Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Kumpulan hadits & hikmah

"Jika lintasan hati tidak dijaga, ia akan menjadi rasa (keinginan), lalu rasa menjadi karsa (kehendak), karsa berubah menjadi cipta (berniat untuk melakukan), dan cipta berubah menjadi karya (perbuatan). Karya ini yang bisa berakibat pada kecelakaan dan murka Allah. Maka, kejahatan harus ditebas sejak dari akarnya--yaitu sejak ada lintasan hati, yang dari sana hal-hal lainnya akan mengikuti."

(Abu Hamid Al-Ghazali)

"Sesungguhnya sholat itu menetapkan hati, menundukkan diri, merendahkan hati, merapati bathin, menyesali diri. Dan engkau meletakkan dua tangan engkau seraya membaca, "Ya Allah, ya Tuhanku... Ya Allah, ya Tuhanku..."

Barangsiapa tiada berbuat demikian, maka sholat itu penuh kekurangan." 

(HR. At-Tirmidzi)

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya:
- Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
- Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.
- Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
- Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar.
- Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
- Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani."

(Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani)

Iman seorang mukmin akan tampak saat ia dihadapkan pada ujian. Pada saat ia total berdoa, tetapi belum melihat pengaruh apapun dari doa tersebut. Ketika ia tetap tidak mengubah harapannya meski sebab-sebab untuk putus asa semakin menguat. Semua ia lakukan karena keyakinan bahwa Allah Mahatahu apa yang terbaik baginya.

(Ibnul Jauzi)

Perbanyaklah berbuat baik agar orang-orang mendoakan kebaikan untukmu karena sesungguhnya seorang hamba itu tidak mengetahui melalui lisan siapakah doanya dikabulkan atau ia diberi rahmat.

(H.R.Al-Khatib, dari Abu Hurairah r.a.)

Bila nafsu rendah telah sirna, maka tempatnya digantikan oleh perintah Allah. Bila dunia ini telah berlalu, maka tempatnya digantikan oleh akhirat. Bila akhirat telah berlalu, maka tempatnya digantikan oleh kedekatan dengan Allah Swt. Melalui kedekatan dengan Dia, maka orang akan merasa tenteram dan bahagia.

(Syeikh Abdul Qadir Jailany)

Takutlah engkau terhadap doa orang yang teraniaya karena sesungguhnya antara doa orang yang teraniaya dengan Allah tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya.

(H.R. Turmudzi)

Takutlah kalian terhadap firasat orang yang (benar-benar) beriman karena sesungguhnya dia melihat dengan cahaya Allah.

(H.R. Turmudzi)

Musibah itu hanya satu bala. Akan tetapi, jika orangnya mengeluh, maka jadi dua bala. Yang pertama bala musibah dan yang kedua bala hilangnya pahala sabar atas musibah itu.

(Abdullah Al-Mubarak)

Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya itu berada dalam dirinya, niscaya Allah menempatkannya di bawah naungan-Nya dan Dia mencurahkan rahmat kepadanya, serta memasukkannya ke dalam surga-Nya, yaitu seseorang yang: (1) apabila diberi, dia bersyukur; (2) apabila mampu membalas, (tetapi memilih) memaafkan; (3) apabila marah, dia sanggup menahan diri.

(H.R. Baihaqi)

Sesungguhnya Allah telah berfirman, "Aku bersama hamba-Ku selagi ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku."

(H.R. Ahmad)

Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus (dosa yang diakibatkan)-nya. Berakhlaklah terhadap manusia dengan akhlak yang baik.

(H.R. Thabrani)

Apabila seseorang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan yang melata akan memohonkan ampun baginya, termasuk ikan paus di lautan.

(Ibnu Abbas)

Jika menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, sementara duka akan semakin mengecil dan menyempit.

(Muhammad Ar-Rafi'i)

Termasuk tanda kemunafikan adalah jika seseorang menyukai pujian dari apa yang tidak ada pada dirinya, kemudian membenci orang yang tidak menyukai dirinya karena sesuatu yang memang ada pada dirinya. Ia pun membenci orang yang mengetahui aib-aibnya.

(Fudhail bin 'Iyadh)

Keikhlasan akan tampak saat engkau tidak tergoyahkan oleh pujian dan celaan orang lain dan engkau pun tidak mengharapkan sesuatu dari mereka.

(Syeikh Abdul Qadir Jailany)

Berapa banyak amal kecil yang dibesarkan oleh niat. Berapa banyak pula amal besar yang menjadi kecil karena niat. Karenanya, jangan pernah melakukan sesuatu, kecuali telah lurus niatnya.

(Abdullah Al-Mubarak)

Tidak melakukan suatu amal karena khawatir terlihat oleh orang lain adalah perbuatan riya’, beramal agar terlihat oleh orang lain adalah syirik, dan sikap ikhlas adalah bila Allah membebaskanmu dari kedua hal tersebut.

(Fudhail bin 'Iyadh)

Kebohongan itu berawal dari jiwa, lalu merembet pada lisan dan merusak perkataan, kemudian merembet pada seluruh anggota badan hingga merusak perbuatan. Akhirnya, kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan, dan segala keadaan.

(Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah)

Rezeki lebih cepat mencari seorang hamba daripada ajalnya.

H.R. Al-Qudha'i)

Akhlak yang buruk adalah dosa, sehingga kebajikan yang banyak pun menjadi sia-sia karenanya. Akhlak yang baik adalah kebajikan, sehingga keburukan yang banyak pun tertutupi karenanya.

(Yahya bin Mu'adz)

Berniatlah yang baik, niscaya engkau akan senantiasa baik selama engkau berniat baik.

(Ahmad bin Hambal)

Menyebut-nyebut nikmat Allah merupakan (perbuatan) syukur dan meninggalkannya berarti kufur (ingkar terhadap nikmat Allah). Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, ia tidak pula akan mensyukuri nikmat yang banyak. Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada orang lain, ia tidak akan berterima kasih pula kepada Allah.

(H.R. Baihaqi)

Apabila ma'ruf (kebaikan) telah kurang diamalkan, ia akan dianggap mungkar (keburukan). Sebaliknya, apabila mungkar telah tersebar, ia akan dianggap ma'ruf.

(Ibnu Al-Muqaffa)

Perbanyaklah membaca "Laa haula walaa quwwata illaa billaah" (Tiada daya dan tiada kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah), karena sesungguhnya bacaan ini dapat menolak 99 (sembilan puluh sembilan) pintu kemudharatan, yang paling rendah di antaranya adalah kesusahan.

(H.R. Al-Uqaili, melalui Jabir r.a.)

Kumpulan Hikmah Ali ra. & Umar ra.

Dia telah memerintahkanmu untuk mengajukan permohonan kepada-Nya, agar Dia bisa memberimu apa yang kau minta. Dia mendambakan agar Ia melimpahkan rahmat-Nya pada dirimu.

Tak seorang pun yang dapat menjadi penghalang antara kau dan Dia, dan tiada Dia membuatmu perlu mencari perantara yang menghubungkan kau dengan Dia.

Tiada Dia akan mencegahmu bertaubat bila kau melakukan keburukan, dan tiada pula dia akan menyegerakan hukuman bila kau melanggar larangan-Nya.

Ia tidak mengejekmu bila pada akhirnya kau kembali pada-Nya, dan tidak akan membeberkan aib dosa-dosamu meski sesungguhnya itu lebih patut kau terima. Ia takkan mempersulit penerimaan tobatmu, dan Ia takkan mengungkit-ungkit kesalahanmu.

Dia tidak akan pernah membuatmu putus asa dari rahmat-Nya. Bahkan bila engkau mengurungkan niatmu untuk melakukan suatu dosa, Ia akan menghitungnya sebagai sebuah perbuatan baik yang layak diberi pahala. Ia hanya menghitung setiap pelanggaran setara satu dosa, namun setiap kebaikan yang kau lakukan dihitung-Nya setara dengan sepuluh kali lipatnya.

Pintu-Nya selalu terbuka bila kau ingin kembali pada-Nya. Kesempatan diberikan-Nya bila kau berkehendak memperbaiki dirimu di hadapan-Nya. Bila kau memanggil, Dia mendengar panggilanmu. Bila kau bermunajat, Dia mendengar bisikan hatimu.

Kau selalu dan selalu diberi-Nya waktu untuk menyampaikan segala hajat dan keinginanmu. Atau memohon agar Dia menghilangkan segala kesusahanmu. Atau mengharap pertolongan-Nya dalam segala urusanmu.

Maka janganlah kau berputus asa bila Ia tak segera menjawab permohonanmu. Ketahuilan, pemberian-Nya selalu sesuai dengan niat yang menyertai setiap permintaanmu.

(Ali bin Abi Thalib ra.)

Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba dalam amanah, keikhlasan dan kejujuran. Maka jangan katakan pada Allah bahwa aku memiliki masalah, tetapi katakan pada masalah bahwa aku memiliki Allah Yang Maha Segalanya.

(Ali bin Abi Thalib ra.)

Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan yang lebih utama daripada pendidikan. Dan tiada pembantu yang lebih baik daripada musyawarah.

(Ali bin Abi Thalib ra.)

Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada kesendirian yang lebih sepi daripada keangkuhan diri. Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan. Tiada pembantu yang lebih baik daripada musyawarah. Tiada kemuliaan yang lebih tinggi daripada ketakwaan. Dan tiada perniagaan yang lebih menguntungkan daripada amal shalih.

(Ali bin Abi Thalib ra.)

Apabila engkau merasa letih karena berbuat kebaikan, maka ketahuilah bahwa keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang dilakukan akan terus kekal.
Namun sebaliknya, jika engkau merasa senang dengan dosa, sesungguhnya kesenangan itu akan hilang sementara dosa yang dilakukan akan terus kekal.

(Ali bin Abi Thalib ra.)

Barangsiapa yang jernih hatinya, Allah akan memperbaiki apa yang nyata di wajahnya.

(Umar bin Khattab ra.)

Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang yang mengembara atau orang yang sedang bepergian. Sesungguhnya Ibnu Umar r.a. selalu mengatakan, "Apabila engkau berada di sore hari, janganlah engkau menunggu waktu pagi hari. Apabila engkau berada pada pagi hari, janganlah engkau menunggu waktu sore hari. Kerjakanlah dalam masa sehatmu untuk bekal pada masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal sesudah matimu."

(Umar bin Khattab ra.)

Apa pun nikmat yang Allah berikan kepada seorang hamba, lalu Allah cabut nikmat itu darinya, kemudian hamba itu bersabar menerimanya, Allah akan menggantikan yang hilang itu dengan sesuatu yang lebih baik.

(Umar bin Khattab ra.)

Aku mengamati semua sahabat, dan aku tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan semua bentuk pakaian, tetapi aku tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan segala jenis amal baik, namun aku tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rizki yang lebih baik daripada sabar.

(Umar bin Khattab ra.)

Cerita Tentang Ruh Saat Keluar dari Jasad

dari pesantrenglobal.com

Dalam sebuah hadist dari Aisyah r.a yang berkata, “Aku sedang duduk bersila di dalam rumah, tiba-tiba Rasulullah Saw datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun karena menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi Saw bersabda, “Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul Mukminin.” Maka Rasulullah Saw yang duduk sambil menyandarkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.

Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut beliau yang sudah putih. Maka terpikirlah dalam hatiku, “Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sebagaimana satu umat yang ditinggalkan oleh nabinya.” Maka aku menangis sehingga mengalir air mataku jatuh menetes pada wajah baginda.

Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, “Apakah sebabnya sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?” Masa aku ceritakan kisah tadi kepadanya, lalu Rasulullah Saw bertanya, “Bagaimanakah keadaan yang mengerikan bagi mayat?”

Aisyah r.a berkata, “Tunjukkanlah wahai Rasulullah!”

Rasulullah Saw berkata, “Engkaulah sebutkan lebih dulu!”

Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada keadaan yang lebih mengerikan bagi mayat selain saat keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka sama-sama berkata, “Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan: “Aduhai anak-anakku!”

Rasulullah Saw bertanya lagi: “Itu juga termasuk mengerikan. Maka, manakah lagi yang lebih mengerikan daripada itu?”

Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada hal yang lebih mengerikan bagi mayat selain saat ia diletakkan ke dalam liang lahad dan ditimbuni tanah di atasnya. Kaum kerabat semuanya kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali, mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya.”

Rasulullah Saw bertanya lagi, “Adakah lagi yang lebih mengerikan daripada itu?”

Jawab Aisyah r.a, “Hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih tahu.”

Maka bersabda Rasulullah Saw : “Wahai Aisyah, sesungguhnya yang paling mengerikan bagi mayat adalah ketika orang-orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk memandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha, semua melepaskan surban dari kepalanya untuk dimandikan”.
Di kala itu ruhnya memanggil, ketika ia melihat mayatnya dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia yang tidak mendengar. Maka berkata ruh itu, “Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu karena Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab saat ini aku berada dalam kesakitan sakaratul maut.”

Dan apabila air disiram ke tubuhnya, maka akan berkata ruh dari mayat itu, “Wahai orang yang memandikan akan ruh Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah pula dalam keadaan yang dingin karena tubuhku terbakar dari sebab lepasnya ruh,” Dan jika orang mulai memandikan dengan menggosok badannya, maka berkata ruh itu, “Demi Allah, wahai orang yang memandikan mayat, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka akibat keluarnya ruh.”

Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka ruh mayat itu memanggil, “Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuat dalam mengafani kepalaku sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidak akan dapat berjumpa lagi sampai hari kiamat.”

Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka ruh mayat akan menyeru, “Demi Allah, wahai jamaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk selama-lamanya.”

Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi ruh mayat itu, “Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini adalah hari perpisahanku dengan mereka sampai hari kiamat.”

Kegaiban Hari Esok

Oleh Zamzam A. J. Tanuwijaya, Yayasan Paramartha (diedit dan diperbaiki seperlunya oleh Herry Mardian). Sumber dari sini.
Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.
KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah swt untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah swt akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah swt akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.

Musa a.s. dan umatnya, dalam tekanan kebingungan yang hebat, terjebak diantara laut dan kepulan debu gurun yang dihamburkan ke angkasa oleh ribuan kereta perang Fir’aun Merneptah. Cacian-cacian kepada sang Nabi mulai berhamburan dari lisan-lisan umatnya sendiri, karena Musa, nabi mereka, malah mengarahkan mereka terkepung dan terdesak ke laut Merah.

Sementara pada saat itu, seorang pemuda yang tulus, panglima dan murid Musa a.s., berseru ke imamnya dari atas kuda yang terus diarahkannya ke laut, sesuai perintah imamnya. “Ya Nabiyullah, masih terus?” Pertanyaannya menunjukkan kesiapannya.

Air laut sudah seleher kudanya, dan dia, Yusha’ bin Nun, masih terus berusaha memacu kudanya yang sangat ketakutan itu untuk tetap maju menuju ke laut. Ia tidak mempertanyakan, apalagi membantah, perintah Allah untuk menembus laut Merah. Meski ia tahu bahwa Musa, imamnya dan Nabinya, juga belum mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka setelah itu.

Apakah seorang pangeran muda yang bernama Musa, bertahun-tahun sebelum peristiwa di atas, mengetahui bahwa pukulannya—yang hanya sekali—kepada seorang koptik akan membunuhnya? Satu kejadian “sial” yang membuat Musa menjadi tercela dan kehilangan singgasanannya. Ia ketakutan dan melarikan diri ke Madyan, tempatnya Nabi Syu’aib as. Suatu peristiwa yang merevolusi hidupnya, dari seorang pangeran Mesir menjadi cuma seorang pengemis lain di dunia ini. Namun tanpa peristiwa “sial” itu, ia tidak akan bertemu Syu’aib a.s. yang menjadi gurunya.

Kita semua adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahkan untuk semenit ke depan. Tidak kita, tidak para orang suci, tidak juga para Rasul yang lain. Kita dilarang bahkan untuk sekedar ingin mengetahui zaman di depan. Keinginan seperti itu hanya akan menjadikan kita masuk ke dalam golongan mayoritas, golongan orang-orang yang tidak bersyukur *.

Masa depan adalah kotak Pandora, dan keghaiban hari esok adalah bagian dari palu Allah yang dipergunakan-Nya untuk menempa dan membentuk jiwa kita. Kita semua adalah hamba-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bangga ketika mengatakan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, dan rasul-Nya”.

Mari kita sambut dengan suka cita dan kita nikmati palu keghaiban-Nya, karena kita tidak tahu palu yang mana yang akan digunakan-Nya membentuk jiwa kita esok hari. Tenanglah, karena kita berada dalam genggaman Sang Maha Sutradara yang Sangat Terpercaya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan, semua sudah diukur-Nya dengan rapi. Kita hanya melompat dari keadaan “nyaris” yang satu ke “nyaris” yang lain. Semakin tebal tabungan “nyaris” kita, semakin terbukalah Wajah-Nya yang Maha Indah. Hati kita mungkin dibuat-Nya remuk, tapi bukankah Allah swt mengatakan, “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.

Kedigjayaan diri adalah musuh hati, dan keperihan adalah obat. Keutamaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari penglihatan-penglihatan tentang alam yang tak terlihat, atau bisikan-bisikan skenario masa depan. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.

Sahabatku, saudara-saudaraku seperjalanan, kita semua sama, dibuat kalang kabut dengan “pengaturan-pengaturan” suci dari-Nya, dan hati-hati kita ada diantara permainan dua Jemari-Nya.

Jangan ada lagi ketragisan di hati. Kita semua ada dalam genggaman-Nya.***

[*] “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”Q. S. Al-Mu’miin [40] : 61

Hidup Laksana Tawaf

Komaruddin Hidayat

Dalam rangkaian ibadah haji atau umrah, tawaf adalah mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dari posisi Hajar Aswad. Terdapat korelasi, bahkan pesan moral-spiritual yang sangat kuat, antara tawaf dan kehidupan kitasehari-hari.

Bisa dikatakan, tawaf yang lebih berat dan eksistensial itu adalah melaksanakan tawaf dalam kehidupan nyata ini. Tawaf dalam rangkaian ibadah haji dan umrah mengenakan pakaian khusus, tak ubahnya kain kafan pembungkus jenazah. Baik pakaian, gerakan, maupun suasana pikiran serta hati dalam adegan tawaf mengajak seseorang untuk selalu sadar, hidup ini sebuah perjuangan dan pencarian jati diri serta terminal akhir ke mana kita semua akan berpulang.

Selembar kain putih yang melekat di tubuh tak lebih sebagai pembungkus badan. Disitu tak ada predikat dan pangkat yang pantas dibanggakan, kecuali rekaman amal kebajikan dan iman yang melekat dalam diri seseorang. Itulah yang abadi dan di situlah terletak harga diri seseorang di mata Tuhan.

Sebelum ajal tiba, lewat tawaf kita dilatih agar tidak terpenjara dalam kurungan kebanggaan harta, jabatan, dan rupa. Semuanya kita lepaskan lalu berputar mengelilingi Kakbah, tetapi bukan menyembah Kakbah. Tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran, jumlah bilangan simbolik yang kaya makna dan tafsiran.

Mengamati dan merenungkan orang masuk dan keluar barisan tawaf mengingatkan kita pada kehadiran dan kepergian anak manusia di atas Bumi ini. Kelahiran dan kematian selalu terjadi setiap menit. Nalar manusia tidak sanggup menjawab, di mana roh seseorang sebelum lahir dan ke mana setelah mati. Bertawaf adalah perenungan, pencarian dan penegasan diri bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah.

Ketika bertawaf sekeliling Kakbah seakan satu kaki sudah melangkah ke alam akhirat. Secara fisik kita berada di serambi baitullah, rumah Allah, namun bukan bangunan fisik itu terminal akhir perjalanan hidup ini. Kakbah yang berbentuk kubus, berwarna hitam, sangat sederhana desainnya, di dalamnya pun kosong. Yang dicari dan dirindukan adalah Allah, pemilik Kakbah.

Drama tawaf sesungguhnya memiliki pesan agar seseorang melakukan pembebasan diri dari perbudakan dan penindasan kemilau dunia. Dunia mesti dikejar untuk ditaklukkan agar melayani kita untuk membangun kehidupan yang produktif dan bermakna. Dari pagi bangun tidur sampai mau tidur lagi kita semua melakukan tawaf.

Berputar-putar menjalani aktivitas dengan ragam kegiatan. Ada orang yang aktivitasnya rutin miskin variasi. Ada yang hidup dari rapat ke rapat. Ada yang dari panggung ke panggung. Ada yang setiap hari berjumpa dengan belasan atau bahkan puluhan orang. Ada yang hidupnya banyak tawa dan canda. Ada yang sebaliknya, setiap hari selalu marah-marah.

Untuk apa dan siapa semuanya itu kita lakukan? Apakah kehadiran dan aktivitas kita memberi nilai tambah dan nilai guna pada sesama? Atau malah merugikan dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain? Berbagai kasus megakorupsi yang melibatkan pejabat tinggi negara mestinya lebih dari cukup sebagai bahan renungan.

Kita kehilangan peta perjalanan dan makna serta tujuan hidup. Bertahun- tahun kuliah, lalu meniti karier demi jabatan dan kekayaan. Ujungnya, setelah jabatan tinggi diraih, harta terkumpul banyak, kemudian disita negara karena ternyata hasil korupsi. Mereka masuk penjara secara nista. Harta rakyat mereka sikat. Secara lahiriah sukses dan glamor. Tapi yang terjadi tak ubahnya menggali lubang kubur untuk diri sendiri.

Mereka berhasil mendaki posisi yang tinggi hanya untuk mempertinggi juga kejatuhannya. Atau mirip membangun rumah dari puing-puing kotoran yang busuk dan bau untuk ditempati. Semuanya semu, semuanya hanya memberatkan dirinya, termasuk keluarganya. Ibadah tawaf memberi pesan amat jelas dan kuat.

Putaran roda hidup yang kita jalani jangan sampai lepas dari kesadaran dan kedekatan dengan pusat dan pemilik hidup itu sendiri, yaitu Tuhan pemilik semesta. Kita boleh berdesakdesakan. Tapi hati mesti tulus, saling menghargai. Tak ada yang menjegal atau mengumpat karena akan membatalkan tawafnya.

Kemuliaan hidup akan rusak oleh perilaku kita yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Jadi, apa yang dilarang oleh nurani, akal sehat, norma agama, sesungguhnya bertujuan agar martabat kehidupan terjaga.

Moto dan doktrin bahwa agama adalah rahmat bagi semesta mesti diterjemahkan dalam karya nyata agar apa yang kita jalani dan raih dalam tawaf kehidupan ini memberikan manfaat bagi orang lain, bukannya malah merusak, merugikan dan membuat orang lain merasa terancam. Setiap hari berapa puluh keputusan kita buat. Berapa ribu kata kita ucapkan.

Berapa kilometer kaki melangkah. Dan setiap malam sebelum tidur, mengakhiri tawaf hari ini, sebaiknya kita merenung, introspeksi, kebajikan apa yang akan lakukan untuk diri kita, keluarga kita, dan masyarakat.

Sumber: www.uinjkt.ac.id