Filsafat Ekologi Arne Naess

Oleh: Budhy Munawar Rachman

Arne Naess adalah seorang filsuf Norwegia yang dikenal luas sebagai pencetus konsep "ekologi dalam" (deep ecology), sebuah pendekatan yang menggali akar permasalahan ekologis dari sudut pandang etika, ontologi, dan metafisika. Berbeda dari pendekatan konvensional yang sering hanya fokus pada dampak langsung lingkungan (ekologi dangkal), Naess menggagas pemikiran ekologi yang lebih mendalam, yang mempertanyakan sistem nilai dan pandangan hidup manusia terhadap alam. Filsafat ekologi Naess tidak hanya memperjuangkan perlindungan lingkungan tetapi juga mengusulkan perubahan mendasar dalam cara manusia memahami posisinya dalam alam semesta. Artikel ini akan menjelaskan secara rinci konsep-konsep utama yang diperkenalkan oleh Naess, kontribusinya terhadap filsafat ekologi, serta implikasi etis dari gagasan "ekologi dalam" bagi masyarakat modern.

Latar Belakang 

Arne Naess lahir di Oslo, Norwegia, pada tahun 1912. Ia menunjukkan minat mendalam pada filsafat dan ilmu alam sejak usia muda. Naess memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dari Universitas Oslo dan kemudian menjadi profesor filsafat di universitas yang sama. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh filsafat Timur, terutama Buddhisme, dan juga oleh fenomenologi. Naess mengkritik pendekatan reduksionis dalam ilmu pengetahuan yang memandang alam sebagai objek terpisah yang dapat dimanipulasi demi keuntungan manusia. Ia berargumen bahwa untuk menyelesaikan krisis ekologis, manusia perlu merevisi secara mendasar hubungan mereka dengan alam.

Di dalam ekologi dangkal, alam dianggap sebagai sumber daya yang harus dilindungi demi kesejahteraan manusia. Sebaliknya, dalam ekologi dalam yang dirumuskan Naess, alam memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada kegunaannya bagi manusia. Pandangan ini menganggap bahwa semua makhluk hidup, termasuk spesies yang tampak tak penting bagi manusia, memiliki hak untuk hidup dan berkembang dalam lingkungan alami mereka.

Konsep Utama 

Pemikiran Naess tentang ekologi dalam mencakup beberapa konsep utama, yang masing-masing menggambarkan aspek penting dari filosofi ini.
Menurut Naess, alam memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada manfaatnya bagi manusia. Artinya, segala sesuatu di alam, baik itu hewan, tumbuhan, gunung, atau sungai, memiliki hak untuk hidup dan berkembang tanpa harus memberikan keuntungan bagi manusia. Pandangan ini berusaha menggeser persepsi manusia yang sering kali bersifat antroposentris, yaitu yang menganggap manusia sebagai pusat alam semesta dan memandang alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi.
Dengan mengakui nilai intrinsik alam, Naess mendorong manusia untuk lebih menghormati alam dan menghindari kerusakan lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan ekosistem. Naess mengajak manusia untuk memandang dirinya sebagai bagian dari alam, bukan sebagai penguasa atau pemilik alam.

Naess memperkenalkan konsep identifikasi ekologis sebagai bentuk perluasan diri. Dalam pandangan ini, manusia tidak hanya teridentifikasi dengan kelompoknya sendiri atau dengan spesiesnya, tetapi dengan seluruh komunitas kehidupan. Ketika seseorang memperluas dirinya secara ekologis, ia melihat dirinya dalam hubungan yang lebih luas dengan seluruh alam. Pandangan ini menekankan bahwa manusia seharusnya mengembangkan empati yang mendalam dan rasa keterhubungan dengan seluruh kehidupan di bumi.

Identifikasi ekologis ini memungkinkan munculnya rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap pelestarian lingkungan. Naess percaya bahwa ketika seseorang memiliki keterikatan emosional dan identitas ekologis dengan alam, ia akan cenderung lebih peduli dan melindungi lingkungan secara sukarela, bukan karena paksaan hukum atau moralitas eksternal.

Naess menolak pendekatan mekanistik dan reduksionistik yang sering digunakan dalam ilmu pengetahuan modern untuk memahami alam. Ia menekankan bahwa alam harus dilihat secara holistik, sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan dan saling memengaruhi. Misalnya, hutan bukan hanya kumpulan pohon, melainkan sebuah ekosistem yang terdiri dari berbagai elemen yang saling berkaitan.

Dalam pendekatan holistik, setiap bagian dari alam dianggap penting dan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan. Pemahaman ini berimplikasi bahwa ketika manusia merusak satu bagian dari alam, maka akan ada dampak yang menyebar dan memengaruhi bagian lainnya. Oleh karena itu, Naess menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghindari intervensi yang dapat merusak integritas ekosistem.

Naess menyusun delapan prinsip utama yang mendasari ekologi dalam, yang dikenal sebagai "Platform Ekologi Dalam." Prinsip-prinsip ini dirancang untuk menjadi panduan bagi individu dan komunitas dalam mengembangkan sikap dan tindakan yang lebih ekologis:

1. Kesejahteraan dan kelangsungan hidup semua makhluk hidup di bumi memiliki nilai yang bersifat intrinsik.
2. Kekayaan dan keanekaragaman kehidupan berkontribusi pada realisasi nilai-nilai tersebut dan memiliki nilai pada dirinya sendiri.
3. Manusia tidak memiliki hak untuk mengurangi keanekaragaman dan kekayaan kehidupan kecuali untuk memenuhi kebutuhan vital.
4. Perkembangan kehidupan manusia yang terus menerus dan berlebihan mengancam kehidupan non-manusia dan memperburuk kondisi ekologis.
5. Pembatasan jumlah penduduk manusia sangat penting demi keseimbangan ekosistem.
6. Perekonomian yang berkelanjutan harus mengutamakan kebutuhan dasar daripada konsumsi yang berlebihan.
7. Manusia harus membuat perubahan kebijakan yang drastis demi keberlanjutan ekologi jangka panjang.
8. Manusia harus mempraktikkan transformasi nilai untuk menekankan kualitas hidup daripada standar hidup yang tinggi.

Prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa Naess tidak hanya menawarkan kritik terhadap pandangan antroposentris, tetapi juga mengajukan alternatif sistem nilai yang lebih harmonis dengan alam.
Filsafat ekologi Naess memiliki implikasi yang luas bagi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk etika, kebijakan lingkungan, dan gaya hidup individu.

Naess mendorong pembentukan etika lingkungan yang tidak bersifat antroposentris. Dalam etika ekologi dalam, manusia diharapkan untuk bertindak demi kepentingan alam dan bukan semata-mata demi kepentingan manusia. Sikap ini bertentangan dengan pandangan konvensional yang sering kali memperlakukan alam sebagai objek yang dapat dimanfaatkan secara bebas.
Naess mengusulkan bahwa kebijakan lingkungan harus didasarkan pada prinsip-prinsip ekologi dalam, yang berfokus pada pelestarian keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem. Kebijakan-kebijakan tersebut seharusnya mengakui nilai intrinsik alam dan tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Pendekatan ini membutuhkan perubahan paradigma dalam perumusan kebijakan lingkungan yang berfokus pada keberlanjutan jangka panjang, bukan hanya eksploitasi sumber daya alam secara maksimal.

Naess mengajak manusia untuk menjalani gaya hidup yang lebih sederhana dan berkesadaran ekologis. Ia mendorong pengurangan konsumsi yang berlebihan, menghindari limbah yang merusak lingkungan, serta lebih menghargai kualitas hidup daripada sekadar akumulasi materi. Pandangan ini mempromosikan gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan kurang bergantung pada pola konsumsi yang merusak alam.

Relevansi Filsafat Ekologi Naess 

Filsafat ekologi Arne Naess masih sangat relevan di era modern, di mana krisis lingkungan semakin mendesak. Pandangannya memberikan dasar filosofis bagi gerakan lingkungan modern yang mendorong perubahan gaya hidup dan kebijakan yang lebih ekologis. Selain itu, pemikiran Naess juga menginspirasi gerakan-gerakan global seperti hak lingkungan dan perlindungan ekosistem.
Dalam menghadapi masalah lingkungan saat ini, pendekatan Naess menjadi relevan sebagai panduan untuk memahami bahwa penyelesaian masalah lingkungan tidak bisa hanya dilakukan melalui teknologi, melainkan juga melalui perubahan sikap dan nilai. Filsafat ekologi dalam membantu manusia menyadari bahwa setiap tindakan manusia memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan di bumi.

Arne Naess melalui filsafat ekologi dalam telah menawarkan sebuah pendekatan yang revolusioner terhadap masalah lingkungan. Dengan memperkenalkan konsep nilai intrinsik alam, identifikasi ekologis, dan pendekatan holistik, Naess mendorong manusia untuk melihat alam sebagai entitas yang layak dihormati dan dilindungi. Prinsip-prinsip dalam ekologi dalam tidak hanya menantang sistem nilai yang eksploitatif tetapi juga membuka jalan bagi munculnya etika dan gaya hidup yang lebih berkesadaran ekologis.

Konsep Naess mengingatkan kita bahwa penyelesaian masalah lingkungan tidak hanya menuntut solusi teknis, tetapi juga perubahan mendasar dalam cara kita berpikir dan berperilaku terhadap alam. Filsafat ekologi Naess, dengan fokusnya pada nilai intrinsik alam dan keseimbangan ekosistem, adalah pengingat bagi manusia untuk lebih menghargai dan melindungi planet ini sebagai rumah bersama bagi semua kehidupan.

Emosi adalah Inti Pengalaman Manusia

Saya ingin berbagi bacaan buku kepemimpinan dan motivasi hidup bermakna, Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ, karya Daniel Goleman (1995).

Daniel Goleman dalam bukunya ini, memberi sebuah pandangan yang mendalam tentang peran emosi dalam kehidupan manusia. Dengan pendekatan yang komprehensif, buku ini menjelaskan bagaimana kecerdasan emosional (EI), bukan hanya IQ, menjadi penentu utama keberhasilan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan. Goleman menggunakan gaya narasi yang menggugah, menghadirkan contoh-contoh konkret dan studi ilmiah untuk membuktikan bahwa emosi adalah inti dari pengalaman manusia.

Sejak awal, hadirnya buku ini, Goleman mengajak kita untuk melihat kekuatan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Ia membuka dengan kisah seorang pengemudi bus di New York yang menyapa penumpangnya dengan ramah di tengah suasana yang muram. Dengan sapaan sederhana, ia berhasil mengubah mood para penumpangnya, menciptakan lingkungan yang lebih positif. Contoh ini menggambarkan betapa kuatnya pengaruh emosi dalam interaksi sosial dan bagaimana emosi bisa menjadi alat untuk menciptakan dampak positif yang meluas.

Dari sini, Goleman membawa kita ke dalam penjelasan ilmiah tentang mekanisme dasar emosi. Ia menjelaskan tentang sistem limbik dalam otak manusia, yang melibatkan amigdala sebagai pusat kontrol emosi. Amigdala bertugas merespons rangsangan emosional dengan cepat, sering kali sebelum neokorteks, bagian otak yang rasional, sempat menganalisis situasi. Proses ini disebut "hijacking emosional" karena emosi mengambil alih kontrol sebelum kita bisa berpikir jernih.

Fenomena ini, yang berevolusi untuk melindungi manusia dari bahaya, sering kali menjadi penyebab perilaku impulsif dalam konteks modern yang kompleks.
Namun, bukan hanya reaksi impulsif yang menjadi fokus Goleman. Ia juga membahas potensi kecerdasan emosional untuk mengelola respons kita terhadap emosi.

Kecerdasan emosional, menurut Goleman, mencakup lima elemen utama: *kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial*. Kesadaran diri memungkinkan kita mengenali emosi kita sendiri, sementara pengendalian diri membantu kita mengelola emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. Motivasi mendorong kita untuk mencapai tujuan meskipun menghadapi rintangan. Empati memungkinkan kita memahami perasaan orang lain, dan keterampilan sosial memungkinkan kita membangun hubungan yang bermakna dan produktif.

Dalam buku ini, Goleman menggambarkan dampak kecerdasan emosional terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan interpersonal. Ia memberikan banyak contoh nyata untuk menunjukkan bagaimana pemahaman dan pengelolaan emosi dapat membantu seseorang menghindari konflik, memperkuat hubungan, dan menciptakan kedekatan emosional.

Dalam konteks pernikahan, misalnya, seorang pasangan yang mampu mendengarkan dengan empati dan merespons dengan bijak lebih mungkin menjaga keharmonisan hubungan mereka. Di tempat kerja, kecerdasan emosional menjadi faktor penting yang menentukan kesuksesan. Kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan, berkomunikasi secara efektif, dan bekerja sama dalam tim adalah atribut yang sangat dihargai di lingkungan kerja modern.

Selain itu, Goleman menunjukkan hubungan erat antara kecerdasan emosional dan kesehatan. Stres kronis, yang sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola emosi, dapat merusak tubuh, termasuk melemahkan sistem kekebalan, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, dan mempercepat proses penuaan. Sebaliknya, orang yang memiliki keseimbangan emosional cenderung lebih sehat secara fisik dan mental, karena mereka dapat menghadapi tantangan hidup dengan cara yang lebih konstruktif. Goleman mengutip berbagai penelitian yang mendukung klaim ini, menunjukkan bahwa emosi memiliki dampak langsung pada tubuh kita.

Namun, kecerdasan emosional bukanlah sesuatu yang hanya relevan bagi orang dewasa. Goleman menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan emosional sejak usia dini. Ia mengkritik sistem pendidikan tradisional yang terlalu berfokus pada pengembangan kecerdasan intelektual, sementara aspek emosional sering kali diabaikan. Ia berpendapat bahwa sekolah harus menjadi tempat di mana anak-anak belajar mengenali dan mengelola emosi mereka, selain menguasai keterampilan akademik. Program pelatihan sosial-emosional, yang telah diterapkan di beberapa sekolah, memberikan hasil yang menjanjikan. Anak-anak yang mengikuti program ini menunjukkan peningkatan dalam kemampuan akademik, empati, pengendalian diri, dan keterampilan menyelesaikan konflik.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keyakinan Goleman bahwa *kecerdasan emosional dapat dipelajari dan dikembangkan sepanjang hidup*. Tidak seperti IQ yang cenderung stabil, kecerdasan emosional adalah keterampilan dinamis yang bisa ditingkatkan melalui refleksi, latihan, dan pengalaman. Goleman memberikan berbagai strategi praktis untuk meningkatkan kecerdasan emosional, mulai dari cara menghadapi stres hingga cara meningkatkan empati terhadap orang lain.

Misalnya, ia menyarankan agar kita melatih kesadaran diri dengan mengenali emosi yang muncul dalam situasi tertentu dan merenungkan bagaimana emosi tersebut memengaruhi perilaku kita.

Namun, buku ini juga menghadapi kritik. Salah satu kritik utama adalah bahwa Goleman terkadang terlalu optimis dalam menghubungkan kecerdasan emosional dengan berbagai aspek kesuksesan hidup. Meskipun banyak penelitian mendukung pentingnya kecerdasan emosional, beberapa ahli berpendapat bahwa hubungan ini tidak selalu sekuat yang digambarkan Goleman. Selain itu, konsep kecerdasan emosional itu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi. Ada yang berargumen bahwa kecerdasan emosional lebih cocok dianggap sebagai kumpulan keterampilan atau sifat kepribadian, bukan sebagai bentuk kecerdasan yang setara dengan IQ.

Namun, meskipun ada kritik, buku ini tetap memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang emosi. Dengan gaya penulisan yang mudah diakses dan penuh dengan contoh-contoh relevan, Goleman berhasil mengkomunikasikan ide-idenya dengan cara yang dapat dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Buku ini tidak hanya memberikan wawasan tentang pentingnya kecerdasan emosional, tetapi juga menawarkan panduan praktis untuk mengembangkannya.

Di bagian akhir bukunya, Goleman menggambarkan visi masa depan di mana kecerdasan emosional menjadi bagian integral dari pendidikan dan kehidupan masyarakat. Ia membayangkan dunia di mana *empati, pengendalian diri, dan keterampilan sosial* diajarkan sejak dini di sekolah, menciptakan generasi yang lebih harmonis dan penuh pengertian. Dengan mengintegrasikan kecerdasan emosional ke dalam kehidupan sehari-hari, Goleman percaya bahwa kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih manusiawi, di mana orang-orang saling memahami dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

"Emotional Intelligence" adalah buku yang menggugah pemikiran dan memberikan wawasan baru tentang bagaimana kita memahami dan mengelola emosi. Dalam dunia yang semakin kompleks dan emosional, pesan Goleman menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Buku ini tidak hanya menginspirasi kita untuk mengenali pentingnya emosi dalam kehidupan mereka, tetapi juga menjadi panduan yang berharga untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna.

Dengan demikian, karya ini adalah panggilan untuk introspeksi dan perubahan, baik pada tingkat individu maupun sosial.

Pengaruh

Sejak diterbitkannya buku Emotional Intelligence oleh Daniel Goleman pada tahun 1995, konsep kecerdasan emosional (EQ) telah mengalami perkembangan signifikan dan memberikan dampak yang luas dalam berbagai aspek kehidupan.

Di bidang pendidikan, pemahaman bahwa EQ memainkan peran penting dalam keberhasilan akademis dan sosial siswa telah mendorong integrasi program pengembangan kecerdasan emosional dalam kurikulum sekolah. Program-program ini bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan kesadaran diri, pengendalian diri, empati, dan keterampilan sosial yang esensial untuk interaksi yang sehat dan produktif. Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan EQ yang baik cenderung memiliki prestasi akademis yang lebih tinggi dan hubungan sosial yang lebih positif.

Dalam lingkungan profesional, konsep EQ telah menjadi faktor penentu dalam proses rekrutmen dan pengembangan karyawan. Perusahaan semakin menyadari bahwa keterampilan teknis saja tidak cukup untuk mencapai kesuksesan; kemampuan untuk bekerja dalam tim, mengelola stres, dan berkomunikasi efektif menjadi sama pentingnya. Goleman dalam bukunya Working with Emotional Intelligence (1998) menekankan bahwa EQ adalah kunci untuk kepemimpinan yang efektif dan kinerja kerja yang optimal.

Selain itu, kesadaran akan pentingnya EQ telah meningkatkan fokus pada kesehatan mental dan kesejahteraan individu. Kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi sendiri serta memahami emosi orang lain berkontribusi pada hubungan interpersonal yang lebih baik dan penurunan tingkat stres. Goleman menghubungkan kecerdasan emosional dengan kesehatan mental dan fisik, mengutip penelitian yang menunjukkan bagaimana ketahanan emosional dapat mengurangi stres, meningkatkan hubungan, dan meningkatkan kepuasan hidup secara keseluruhan.

Seperti sudah dikemukakan sedikit di atas, meskipun demikian, konsep EQ tidak luput dari kritik. Beberapa ahli berpendapat bahwa pengukuran EQ kurang objektif dibandingkan IQ, dan ada perdebatan mengenai sejauh mana EQ dapat diajarkan atau dikembangkan. Namun, banyak penelitian dan praktik di lapangan yang menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, aspek-aspek EQ dapat ditingkatkan melalui pelatihan dan pengalaman.
Secara keseluruhan, pengaruh konsep kecerdasan emosional yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman tetap signifikan hingga saat ini. EQ telah menjadi komponen penting dalam pendidikan, dunia kerja, dan kesehatan mental, dengan penekanan pada pentingnya memahami dan mengelola emosi untuk mencapai kesuksesan dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Insight Baru EQ

Daniel Goleman dalam The Brain and Emotional Intelligence: New Insights (2011), menggali lebih jauh ke dalam temuan-temuan baru yang telah memperluas pemahaman kita tentang kecerdasan emosional (EI) sejak konsep ini pertama kali diperkenalkan, seperti dijelaskan di atas. EQ, yang merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengatur emosi baik pada diri sendiri maupun orang lain, telah terbukti menjadi elemen penting dalam kepemimpinan, hubungan interpersonal, dan kesejahteraan individu.

Gokeman memulai dengan mengulas pertanyaan mendasar, yaitu apakah kecerdasan emosional benar-benar merupakan entitas yang terpisah dari IQ. Studi-studi neurologi menunjukkan bahwa EI beroperasi melalui area otak yang berbeda dari IQ, termasuk amigdala dan korteks prefrontal. Contohnya, amigdala berfungsi sebagai pusat radar emosional, sementara korteks prefrontal membantu dalam pengaturan impuls dan pengambilan keputusan yang lebih rasional. Studi ini memperkuat pandangan bahwa EI adalah seperangkat kemampuan unik yang melibatkan sirkuit otak tertentu.

Lebih lanjut, Goleman mengidentifikasi empat domain utama EI: kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan manajemen hubungan. Kesadaran diri melibatkan kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri dan memahami dampaknya. Ini adalah fondasi dari kecerdasan emosional, dan area seperti amigdala serta korteks somatosensori memainkan peran kunci dalam mengolah emosi pribadi. Dengan kesadaran diri yang kuat, seseorang dapat membuat keputusan yang lebih baik karena mereka mampu mengevaluasi perasaan mereka secara rasional.
Pengelolaan diri adalah kemampuan untuk mengontrol impuls dan emosi negatif, yang sangat penting untuk mencapai kinerja optimal. Goleman menjelaskan fenomena “amygdala hijack,” yaitu ketika amigdala mengambil alih fungsi otak rasional, menyebabkan respons emosional yang berlebihan. Namun, melalui latihan seperti mindfulness dan meditasi, seseorang dapat memperkuat sirkuit otak yang membantu mengelola stres dan emosi, mengurangi dampak negatif dari hijack ini.
Kesadaran sosial adalah kemampuan untuk memahami dan merespons emosi orang lain, termasuk empati. Temuan tentang neuron cermin, yang memungkinkan kita untuk “mencerminkan” emosi orang lain, menyoroti bagaimana otak sosial kita dirancang untuk koneksi interpersonal. Misalnya, ketika seseorang berbicara dengan nada positif, emosi tersebut dapat menular ke orang lain, membangun hubungan yang lebih harmonis. Sebaliknya, nada negatif dapat menciptakan ketegangan.

Manajemen hubungan mencakup keterampilan interpersonal yang lebih kompleks, seperti menginspirasi orang lain, menyelesaikan konflik, dan membangun kolaborasi. Goleman menunjukkan bahwa pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu memanfaatkan EI untuk memengaruhi emosi tim mereka, menciptakan suasana kerja yang positif dan produktif.
Salah satu wawasan penting dalam buku ini adalah hubungan antara EI dan kinerja optimal. Goleman menguraikan hukum Yerkes-Dodson, yang menunjukkan bahwa ada tingkat stres optimal di mana seseorang dapat mencapai kinerja terbaik. Ketika seseorang terlalu santai, mereka mungkin kehilangan motivasi, tetapi ketika stres terlalu tinggi, hal ini dapat menyebabkan kelelahan atau "frazzle." Zona optimal, yang disebut sebagai “flow,” adalah keadaan di mana seseorang sepenuhnya terfokus dan menikmati tugas mereka. Untuk mencapai flow, seseorang membutuhkan keseimbangan antara tantangan tugas dan kemampuan mereka.

Kreativitas juga menjadi topik yang dibahas secara mendalam. Goleman menjelaskan bahwa otak kreatif melibatkan koneksi yang luas antara berbagai bagian otak, termasuk hemisfer kanan dan kiri. Selama momen “aha,” aktivitas gamma di otak meningkat, menunjukkan integrasi informasi yang tiba-tiba dan inovatif. Untuk memfasilitasi kreativitas, Goleman merekomendasikan fase relaksasi setelah konsentrasi intens, yang memungkinkan otak untuk membangun koneksi baru secara spontan.

Dalam konteks organisasi, EI memainkan peran penting dalam menciptakan tim yang efektif dan kepemimpinan yang inspiratif. Pemimpin yang memiliki EI tinggi dapat memengaruhi emosi tim mereka dengan cara yang positif, mendorong kolaborasi, inovasi, dan produktivitas. Mereka juga lebih mampu menangani konflik dengan empati dan keterampilan komunikasi yang baik.

Buku ini juga menyoroti tantangan EI di era digital. Goleman mencatat bahwa interaksi online sering kali kurang memberikan isyarat emosional, seperti nada suara atau ekspresi wajah, yang biasanya membantu kita menafsirkan pesan secara akurat. Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman, seperti dalam kasus “flaming” atau respons emosional berlebihan di email dan media sosial. Solusinya adalah dengan meningkatkan kesadaran akan dampak emosi dalam komunikasi digital dan berupaya menciptakan koneksi yang lebih manusiawi.

Secara keseluruhan, buku Emotional Intelligence ini menawarkan pandangan mendalam tentang bagaimana EI dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks pribadi maupun profesional. Dengan memahami dan mengembangkan EI, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih baik, membuat keputusan yang lebih bijaksana, dan mencapai kinerja yang lebih tinggi.

Buku ini tidak hanya relevan bagi individu yang ingin meningkatkan⁸, tetapi juga bagi organisasi yang ingin menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dan produktif.

Daftar Pustaka

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York, NY: Bantam Books.
Goleman, D. (2011). The brain and emotional intelligence: New insights. Northampton, MA: More Than Sound LLC.

Budhy Munawar-Rachman, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP) Universitas Paramadina.

Berguru Pada Ahmad Tohari

oleh: Juli Prasetya | langgar.co 

"Penulis-penulis terdahulu mengalami penderitaan terlebih dahulu, baru kemudian dia terbentuk. Sastrawan besar itu lahir dari penderitaan, ya merasakan penderitaan diri sendiri dan menghayati penderitaan orang lain." (Ahmad Tohari)


Ketika sedang mendengarkan lagu Im Yoon-Ah (Yoona SNSD) When the Wind Blows. Tiba-tiba saya teringat pada catatan yang pernah saya tulis di kertas fotokopi KTP, yang berisi webinar antara Ahmad Tohari (Selanjutnya ditulis Tohari, tapi biasanya saya memanggil beliau Abah Tohari) dan Putu Fajar Arcana pada 14 Mei 2020 di media sosial Instagram.

Ada beberapa hal yang saya tangkap dan saya catat dari obrolan online mereka waktu itu. Nah di sini saya ingin berbagi catatan saya itu kepada pembaca semua. Hitung-hitung juga meneruskan ilmu yang sudah disampaikan oleh Ahmad Tohari.

Di awal obrolannya dengan Putu, Tohari sudah bilang “Jangan puas dengan tulisanmu”. Dari sini saya menangkap visi pencarian-pencarian, proses, dialektika, dan dinamisasi dari sebuah tulisan atau karya. Pesan ini tentu saja membikin kita (terutama para penulis) untuk mawas diri, rumangsa, dan tidak cepat berpuas diri dengan satu karya buruk tetapi sudah diaku-aku sendiri sebagai masterpis. Dengan demikian, kita mau tidak mau jadi bisa rumangsa dan harus memberikan yang terbaik, serta mengerahkan kemampuan secara optimum dalam menciptakan sebuah karya.

Selanjutnya Tohari membeberkan sumber energi kreatif dalam menelurkan karya-karyanya, setidaknya dia menyebutkan ada 4 hal: kegelisahan, komitmen, kepekaan, dan kepedulian pada kehidupan.  Tohari akan menulis manakala ada dorongan kuat dalam dirinya, dalam hal ini kegelisahan yang memuncak, “Saya akan menulis ketika kegelisahan memuncak” katanya pada  Putu.

Ronggeng Dukuh Paruk sebagai salah satu magnum opus-nya tak diragukan lagi adalah karya sastra yang lahir dari kegelisahannya yang luar biasa. Bagaimana waktu itu Tohari menyimpan sejarah paling tragis nan kelam negeri ini dalam pikiran dan hidupnya, bagaimana pergumulan batin yang tercabik melihat kenyataan pedih nan pahit, bagaimana ia menyaksikan kemanusiaan koyak di depan matanya, hal-hal inilah yang kemudian mengendap sekian lama dalam kepala dan dadanya.  

Selanjutnya ketika akumulasi kegelisahan itu sudah memuncak di ubun-ubun kepala, dan menghantam-hantam batinnya minta dikeluarkan. Mau tak mau untuk menjebolnya atau mengalirkannya, ia hanya memiliki satu cara; yakni dengan menulis. Ini adalah sumber energi karya sastranya yang paling besar. “Ketika saya menuliskan kegelisahan yang luar biasa itu, dada saya plong” katanya. Hal ini tentu saja bisa dilihat bahwa menulis bisa menjadi media untuk mengobati diri, mengobati pedalaman yang galau atau sakit, karena melihat sesuatu yang tidak semestinya. Menulis menjadi semacam obat mujarab untuk menyembuhkan diri, dan juga bisa menjadi media aktualisasi diri.

Selain itu, dalam obrolannya Tohari juga memberikan rahasianya bagaimana ia terampil dalam pertukangan teknik kepenulisan. Ia mengaku itu semua berawal dari catatan harian. Menurut Tohari catatan harian sangat penting peranannya guna membantu menuliskan, mengembangkan dan mengendapkan sebuah gagasan. Karena dengan catatan harian pertama ia mengubah gagasan menjadi teks. Lalu yang kedua Tohari mendapatkan teknik pertukangan menulis juga berawal dari membuat catatan harian itu.

Konsistensi menulis bagi Ahmad Tohari adalah bentuk eksistensinya sebagai manusia, dan ia amat bersyukur karena dirinya ditakdirkan menjadi penulis. Baginya menulis adalah amanah dari Tuhan dan tentu itu harus diasah “Nah saya mengabdi kepada Tuhan salah satunya ya lewat tulisan dan kemanusiaan” katanya. Tohari memandang bahwa menulis bukan hanya sebuah profesi atau pekerjaan, tapi juga panggilan jiwa, panggilan hati. Dan diakdirkan menjadi seorang penulis adalah anugerah yang luar biasa besar. Dan tentu saja memiliki tanggung jawab yang besar pula dalam mempertanggungjawabkan setiap tulisannya.  

Tohari mengaku bahagia jika sebuah karya dikaji, diresensi, atau diseminarkan “Kepuasan seorang penulis yaitu ketika ia tahu karyanya dibaca orang dan pesannya sampai” katanya. Jadi di sini sebenarnya peran pembaca juga tak kalah penting dari penulis itu sendiri. sehingga peran pembaca ini tidak hanya berhenti pada tahap sekadar membaca tapi juga ada tahap lebih lanjut dari kegiatan membaca yakni pembacaan, pengkajian, dan diskusi tentang buku atau karya. Sehingga peran penulis dan pembaca menjadi sama-sama penting. Karena dari sini terjadi dialektika antara penulis dan pembaca. Karena tanpa pembaca maka karya-karya itu hanya akan menjadi benda mati, tanpa pembaca gagasan dan pemikiran dari seorang penulis tidak akan berkembang dan tersebar luas. Jadi di sini peran pembaca juga sangat penting bagi kemajuan dan perkembangan seorang penulis dan karyanya.

Pesan Tohari Kepada Penulis

Dari uraian di atas ada beberapa pesan Ahmad Tohari yang saya tangkap dan saya catat, di sini saya akan merangkumnya menjadi beberapa bagian. Pesan ini ditujukan kepada para generasi muda pada umumnya, dan khusunya untuk para penulis muda, calon penulis serta mereka yang “hidup dan mati” dari tulisan; mereka yang menghidupi sekaligus dihidupi oleh tulisan.

Pertama menulislah sepanjang hayat, karena kepengarangan itu proses sepanjang hayat, berproses itu artinya menjadi lebih baik. Tulisan kita semakin lama harus semakin lebih baik dan bertanggung jawab. Hal ini tentu saja membincangkan tentang kualitas karya dan tanggung jawab seorang penulis dan karyanya.

Kedua, para kaum muda perbanyak membaca, dengan membaca maka kita akan mampu menjadi penulis, “karena dengan menulis maka aku ada”. Nah di sini proses menulis tidak bisa dilepaskan dari proses membaca. Menulis tanpa membaca ibarat berak, dan membaca tanpa menulis seperti pohon yang berbuah untuk dirinya sendiri, tanpa memberikan manfaat apa-apa pada sekitarnya. Jadi dua hal itu menjadi dua mata uang yang saling melengkapi.

Ketiga, peradaban dunia ini bisa terus berjalan dan berkembang, salah satunya karena adanya penulis. Karena penulis itu meneruskan ilmu-ilmu, kesalihan, dan kebajikan terdahulu. Tidak bisa tidak para penulis era sekarang adalah seseorang yang meminjam semangat penulis-penulis sebelumnya. Jadi penulis tidak bisa terlepas dengan generasi-generasi sebelumnya, karena penulis sekarang juga belajar dari penulis yang mengawal peradaban zaman dulu. Dan penulis sekarang juga mencoba untuk memperbaiki dan memoles peradaban yang sudah ada agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Keempat “kalau kalian sudah bisa menulis lalu kumpulkanlah pemuda dan bantu mereka menjadi penulis” ini menjadi semacam sinyal kepada para penulis, bahwa ilmu yang mereka peroleh sudah sepantasnya dibagikan kepada generasi di bawahnya. Para penulis juga mesti membimbing dan membagikan ilmunya kepada para generasi penerusnya, agar kemudian sejarah keilmuan itu tak terputus.

 “Penulis-penulis terdahulu terbentuk dari berbagai macam penderitaan, mereka mengalami penderitaan terlebih dahulu, baru kemudian terbentuk. Sastrawan besar itu lahir dari penderitaan, ya merasakan penderitaan diri sendiri dan menghayati penderitaan orang lain. Jarang saya dengar sastra itu lahir dari kenyamanan-kenyamanan”

Dari Refleksi Diri ke Ilusi Identitas

Oleh: Ali Usman | Kompas, 13 Oktober 2024

Kepada orang Indonesia yang mengaku diri keturunan Yaman, “habib” dan termasuk para “muhibbin” (pengagum atau pecinta habib), dengan segala atributnya, saat menonton laga Timnas U20 Indonesia vs Yaman beberapa hari lalu, dukung siapa? Dukung Indonesia karena tinggal di sini, atau dukung Yaman karena lebih cinta tanah leluhur? Cinta Indonesia atau Yaman?

Pertanyaan-pertanyaan itu juga dialami oleh penulis buku ini, Agustinus Wibowo, meski dalam konteks berbeda. Dikisahkan, tahun 1989, saat Agustinus Wibowo masih usia 8 tahun, sebagai keturunan Tionghoa, dihadapkan pada pilihan sulit, dukung atlet China Yang Yang atau atlet Indonesia Ardy Wiranata, dalam laga final bulu tangkis dunia di Istora Senayan, Jakarta? Lebin cinta Indonesia atau China?

Dualisme identitas pada diri Agustinus Wibowo membuat dirinya sejak kecil dirundung pertanyaan besar: siapakah aku? Kalau saya orang China, mengapa negeri leluhur itu masih jauh dan asing? Tetapi, kalau saya orang Indonesia, mengapa setiap hari saya harus selalu diingatkan bahwa saya adalah China? (halaman 13-14).

Agustinus Wibowo, dalam kenangannya, bahkan sering diolok, China! China sipit! Pulang ke negaramu sana! Orang asing! Bersamaan dengan itu, ia coba menghadirkan kebanggannya sebagai orang China, yang menurut doktrin keluarganya, dikenal sebagai orang pekerja keras, disiplin, cerdas, dan berperadaban luhur.

Namun demikian, saat usianya beranjak dewasa, umur 19 tahun, untuk pertama kali Agustinus Wibowo pergi ke tanah leluhurnya, China. Setelah di sana, apa yang terjadi? Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, bahkan lebih buruk. Selama di China, ia bahkan dilarang berbaur dan tinggal bersama warga asli China. Dan yang paling membuatnya terganggu, menurut Agustinus Wibowo, orang-orang China “jorok”, punya kebiasaan (saat itu) meludah sembarangan; meludahnya ekstrem, dengan bunyi seperti orang menggaruk-garuk pangkal kerongkongan sekeras-kerasanya, lalu melontarkan cairannya seperti hendak menembak musuh.

Atas pengalaman di luar nalar tersebut, lagi-lagi Agustinus Wibomo bertanya-tanya: apakah ia benar-benar berasal dari leluhur yang sama? Sampailah pada kesimpulan, bahwa tanah itu ternyata tidak lebih dari bayang-bayang imajinasi. Identitas hanyalah ilusi. Tak ada yang benar-benar asli atau dalam entitas tunggal.

Agustinus Wibowo dikenal sebagai penulis petualang yang memiliki ketertarikan pada isu-isu identitas. Lahir dari keluarga minotitas etnik dan agama, sejak kecil ia memendam banyak kegelisahan dan selalu merenung, mengapa orang bisa saling bermusuhan karena perbedaan identitas? Pencarian jawaban dari pertanyaanya itu membawa ke dalam perjalanan tidak hanya di Indonesia, tapi juga melanglangbuana ke China, India, Pakistan, Asia Tengah, Mongolia, Papua Nogini, Belanda, Suriname, dan lain sebagainya. Ia bahkan sempat tinggal di Afghanistan selama hampir tiga tahun sebagai jurnalis.

Meski buku setebal 667 halaman ini berangkat dari pengalaman personal penulisnya, tetapi pikiran pembaca dibawa ke persoalan-persoalan lain yang jauh lebih luas. Problem identitas tidak hanya individu, tapi juga kelompok dan kewargaan dalam kasus-kasus di berbagai penjuru dunia. Agustinus Wibowo berhasil menggambarkan persoalan pelik itu dengan menggunakan perspekif sejarah yang menyala kuat di satu sisi, dan refleksi diri—cogito ergo sum: aku berpikir, maka aku ada, kata Rene Descartes—di sisi lain.

Mengapa sejarah? Karena dengan menelusuri setiap peristiwa menggunakan kacamata sejarah, menurut Agustinus Wibowo, kita akan tahu bahwa identitas-indentitas yang dianggap penting sebenarnya terus berubah. Identitas China tidak selalu komunis, dan bukan hanya komunisme. Sejarah komunisme China yang tidak sampai seratus tahun itu hanya seujung kuku dari ribuan tahun sejarah China. Begitu pula dengan Indonesia, tidak selalu sebagai negara berpenduduk muslim tersebesar di dunia. Agama besar yang paling mendominasi sejarah panjang peradaban Indonesia justru agama Hindu dan Buddha.

Melalui sejarah, dapat menjernihkan persoalan. Contoh kasus, konflik Islam versus Barat, atau tepatnya Israel-Palestina, tidak bisa dilepaskan dari konteks politik Timur Tengah. Pertama, runtuhnya kekhalifahan Utsmani. Kedua, berdirinya negara Israel. Ketiga, situasi Perang Dingin yang menjadikan Timur Tengah sebagai medan perang proksi antara Uni Soviet dengan Amerika. Keempat, berebut lahan minyak. Dan kelima, konflik internal di kalangan umat muslim sendiri, antara kelompok Sunni dan Syi’ah (halaman 461-469).

Di Jerman, saat masyarakatnya dipisahkan oleh Tembok Berlin, antara Jerman Barat dan Jerman Timur, mucul persepsi, kedua kutub ini tak mungkin bisa dipersatukan kembali. Masyarakatnya selalu bertanya: apakah kita benar-benar berbeda dan harus diisolasi oleh tembok? Apakah masyarakat di seberang tembok itu berbahaya sehingga perlu mengurung diri dan dilarang berinteraksi? Bukankah sama-sama sebagai warga Jerman?

Puncaknya pada 9 November 1989, ketika ribuan warga Jerman Timur membanjiri perbatasan dan menuntut gerbang Tembok Berlin dibuka. Luapan massa yang sangat mendadak itu membuat para penjaga perbatasan tidak bisa berbuat apa-apa selain membukakan pintu gerbang dan membiarkan orang yang sekian lama terpenjara di dalam negeri sendiri akhirnya berbas menginjakkan kaki ke barat. Mereka akhirnya menemukan bahwa orang-orang di seberang tembok ternyata sama sekali bukanlah monster menakutkan, melainkan orang-orang biasa yang sama dengan mereka sendiri.

Sampai di sini, dapatlah diketahui, bahwa persoalan identitas, yang semula menjadi problem personal Agustinus Wibowo, bisa ditemukan pula pada persoalan identitas kewargaan global. Agustinus Wibowo memang bukan orang pertama yang merefleksikan soal identitas diri, tapi ia termasuk orang yang berhasil, dengan menulis pengalaman personalnya itu, membuat orang lain juga terlibat di dalamnya.

Tahun 1980-an awal, Ahmad Wahib pernah melakukan perenungan soal identitas dan keagamaan dirinya. “Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukan Buddha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia”, tulis Wahib dalam catatan hariannya.

Agustinus Wibowo melampaui Ahmad Wahib. Selamat membaca.

Judul : Kita dan Mereka: Perjalanan Menelusuri Akar Identitas dan Konflik Manusia
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, 2024
Tebal : 667 halaman

Fiqih Ikhtilaf

 Ust. Ahmad Sarwat

Fiqih ikhtilaf adalah salah satu subjek pembahasan dalam ilmu fiqih, khususnya membahas perbedaan pendapat di kalangan para pakar dan ahli fiqih.

Setidaknya ada tiga point penting untuk kita catat dalam mempelajari fiqih ikhtilaf, yaitu 

Pertama, terkait perbedaan pendapat itu tidak bisa ditolak. Kedua, terkait bahwa tidak semua titik  kita boleh berbeda pendapat. Dan ketiga bahwa ikhtilaf itu hanya sebatas di kalangan para ulama saja, bukan persengketaan awam.

Kita kupas satu-satu ya: 

1. Perbedaan Pendapat Itu Tidak Bisa Ditolak

Perbedaan pendapat ini bukan hal yang tabu apalagi haram. Justru perbedaan pendapat ini mutlak pasti terjadi. Dahulu para shahabat pun sudah berbeda pendapat di hadapan Rasulullah SAW. Malahan para nabi dan rasul pun sering kali berbeda pendapat dengan sesama mereka.
Nabi Musa 'alaihissalam berbedpa pendapat dengan saudaranya sendiri, Nabi Harun 'alaihissalam, khususnya dalam pendekatan dakwah kepada bangsa mereka, Bani Israil.

Dalam dimensi yang lain, Surat Al-Kahfi menceritakan bagaimana Nabi Musa 'alaihissalam, lagi-lagi berbeda pendapat dengan Nabi Khidhir 'alaihissalam.

Nabi Sulaiman 'alaihissalams ebagai raja di masanya, juga berbeda pandangan dengan ayahandanya sendiri, Nabi Daud 'alaihissalam.

Dan uniknya, dalam riwayat yang shahih, kita juga akrab dengan kisah di zaman dulu terkait kisah taubatnya pendosa yang telah membunuh 99 nyawa plus 1 nyawa.  Dia tidak sempat sampai ke tujuan, keburu mati di jalan. Lalu dua malaikat berseteru, yang satu mau bawa ke surga dan satu lagi mau bawa ke neraka. 

Padahal malaikat itu hamba-hamba Allah yang mulia (ibadun mukramun). Malaikat itu tidak punya kepentingan bisnis tertentu sehingga ngotot dalam masalah ini. Malaikat juga tidak didukung partai tertentu, sehingga harus menjaga amanah konstituen. 

Dan tentu saja malaikat juga tidak pamer-pamer kemasyhuran, misalnya biar jumlah follower bertambah, atau biar rating acaranya nya jadi naik. Tidak mungkin para malaikat bersikap serendah itu. 

Mereka sama sekali tidak punya kepentingan apapun ketika mengerjakan tugas, semua seusai SOP yang sudah ada. Namun meski pun demikian, ternyata ikhtilaf tetap saja terjadi antara dua makhluk Allah yang tidak punya hawa nafsu itu. 

Lalu kita mau apa?

Kalau para shahabat bisa berbeda pendapat, para nabi dan rasul pun bisa berbeda pendapat, bahkan para malaikat mulia itu juga bisa berbeda pendapat, mengapa kita tidak boleh berbeda pendapat?

2. Tidak Semua Titik Boleh Berbeda Pendapat

Tentu saja urusan perbedaan pendapat ini terbagi dua, ada titik dimana kita boleh berbeda pendapat, namun juga ada titik yang kita tidak boleh berbeda.

Saya tidak membaginya berdasarkan tema aqidah dan syariah, tapi saya malah membaginya berdasarkan perkara fundamental atau tidak fundamental, baik pada tema aqidah atau pun pada tema syariah.

Tema Aqidah memang jadi landasan keimanan kita. Namun sebenarnya tidak semua tema aqidah itu menentukan keimanan. Ternyata dalam kajian-kajian ilmu aqidah atau ilmu tauhid, masih terbagi lagi antara ajaran yang fundamental dan tidak fundamental. 

Kalau prinsip tiada tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah SAW, tentunya itu masuk yang fundamental. Juga tentang keharusan kita mengimani keberadaan para malaikat, kitab suci, para rasul dan nabi, dan juga kepastikan akan terjadi hari kiamat. 
Semua itu tentu sangat-sangat fundametal. Kalau sampai kita mengingkarinya, jelas gugur keimanana kita dan ancamannya pasti masuk neraka. Nauzdu billa tsumaa naudzu billah.

Namun meski kita beriman kepada para malaikat, ternyata urusan per-malaikat-an ini luas juga. Misalnya kita kenal ada 10 nama malaikat yaitu Jibril, Mikail, ISrafil, Izrail, Munkar, Nakir, Raqib, Atid, Malik dan Ridwan. 

Pertanyaannya: misalnya kita tidak hafal kesepuluh nama mereka, kira-kira kita masuk neraka nggak? Tentu jawabannya tidak, bukan?
Karena urusan siapa saja nama para malaikat, meski masih tema di bidang aqidah, namun secara nilai ajaran, tidak termasuk yang fundamental. 

Sebagaimana juga kita tidak wajib menghafal nama 25 nabi dan rasul secara urut, meski kita tetap wajib beriman kepada mereka. Padahal jumlah mereka tidak kurang dari 124 ribu orang, 300 di antaranya sekelas rasul. Mana ada yang kenal dan hafal semua nama mereka?

Begitu juga dengan nama-nama kitab suci yang Allah SWT turunkan, ternyata bukan hanya empat saja (Zabur, Taurat, Injil, Al-Quran), tapi masih ada banyak lagi. Dan hampir semuanya kita tidak kenal namanya.

Kiamat begitu juga, kita cukup mengimani bahwa kiamat pasti terjadi. Cuma bagaimana urut-urutannya, kayak apa kejadiannya, kapan terjadinya, semua itu justru blank dalam pengetahuan kita. Jadi kita wajib mengimani, tapi tidak wajib mengetahui detail-detailnya.

Apalagi kalau subjeknya tentang Allah SWT, tentu lebih unik lagi. Hampir semua kajian terkait detail-detail subjek Allah itu merupakan hasil ijtihad ulama, di mana mereka selalu berbeda pendapat tentang detail-detailnya. 

Kita tidak bisa mengatakan siapa yang keliru dalam urusan detail ini pasti musyrik dan matinya masuk neraka. Sama sekali tidak masuk akal, karena masalah-masalah yang diangkat umumnya malah tidak pernah dipermasalahkan di masa kenabian.

Makanya Imam Ahmad tegas sekali berkata: 

والسؤال عنه بدعة

Membahas atau mempertanyakan masalah semacam itu adalah perbuatan bid'ah, maksudnya perkara-perkara tidak pernah dibahas di masa kenabian. Kalau tidak dibahas, berarti memang tidak penting-penting amat. 

Jadi ikhtilaf itu tidak hanya sebatas dalam masalah syariah atau fiqih semata, tapi dalam tema besar tauhid dan aqidah, juga ada banyak perkara khilafiyah. Malah porsi perbedaan pendapatnya jauh lebih lebar dan lebih luas. 

3. Ikhtilaf Ulama vs Persengketaan Awam

Tidak semua masalah perbedaan pendapat itu harus kita terima. Hanya perbedaan pendapat di kalangan ulama saja yang masuk dalam semesta pembicaraan fiqih ikhtilaf ini.

Misalnya perbedaan dalam bacaan Al-Quran, kita hanya menerima bila yang berbeda para imam qiraat antara Nafi' Qalun, Warsy, Al-Kisa'i, Ibnu 'Amir, Hafsh, 'Ashim dan sekelasnya mereka saja. 

Kita tidak menerima perbedaan pendapat qiraat dari Sarimin, Sariman, Saritem atau pun Sariyem. Sebab mereka bukan imam qiraat. 

Kita hanya menerima perbedaan pendapat fiqih dari para fuqaha, misalnya mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i atau Hambali. Kita tidak bisa menerima perbedaan pendapat dari Wariman, Warimin, Warjoko, Warsiyem apalagi Warsinem.

Kita hanya menerima perbedaan pendapat tentang sanad hadits dari para imam hadits, seperti Imam Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, At-Turmuzi, Ibnu Ash-Shalah dan sekelas ulama hadits betulan. Kita tidak bisa menerima perbedaan pendapat dari Tugiman, Tugimin, Tulkiyem apalagi Tuljaenak Jaejatul Jaeji. 

Orang yang bukan pakar di suatu bidang ilmu, kalau pun mereka sepakat pun kita tidak ikuti, apalagi ketika mereka bersitengang dan berbeda pendapat, lebih kita jauhi lagi. Orang awam kok sok pada berbeda pendapat, ya kita buang semua pendapat mereka.
Kenapa?

Karena mereka yang biasanya ribut-ribut itu sebenarnya kelas orang awam. Awam itu maksudnya mereka yang bukan ahli di bidangnya. 
Seperti ributnya orang-orang tentang sebuah penyakit, padahal mereka bukan dokter. Ributnya mereka tentang ruang angkasa, padahal mereka bukan astronom. Ributnya mereka tentang resep masakan, padahal mereka bukan chef dan tidak pernah masuk dapur seumur hidupnya. 

Mereka meributkan masalah hukum agama, padahal tak satu pun yang pernah belajar ilmu fiqih. Mereka meributkan sanad hadits, tapi tak satupun yang pernah jadi murid ulama hadits. 

Mereka meributkan cara baca qiraat sab'ah, padahal tak satu pun yang pernah belajar sanad bacaan lewat riwayat mutawatir.

Mereka meributkan tafsir suatu ayat, padahal tak satu pun yang pernah ikut kuliah tafsir. 

Keawaman mereka itu adalah sumber penyakit sekaligus racun yang merusak ukhuwah serta persatuan umat Islam. Sebab yang mereka lakukan itu sangat naif dan fatal akibatnya.

Ibaratnya ada beberapa orang buta saling meributkan bentuk gajah. Mereka mereka seumur hidup tidak pernah melihat gajah secara utuh. Tapi mereka saling menyalahkan sesama mereka. Dan lebih parah lagi, semua pengunjung kebun binatang yang pada nonton gajah pun mereka sesat-sesatkan. 

Lucu sekali omelan para orang buta itu: Siapa bilang gajah punya gading dan belalai? Kalian itu salah dan keliru besar. Kalian sudah sesat. Segeralah bertaubat. Dasar kalian itu tidak punya mata, kalian itu buta dan tidak bisa melihat!

Waduh... semua pengunjung kebun binatang pada saling pandang sesama mereka dengan pandangan bingung dan heran. 

Untung saja ada petugas menenangkan, sambil memberi isyarat menyilangkan jari di dahi. Semua langsung berucap: Oooo pantes