah-daerah dalam otak yang bekerja baik, daerah-daerah yang bekerja terlalu keras, dan daerah-daerah yang bekerja lamban.” Kerja otak yang bermacam-macam itu menimbulkan perilaku yang bermacam-macam.

Dr Daniel G. Amen mengumpulkan gambar hasil SPECT dari ribuan orang. Sebagai orang awam, saya terkesan dengan penampilan otak. Sama seperti wajah-wajah kita,” muka otak” pun bermacam-macam. Mulai dari muka yang paling jelek, yang tampak seperti monster, sampai pada muka yang paling cantik, yang enak dipandang. Anda sudah bisa menebaknya: Muka yang jelek adalah otak yang terluka; dan muka yang cantik adalah otak yang sehat. Amen menghubungkan perbedaan muka otak itu dengan perilaku. Muka yang jelek melahirkan perilaku yang –ia sebut- brain-driven. Muka yang baik menimbulkan perilaku yang will-driven.

Ketika otak Anda sehat, Anda bekerja produktif, mengambil keputusan dengan bijak, menetapkan tujuan, dan bergerak aktif untuk mencapai tujuan itu. Anda juga mampu mengendalikan diri, tahan menghadapi penderitaan, dan bergaul dengan orang tanpa menimbulkan gangguan pada mereka. Pada waktu haji Wada’, Nabi saw mendefinisikan Muslim. “Muslim ialah orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya.” Muslim, menurut neurologi dan ahli bedah otak, adalah orang yang otaknya sehat. Ia berperilaku dengan melakukan pilihan-pilihan, yang mendatangkan kebaikan kepada dirinya.

Ketika otak Anda terluka, bergantung pada bagian mana yang terluka, jalan pikiran Anda menjadi kacau. You trouble until the trouble troubles you. Kamu mengganggu orang sampai gangguan itu akhirnya mengganggu kamu juga. Perilaku kamu sudah berada di luar kontrol kamu. Kamu sepenuhnya dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa biokimia dalam otakmu. Dr Amen memberikan contoh tentang orang yang perilakunya brain-driven.

Karena pandangannya yang kontroversial –bahwa akhlak yang buruk disebabkan otak yang luka- para penegak hukum meminta Amen melakukan SPECT pada para pelaku kejahatan. Apakah ia melakukan tindak kekerasan karena will-driven atau brain-driven? Saya akan mempersilakan Dr Amen menceritakan salah satu kasus yang membawanya pada posisi saksi ahli:

Peter Chiesa, seorang suami yang berusia 62 tahun, telah bertengkar dengan tetangganya selama 12 tahun, karena masalah pohon yang condong ke rumah tetangganya. Mereka telah mengajukan masalah ini ke pengadilan. Tapi bahkan setelah ada keputusan pengadilan pun , pertengkaran itu tidak berhenti. Selama dua belas tahun ini tingkah laku Peter makin lama makin tidak rasional. Ia pernah mengalami luka otak ketika ia jatuh dari tumpukan jerami dan kehilangan kesadaran selama beberapa saat; ia juga mengalami strok dan jantungnya harus mengalami bypass. Bedah jantungnya itu sering dihubungkan dengan resiko kesulitan berfikir yang serius dan dementia awal.

Semua faktor ini sangat mungkin menyebabkan Peter makin paranoid dan mudah tersinggung. Ia berusaha berobat pada psikiater, dan istrinya yang dua belas tahun lebih muda, menjadi sangat keras mengawasinya. Pada suatu hari ketika istrinya sedang bekerja, Peter terbangun karena mendengar suara gergaji. Ia yakin tetangganya sedang memotong cabang-cabang pohon yang diperebutkannya.

Dengan murka, ia menelepon 911, kantor polisi. “Aku akan membunuh cewe-cewe bajingan,” ia berteriak pada operator. “Kalian harus segera mengirim orang ke sini.” Ia kemudian mengambil senjata Magnum berkaliber .357 dan menghadapi dua orang perempuan yang sedang menjarah pohonnya. Sambil ditonton oleh dua orang anak laki-laki, Peter menembak dan membunuh kedua perempuan itu.

George Wilkinson, psikiater yang mengevaluasi Peter untuk pembelaan, meminta saya untuk menscan otak Peter. Seperti dugaan semua orang, otaknya menderita kerusakan berat, terutama pada korteks prefrontal (pusat penilaian) dan lobus temporal (yang berusan dengan memori, stabilitas mood, dan agresi). Hasil scan diperlihatkan di pengadilan. Tujuannya bukan untuk membebaskan dia- itu tidak terjadi dan tidak boleh terjadi, terutama karena dengan dingin ia membunuh dua orang perempuan yang tidak bersalah dengan disaksikan oleh anak-anaknya- tapi untuk memperlihatkan kepada juri bahwa Peter bertingkahlaku tidak sebagai orang normal, yang bisa mengakses semua kemampuan mentalnya. Keputusan hakim padanya memang bisa jadi hukuman mati.

Ketika saya berdiri sebagai saksi, jaksa bertanya, “Dr Amen, apakah menurut Anda Mr Chiesa punya masalah serius pada korteks prefrontal, bagian otak yang merencanakan?”
“Benar, Pak,” jawabku.
“Tapi bukankah tindakan Mr Chiesa menelpon 911 sebelum membunuh menunjukkan perencanaan yang baik?” Jaksa bertanya dengan menyindir.
“Tidak!” Aku jawab dengan tegas. “Menelepon 911 menunjukkan perencanaan yang buruk. Betapa bodohnya menelepon 911 untuk merencanakan pembunuhan.” Saya melanjutkan. “Ketika kita tersinggung, banyak di antara kita yang ingin melakukan tindakan kekerasan seperti : “Aku bunuh mereka”, tetapi kita tidak akan menelepon 911 dan melakukan tindakan berdasarkan pikiran yang buruk. Kalau ia merencanakan dengan baik, ia akan mandi dahulu, makan sedikit, atau berjalan-jalan. Ia tidak akan membunuh perempuan di hadapan anak-anaknya dengan dingin, lalu menghabiskan sisa umurnya meringkuk di penjara hanya karena urusan cabang pohon yang digergaji.” Penuntut umum keberatan, tapi juri mendengarkan setiap perkataanku. Peter divonis membunuh tingkat dua (second degree murder) dan bukan membunuh tingkat pertama sehingga ia tidak dijatuhi hukuman mati (Daniel G. Amen, Making a Good Brain Great).

Peter Chiesa dan Phineas Gage mengalami perubahan tingkah-laku karena mengalami kerusakan otak pada korteks prefrontal. Otak Chiesa rusak karena benturan, dan otak Gage karena kecelakaan. Otak bisa terluka bukan hanya pada korteks prefrontal, tetapi juga pada bagian-bagian yang lain dengan akibat-akibat yang berbeda.

Seperti dicontohkan di atas, luka pada korteks prefrontal akan menyebabkan Anda sulit konsentrasi pada pekerjaan rutin, sulit mendengarkan, gagal menyelesaikan tugas, prokrastinasi (menunda-nunda), mudah beralih perhatian, impulsif (berkata atau bertindak tanpa berpikir lebih dahulu). Luka pada girus singulata membuat Anda cemas berlebihan, mudah tersinggung kalau terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda, gampang membantah atau menentang, mengulang-ulang pikiran negatif, menyimpan dendam, cenderung mengatakan “tidak” tanpa memperhatikan pertanyaannya.

Luka pada sistem limbik menyebabkan depresi, pikiran negatif, kehilangan kemampuan untuk menikmati hiburan, merasa putus asa akan masa depan, merasa tidak berdaya, tidak berharga, tidak berarti, bosan, ada perubahan pola tidur atau makan. Luka pada basal ganglia menyebabkan sering nerveus dan cemas, simptom ketegangan otot (sakit kepala, sakit-sakit tubuh), cenderung untuk meramalkan hal yang buruk, sensitif terhadap kritik, motivasi kerja yang berlebihan, diam terpaku menghadapi situasi yang mengancam. Luka pada lobus temporal mengakibatkan berubah-berubah mood dengan cepat, mudah tersinggung dan agresif, sering menafsirkan ucapan orang secara negatif, mudah panik tanpa alasan yang jelas, paranoia ringan, pikiran kelabu seperti mau bunuh diri atau bunuh orang, masalah memori.

Walhasil, kita menyaksikan betapa berbahayanya luka pada otak pada bukan saja perilaku kita tapi juga pada kehidupan kita. Luka pada tangan Anda hanya akan menimbulkan rasa sakit pada tangan Anda saja. Luka pada otak Anda akan menyebabkan Anda tidak lulus ujian, dijauhi kawan, bercerai dengan pasangan, menderita kesedihan, kehilangan masa depan, tidak sanggup mengendalikan kemarahan, pendeknya…kehilangan kebahagiaan.
Seberapa besar kemungkinan otak kita terluka? Besar sekali. Soalnya, otak kita mirip tahu yang mengambang dalam panci yang penuh air. Sangat lembek. Berbeda dengan kelapa, batok kepala yang menghadap ke dalam otak mempunyai permukaan yang kasar dan tajam. Ketika terjadi benturan, misalnya karena kecelakaan lalulintas atau ditendang dengan tendangan karate, atau –naudzu billah dibenturkan ke tembok, otak tidak bisa lari. Ia terpuruk dalam ruangan yang sempit. “Duri-duri” itu akan menusuk permukaan otak yang lembut. Terjadilah gegar otak, kata orang awam; atau konkusi, kata dokter. Konkusi sekecil apa pun tidak boleh dipandang remeh. Akibat buruknya bisa terjadi waktu itu juga; atau berangsur-angsur makin parah dalam perkembangan waktu.


Jadi apa yang harus kita lakukan? Bila Anda menderita gejala-gejala yang saya sebutkan di atas, ada baiknya ada minta ahli otak untuk menscan otak Anda. Apakah Anda menderita atau tidak menderita gejala-gejala itu, Anda harus memelihara dan melindungi otak Anda. Hindari tempat-tempat yang memungkinkan Anda jatuh. Pakai helm yang kuat ketika Anda mengendarai motor. Jangan lakukan olahraga atau latihan bela diri yang dapat mencederai kepala.

Hidupkan dan Pelihara Roh Anda

oleh : Jalaluddin Rakhmat

Pada suatu hari Abu Bashir berada di Masjid A-Haram. la terpesona rnenyaksikan ribuan orang yang bergerak mengelilingi Kabah, mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Ia membayangkan betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka tentu akan mendapat pahala dan ampunan Tuhan. Imam Ja’far Al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Imam Ja'far mengusap wajahnya. Ketika ia membuka lagi matanya, ia terkejut. Di sekitar Ka'bah ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya- mendengus, melolong, mengaum. Imam Ja’far berkata, "Betapa banyaknya lolongan atau teriakan; betapa sedikitnya yang haji."

Apa yang disaksikan Abu Bashir pada kali yang pertama adalah tubuh-tubuh manusia. Apa yang dilihat kedua kalinya adalah bentuk-bentuk roh mereka. Kita adalah makhluk yang hidup di dua alam sekaligus. Tubuh kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut, alam yang bisa kita lihat dan kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya. Sementara itu, roh kita hidup di alam metafisik, tidak terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam ini alam malakut. Menurut Al-Quran, bukan hanya manusia, tetapi segala sesuatu mempunyai malakut-nya. "Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya malakut segala sesuatu. Dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.' (QS. Yasin 83); 'Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim, malakut langit dan bumi." (QS. Al-An'arn 75)

Roh kita, karena berada di alam malakut, tidak dapat dilihat oleh mata lahir kita. Roh adalah bagian batiniah dari diri kita. Ia hanya dapat dilihat oleh mata batin. Ada sebagian di antara manusia yang dapat melihat roh dirinya atau orang lain. Mereka dapat menengok ke alam malakut. Kemampuan itu diperoleh karena mereka sudah melatih mata batinya dengan riyadhah kerohanian atau karena anugrah Allah (al-mawahib al-rabbaniyyah). Para Nabi, para walli, dan orang-orang saleh seringkali mendapat kesempatan melihat ke alam rnalakut itu.

Makanan Roh

Roh -seperti tubuh-juga dapat berada dalam berbagai keadaan. Imam Ali kw berkata, 'Sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan; sehat, sakit, mati, hidup, tidur, dan bangun. Demikian pula roh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya., sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya, dan bangunnya ialah penjagaannya.' (BiharAl-Anwar 61:40)

Seperti tubuh, roh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutnya makanan. Ia menyebutnya rezeki. Ia berkata, 'Setiap yang hidup perlu rezeki, dan rezeki arwah adalah cahaya-cahaya ilahiah dan ilmu-ilmu rabbaniah.' (Mafatih AI-Ghaib 545)

Untuk meningkatkan kualitas roh, supaya ia sehat dan kuat, kita perlu memberikan kepadanya cahaya-cahaya ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadat-ibadat lainnya seperti salat, puasa, dan haji. Pada Bulan Ramadhan, kita berusaha menerangi roh kita dengan berbagai makanan rohani. Kita mandikan roh kita dengan proses pensucian batin, seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu Nabi saw bersabda, 'Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kamu puasanya dan disunnahkan bagimu bangun malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan salat malamnya dengan iman dan ikhlas, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (Dalam riwayat lain) la akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia keluar dari perut ibunya.'

Kita menghidupkan roh dengan ilmu-ilmu rabbaniah. Inilah yang kita maksud dengan dimensi intelektual dari keberagamaan kita. Ada ilmu-ilmu yang membantu kita untuk memelihara kesehatan tubuh kita seperti ilmu gizi, kedokteran, ekologi, dan sebagainya. Di samping itu, ada ilmu-ilmu yang menolong kita untuk menyehatkan roh kita: ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah (syariat), ilmu-ilmu tentang cara mendekatkan diri kita kepada Allah (thariqat), dan ilmu-ilmu berkenaan dengan pengalaman rohaniah (haqiqat).

Seperti tubuh, roh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, roh yang kekurangan makanan akan menjadi roh yang lemah, sakit-sakitan, dan akan dikuasai setan. Roh yang sakit tampak dalam gejala-gejala seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kosongan eksistensial (existential vacuum). Pendeknya, roh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tentram. Al-Quran melukiskannya, `Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha 124); "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan diberikan kepadanya pet-unjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.' (QS. Al-An'am 120).

Keindahan Roh

Seperti tubuh, arwah mempunyai rupa yang bermacam-macam: buruk atau indah; juga mempunyai bau yang berbeda: busuk atau harum. Rupa roh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi pasti ia bukan binatang. Roh dapat betul-betul berupa binatang -babi atau kera. Tuhan berkata, 'Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah 60)

Al-Ghazali menulis: 'Al-Khuluq dan Al-Khalq kedua-duanya digunakan. Misalnya si Fulan mempunyai khuluq dan khalq yang indah -yakni indah lahir dan batin. Yang dimaksud dengan khalq adalah bentuk lahir, yang dimaksud dengan khuluq adalah bentuk batin. Karena manusia terdiri dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir dan roh yang mencerap dengan mata batin. Keduanya mempunyai rupa dan bentuk baik jelek maupun indah. Roh yang mencerap dengan mata batin memiliki kemampuan yang lebih besar dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir. Karena itulah Allah memuliakan roh dengan menisbahkan kepada diri-Nya. Ia bersabda, 'Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku menjadikan manusia dan' tanah. Maka apabila telah kusempurna kan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya rohku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.'(QS. Shad 71-72). Allah menunjukkan bahwa jasad berasal dari tanah dan roh dari Tuhan semesta alam. (Ihya Ulum Al-Din, 3:58).

Khuluq -dalam bahasa Arab- berarti akhlak. Roh kita menjadi indah dengan akhlak yang baik dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruk. Dalam teori akhlak dari Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, akan memiliki roh yang berbentuk babi; orang yang pendengki dan pendendam akan memiliki roh yang berbentuk binatang buas; orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatannya akan mempunyai roh yang berbentuk setan (monster) dan seterusnya.

Ketika turun ke bumi, karena berasal dari Mahasuci, roh kita dalam keadaan suci. Ketika kita kembali kepadanya, roh kita datang dalam bentuk bermacam-macam. Ketika pohon pisang lahir ke dunia, ia lahir sebagai pohon pisang. Ketika mati, ia kembali sebagai pohon pisang lagi. Ketika manusia lahir, ia lahir sebagai manusia. Ketika mati, ia kembali kepada Tuhan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk manusia saja. Ia dapat kembali dalam bentuk binatang, setan, atau cahaya.

Walhasil, untuk memperindah bentuk roh kita, kita harus melatihkan akhlak yang baik. Meningkatkan kualitas spiritual, berarti mernperindah akhlak kita. Kita menyimpulkan prinsip ini dalam doa ketika bercermin. "Allahumma kama ahsanta khalqi fa hassin khuluqi.' (Ya Allah, sebagaimana Engkau indahkan tubuhku, indahkan juga akhlakku).

Roh dalam Maut

Kita kutipkan di sini hadits yang panjang;

"Kami sedang mengantarkan jenazah di Baqi. Kemudian datanglah Nabi dan duduk bersama kami di dekat jenazah. Kami tundukkan kepala kami seakan-akan burung hinggap di atasnya. Ia berkata: Aku berlindung dari siksa kubur, 3X. Sesungguhnya manusia mukmin ketika hendak memasuki akhirat dan meninggalkan dunia, turunlah malaikat kepadanya dengan wajah yang bersinar seperti cahaya matahari. Mereka duduk di dekat rnayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya. Maka keluarlah roh itu mengalir seperti rnengalirnya tetesan air dari mulut cerek. Malaikat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengambilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kafan. Dari roh itu keluarlah bau harum semerbak memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik membawa roh itu. Setiap kali mereka rnelewati kelompok malaikat yang lain, mereka ditanya, `Siapa roh yang baik ini?' Mereka menyebut Fulan bin Fulan dengan nama-nama yang indah yang diperolehnya di dunia. Ketika sampai di langit dunia, dibukakanlah pintu baginya. Pada setiap langit, malaikat mengantarkannya sampai ke langit berikutnya dan seterusnya sampai ke Allah Ta'ala.

Allah berfirman: 'Tuliskan kitab hamba-Ku di tempat yang tinggi. Kembalikan dia ke bumi karena aku menciptakannya dari bumi, mengembalikannya ke bumi, dan mengeluarkannya dari bumi sekali lagi. Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Tuhanku Allah. Apa agamamu? Agamaku Islam. Siapa laki-laki yang diutus kepadamu? Rasulullah. Darimana kamu mengetahui hal ini? Aku membaca Kitabullah, beriman kepadanya, dan membenarkannya. Seorang penyeru berseru dari langit: Benar hambaku. Hamparkan baginya tikar dari surga. Bukakan baginya pintu dari surga. Lalu angin dan semerbak surga datang kepadanya. Kuburan dilegakan seluas pandangan mata. Seseorang yang berwajah cantik datang kepadanya dengan baju yang indah dan bau yang harum. Ia berkata: Bergembiralah dengan apa-apa yang akan membahagiakan kamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya: siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa kebaikan. Ia berkata: Saya. amal shalehmu. Ia berkata: Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat supaya aku kembali kepada keluargaku dan kekayaanku.

Bila seorang kafir meninggalkan dunia dan memasuki akhirat, dari langit turunlah mialaikat berwajah buruk dan membawa kain yang buruk. Mereka duduk di dekat mayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.. Malaikat maut mencabut nyawanya seperti sisir besi mencabuti bulu yang basah. Mailakat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengarnbilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kain buruk itu. Dari roh itu keluar bau yang lebih busuk dari bau bangkai dan memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik mernbawa roh itu. Setiap kali mereka melewati kelompok malaikat yang lain mereka ditanya. "Siapa roh yang buruk ini"? Mereka menjawab; Fulan bin Fulan dan menyebutnya dengan nama-nama yang buruk yang diperolehnya dari dunia. Ketika ia sampai ke langit dunia, ia minta dibukakan pintu langit, tetapi tidak dibukakan kepadanya. Kemudian. Rasulullah saw membaca ayat Al-Quran, "Sesingguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, seperti tidak mungkinnya unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A'raf 40)

Allah berfirman, 'Tuliskan kitabnya di bumi yang paling rendah.' Maka dilemparkanlah rohnya. Kemudian Nabi membaca ayat Al-Quran, 'Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. AI-Haj 31) Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya, seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Ah, aku tidak tahu. Seorang penyeru berteriak dari langit: Bohong hambaku. Hamparkan kepadanya tikar dari api neraka. Bukakan baginya pintu neraka. Panas dan keringnya neraka mendatanginya. Kuburannya disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya. Seseorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk datang kepadanya dan berkata: Terimalah berita yang menyusahkan kamu. Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya, 'Siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa keburukan.' Ia menjawab, 'Aku amalmu yang buruk.' Mayit itu berkata: Tuhanku jangan tegakkan hari kiamat. (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, Al-Roh hal 44-45).