Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Berfilsafat Untuk Mencapai Kebahagiaan

Oleh: Budhy Munawar Rachman

Tidak alasan bagi manusia untuk berfilsafat, kecuali untuk mencapai kebahagiaan

Tinjauan buku singkat: E.F. Schumacher, A Guide for the Perplexed (1977)

Dewasa ini, kehidupan kemanusiaan kita mengalami krisis yang luar biasa. Salah satu pertanda krisis itu adalah semakin dangkalnya pengertian modern kita mengenai kehidupan manusia. Ini terutama terlihat dari pemahaman seratus tahun belakangan ini mengenai apa yang disebut sains, dan kaitannya dengan pengertian mengenai kemanusiaan. Krisis ini akhirnya, memudarkan kepercayaan pada percobaan modern untuk membahagiakan manusia. Dan semakin banyak pemikir-pemikir yang sering dianggap “aneh” yang menyarankan bahwa pemulihan harus datang “dari dalam diri manusia”, bukan hanya lewat pemecahan politis dan sistemik. Salah seorang pemikir yang dianggap aneh itu adalah E.F. Schumacher.

Buku A Guide for the Perplexed ini ditulis oleh ekonom-filsuf E.F. Schumacher, yang sebelumnya terkenal karena bukunya Small is Beatiful, yang telah menjadi semacam kitab suci para aktivis LSM pada era 1970an dan 1980-an. Buku A Guide for the Perplexed ini adalah filsafat di balik buku Small is Beatiful yang mendunia, sebagai perlawanan atas gagasan bahwa besar (hal yang massif) itu efisien.

Ada beberapa istilah penting dalam buku Schumacher A Guide for the Perplexed yang perlu mendapat perhatian seperti: “pemulihan harus datang dari dalam,” mengenai “manusia dan tingkat-tingkatnya yang lebih tinggi,” mengenai masalah “konvergen” dan “divergen” dan beberapa istilah lain. Seyyed Hossein Nasr, menyebut “His posthumous work Guide for the Perplexed is one of the most easily approachable introductions to traditional doctrines available today.” Jadi buku E.F. Schumacher ini bisa disebut sebagai buku pengantar tentang filsafat perennial yang bagus.

Peta Filosofis

Menurut Schumacher, kita memerlukan sebuah peta filosofis, yang bisa menjelaskan kita berada di mana sekarang ini, sekaligus arah perjalanan hidup kita. Selama ini peta-peta yang disodorkan oleh saintisme, yaitu sebuah paham materialisme modern, telah membiarkan tidak terjawab banyak masalah-masalah penting dari hidup manusia. Bahkan menganggapnya sebagai “bukan masalah!”

Saintisme misalnya menganggap tidak bermakna pertanyaan-pertanyaan abadi filsafat dan agama, seperti: Mengapa kita ada di dunia ini. Kita berasal dari mana? Dan akan ke mana setelah kematian nanti? Apa arti dan tujuan hidup? Dan seterusnya, pertanyaan-pertanyaan perennial, yang “anehnya” oleh Schumacher ditekankan bahwa harusnya filsafat (modern) membawa manusia ke jalan itu. Tapi nyatanya semakin modern filsafat semakin jauh dari usaha menjawab pertanyaan tersebut

Oleh saintisme manusia dinilai hanyalah, tak lain dari, “suatu mekanisme biokimia pelik yang dimotori oleh suatu sistem pembakaran yang memberi tenaga kepada komputer-komputer dengan fasilitas-fasilitas penyimpanan yang luarbiasa guna memelihara informasi bersandi”. Juga sebuah pandangan reduksionistik yang misalnya lewat psikoanalisa Freud, akan menganggap perjuangan kepada nilai-nilai kemanusiaan tertinggi hanyalah, tak lain dari, “mekanisme-mekanisme pertahanan diri, dan bentukan-bentukan reaksi.”

Maka, pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa yang harus saya lakukan” apalagi “Apa yang harus saya lakukan agar selamat sebagai manusia”; pertanyaan-pertanyaan teleologis yang menyangkut tujuan hidup, akan dianggap aneh.

Keadaan dunia sekarang ini betul-betul krisis, karena tidak menganggap lagi apa yang berabad-abad sebagai pertanyaan paling penting (perennial questions), dan telah menyibukkan para filsuf, sebagai pertanyaan yang tak bermakna. Dari sudut filsafat, inilah sebenarnya agenda besar Schumacher yang dapat kita temui dalam buku ini, mencoba menjawab dengan cara yang bisa dipahami orang modern, pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Menurut Schumacher, keadaan dunia modern sekarang ini membawa kita perlu melihat lagi peta filosofis kita: Apakah peta kita itu telah memuat apa yang sungguh-sungguh penting dalam hidup kemanusiaan. Schumacher mencoba membeberkan pada kita peta yang perlu kita telaah sungguh-sungguh, yang meliputi Empat Kebenaran besar, yang dengan caranya masing-masing agama-agama besar dunia, dan filsafat sampai sebelum masa modern telah berusaha menjelaskan mengenai Empat Kebenaran ini, yaitu Kebenaran mengenai: (1) “Dunia”; (2) “Manusia” yaitu perlengkapan yang digunakan untuk berhadapan dengan “Dunia”; (3) Cara belajar tentang dunia; dan (4) Apa yang dimaksud dengan “hidup” di dunia.

Empat Kebenaran perenial ini berisi: Kebenaran tentang dunia, menyangkut “Empat Tingkat Eksistensi”. Kebenaran tentang perlengkapan yang digunakan manusia untuk berhadapan dengan dunia, adalah “Asas Ketepatan” (adaequatio). Kebenaran tentang cara belajar tentang dunia meliputi “Empat Bidang Pengetahuan.” Dan Kebenaran tentang “Cara hidup di dunia” meliputi pembedaan antara dua jenis masalah, yaitu konvergen (bertitik temu), dan divergen (bertitik pisah).

Peta filosofis ini, memang bukan segala-galanya, seperti peta bukanlah teritorinya. Tetapi untuk mengerti teritori tetaplah diperlukan peta sebagai “petunjuk jalan” supaya kita tidak tersesat, atau bingung. Dan menarik buku Schumacher ini sebenarnya merupakan peta filosofis untuk kita, dalam menemukan jalan menuju kebahagiaan kehidupan manusia.

Menurut Schumkacher, para filsuf modern, pada umumnya bukanlah pembuat peta, yang setia dengan kesinambungan apa yang telah dibuat pendahulu mereka dalam tradisi filsafat yang panjang. Malah mereka adalah seperti yang telah dilakukan Descartes, bapak filsafat modern, “berpatah arang dengan tradisi, main sapu bersih, memulai dari awal, dan berusaha menemukan sendiri segala sesuatunya!” Apa yang dilakukan Descartes dan para pengikutnya, sampai masa kini, akhirnya malah “mundur dari kebijaksanaan” setelah mereka menyadari menurut mereka, bahwa jangkauan pikiran manusia sangat terbatas, dan bahwa tak ada alasan untuk menaruh perhatian kepada hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia. Ada skeptisisme yang mewarnai epistemologi modern, sehingga mereka menyerah, terutama untuk mengetahui masalah-masalah metafisika. Sementara kearifan tradisional dan perenial, yang juga tahu mengenai kelemahan pikiran manusia, mereka juga tahu bahwa tetap ada kemungkinan manusia sanggup melampaui dirinya sendiri menuju tingkat-tingkat yang makin lama makin tinggi.

Keadaan epistemologi modern telah memiskinkan pengertian kita mengenai manusia. Banyak wilayah dari apa yang telah diusahakan oleh pemikiran-pemikiran tradisional, selama ribuan tahun, tidak lagi termuat dalam peta filosofis modern. Filsafat modern juga telah kehilangan dimensi vertikal. Ketika filsafat dihadapkan pada pertanyaan, “Apakah yang harus saya perbuat dengan hidup saya?” Jawaban filsafat akan bersifat, paling jauh, adalah utilitarianisme seperti: “Jadikanlah dirimu senyaman-nyamanmu!” Atau “Bekerjalah demi kebahagiaan sebanyak-banyak orang!”. Hakikat manusia menurut pandangan modern, akibat pengaruh teori evolusi, adalah hewan “yang sedikit lebih tinggi” (tetapi tetap hewan!).

Pikiran mengenai “lompatan eksistensi” yang sangat disadari oleh para filsuf sepanjang zaman, telah diabaikan sedemikian rupa, dan dianggap kabur. Para filsuf modern menyamaratakan semua, dan menghindari istilah hirarki seperti “lebih tinggi” atau “lebih rendah.” Bandingkan dengan jawaban filsafat tradisional atas pertanyaan itu. “Kebahagiaan manusia ialah bergerak menuju kepada “yang lebih tinggi”, mengembangkan bakat-bakatnya yang “tertinggi”, memperoleh pengetahuan tentang hal-ihwal yang “lebih tinggi” dan yang “tertinggi”, serta bila mungkin, bertemu dengan Tuhan. Dan bila manusia tidak mengerjakan tugas perenialnya ini, maka berarti ia bergerak menuju kepada yang “lebih rendah”, dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang “lebih rendah” yang ada padanya seperti pada hewan, sehingga ia pun menjadikan dirinya sendiri tak bahagia, bahkan mungkin putus asa.

Suatu kepercayaan umum dewasa ini, banyak orang-orang modern tidak percaya lagi bahwa kebahagiaan yang sempurna dapat dicapai dengan metode-metode yang sama sekali tidak dikenal oleh filsafat modern. Dan ini wajar, karena tanpa pengertian kualitatif mengenai “yang lebih tinggi” dan “yang lebih rendah” maka mustahillah memikirkan pedoman hidup yang melampaui segala bentuk egoisme. Itu sebabnya memikirkan kembali adanya tingkat-tingkat eksistensi dan kaitannya dengan filsafat menjadi hal yang penting sekali, supaya kita jangan memiskinkan filsafat hanya pada pengetahuan mengenai “hal-hal yang rendah” (seperti sains) sambil menutup diri mengenai “hal-hal yang tinggi” (seperti spritualitas manusia).

Buku ini memang bukan buku sederhana, tapi begitu Anda bisa menangkap maksud dan isi buku ini, Anda akan berterima kasih pada Schumacher yang telah memberi peta filosofis tersebut, sehingga Anda jadi tahu ke arah mana Anda akan menjalani hidup ini.

 

The Quest for Meaning: Developing a Philosophy of Pluralism

Oleh: Dr. Zaprulkhan

Bagaimanakah mencari makna hidup dalam pentas kehidupan abad 21 yang sangat pluralistik dalam berbagai aspeknya? Bagaimana caranya kita dapat berinteraksi dengan penuh kedamaian, ketenangan, kesetaraan, penghormatan, harmoni dan kebahagiaan di tengah-tengah beragamnya perbedaan agama, keyakinan, paham, tradisi, budaya, filosofi, bangsa dan negara dalam ruang dan waktu milenium ketiga dewasa ini? Inilah benang merah yang akan dijawab oleh Tariq Ramadan dalam karya cemerlangnya tersebut.

Dalam pendahuluannya, Tariq Ramadaan mengajukan sebuah tesis dengan metafora sebuah jendela: We all observe the world through our own windows. “Kita semua mengamati dunia melalui jendela milik kita masing-masing.” Jendela merupakan metafora dari sebuah sudut pandang, sebuah kerangka kerja, atau sebuah kaca mata yang selalu mewarnai penglihatan kita sekaligus memiliki orientasi dan keterbatasan dalam mencandra realitas secara holistik-komprehensif.

Dengan kesadaran ini, kita harus mengakui dengan rendah hati bahwa yang kita miliki tidak lebih dari sebuah point of view, suatu sudut pandang yang membentuk ide-ide, persepsi dan imajinasi kita terhadap fenomena kehidupan dunia yang plural. Di sini, kita mesti mengakui keterbatasan sudut pandang kita dalam memotret realitas yang kompleks.

Meskipun demikian, kita jangan larut dalam relativitas sudut pandang kita dan meragukan segala sesuatu yang kita tangkap. Kesadaran bahwa kita memiliki sudut pandang yang terbatas justru mengajak kita memiliki rasa ingin tahu yang sehat, enerjik dan kreatif tentang jumlah sudut pandang yang tak terbatas banyaknya yang juga dimiliki orang lain dalam memandang dunia yang sama. Kita harus menyadari bahwa ada begitu banyak orang yang memandang realitas kompleks yang sama melalui jendela mereka masing-masing.

Selain itu, Tariq Ramadan juga mengajak kita menyelami samudera kebenaran hakiki melalui jendela (perspektif) kita masing-masing. Kita harus siap berlayar mengarungi ke tengah-tengah lautan dan menyadari bahwa lautan eksis karena ada begitu banyak pantai di sekelilingnya. Kehadiran pantai yang sangat banyak jumlahnya itulah yang menjadikan satu lautan, satu samudera. Ketika kita mencandra kebenaran dengan perspektif yang kita miliki, kita perlu menyadari bahwa ada begitu banyak perspektif yang dimiliki orang lain yang juga sedang mencandra kebenaran yang sama.

Setiap kita hanya mencandra kebenaran dengan perspektif kita yang terbatas. Begitu pula pihak lain menangkap kebenaran dari perspektif mereka masing-masing yang memiliki keterbatasan. Meskipun tatkala kita tenggelam di tengah-tengah lautan, kita tidak melihat pantai; sejauh mata memandang, kita hanya menyaksikan sebuah lautan yang tak bertepi, tapi bersama kesadaran dan kerendahan hati, kita perlu mengakui bahwa ada begitu banyak pantai pada setiap horizon pandangan yang kita saksikan.

Hakikat kebenaran (luasnya lautan) terlalu akbar untuk dibatasi dengan satu perspektif (satu pantai) semata. Oleh sebab itu, dalam mengarungi samudera kebenaran yang maha luas tersebut, kita mesti menyiapkan sikap rendah hati sebagai kapal kehidupan kita. 

Dalam karya brilian tersebut, Tariq Ramadan membahas berbagai topik, seperti pencarian makna hidup, konsep tentang sesuatu yang universal, iman dan nalar, persaudaraan dan kesetaraan, kebebasan dan pendidikan, respek dan toleransi, tradisi dan modernitas, peradaban, cinta, pengampunan, spiritualitas dan lain-lain. Izinkan saya memotret sekilas beberapa topik yang menjadi core karya tersebut.

Pencarian Makna Hidup

Dalam pandangan Tariq Ramadan, kendati setiap kita mencandra kompleksitas kehidupan yang bersifat plural dan hakikat kebenaran dengan keterbatasan perspektif kita masing-masing, namun setiap kita memiliki satu kesamaan: setiap kita selalu mencari makna, kebenaran, kedamaian sekaligus kebahagiaan.

Dalam tilikan Tariq Ramadan, setiap orang, baik kaum idealis maupun materialis, filsuf atau saintis, orang beriman maupun ateis, selalu mencari makna dalam kehidupan yang mereka jalani. Setiap orang yang bersedia menelisik fenomena kehidupannya dengan lebih dalam, niscaya akan dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial: Why life? Why me? What is the meaning of death, suffering, love, morality and so on?

Dengan hadirnya pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu, setiap orang bahkan kaum ateis sekalipun berupaya menjawabnya agar kehidupan mereka bermakna. Seorang filsuf ateis seperti Jean Paul Sartre yang menegaskan kehidupan ini absurd, tetap mengakui bahwa kegelisahan eksistensial terhadap hadirnya penderitaan dan kematian merupakan sesuatu yang sangat sentral dalam pengalaman riil kehidupan umat manusia. Karena itu, berhadapan dengan kegelisahan eksistensial ini, Sartre meresponsnya dengan tegas: ‘We have to recognize it, accept it, and transcend it’, ‘Kita harus mengenalinya, menerimannya, dan sekaligus melampauinya.’ Dengan respons tersebut, bagaimana pun juga Sartre tengah merajut makna dalam kehidupannya.

Dengan demikian, menurut Tariq Ramadan pencarian makna hidup dalam pentas kehidupan umat manusia bagaikan sidik jari yang unik bagi setiap orang. Setiap orang sama-sama mempunyai sidik jari itu. Namun setiap orang memiliki sidik jari yang unik dan berbeda antara satu dengan lainnya. Prinsip universal dalam pencarian makna yang selalu dilakukan setiap orang ini, disebut oleh Tariq Ramadan sebagai a universal singularity.

Tentang Yang Universal

Ketika berbicara tentang suatu konsep yang bersifat universal, biasanya kita merujuk pada beberapa konsep yang kita yakini atau kita pahami sebagai universal. Lalu kita mengartikulasikannya di ruang publik dan menginginkan bahkan kadangkala mengharuskan publik yang terdiri dari orang-orang yang berbeda paham, keyakinan, pendidikan, dan kultur untuk menerima konsep-konsep yang kita gulirkan. Dalam benak kita, karena konsep-konsep tersebut bersifat universal, maka semua orang, tidak peduli adanya perbedaan mereka dengan kita, harus menerima konsep-konsep universal tersebut. Dalam benak kita mengatakan: “Karena konsep-konsep tersebut bersifat universal, maka semua orang harus menerimanya.”

Yang seringkali luput dari pandangan kita adalah orang lain juga dengan pandangan, keyakinan, paham, agama, pendidikan, dan kultur yang mereka miliki mempunyai juga konsep-konsep universal yang boleh jadi berbeda dengan konsep-konsep universal yang kita miliki. Kaum filsuf mempunyai beragam konsep tentang sesuatu yang bersifat universal. Para ilmuwan juga memiliki berbagai konsep tentang hal-hal yang universal. Demikian pula kaum agamawan mempunyai pelbagai ide mengenai hal-hal yang dinilai universal yang berlaku bagi semua umat manusia.

Yang berbahaya adalah ketika kita memaksakan konsep-konsep universal yang kita yakini atau kita pahami kepada orang lain yang berbeda untuk menerimanya. Kita meyakini bahwa konsep-konsep universal yang kita miliki itulah satu-satu yang bersifat universal dan semua orang harus menerimanya. Tariq Ramadan menyebut keyakinan ini sebagai “dogmatic mind”, pikiran yang dogmatis.

Dogmatic mind ini bisa saja dimiliki oleh siapapun: kaum agamawan, para cendekiawan, filsuf ataupun juga ilmuwan. Ketika seseorang mempercayai bahwa konsep-konsep yang digulirkannya merupakan satu-satunya yang bersifat universal dan harus diterima oleh orang lain yang berbeda, maka ia sudah terjebak dalam perangkap dogmatic mind.

Untuk keluar dari jebakan dogmatic mind, kata Tariq Ramadan, yang diperlukan adalah open minded, sebuah pikiran yang terbuka untuk berinteraksi, bersedia mendengarkan pihak lain sekaligus berusaha secara empati memahami beragam perbedaan tentang konsep-konsep yang universal yang disuarakan oleh orang lain, budaya lain, tradisi lain, paham lain dan agama lain. Tariq Ramadan menyebut beragam istilah tentang konsep-konsep yang bersifat universal, the immanent universal, the inner universal, the universal of the heart, the universal of reason bahkan the nihilist universal of nothingness and non-meaning.

Dengan alasan inilah, Tariq Ramadan menegaskan sebuah prinsip: There can be no universal without diversity. ‘Tidak akan pernah ada suatu konsep universal tanpa hadirnya keragaman. Oleh sebab itu, karena diskursus tentang yang universal dinarasikan oleh banyak suara yang beragam dengan argumentasinya masing-masing, kita jangan terlalu percaya diri dengan menutup diri. Bahkan kita perlu menumbuhkan kecurigaan yang sehat terhadap konsep universal kita sebagai satu-satunya konsep yang benar.

Sejatinya dalam hidup ini kita sedang dalam perjalanan panjang untuk mencari makna, kebenaran, kebahagiaan dan kedamaian hakiki. Dalam perjalanan pencarian ini, kita berjumpa dengan begitu banyak orang yang berbeda namun memiliki pencarian makna hakiki yang sama, meskipun dengan jalan yang berbeda. Karena itu, menyadari bahwa kita sedang dalam perjalanan pencarian makna, mengenali beragam cara yang berbeda dalam merengkuh makna, dan memiliki keraguan yang sehat terhadap perspektif kita sebagai satu-satunya yang benar, bagi Tariq Ramadan merupakan tiga elemen dasar untuk menumbuhkan sikap rendah hati dalam interaksi kita dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang pluralistik.

Tariq Ramadan juga mengusulkan agar kita menjadikan sesuatu yang bersifat universal sebagai sebuah ruang terbuka atau sebuah ruang umum besar dimana beragam cara, beragam jalan, dan beragam tradisi pemikiran dan agama dapat berjumpa satu sama lain dengan damai. Dalam ruang umum yang sangat akbar tersebut, semua perbedaan wacana pemikiran yang diwakili fakultas panca indra, pikiran, dan hati dapat berjumpa satu sama lain.

Pesannya bukan untuk menyatukan pelbagai sistem, nilai dan budaya dengan sistem, nilai dan budaya lain yang berbeda, tapi justru untuk menyediakan ruang-ruang perjumpaan dimana kita semua dapat bertemu dan saling menyapa secara setara. Kita tidak perlu mempunyai obsesi untuk menyatukan semua yang beragam tersebut, karena memang tidak bisa disatukan. Tariq Ramadan lebih setuju menggunakan kata intersection daripada integration: The intersection of what we have in common, rather than the integration of differences.

Toleransi dan Respek

Toleransi dan respek terhadap pihak yang berbeda menjadi salah satu tema yang sangat menarik yang dibahas dalam buku ini. Menurut Tariq Ramadan, ada perbedaan antara toleransi dan respek dalam menyikapi perbedaan. Meskipun dalam keadaan tertentu, toleransi dapat bersifat aktif, tapi secara umum toleransi lebih bersifat pasif dalam menyikapi perbedaan. Dalam toleransi, kita hanya bersikap untuk menerima eksistensi pihak lain yang berbeda tanpa kita berusaha memahami, mengenali dan bahkan menggali lebih jauh tentang eksistensi pihak lain tersebut.

Sedang dengan respek, kita lebih bersikap aktif dan proaktif kepada pihak yang berbeda daripada sikap pasif. Kita terdorong perasaan ingin tahu secara positif terhadap eksistensi dan kehadiran pihak lain. Kita juga berupaya mempelajari pihak-pihak yang berbeda agar kita dapat mengetahui dan mengenali siapa sebenarnya mereka. Pengenalan, perasaan ingin tahu dan pengetahuan yang aktif mengantarkan akal dan hati kita memasuki kompleksitas dunia pihak lain yang berbeda. Kita mulai bersentuhan dengan prinsip-prinsip dan harapan-harapan mereka, dengan ketegangan dan kontradiksi-kontradiksi kehidupan yang mereka alami.


Jika toleransi dapat mereduksi pihak lain hanya sebagai pihak yang hadir belaka secara pasif, respek justru membuka diri kita untuk menyelami kompleksitas eksistensi pihak lain. Pada saat yang sama, sikap respek mengajarkan kita bahwa pihak lain sama kompleksnya dengan eksistensi kita: mereka sama dengan kita, mereka cermin kita, dan kegelisahan mereka pun sama dengan kegelisahan kita. Melalui sikap respek, kita akan menyadari bahwa: The other exists within me, and I exist within the others, “Pihak lain sebenarnya hadir dalam diri kita dan kita juga sesungguhnya hadir dalam pihak lain.”

Sebab, kita bukan cuma sama-sama merasakan kesenangan dan kegembiraan, kenikmatan dan kebahagiaan, kasih sayang dan cinta, tawa dan senyuman, tapi juga sama-sama mengalami kesulitan dan kepayahan hidup, kepahitan dan penderitaan hidup, kebencian dan penolakan, termasuk air mata dan tangisan. Di bawah kolong langit yang sama, kita semua sama-sama merasakan kehangatan sinar matahari yang sama sebagaimana kita juga merasakan kesejukan guyuran air hujan yang sama.

Kendati demikian, dalam pengamatan Tariq Ramadan, sebenarnya dari agama Hindu hingga agama-agama monoteis, dan sejak dari Sokrates, Plato dan Aristoteles, semuanya membawa pesan umum bahwa kita semua secara alami dan potensial memiliki kecenderungan untuk menolak orang lain yang berbeda, bahkan bisa menjadi intoleran dan rasis. Kita bisa menjadi tuli, buta, dogmatis, bersikap tertutup dan membenci yang liyan: kita tidak terlahir langsung sebagai orang yang berpikiran terbuka, penuh penghormatan kepada pihak lain dan bersikap pluralis. Kita menjadi orang yang open-minded, penuh penghormatan, dan pluralis melalui upaya personal, pendidikan, pengalaman, dan pengendalian diri dengan bijaksana.

Dalam konteks ini, cukup menarik bagaimana Tariq Ramadan mengingatkan kita tentang perumpamaan sejumlah orang buta yang berusaha mengenali seekor gajah. Kita perlu melihat kembali kisah manis ini sejenak untuk menengok pesan moral di baliknya. 

Orang buta pertama, menyentuh belalainya dan menyimpulkan bahwa gajah itu seperti ular panjang dan bisa meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan. Orang buta kedua yang menyentuh badan gajah, membantahnya. Katanya, gajah itu seperti tembok rumah yang lebar dan keras. Orang buta ketiga yang meraba gadingnya gajah, menolak kedua kawannya sebelumnya. Ia mengatakan bahwa gajah itu seperti sebuah tombak yang runcing. Orang buta keempat yang memegang telinganya gajah, berpendapat berbeda dengan ketiga kawannya. Baginya gajah itu bagaikan sebuah permadani yang lebar. Sedangkan orang buta kelima yang meraba ekor gajah, juga berpendapat berbeda dengan keempat temannya sebelumnya. Dia berpandangan bahwa gajah itu seperti seutas tali. Akhirnya orang buta keenam yang memegang kaki gajah yang kokoh, juga tidak setuju dengan pendapat kelima kawannya sebelumnya. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa gajah itu sesungguhnya seperti sebatang pohon yang tangguh.


Gajah dalam konteks ini secara metaforis bisa bermakna hakikat kebenaran yang senantiasa dicari, diburu, dan ditangkap eksistensinya oleh setiap orang dari berbagai tradisi pemikiran, filsafat, agama, dan keyakinan. Dari parabel di atas, menurut Tariq Ramadan ada beberapa pesan moral edukatif yang bisa kita petik agar kita dapat bersikap toleran, respek, pluralis dan open-minded terhadap beragam pandangan tentang kebenaran.

Pertama, tidak seorang pun yang mampu menangkap dan memahami hakikat kebenaran secara utuh komprehensif. Kedua, cara, pendekatan dan metode dalam menangkap dan memahami hakikat kebenaran ada banyak. Hampir setiap orang, dalam hal ini setiap tradisi pemikiran, filsafat, spiritualitas, agama dan keyakinan memiliki beragam cara dan pendekatan yang unik dalam mencandra kebenaran berdasarkan tradisi mereka masing-masing.

Ketiga, setiap orang sebenarnya memiliki kelemahan (kebutaan) internal dalam mencandra hakikat kebenaran; sehingga yang dituntut sebuah sikap rendah hati dan siap saling berbagi dengan orang lain.


Yang menjadi masalah, sebagaimana kita lihat pada parabel di atas, setiap orang merasa begitu yakin dengan perspektifnya masing-masing dan menolak, mengesampingkan bahkan dengan arogan menyalahkan pandangan-pandangan lain yang berbeda. Semua sikap tersebut merupakan representasi dari sikap closed-minded, sebuah sikap tertutup terhadap pandangan yang berbeda. Di sini kita melihat betapa berbahayanya sikap closed-minded.

Solusinya, setiap kita perlu melakukan fundamental introspection, untuk bersedia melihat, mendengar, mengenali sekaligus memahami pandangan-pandangan lain yang berbeda. Kita perlu menyadari kelemahan perspektif kita tentang hakikat kebenaran. Kita perlu menyadari terdapat pandangan-pandangan yang kaya tentang kebenaran dan idealnya kita bersedia mengkaji secara empatik pandangan-pandangan orang lain yang berbeda mengenai kebenaran tersebut.

Dengan keterbukaan sikap inilah, beragam perspektif yang awalnya berbeda dan tampak bertentangan satu sama lain, justru akan memperkaya dan melengkapi perspektifnya sendiri. Dengan open-minded, kita melakukan semacam transendensi yakni melampaui perspektif kita yang terbatas dengan menyelami beragam perspektif pihak lain yang kaya sehingga bisa melengkapi sekaligus memperkaya perspektif kita yang terbatas. Di sini kita melihat betapa signifikannya sikap open-minded.

Kendati demikian, sikap respek kita terhadap orang lain melampaui wilayah pemahaman semata, tapi juga membutuhkan suatu pengalaman yang bersifat psikologis dan resiprokal. Tariq Ramadan juga menurunkan sebuah pesan universal tentang hubungan yang penuh kedamaian dan cinta kasih dalam sebuah adagium populer: “Cintailah tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.”

Menurut Tariq Ramadan, adagium ideal ini membawa tiga pesan moral. Pertama, adagium itu sesungguhnya sebuah imbauan tentang cinta kepada sesama, sebuah kecenderungan hati yang penuh kasih kepada pihak lain yang perlu kita upayakan.

Kedua, untuk bisa mencintai orang lain, berarti kita harus memberi perhatian khusus terlebih dahulu untuk mencintai diri sendiri yang harus benar-benar dialami secara autentik. Sebab kita tidak bisa mencintai orang lain dengan tulus sebelum kita mencintai diri sendiri dengan autentik. Ketiga, sebagai implikasinya: mencintai diri sendiri dan menemukan kedamaian internal merupakan sebuah prasyarat untuk mencintai dan menyambut orang lain ke dalam damainya hati kita. Semua ini juga mengharuskan kita mengenali godaan-godaan alami diri kita yang paling gelap, namun tetap berusaha mencari suara-suara aspirasi murni yang paling luhur di kedalaman jiwa kita. “This is a love story”, ini merupakan sebuah kisah cinta, tulis Tariq Ramadan.


Pendidikan

Selain itu, Tariq Ramadan juga menyinggung bagaimana cara kita menghadapi kompleksitas tantangan abad 21 melalui pendidikan. Meskipun diskursus ilmu pengetahuan, sains dan teknologi menjadi tuntutan yang tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan, namun Tariq Ramadan menganjurkan kita untuk tetap melengkapi pendidikan kita dengan ajaran-ajaran fundamental yakni wacana agama atau spiritualitas, filsafat dan seni. Agama atau spiritualitas, filsafat dan seni merupakan tiga disiplin yang harus menjadi the core curriculum of every intellect jika kita ingin membekali peserta didik menjadi manusia yang mandiri dan bebas namun bertanggungjawab.

Agama dan spiritualitas seringkali dapat membuat manusia tumbuh secara spiritual dan melindungi mereka dari kegelisahan eksistensial. Agama juga dapat menorehkan arti tentang kehidupan dan menyingkap makna yang sublim dari pengalaman hidup kita. Sedangkan filsafat dapat membentuk kesadaran kritis sekaligus berpikir kritis-konstruktif dalam diri kita. Filsafat mendesak nalar kita untuk terus menelaah, untuk mengajukan berbagai pertanyaan-pertanyaan reflektif dan menggunakan perangkat kritisnya secara konstruktif.

Mempelajari filsafat juga dapat menjadikan kita rendah hati dan mampu mengambil jarak untuk tidak buru-buru melakukan justifikasi terhadap kebenaran. Sebab filsafat yang arogan yang mengklaim mengetahui the ultimate truth dan menghina kebenaran pihak lain, hakikatnya bukan lagi filsafat: They are ideologies. Karena salah satu ciri filsafat adalah keterbukaan terhadap segala pengetahuan, wacana, dan kebenaran, tanpa menjustifikasi absolutisme.

Sementara seni dapat mengantarkan manusia bersentuhan, berjumpa, dan merasakan lembutnya makna keindahan. Keindahan bukan hanya berdiri sebagai keindahan an sich, tapi dalam keindahan juga sebenarnya membersitkan makna. Refleksi filosofis terhadap dunia seni yang autentik akan membawa kita melampaui diri kita sehingga kita akan menyadari bahwa: Beauty is the marriage of philosophy, spirituality and art’, “Keindahan adalah pernikahan sakral antara filsafat, spiritualitas dan seni.”

Dunia seni juga mengundang manusia untuk menemukan berbagam sumber keindahan dalam dirinya yang mengajak melampaui batasan-batasan dunia fisiknya sehingga dapat memberinya makna dan inspirasi. Karena itu, pendidikan hati, pikiran dan imajinasi yang melatih kita agar dapat melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh dengan lebih baik merupakan salah satu kebutuhan dalam membentuk sikap mandiri dan bebas yang terletak dalam jantung modernitas.

Ketiga wacana spritualitas, filsafat dan seni harus ada dalam dunia pendidikan agar dapat membentuk seorang manusia yang kritis namun bijaksana, kaya inspirasi namun rendah hati, dan bersikap bebas merdeka namun bertanggungjawab; sebuah tanggungjawab kepada Tuhan sekaligus tanggungjawab kepada kemanusiaan.

Dengan konsep-konsep tentang pencarian makna hidup, kebenaran, dan kedamaian, serta sesuatu yang bersifat universal, toleransi, respek, dan pendidikan, Tariq Ramadan menjadikan semua ini sebagai wahana dalam membangun sikap pluralisme, di samping beragam konsep lainnya yang ia eksplorasi dengan elegan dalam karya tersebut.

Secara global, The Quest for Meaning merupakan karya Tariq Ramadan yang paling rasional-filosofis sekaligus sangat bersifat kontemplatif-reflektif dibandingkan dengan karya-karyanya yang lain, seperti To Be A European Muslim, Islam, The West and The Challenges of Modernity, Western Muslims and The Future of Islam, atau pun Radical Reform.

Dalam The Quest for Meaning, Tariq Ramadan mengajak kita menyelami berbagai tradisi pemikiran filsafat, baik dari Barat maupun Timur, seperti dari tradisi Yunani, Cina, India, maupun dari kawasan Timur Tengah Islam. Ia juga mambawa kita mendalami wacana-wacana agama, teologi, dan spiritualitas dari beragam agama dunia, semacam agama Yahudi, Kristen, Islam, Buddhisme, Hindu, Kong Hu Chu misalnya.

Menariknya, ia tidak memiliki tendensi untuk membela atau mengistimewakan satu tradisi pemikiran dan agama di atas tradisi pemikiran dan agama lainnya. Tradisi pemikiran dan filsafat Barat tidak lebih hebat daripada tradisi pemikiran dan filsafat Timur, sebagaimana tradisi pemikiran dan filsafat Timur tidak lebih istimewa daripada tradisi pemikiran dan filsafat Barat. Wacana agama Yahudi dan Kristen tidak lebih unggul ketimbang wacana agama Islam, Buddhisme, Hindu dan Kong Hu Chu, sebagaimana wacana agama Islam, Buddhisme, Hindu dan Kong Hu Chu tidak lebih tinggi ketimbang wacana agama Yahudi dan Kristen. Semuanya sama-sama menawarkan makna hidup dan kedamaian hakiki, kebajikan dan kebenaran, belas kasih dan kebahagiaan meskipun dengan cara yang berbeda-beda.

Dengan begitu fasihnya, ia menayangkan puspa ragam diskursus yang relevan dengan persoalan-persoalan yang sedang dibahasnya dari berbagai tradisi pemikiran, teologi, spiritualitas dan agama. Semuanya dikaji secara terbuka dan kritis. Setiap solusi-solusi cemerlang yang sudah disuguhkannya secara eksploratif, di ujung pembahasan selalu dipertanyakan kembali secara terbuka.

Tariq Ramadan memberikan kita semacam constructive discontent, sebuah ketidakpuasan konstruktif yang mengundang kita untuk selalu mempertanyakan setiap jawaban-jawaban yang kita gulirkan, sekaligus terus memperkaya, mempertajam, dan tetap terbuka dengan jawaban-jawaban baru yang tidak berkesudahan. Dengan kata lain, setiap jawaban yang disuguhkannya, selalu ditutup dengan tanda koma (,) yang merefleksikan sebuah sikap keterbukaan, bukan tanda titik (.) yang merefleksikan sebuah sikap ketertutupan.

Karena itu, sebagaimana ditegaskan oleh Tariq Ramadan dalam awal pembahasannya bahwa karya ini adalah sebuah perjalanan dan juga sebuah tujuan yang tidak ada titik finishnya. The goal of the journey is the journey itself, tulis Tariq Ramadan.

Akan tetapi kita sebagai pelancong yang memburu makna hidup, kebenaran, kedamaian dan kebahagiaan, di akhir perjalanan kita, kata Tariq Ramadan diharapkan dengan yakin dan pikiran terbuka akan berikrar: ‘My philosophy is travel, and pluralism is my destination. Humanity is my table, respect is my garment, empathy is my food and curiosity is my drink’. “Filosofi saya adalah perjalanan dan pluralisme adalah tujuan saya. Kerendakan hati menjadi sandaran saya, dan rasa hormat menjadi pakaian saya. Sedangkan empati menjadi makanan saya dan hasrat ingin tahu menjadi minuman saya.”

Oleh sebab itu, The Quest for Meaning bukan hanya inspiring and provoking our thought but also enlightening and transforming our mind.

Sungguh, sebuah karya yang sangat layak untuk kita gumuli dan cumbui.

Apa Sih Menariknya Filsafat?

Oleh: Fahruddin Faiz - mjscolombo.com

Bagian Pertama

Sebenarnya, ketika ada rencana bahwa tulisan pendek ini akan saya jadikan buku, saya ingin mengawali tulisan ini dengan ceramah panjang lebar tentang apa itu filsafat, definisinya, menurut tokoh A, lalu tokoh B, lalu tokoh C dan seterusnya. Setelah itu saya akan mendongeng kepada Anda tentang sejarah filsafat, mulai dari zaman Yunani Kuno, bahkan kalau perlu dari sejak masa Cina Kuno atau India dan Mesir Kuno sampai abad 21. Tetapi tiba-tiba saya berpikir lagi, untuk apa? Untuk Anda hafalkan? Atau biar Anda tahu? Bukankah sudah ratusan buku yang menyebut hal itu kalau Anda memang benar ingin tahu?

Akhirnya saya putuskan untuk tidak mencantumkan semua itu di sini, di samping tentunya karena masih banyak hal yang belum saya pahami dari pemikiran-pemikiran yang berkembang sepanjang sejarah filsafat tersebut, sehingga mungkin kalau saya paksakan juga untuk menjelaskan, maka saya akan menjiplak buku-buku tertentu, dan Anda mungkin juga cuma menghafalkannya, kemudian orang memandang kita sama-sama mengerti tentang filsafat, padahal kita sama-sama tidak tahu apa-apa. Semoga keputusan ini nantinya bisa menguntungkan Anda.

Bagi Anda yang memang memerlukan informasi-informasi tentang definisi dan kesejarahan tersebut silahkan carilah buku apa saja yang ada hubungannya dengan pengantar filsafat, saya jamin tidak akan jauh berbeda. Itulah mengapa artikel ini bukannya Apakah Filsafat Itu?, tetapi Apa Sih Menariknya Filsafat?, tentunya yang saya maksud menariknya filsafat ‘bagi saya’, jadi mungkin sangat subjektif, meskipun sebenarnya saya berharap tulisan ini tidak hanya bernada subjektif, tetapi juga provokatif, sehingga setelah membaca tulisan ini Anda menjadi tertarik kepada filsafat dan bersedia untuk mendalaminya lebih jauh.

Filsafat bagi saya adalah sebuah tantangan, tantangan untuk tidak hidup secara mekanis, ikut-ikutan, taklid dan ‘mengalir’ tanpa tahu kemana, untuk apa dan mengapa. Seorang empu filsafat yang bernama Socrates pernah mengatakan satu jargon yang sangat dikenal di dunia filsafat, yaitu “the unexamined life is not worth living” (hidup yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak berharga). Hidup tidak boleh dibiarkan mengalir begitu saja, tidak boleh dibiarkan berjalan apa-adanya tanpa tahu harus kemana atau untuk apa atau mengapa harus demikian.

Hidup harus diuji, harus diketahui, direncanakan, dan dipahami, kemudian dijalankan dalam alternatif terbaiknya. Nah, cara paling jitu untuk menguji hidup itulah yang menjadi bidikan utama filsafat. Louis O. Kattsoff dalam Pengantar filsafat-nya berkata, “filsafat membawa kita kepada pemahaman. Dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak”.

Ada sebuah gambaran menarik yang diberikan oleh Jostein Gaarder dalam bukunya yang berjudul Sophie’s World, tentang perbedaan seorang filsuf dan bukan filsuf. Kata Gaarder, seandainya misteri-misteri dunia ini digambarkan sebagai hasil dari pekerjaan seorang tukang sulap (si tukang sulap ini bisa saja disebut sebagai Tuhan), dan dunia ini digambarkan seperti seekor kelinci yang keluar dari topi sang pesulap itu, maka manusia bisa dikatakan sebagai serangga-serangga kecil yang hidup di sela-sela bulu kelinci, dan seorang filsuf adalah serangga-serangga kecil itu yang selalu berusaha untuk memanjat helaian-helaian bulu kelinci untuk dapat mengetahui kelinci, topi dan tentunya jika mampu mengetahui juga si pesulap itu sendiri.

Tantangan untuk menguji hidup ini tampaknya semakin menemukan relevansinya di saat ini, zaman yang penuh dengan kemajuan teknologi dan globalisasi informasi tidak hanya telah menjadi santapan sehari-hari manusia, tetapi juga telah ‘menyetir’ hampir semua aspek kehidupan manusia.

Hampir semua orang di masa kini setiap hari ‘disetir’ kemauan, keinginan sampai kebutuhannya oleh media-media informasi, baik yang berskala lokal, regional, nasional, maupun global. Mulai model rambut, merek mobil, jenis telepon seluler sampai aturan ketatanegaraan mengalami gejala ini.

Budaya manusia menjelma menjadi ‘budaya populer’; apapun dan siapapun yang populer, itulah yang akan menjadi kiblat semua orang. Kalau televisi banyak menayangkan rambut gondrong, maka bisa dipastikan sebentar lagi akan banyak orang berambut gondrong. Kalau Demi Moore dipromosikan oleh media sebagai seorang yang keren dengan rambut pendek, maka sebentar lagi pasti akan banyak wanita berambut pendek. Kalau Sarah Azhari terlihat seksi dengan baju bikini, maka tidak lama lagi akan banyak orang yang memakai bikini ala Sarah Azhari, dan lain sebagainya.

Termasuk diantara budaya populer yang mengglobal itu misalnya pandangan-pandangan yang sengaja disusun untuk tujuan tertentu dan memengaruhi banyak orang. Misalnya ikutlah Partai A kalau Anda ingin hidup sejahtera; kuliahlah di universitas B agar bisa dapat pekerjaan segera; pakailah parfum C agar dapat pacar ganteng; pakailah baju merk D dan Anda akan berselera muda; makanlah di restoran E maka Anda akan terlihat romantis; dengan menonton film F berarti Anda tidak ketinggalan zaman; dan lain sebagainya, termasuk yang paling membingungkan saya adalah: pakailah dasi agar Anda tergolong kalangan eksekutif! Budaya yang populer mengindikasikan gaya hidup yang ikut-ikutan dan kehilangan daya kritis untuk berpikir secara mandiri.

Di sisi lain, mekanisasi hidup juga semakin terlihat dalam keseharian setiap orang. Pagi bangun, sarapan, berangkat kerja, pulang sore, nonton TV, tidur, bangun, sarapan, berangkat kerja… dan seterusnya, tidak ada bedanya dengan robot atau program komputer. Apel ke tempat pacar itu malam Minggu, beribadah atau senam kesehatan jasmani setiap Jum’at, main tenis setiap Selasa, cukur rambut sebulan sekali setiap tanggal 15, dan lain sebagainya. Bahkan sampai urusan makan pun menjadi mekanis; orang harus makan tiga kali sehari, baik dia dalam kondisi lapar atau kenyang, yaitu jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Kalau sudah jam 1 siang saya harus makan siang, meskipun antara jam 7 sampai jam 1 itu saya terus menerus nyemil dan masih kenyang. Jadi kalau ada pertanyaan mengapa Anda makan? Jawabannya pasti: “karena sudah jam makan”, bukan karena sudah lapar.

Sebenarnya, setiap orang memiliki yang namanya curiosity atau rasa ingin tahu: rasa heran, takjub dan ingin menyingkap kebenaran sesuatu yang menarik hatinya tetapi masih misterius. Bukti paling mudah yang tampak dari adanya rasa ingin tahu ini bisa ditemukan dalam diri seorang anak yang akalnya mulai berjalan dan fisiknya mulai berkembang.

Anak seumur ini biasanya sangat eksploratif dan serba mencoba. Kalau sudah mulai bisa menata perkataannya biasanya ia akan secara demonstratif bertanya dan selalu bertanya tentang hal-hal yang masih belum dipahaminya. Ia akan mencoba menaiki meja untuk meraih barang di atasnya, ia heran melihat mobil yang bisa berjalan, ia menangis jika dilarang bermain dengan api atau pisau, dan ia akan sangat cerewet menanyakan apapun yang ada di hadapannya.

Namun seiring perkembangan usia, perlahan namun pasti ia terjebak—atau mungkin lebih tepatnya ‘dijebak’—oleh lingkungannya untuk hidup serba mekanis. Mekanisasi hidup ini ada kalanya sampai tingkat yang menggelikan kalau tidak mengkhawatirkan. Dulu ketika kecil mungkin Anda atau saya bisa dengan santai main dengan air hujan dan sehat-sehat saja, tetapi karena berbagai pengondisian tertentu, maka tubuh kita sekarang seakan menjadi anti-hujan, sehingga sedikit saja terkena gerimis, maka bisa dipastikan besok pagi kita akan bersin-bersin kena pilek.

Padahal hujan itu air, sama dengan air yang setiap hari kita pakai untuk mengguyur tubuh saat mandi. Itu satu contoh kecil. Pasti sangat banyak contoh-contoh lain yang tidak kalah menggelikannya karena pengondisian yang kita lakukan sendiri, termasuk misalnya betapa kita alergi terhadap orang bertato, merasa sungkan menghadapi orang bersorban, merasa lebih sehat ketika diobati oleh dokter spesialis dan tidak merasa sehat kalau diobati oleh mantri suntik meskipun obat yang diberikan sama, dan banyak lagi contoh lain.

Karena pengondisian-pengondisian—baik sengaja maupun tidak—inilah maka rasa curiosity yang sangat menarik itu pun perlahan juga mulai tersisihkan, meskipun sebenarnya apabila dicermati masih banyak hal yang layak, dan sangat layak untuk dipertanyakan ulang.

Mengurusi curiosity semacam ini bagi banyak orang hanya membuang waktu saja, karena mereka melihat masih sangat banyak hal lain yang lebih penting untuk diurusi. Dan ironisnya, hal lain yang lebih penting untuk diurusi itu adalah ‘proyek besar memenuhi program mekanisasi hidup’ seperti disebut di muka.

Segala sesuatu yang berjalan di sekelilingnya dipandang memang berjalan seperti itu, dan harus berjalan seperti itu. Maka jadilah wajah dunia itu seperti sekarang ini, serba mekanis, sangat mudah untuk diramal geraknya, karena bahkan ternyata berbagai kesalahan maupun kekeliruan dalam sejarah manusia pun sering berulang.

Secara umum harus dikatakan bahwa sebagian besar manusia hidup dalam ‘kemapanan’, status quo, sungai kehidupan yang airnya tidak mengalir, tidak berkembang secara kualitatif, tidak mampu memberlakukan semboyan ‘hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini’. Kita seakan mandeg. Kita adalah robot.

Robot-robot manusia, atau manusia-manusia robot ini jumlahnya mungkin bisa mencapai lebih dari 95% penduduk dunia, dan kalau melihat hal ini mungkin sang empu filsafat yang bernama Socrates tadi akan menangis—atau jangan-jangan malah tertawa. Apalagi jika melihat betapa banyak orang yang merasa ‘serba tahu’ akan kehidupannya tanpa dia sadari bahwa sebenarnya dirinya tidak tahu apa-apa, hanya sekadar ikut-ikutan dan membuntuti orang-orang di sekitarnya saja. Kata Socrates dalam Apology yang ditulis oleh muridnya, Plato:

Banyak di antara kita yang tidak tahu apa itu keindahan atau kebajikan, tetapi mereka menganggap telah tahu, padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa; sementara saya, kalau tidak tahu apa-apa tidak akan pernah merasa sudah tahu. Maka kelihatannya saya sedikit lebih bijaksana dibandingkan mereka, sejauh saya tidak pernah membayangkan bahwa saya sudah tahu tentang sesuatu yang saya sama sekali tidak tahu.

(Bersambung)

Lanjutan dari tulisan bagian pertama - mjscolombo.com/

Siapakah saya? Mengapa saya ada? Apa bedanya saya dengan yang lain? Untuk apa saya hidup? Bagaimana saya harus hidup? Dari mana asalku? Kemana nantinya tujuanku? Apa yang harus saya lakukan dan apa yang jangan saya lakukan? Sudah tepatkah yang saya lakukan selama ini? Benarkah pengetahuan saya tentang hidup yang saya punyai selama ini? Secara umum pertanyaan-pertanyaan inilah yang biasanya dilacak jawabannya secara serius oleh para filsuf untuk ‘menguji hidup’ mereka.

Berbagai jawaban telah diberikan terhadap pertanyaan ini, dan sekarang giliran Anda untuk menjawab pertanyaan ini. Jangan takut atau merasa tidak mampu, karena sebenarnya setiap orang mampu melakukannya. Jangan takut atau minder membaca atau melihat berbagai pandangan yang ‘serba tinggi’, ‘serba ruwet’ atau ‘serba njlimet’ yang diberikan oleh para filsuf terhadap kehidupan mereka sendiri-sendiri. Andalah yang paling tahu kehidupan Anda sendiri, bukan mereka. Jalanilah ujian ini untuk kehidupan Anda sendiri, karena dengan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, berarti Anda sudah memulai untuk membuat hidup Anda sendiri berharga, lebih bermakna. Jadilah filsuf, setidaknya filsuf tentang diri Anda sendiri. Kenalilah Dirimu, itulah jargon lain dari Socrates.[1]

Maka sebenarnya, kehadiran filsafat bagi saya sebenarnya adalah untuk menantang kita, beranikah kita mempertanyakan dan menguji kembali segala yang selama ini kita anggap ‘sudah semestinya demikian’? Mengapa harus makan sehari tiga kali? Mengapa tidur harus sekitar delapan jam sehari? Mengapa di pagi hari harus mandi? Mengapa jam kantor harus dimulai pukul delapan? Mengapa anak kecil tidak boleh berbicara sambil menatap mata orang dewasa? Mengapa wanita harus ‘diakhirkan’ atau ‘didahulukan’ dalam berbagai urusan? Mengapa harus lelaki yang berkewajiban mencari nafkah? Mengapa harus wanita yang mengurusi urusan rumah tangga? Mengapa harus ada negara? Mengapa orang harus beragama? Mengapa orang butuh ikatan perkawinan?, dan seterusnya.

Beranikah kita menjawab tantangan filsafat ini? Mungkin tidak semuanya berani, karena harus diakui bahwa hampir semua manusia dalam kehidupannya hanyalah sekadar ‘membebek’ saja terhadap berbagai tradisi yang selama ini sudah berjalan ‘mapan’. Menguji kembali berbagai hal yang selama ini berjalan mapan seringkali akan menempatkan Anda berseberangan dengan mayoritas orang, dan risiko untuk ini tidak kecil.

Socrates sendiri yang menganjurkan dan mempopulerkan tantangan ini harus menemui ajalnya setelah dipaksa minum racun oleh pengadilan Athena karena tuduhan merusak akidah anak-anak muda saat itu. Dan banyak contoh tentang mereka yang mencoba mencari alternatif baru dari cara pandang yang ‘mapan’ semacam ini harus menelan berbagai risiko pahit; mulai dicemooh, dicap menyeleweng, kafir, pemberontak sampai yang harus menjalani hukuman mati, dengan tuduhan utama: mendobrak kemapanan.

Meskipun kelihatannya sederhana, apabila ditelaah dengan lebih mendalam, orang akan menjadari bahwa sekadar semboyan ‘ujilah hidupmu’ tersebut tidak sesederhana pada mulanya. Nantinya dalam sejarah Anda akan melihat bahwa slogan sederhana ini bisa menjungkurbalikkan tatanan kehidupan manusia yang telah mapan meskipun sebenarnya tujuan akhir dari penjungkirbalikan ini—seperti yang dimaui oleh Socrates sendiri—adalah untuk membawa dunia ke arah ketertiban yang tingkatnya lebih tinggi, yaitu ketertiban yang diiringi dengan kesadaran serta kepedulian dan pemahaman manusia terhadap kehidupan mereka sendiri.

Manusia tidak boleh hidup hanya dengan mengandalkan rutinitas, ikut apa kata orang, merasa tahu padahal tidak tahu, dan merasa bisa padahal belum tentu. Manusia harus disadarkan dan dibangunkan dari keseharian yang membuat mereka terlena dan tidak suka ambil pusing terlalu dalam dengan segala yang mereka lakukan dan mereka pikirkan.

Manusia harus digugah dari ketenggelaman mereka dalam kesibukan duniawi yang membuat mereka tidak lagi peka terhadap baik-buruknya, benar-salahnya, dan layak-tidak layaknya apa yang mereka pikirkan, mereka lakukan dan mereka angankan. Dengan melakukan re-evaluasi terhadap hidup inilah manusia akan menemukan kebermaknaan kehidupannya, bukan sekadar menjadi komponen dalam sebuah mesin besar yang tidak punya nilai tawar dan nilai pilih selain hanya ikut berjalan sesuai program tertentu yang telah dipatenkan.

Bermaknanya hidup dan berharganya hidup, itulah kiranya tawaran paling menarik dari makhluk yang namanya filsafat ini. Dan jangan dianggap remeh, karena dalam pandangan saya, kebermaknaan hidup inilah yang esensial bagi manusia. Bisa disebut manusia atau tidak bagi saya terletak dalam bagaimana seseorang bisa memberi makna kepada hidupnya sendiri dan hidup dalam kebermaknaan itu. Dan kebermaknaan inilah hal paling asasi yang membedakan manusia dengan binatang.

Dalam berbagai kesempatan diskusi saya sering melontarkan pertanyaan: Apakah bedanya manusia dengan binatang? Biasanya banyak teman akan menjawab bahwa perbedaan manusia dan binatang itu terletak pada rasionya, kemampuan berpikirnya. Dan biasanya juga saya akan bertanya, apa sih yang kamu dimaksud dengan kemampuan untuk berpikir itu? Jawaban dari pertanyaan ini biasanya agak bervariasi, ada yang mengatakan bahwa kemampuan berpikir yang khas manusia adalah kemampuannya untuk memilih dan menentukan sendiri, atau kemampuannya untuk menyadari keberadaan dirinya, atau kemampuannya menyadari adanya tanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya.

Dalam kualitas tertentu sebenarnya binatang pun memiliki hal yang disebut itu. Anjing penjaga yang patuh dapat dikatakan memiliki tanggung jawab, induk ayam yang melindungi anak-anaknya dapat dikatakan memiliki tanggung jawab sekaligus kesadaran sebagai seorang ibu, monyet yang dididik main sirkus, tikus eksperimental yang bisa melewati jebakan-jebakan, dapat dikatakan memiliki kemampuan untuk ‘memilih’ dan memutuskan jalan yang aman dan harus ditempuhnya, dan banyak contoh yang lain menunjukkan bahwa dalam aspek ini manusia pada dataran ekspresifnya tidak sangat jauh berbeda dengan binatang, meskipun tentunya dalam kualitas yang sangat rendah, karena binatang lebih mengandalkan instink bertahan hidupnya, sementara manusia memiliki potensi perkembangan.

Bahkan ada kalanya—dalam hal ini—manusia jatuh ke dataran lebih rendah dari kualitas kelas rendah yang dimiliki binatang tadi. Misalnya bagaimana pertanggungjawaban seorang satpam yang maling di kantornya sendiri, pejabat pemerintah yang korupsi, ibu yang membuang anaknya, pemimpin yang mengkhianati orang yang memilihnya, dan lain sebagainya.

Maka menurut saya, perbedaan paling esensial antara manusia dan binatang terletak pada kemampuannya memaknai hidup, mengatur hidupnya agar tidak terjebak dalam kesia-siaan. Untuk bisa membuat hidupnya bermakna pertama-partama orang harus menyadari dulu apa yang harus dan seharusnya ia lakukan, sekaligus mampu memahami benar-salah, baik-buruk atau layak-tidak layaknya yang ia lakukan itu. Dengan kesadaran dan pemahaman ini maka hidup yang dijalaninya akan memiliki ‘harga’, bernilai untuk dibela dan dipertanggung-jawabkan.

Melalui kemampuan memaknai hidup inilah manusia diharapkan mampu melepaskan dirinya dari jeratan mekanisasi hidup dan cara pandang dan perilaku yang stereotipe tentang hidup. Kemiskinan, kekayaan, ketertindasan, kemerdekaan, kebahagiaan, dan juga kesedihan dalam kehidupan pada dasarnya adalah persoalan pemaknaan hidup, bagaimana manusia memaknai hidupnya sendiri. Dan untuk bisa melakukan itu, filsafat menawarkan dirinya sebagai kendaraan. Kenalilah Dirimu!

Mungkin membaca misi filsafat yang mendorong setiap orang untuk menguji hidupnya sendiri membuat Anda takut kepada filsafat, atau memiliki ketidaksetujuan tertentu kepada filsafat. Boleh saja jika kemudian karena ketidaksetujuan itu Anda bertekad untuk tidak melibatkan sama sekali filsafat dalam hidup Anda. Tetapi Anda perlu mencatat bahwa setiap orang, termasuk Anda, sebenarnya berhak dan layak untuk masuk dan bergelut dalam dunia filsafat. Setidaknya setiap orang memiliki filosofi hidup sendiri-sendiri, misalnya ada orang yang memiliki prinsip hidup ‘kuliah dulu-baru menikah’, ‘sikat dulu, urusan belakangan’, ‘jangan sampai saya tidak jujur kepada orang tua’, ‘berbohong asal membawa keuntungan itu tidak apa-apa’, ‘setiap tindakan harus menghasilkan uang’, ‘mangan ora mangan sing penting kumpul’, atau ‘kumpul ora kumpul sing penting mangan’, atau ‘lebih baik mati dari pada malu’, dan mungkin ada pula yang memiliki filosofi ‘lebih baik malu dari pada tidak punya duit’. Itulah filosofi hidup.

Filosofi tersebut tentunya sangat memengaruhi gaya hidup setiap orang, meskipun sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini sehingga tidak mampu untuk berintrospeksi diri dan melakukan re-evaluasi terhadap segala filosofi hidup yang dimilikinya. Kalau Anda memutuskan untuk sama sekali tidak melibatkan diri dengan filsafat berarti Anda membiarkan segala filosofi hidup Anda itu memengaruhi Anda, menyetir hidup Anda, tanpa Anda benar-benar memahaminya mengapa harus demikian? Sudah tepatkah sikap dan filosofi Anda tersebut? Apakah filosofi hidup semacam itu masih relevan dengan kehidupan Anda? Tidak adakah filosofi hidup lain yang lebih benar, baik dan tepat?

Seorang tokoh filsafat, Karl Popper, pernah berkata:

“Saya rasa, kita semuanya mempunyai filsafat dan bahwa kebanyakan dari filsafat kita itu tidak bernilai terlalu banyak. Dan saya kira bahwa tugas utama dari filsafat adalah untuk menyelidiki berbagai filsafat itu secara kritis, filsafat mana yang dianut oleh berbagai orang secara tidak kritis.”

Dengan melihat bahwa semua orang memiliki filosofi hidup dapat dikatakan bahwa sebenarnya setiap orang sudah berada diambang pintu dunia filsafat, termasuk Anda. Hanya kurang dua langkah lagi Anda akan masuk ke dalam dunia filsafat.

Langkah pertama, sadarilah segala filosofi hidup dan realitas hidup Anda. Langkah kedua bernalar atau berpikirlah secara serius, teratur, terfokus, dan mendalam tentang segala filosofi Anda tadi, baik latar belakangnya, tujuannya, yang harus atau tidak boleh dilakukan berdasarkan filosofi hidup tadi, dan seterusnya.

Akan lebih baik lagi apabila Anda juga meluangkan sedikit waktu untuk membaca beberapa tulisan para tokoh filsafat yang pernah ada, yang pada dasarnya juga adalah evaluasi dan refleksi mereka terhadap hidup mereka masing-masing. Bandingkan hasil pikiran mereka dengan refleksi Anda sendiri, lalu putuskan dan pilihlah pandangan mana menurut Anda lebih tepat untuk diikuti, atau lebih baik lagi kalau Anda bisa menemukan benang merah kesamaan pandangan diantara para tokoh tadi dan pandangan Anda.

Dan setelah melakukan semua itu… kini Anda telah berada di dunia filsafat! Berani menerima tantangan? Lanjutkan refleksi Anda, karena masih ada banyak hal yang harus diuji kembali. Selamat datang dan lihatlah… banyak hal menarik di sini.

Sekali lagi, selamat datang, know your selves! Man ‘arafa Nafsahu-‘arafa rabbahu.[2]

______

[1] Untuk kepentingan kesadaran dan pemahaman setiap orang akan hidup ini, Si Socrates ini sepanjang hidupnya berjalan menyusuri jalan-jalan kota Athena, tempat dia tinggal, dan mencari kesempatan berdiskusi dengan siapapun yang ditemuinya. Dalam perbincangan dengan orang-orang yang ditemuinya itu, biasanya Socrates akan memosisikan dirinya sebagai orang yang tidak tahu apa-apa dan melancarkan pertanyaan-pertanyaan yang oleh banyak orang dianggap ‘sudah diketahui’, misalnya, “Bagaimana hidup yang benar itu?”, “Apakah cinta itu?”, “Apa yang Anda maksud dengan kebajikan?”, dan tentunya orang yang ditanya akan menjawab sesuai dengan yang dipahaminya selama ini. Karena banyak orang tidak benar-benar paham dengan apa yang mereka sangka sudah diketahui tadi, maka jawaban-jawaban yang mereka berikan pun seringkali sangat artifisial. Dari sinilah kemudian Socrates melancarkan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang ‘memaksa’ orang yang ditanya untuk berpikir dan mengkonstruksi ulang pemahaman-pemahamannya yang lama. Dengan gayanya ini Socrates berhasil menggiring orang kepada pemahaman yang benar tanpa harus menggurui.

[2] Fahruddin Faiz, Aku Bertanya Maka Aku Ada (Yogyakarta: Qalam, 2003). Sumber tulisan berasal dari sini.

Mengapa Aku Tertarik pada Filsafat?

Bagian 1: Rasionalisme

Oleh Mulyadhi Kartanegara

Hingga saat ini filsafat masih mempesonaku. Seperti sebuah magnit, filsafat tak pernah berhenti mempesonaku semenjak perkenalanku di awal tahun 79. Salah satu daya tarik filsafat pada saat awal aku mengenalnya adalah ditawarkannya kepada kita banyak hal baru yang hingga saat itu tidak pernah ketahui atau bahkan terlintas dalam benakku. Agama yang terlalu kaku dan sempit tidak manpu menjangkau hal-hal baru tersebut dalam kajiannya. Maka ketika hal-hal baru tersebut diperkenalkan, aku sangat terpesona dan semakin terpesona.

Berikut ini akan aku sajikan beberapa gagasan baru yang begitu menarik perhatianku sehingga membuatku mampu berjam-jam membacanya hampir secara obsesif. Pertama adalah soal Rasionalisme.

Sebelum aku kuliah di IAIN tahun 1978, aku hampir tak pernah berbicara tentang akal secara rasional. Dalam lingkungan Asy'ariyyah, akal dipandang sangat lemah dan dominasi wahyu sangat kuat. Tak pernah menyangka sebelumnya bahwa ada aliran Mu'tazilah yang begitu besar menghargai akal, sehingga ia dipandang dapat mengetahui beberapa perkara yang sampai saat itu hanya dapat diketahui melalui wahyu: keberadaan Tuhan, mengetahui yang baik dan yang buruk dan kewajiban menjalankan yang baik dan buruk bahkan terlepas dari adanya wahyu. Akal yang dipandang begitu rendah oleh kaum Asy'ariyyah tiba-tiba diangkat ke level yang sangat tinggi. Maka muncullah minatku untuk mempelajari ajaran-ajaran Mu'tazilah, khususnya berkenaan dengan akal. Sejak itu muncullah ketertarikanku pada Rasionalisme. Dari sini aku mengerti bahwa kurangnnya wacana rasional dalam kajian agama bisa mendorong seseorang untuk tertarik pada sesuatu yang baru yang kadang tidak sejalan dengan ajaran awal yang kita miliki, termasuk tertarik pada filsafat.

Rasionalisme yang diperkenalkan padaku oleh kaum Mu'tazilah sangat menarik perhatianku saat itu. Maka akupun memandang Mu'tazilah-lah yang seharusnya kita anut kalau kita ingin maju. Sebagai makhluk berakal maka manusia harus menggunakan akalnya semaksimal mungkin. Hanya dengan cara begitu, kita akan dapat meraih kemajuan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti. Akallah yang seharusnya kita utamakan, bukan yang lain kalau bangsa ini ingin maju. Karena Pak Harun adalah tokoh yang memperkenalkan Mu'tazilah kepadaku, maka beliau adalah tokoh yang sangat aku kagumi saat itu. Inilah tokoh yang sebenarnya kita perlukan untuk memajukan bangsa. Pemikir Rasional yang sangat menjunjung tinggi akal, sains dan teknologi dan menjauhkan kita dari segala tahyul dan khurafat yang menjadi penyebab utana kemunduran bangsa.

Meskipun begitu, antusiasmeku pada Mu'tazilah semakin berkurang seiring berlalunya waktu. Kecenderunganku pada filsafat, membuat aku berikir bahwa rasionalisme Mu'tazilah belum bersifat filosofis, karena betatapun ia masih terikat pada wahyu, dan aku merindukan sebuah Rasionalisme murni tanpa tergantung pada wahyu. Maka seiring dengan motivasi yang tinggi akupun terus tenggelam dalam penelusuranku di dunia filsafat untuk mencari tahu Rasionalisme yang sejati, rasionalisme yang menggunakan akal sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, bukan wahtu, ataupun intuisi.

Maka akupun mulai mempelajari secara intensif Rasionlisme a la Descartes, dengan semboyannya yang terkenal: cogito Erga sum, saya berpikir maka saya ada. Jadi akal bahkan menentukan keberadaan kita, kemudian alam dan Tuhan. Dan sejak itu mantaplah hatiku untuk menjadiknan akal sebagai satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran, apalagi setelah mendengar ungkapan Hegel bahwa Realitas bersanding dengan Rasionalitas. Lama pandangan ini aku pegang, hingga Iqbal dan Bergson dan kemudian Rumi menyadarkanku akan kekurangan akal yang sangat fundamental.

Bagian 2: Kebebasan Kehendak

Oleh Mulyadhi Kartanegara

Hal baru kedua yang menyebabkan aku tertarik pada filsafat dan sangat menarik perhatian dan minatku kepada filsafat pada masa-masa awal kuliah di IAIN adalah soal Kebebasan Kehendak (Free Will). Ketertarikanku pada isu Kebebasan Kehendak ini, mungkin dilatar-belakangi oleh konsep takdir yang aku pelajari dari kajian-kajian agama, terutama dari perspektif Sunni, yang terkesan sangat fatalistis. Apapun yang terjadi dikatakan sebagai sudah takdir, sudah nasib yang telah ditentukan Allah. Begitu besar kuasa Allah sehingga seolah-olah manusia tidak diberi peran apapun dalam tindakannya. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa kita itu ibarat wayang, yang seluruh gerak-geriknya sama sekali tergantung pada sang dalang.

Nah di tengah-tengah mentalitas umat yang seperti itu, sekali lagi Mu'tazilah yang diperkenalkan oleh pak Harun nembuat aku kagum, karena penekanannya yang besar pada kebebasan memilih manusia. Dengan mengatakan bahwa manusia adalah pencipta tindakannya, maka manusia yang tak berdaya selama ini tiba-tiba diberi peran dan tanggung jawab yang besar. Manusia bertanggung jawab terhadap perbuatannya! Nasib seseorang bisa dirubah oleh manusia, sambil mengutip ayat al-Qur'an: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa (kaum) sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." Menurut Mu'tazilah memang daya-daya yang ada pada diri manusia diciptakan oleh Allah, tetapi penggunaan daya-daya tersebut dalam bentuk tindakan adalah perbuatan atau ciptaan manusia, dan manusia bertanggung jawab atas perbuatan yang dipilih dan dilakukannya. Pada saat itu, ini merupakan ide yang revolusioner bagiku, sehingga timbullah minat yang besar pada isu kebebasan kehendak (free will) manusia. Karena manusia tiba-tiba menjadi "gagah-perkasa" setelah dibayangkan loyo tak berdaya.

Api antusiasmeku pada isu kebebasan memilih bertambah menyala ketika dalam mata kuliah filsafat umum diperkenalkan pada aliran Eksistentialisme, dengan sederetan nama besar tokohnya: Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Frederich Nietzsche, Gabiel Marcell, M. Ponty dll. Walaupun mereka punya pemikiran yang berbeda-beda tetapi satu hal mereka sepakati yaitu bahwa kebebasan adalah syarat utama untuk eksisnya manusia. Mereka membedakan antara cara berada benda dan cara berada manusia. Cara berada benda adalah menerima apapun yang terjadi pada mereka, suka ataupun tidak. Sedangkan cara berada manusia adalah melalui kebebasan, yakni melalui pilihan bebasnya. Kata mereka hanya manusia yang bertindak bebas sesuai dengan kehendak dan rencananya itulah yang bisa dikatakan "eksis." Manusia yang tidak bisa memilih sesuai dengan kehendaknya, atau karena dipaksa oleh sebuah kewajiban, maka ia pada hakikatnya tidak eksis, sekalipun hidup di tengah-tengah manusia. Mereka tidak layak disebut manusia, karena cara berada mereka mirip dengan benda-benda.

Nah dengan kebebasan yang dimilikinya itu, maka manusia akan mampu memproyeksikan dirinya untuk menjadi apa saja. Berbeda dengan benda yang telah mencapai esensinya segera setelah tercipta, esensi manusia adalah pada ujung proses, bukan di awalnya. Karena itu ada istilah khas eksistensialis, manusia dalam "proses menjadi" atau "menyedang". Dan ingin menjadi apa itulah peran kebebasan manusia. Artinya manusia dengan kemampuan memilihnya harus merencanakan untuk menjadi apa. Tidak ada yang bisa disalahkan kalau anda gagal, karena itu menunjukkan kegagalan anda dalam menyelenggarakan diri anda. Mungkin anda belum mencapai atau menjalankan cara berada yang sesungguhnya. Inilah cara berada manusia untuk mencapai esensi (hakikat) anda yang sesungguhnya. Gagasan ini dirasa sangat mebarik pada saat itu, dan menyebabkan kita untuk selalu memeriksa apakah kita sudah bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kalau belum maka kita menilai diri kita gagal dalam penyelenggaraan hidup ini. Dalam konteks ini banyak temanku pada saat itu yang neninggalkan salat dengan alasan mereka mengerjakannya secara terpaksa, dan karena itu tidak eksis.

Bagian 3: Filsafat Wujud

Oleh Mulyadhi Kartanegara

Hal baru ketiga yang membuatku tertarik pada filsafat adalah ajaran tentang wujud atau realitas: apa sih yang sesungguhnya ada? Sejak kecil kita diyakinkan orang tua atau guru bahwa yang ada itu alam ini dan alam ghaib. Tetapi dalam filsafat ada yang mengatakan bahwa yang betul-betul ada itu adalah apa yang bisa kita indra (lihat, dengar dll). Kata mereka berbeda dengan objek-objek ghaib, alam fisik ini dapat dibuktikan adanya secara objektif melalui panca indra. Tanya mereka "bagaimana kita bisa yakin kalau yang ghaib itu ada padahal ia tidak pernah dan bisa kita lihat selamanya!

Ada beberapa aliran yang mendukung pernyataan tersebut. Empirisisme, materialisme dan positivisme. Empirisisme mengatakan hanya yang bisa kita alami (melalui indra) itulah yang nyata, tak perlu mencari yang lain, karena yang bersifat fisik empirikal inilah satu-satunya yang real. Dengan nada yang hampir sama materialisme mengatakan bahwa materilah yang paling fundamental, yang non-materi, kalau memang ada, berasal dari materi. Misalnya pikiran mungkin bersifat mon-materi, tetapi ia berkembang dan berasal dari materi juga. Dengan semangat yang sama, positivisme juga mengatakan hanya yang positif (yang bisa diobservasi) yang harus kita pandang ada. Kita tak boleh percaya pada apapun yang tidak bisa diindra. Ketiga aliran ini yakin sekali bahwa tidak ada relitas lain selain realitas fisik empiris.

Tetapi selain tiga kelompok ini ternyata ada aliran lain yang membantahnya, di antaranya kaum Idealis. Merurut mereka realitas itu bukan berada di luar kita, tetapi justru di dalam diri kita, di dalam kesadaran kita. Kaum idealis, seperti diwakili oleh George Berkeley, mengatakan bahwa hakikat sebuah objek tidaklah terletak di luar diri kita, melainkan dalam kesadaran kita. Anda tidak dipandang ada kecuali saya memerhatikannya. Anda baru dikatakan ada hanya ketika saya memerhatikan anda, tapi keberadaan anda bukan di luar tetapi di dalam diri saya. Kalau anda melihat warna, mungkinkah ada warna kalau tidak ada orang yang melihatnya? Tidak ada, karena warna dan juga suara tidak ada di luar kesadaran diri kita, yang mempersepsinya melalui indra. Warna atau suara adalah penafsiran indra kita atas cahaya dan gelombang udara. Tanpa manusia yang menyadarinya, maka benda-benda yang kita pandang sebagai satu-satunya yang ada oleh kaum empiris, materialis dan positivis itu sebenarnya tidaklah ada dalam arti yang sebenarnya. Tentu saja ini sangat menarik perhatianku, karena ini memberiku cara baru untuk melihat realitas sesuatu.

Masih berkaitan dengan isu realitas tapi dari aspek epistemologi adalah pertanyaan dengan apa kita bisa mengetahui realitas. Tentu saja seperti pernah dikatakan al-Ghazali dalam bukunya al-Munqizh, bahwa di antara alat yang paling meyakinkan untuk mengetahui sesuatu adalah indra, dengan mana kita mengenal lingkungan fisik kita. Tetapi selanjutnya ia sendiri menyadari bahwa indra kadang berbohong dan karena itu tidak bisa dipercaya. Kata mata bintang itu kecil, nyatanya besar. Kata mata bayangan itu tidak bergerak nyatanya bergerak.

Di dunia barat pandangan empirisisme dan positivisme sangat dominan, dan hanya percaya pada dunia fisik. Karena itu bagi mereka metode yang paling tepat untuk memahami realitas adalah observasi atau metode eksperimen berdasar pada indra. Masalahnya, apakah indra bisa benar-benar menangkap realitas sebagaimana adanya? Ambil contoh, apakah pelangi itu benar-benar ada di langit? Kita akan bilang ya, karena ia bisa difoto. Tapi apakah mata kita melaporkan yang sesungguhnya? Ternyata idak, karena pelangi hanyalah pantulan cahaya matahari dari hujan, ia tidak benar-benar ada kecuali sebagai refkeksi. Pelangi akan nampak hanya apabila ada kamera atau mata yang melihatnya. Tanpa mata, maka tak ada pelangi. Jadi di manakah sebenarnya pelangi berada: di langitkah, atau di mata kita?

Berdasarkan itu maka al-Ghazali menyakini bahwa akal lebih bisa dipercaya dan komplit daripada indra. Misalnya indra hanya bisa melihat bulan separuhnya saja, tapi akal bisa melihatnya dengan penuh. Tapi Kant meragukan kemampuan akal dalam memahami Realitas. Karena ketika akal kita mengamati sesuatu, yang kita lihat hanyalah fenomena atau penampakan saja, bukan nomena atau realitas dari sesuatu. Dan itu terjadi karena ketika kita nengamati sesuatu kita sebenarnya menggunakan 12 kategori subjektif, seperti ruang, waktu, substansi, kausalitas, kuantitas, dll. yang menyebabkan kita tidak bisa menyentuh jantung realitas sebuah

Bagian Terakhir: Konsep Tuhan

Oleh Mulyadhi Kartanegara

Hal baru terakhir yang membuat aku tertarik pada filsafat berkaitan dengan konsep ketuhanan, yang kadang berbeda dengan yang digambarkan oleh kitab suci. Aristoteles dan al-Kindi menggambarkan Tuhan sebagai Sebab Pertama bagi rangkaian panjang sebab-sebab yang terjadi di alam semesta, hingga hari ini. Selain itu Tuhan juga digambarkan sebagai Penggerak Pertama yang tidak bergerak. Penggerak Pertama ini tidak bisa digambarkan sebagai bergerak, karena kalau begitu, maka ia memerlukan Penggerak yang lain, dan karena itu tidak bisa dikatakan Penggerak Pertama.

Selain itu Tuhan juga digambarkan oleh filosof sebagai the Great Unknown, yang Maha Besar tapi tak bisa dikenal. Inilah pandangan Plotinus, pendiri Neo-Platonisme yang sangat berpengaruh pada para pemikir Muslim. Konsep lain yang menarik tentang Tuhan didapatkan dari beberapa filosof Muslim, seperti Ibnu Sina yang menggambarkan Tuhan sebagai Wujud Niscaya (wajib al-wujud), yaitu wujud yang senantiasa aktual, yang dikontraskan dengan alam, sebagai Wujud Mungkin, yang tidak bisa mewujud sendiri, dan karena itu tergantung keberadaannya pada Tuhan, sang Wujud Niscaya. Tuhan digambarkan oleh Suhrawardi sebagai Cahaya segala cahaya (Nur al-anwar). Ia adalah sumber dari segala cahaya yang ada di alam semesta, yang merupakan komponen positif penting alam semesta yang terdiri dari cahaya dan kegelapan. Konsep Tuhan yang terakhir adalah dari Mulla Shadra yang menggambarkan Tuhan sebagai Wujud Murni yang menjadi dasar dan syarat adanya wujud lain yang kita jumpai di alam semesta ini. Tuhan sebagai Wujud Murni ini dipandang terbukti sendiri (badihi), karena Ia adalah Syarat dan fondasi bagi segala yang ada (mawjudat) di alam semesta. Tuhan para filosof ini bagiku saat itu merupakan konsep yang sama sekali baru dan telah mengubah Tuhan yang personal seperti digambartan al-Qur'an kepada Tuhan yang impersonal yang ternyata sangat bermanfaat dalam memahami konsep Tuhan para filosof bahkan hingga saat ini.

Kalau konsep para filosof sudah menggeser Tuhan yang personal ke Tuhan impersonal, konsep Tuhan para filosof modern lebih menantang lagi. Ia lebih merupakan kritik terhadap Tuhan ketimbang konsep positif tentang-Nya. Ktitik filosof modern tentunya sejalan dengan semakin sekulernya pandangan masyarakat Modern barat. Sekalipun kritik mereka awalnya diarahkan pada konsep Tuhan Kristen tetapi konsekuensinya meninpa semua agama. Mari kita mulai dengan Nietzsche. Ia mengatakan bahwa Tuhan telah mati (God is dead) dan ia "membunuh" Tuhan untuk memungkinkan manusia menjadi super, dengan cara mencipta. Kalau tuhan tidak dibunuh maka manusia tidak akan pernah menjadi besar, karena tidak pernah akan menjadi pencipta sejati, padahal mencipta merupakan syarat bagi terciptanya manusia super, yang didambakannya. Sartre di tempat lain pernah menggambarkan Tuhan sebagai Pengintip dengan melambangkan-Nya dengan lubang kunci. Dengan selalu mengintip perbuatan manusia, maka manusia akan kehilangan kebebasannya. Dan dengan kehilangan kebebasannya manusia tidak bisa benar-benar eksis dalam menyelenggarakan hidupnya. Karena itu kita harus menutup lobang kunci--menghapus Tuhan dari kesadaran manusia.

Tapi yang paling parah adalah Freud yang memandang Tuhan sebagai Ilusi. Dikatakan ilusi karena ia berasal dari keinginan dan kebutuhan manusia untuk mencari seorang Pelindung. Tuhan, yang dipandang sebagai maha besar, sesungguhnya tak lain daripada proyeksi diri manusia yang merasa kecil, sehingga terlihat besar, seperti bayangan tubuh kita di tembok setelah dipasang lilin di bawahnya. Karena itu ia mengatakan bukan Tuhan yang menciptakan kita, tapi kitalah, manusia, yang menciptakan-Nya. Tentu saja konsep-konsep negatif ini telah menimbulkan berbagai perasaan dalam diriku antara tertarik tapi juga repulsif. Inilah akhir dari topik "Mengapa Aku Tertarik pada Filsafat?" dan akan disambung dengan topik berikutnya: Dampak positif dan negatif Filsafat.