Showing posts with label dunia Islam. Show all posts
Showing posts with label dunia Islam. Show all posts

Arkoun Mendobrak Kebekuan Pemikiran Islam

Oleh: Satrio Arismunandar

Resensi Buku karya Siti Rohmah Soekarba (2019). "Dekonstruksi dan Pemikiran Mohammed Arkoun." Depok: LSM Males Arts Studio, Pusat Dokumentasi Seni Indonesia.

Buku ini terbit pada saat yang tepat, ketika fundamentalisme dan radikalisme keagamaan muncul di kalangan masyarakat Muslim yang sebetulnya sangat beragam. Fenomena munculnya ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah), yang tak segan-segan melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap warga yang berbeda pandangan keagamaan dengannya, adalah contoh ekstrem.

Di tengah perkembangan pesat teknologi komunikasi dan informasi, serta era kecerdasan buatan, dunia Islam sendiri seolah mandek. Tidak terasa adanya pembaruan dalam pemikiran Islam, yang mampu memposisikan umat agar siap menghadapi tantangan zamannya. Karena itu perlu ada pemikiran baru yang mendobrak kejumudan tesebut.

Dengan latar belakang itulah, pemikiran Mohammed Arkoun menjadi penting. Karya-karya Arkoun adalah salah satu yang menawarkan pencerahan di tengah kegelapan. Lahir pada 1928 di Aljazair, Arkoun adalah salah satu pemikir Islam mutakhir, yang sayangnya kurang banyak dikenal di Indonesia. Hal ini mungkin karena jarak bahasa. Sebagian besar karya Arkoun ditulis dalam bahasa Prancis.

Bidang utama studi dan penelitiannya adalah bahasa dan sastra Arab, serta pemikiran Islam. Tiga acuan utama dalam karya-karyanya adalah tradisi pemikiran Islam, Islamologi Barat, dan berbagai ilmu pengetahuan Barat mutakhir.

Ide-idenya banyak dipengaruhi oleh pemikir-pemikir postmodern yang mempermasalahkan keutamaan dan kedaulatan subjek terhadap pemikiran teks. Arkoun mengembangkan pemikiran keislaman dari konsep-konsep filsafat modern.

Seperti, konsep mitos dari Paul Ricoeur, konsep wacana (discourse) dan episteme yang dikembangkan Michel Foucault, serta dekonstruksi yang dikemukakan Jacques Derrida. Arkoun juga memanfaatkan konsep-konsep semiotik yang dikembangkan Roland Barthes, A.J. Greimas, dan L. Hjemslev.

Dogmatisme Pemikiran Islam

Meskipun hampir seluruh pemikirannya dikembangkan melalui universitas Barat (Prancis), Arkoun mendambakan emansipasi umat Islam dalam konteks kemajuan seluruh umat manusia. Ia sangat prihatin melihat perkembangan pemikiran Islam dewasa ini.

Ada kebekuan, ketertutupan dan dogmatisme pemikiran Islam, yang menyuburkan tumbuhnya fundamentalisme Islam. Untuk itu, Arkoun lebih menekankan pada kebebasan pemikiran.

Menurut pandangan Arkoun, pemikiran Islam saat ini sangat inferior berhadapan dengan pemikiran Barat. Hal ini disebabkan pemahaman terhadap Islam yang bersifat dogmatis. Mereka menerima, meyakini, dan mengamalkan tradisi Islam secara taken for granted, tidak tahu apa alasannya, tanpa penelaahan kritis.

Redupnya warisan tradisi filsafat dan pemahaman terhadap Islam yang bersifat dogmatis tanpa penelaahan kritis, melahirkan banyak hal yang tak dipikirkan (l’impense) atau yang tak terpikir (l’impensable). Untuk itu, Arkoun mengemukakan pentingnya kritik metodologis atas nalar Islam dengan melalui tiga pendekatan: historis, antropologis, dan linguistis.

Menurut Arkoun, dalam masyarakat heterogen, menomorsatukan sakralitas dan normatifitas dengan menepikan historisitas dan profanitas adalah cukup menggelisahkan, untuk tidak menyebutnya sebagai bahaya. Untuk melawan dogmatisme seperti itu, ia menekankan pentingnya kritik atas penalaran Islam. Strategi ini digunakan untuk menelaah secara kritis tradisi pemikiran Islam (hlm. 3).

Arkoun berpendapat, Islam bukanlah agama yang terorganisir secara kaku dan dogmatis. Tetapi dalam perjalanam historisnya, melalui jalur kekuasaan Islam telahmenjadi dogma mati untuk kepentingan kekuasaan itu sendiri. Dari sudut sejarah, pemikiran Islam telah mandek. Pemikiran yang muncul adalah pemikiran yang terkotak-kotak, tertutup, sempit, logosentris, dan tidak terbuka.
Umat Islam harus mengakui, selama empat abad pemikiran Islam tidak berdenyut seperti pemikiran Eropa. Pemikiran Islam hanya mengulang-ulang sikap akal-relijius skolastik yang konservatif, sebagaimana yang digunakan selama Abad Pertengahan, tanpa bergeser sedikit pun dari posisi ini ke posisi modern.

Maka Arkoun mencanangkan proyek besar yang disebutnya “kritik nalar Islam” dan “pembukaan kembali pintu ijtihad.” Dalam kenyataannya, ijtihad hanyalah pemenuh tuntutan ideologis dari penguasa. Karena itu, Arkoun mengusulkan agar tugas ijtihad diperluas lagi dengan usaha kritik nalar Islam.

Pembacaan Monolitik

Berbeda dengan proyek intelektual Hassan Hanafi dengan dikotomi Islam-Barat dan Abed al-Jabiri dengan revivalisme dan rasionalisme Ibnu Rusyd, Arkoun dengan kukuh mengawinkan filsafat dan historiografi kontemporer yang lahir di Prancis dengan tradisi Islam.

Hampir satu dasawarsa sejak wafatnya Arkoun (2010), gagasannya perlu diaksentuasi dan dimaklumatkan kembali, terutama dalam konteks relasi Islam dengan dunia global saat ini. Apalagi jika kita melihat kecenderungan menguatnya kembali politik identitas, yang bersumber dari pembacaan yang monolitik terhadap khazanah Islam itu sendiri, yang sebenarnya sangat kaya dan beragam.

Ajakan Arkoun untuk menghadirkan kembali iklim wacana kenabian yang bersifat terbuka dan dinamis memang relevan bagi intelektual Muslim yang tinggal di Barat, atau akademisi yang mendalami khazanah Islam dan peduli terhadap kritik paradigma teori, yang didesakkan oleh tradisi intelektual Barat.

Namun, bagi masyarakat awam atau mereka yang tengah merasakan ketenangan dan makna hidup, melalui pemahaman Islam yang mengajarkan serba kepastian tanpa banyak diskusi, pikiran-pikiran Arkoun akan dianggap bid’ah teologis. Pemikiran umat Islam umumnya masih sangat terbatas.
Jika ada yang perlu dikritik dari buku ini, itu adalah penyuntingan yang kurang rapi. Ada beberapa salah ketik di sejumlah halaman. Tabel di halaman 69 juga tidak rapi susunannya, sehingga mengganggu pembacaan. Ini sepatutnya diperbaiki, jika buku ini (semoga) akan dicetak ulang.
Kemudian ada terjemahan Surat Al-‘Alaq di halaman 161, yang hasil terjemahannya tampaknya kurang pas atau kurang menangkap nuansa makna. Tidak dijelaskan di situ, apakah terjemahan itu dari mengutip sumber tertentu atau hasil terjemahan oleh penulis sendiri.

Namun, dengan beberapa kekurangan minor tersebut, kehadiran buku ini sangat penting dan selayaknya diapresiasi. Buku tentang pemikiran Arkoun jelas masih langka di Indonesia. Buku ini sangat layak dibaca oleh mereka yang berminat mendalami filsafat ataupun isu-isu keislaman di Indonesia. ***

Depok, Mei 2020

Renaisans Ketiga: Mungkinkah terjadi di Indonesia dan Asia Tenggara?

Oleh: Mulyadhi Kartanegara

Bagian 1

Besar harapanku bahwa bangsa Indonesia sebagai penduduk terbesar umat Islam mampu memainkan peranan intelektual yang vital, bukan hanya pada taraf domestik, melainkan juga regional, bahkan kalau mungkin, dunia, Banyak harapan serupa pernah dilontarkan rekan-rekan kita di Malaysia, bahkan almarhum Prof. Dr. Fazlur Rahman (w. 1988 M) sendiri pernah meramalkan bahwa kebangkitan Islam pada masa mendatang akan muncul bukan di dunia Arab, melainkan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia.

Seberapa feasible-kah harapan tersebut untuk diwujudkan? Jika kita melihat morat-maritnya kondisi ekonomi dan politik kita saat ini, boleh jadi kita akan sangat pesimis. Namun, terlepas dari kondisi real di atas, masyarakat Indonesia sebenarnya telah memiliki aset yang sangat potensial, dilihat dari keterbukaannya terhadap informasi dan pemikiran apapun yang datang dari luar. Dalam wacana keislaman, misalnya, aku sangat berbahagia bahwa di negeri ini kita boleh menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya dalam bidang keilmuan Islam apapun, seperti tasawuf, ilmu kalam, bahkan filsafat—yang oleh negara-negara tertentu, seperti Arab Saudi, sangat dibatasi bahkan dilarang—oleh aliran manapun, entah itu modernis, dan lain-lain, dan oleh siapa pun, entah itu Fazlur Rahman, Nasr, Maududi, Ali Syari'ati, Hassan Hanafi, dan sebagainya.

Keterbukaan intelektual seperti ini patut kita syukuri dan kita pertahankan karena ia akan memberi dasar yang kuat bagi pengembangan daya intelektual dan perluasan wawasan umat, yang sangat diperlukan bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran yang kreatif dan orisinal. Pemikiran yang kreatif dan orisinal akan bisa tumbuh hanya apabila kita telah memiliki dan mewarisi khazanah intelektual yang kaya dan luas. Warisan seperti ini, pada saat ini, sebenarnya masih dapat kita peroleh melalui berbagai karya ilmiah dan filosofis, baik asli maupun terjemahan—yang berasal dari sumber-sumber Islam maupun Barat, asal saja kita telah bisa bersikap terbuka dan berlapang dada terhadap dunia luar. Dan kondisi ini, alhamdulillah, telah kita miliki.

Nah, pada tahap sekarang ini ketika penulis-penulis asli dari kaum cendekiawan pribumi belum mampu menyuplai bahan-bahan kajian yang memadai untuk bangsa ini—bahkan masih sangat jauh, maka terjemahan merupakan salah satu solusi yang barangkali terbaik bagi konsumsi intelektual kita, meskipun karya terjemahan masih secara keliru dipandang inferior dibandingkan dengan karya orisinal. Sebenarnya, kita sama sekali tidak boleh menganggap sepele terhadap karya-karya terjemahan ini. Sejauh yang dapat aku ketahui dari bacaan selama ini, dapat dikatakan bahwa dua renaisans yang telah pernah terjadi di dunia—Islam dan Eropa—tidak bisa dibayangkan muncul tanpa tersedianya karya-karya terjemahan. Abad ke-l0 M, telah dipandang oleh beberapa ahli—Adam Mez dan Joel L. Kraemer—sebagai renaisans Islam karena tokoh-tokoh besar, seperti Al-Farabi, Abu Sulaiman Al-Sijistani (w. 983 M), Abu Al-Hasan Al-‘Amiri (w. 992 M), dan Miskawaih muncul, berkembang, dan mempengaruhi tokoh-tokoh sesudahnya. Akan tetapi, Renaisans Islam—yang harus dipahami dalam konteks ini sebagai upaya kaum Muslim untuk menggali kembali warisan klasik, terutama Yunani—ini hanya dimungkinkan setelah terjadi gelombang besar-besaran dari penerjemahan karya-karya Yunani dan India—ke dalam bahasa Arab pada abad ke-9 dan awal abad ke-10 M atau abad ke-3 dan ke-4 H, dengan para penerjemah ternama, seperti Hunain ibn Ishaq, Ishaq ibn Hunain, Al-Kindi, Abu ‘Utsman Al-Dimasyqi, dan Hubaisy. Para penerjemah ini telah dengan sangat metodik dan akurat berhasil menerjemahkan ribuan karya klasik, yang pada gilirannya telah menjadi bahan dasar (raw material) bagi pembentukan sintesis-sintesis agung pada masa-masa berikutnya, seperti yang dilakukan oleh Ibn Sina, Suhrawardi, dan Mulla Shadra.

Bagian 2

Demikian juga tidak bisa terbayangkan munculnya Renaisans Barat, yang lebih terkenal, pada abad ke-14 hingga abad ke-16, tanpa didahului oleh penerjemahan-penerjemahan yang intensif di Toledo dan Sisilia dari karya-karya ilmiah-filosofis Muslim (Arab) oleh para penerjemah Latin dan Yahudi, seperti Gundissalinus, Michael Scott, dan Ibn Dawud, ke dalam bahasa Latin dan Ibrani, pada awal abad ke-14, dan -13. Ratusan--bahkan mungkin ribuan--karya ilmiah dan filosofis Muslim, seperti Kitab Al-Manazhir, Al-Qanun, Al-Syifa’, Al-Hawi, Maqashid Al-Falasifah, dan Tahafut Al-Falasifah, dan terutama ratusan komentar Ibn Rusyd yang kaya dan bervariasi terhadap karya-karya Aristoteles dan Plato. Kehadiran karya-karya Arab dalam bentuk terjemahan-terjemahan inilah, aku yakin, yang telah memicu dan mengilhami gerakan Renaisans Eropa (terutama Italia) untuk menghidupkan kembali warisan klasik Yunani. Tanpa karya-karya terjemahan tersebut, aku yakin tidak akan ada renaisans di Eropa, dan tanpa renaisans ini tidak bisa dibayangkan terjadinya revolusi ilmiah yang sekarang menandai peradaban Barat modern.

Oleh karena itu, aku berharap berhentilah menghina karya terjemahan, dan marilah kita terus berusaha menerjemahkan sebanyak mungkin dan seakurat mungkin karya-karya besar dunia, baik klasik Islam maupun modern Barat, untuk kita jadikan sebagai bahan dasar (adonan) bagi terbentuknya pemikiran-pemikiran sintesis yang agung di negeri tercinta ini. Hanya dengan cara itulah barangkali kebangkitan Dunia Islam bisa terwujud di kawasan ini.

Mungkinkah dengan realitas seperti sekarang ini, bangsa kita dapat melahirkan Renaisans Ketiga, setelah Arab dan Eropa? Mengapa tidak. Bukankah seperti yang telah disinggung, kita telah memiliki aset yang sangat berharga, yaitu sikap terbuka terhadap pemikiran dunia? Meskipun demikian, harus segera disadari bahwa jalan menuju perealisasiannya masih sangat jauh dan berliku-liku. Di sini kita berbicara bukan tahunan, bahkan bukan pula dasawarsa-an, melainkan abad. Oleh karena itu, diperlukan persiapan mental yang tangguh dan energi serta cita-cita yang tinggi, siap mental untuk gugur di tahap-tahap awal perjalanan itu, dan untuk tidak berharap dapat melihat hasil perjuangan kita. Aku sudah akan merasa puas, seandainya generasi kita ini telah sanggup meratakan jalan bagi perjalanan yang panjang ini.

Menurut keyakinanku, jalan ini bisa kita tempuh melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah penerjemahan. Kita telah maklum bahwa penerjemahan telah dan akan tetap memainkan peranan yang sangat penting bahkan kunci dari sebuah renaisans. Aku juga telah menyatakan kegembiraanku atas diperkenankannya oleh pihak berwenang penerjemahan dan penerbitan karya-karya ilmiah dari manapun asalnya, dari siapapun penulisnya, dan apapun alirannya. Akan tetapi, tentu saja dalam hal ini kita tidak boleh puas dengan apa yang telah kita capai. Kita harus terus mengupayakan perbaikan dan peningkatan—baik dalam arti jumlah maupun mutu—dari penerjemahan.


Bagian 3

Sebuah terjemahan yang baik, menurut hematku, adalah yang diterjemahkan oleh seorang yang ahli—dalam arti menguasai—baik bahasa sumber yang diterjemahkan maupun bahasa sasaran, dan seorang ahli dalam bidang keilmuannya. Selain itu, terjemahan yang baik adalah yang telah berkali-kali dikonsultasikan dan direvisi sebelum diterbitkan. Bahkan karya terjemahan yang telah diterbitkan pun perlu direvisi jika di dalamnya terdapat kekeliruan-kekeliruan penting yang bisa menyesatkan pembaca.

Sebenarnya, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana membuat terjemahan yang baik dari para penerjemah klasik Dunia Islam pada abad ke-9 dan 10. Misalnya, kasus Hunain ibn Ishaq, penerjemah Kristen Nestorian, yang telah menerjemahkan ratusan karya Yunani—baik dari bahasa Yunani sendiri maupun dari bahasa Suryani—ke dalam bahasa Arab. Dia sendiri adalah ahli kedokteran dan filsafat dan cabang-abang ilmu rasional lainnya, di samping teologi. Jadi, dari sudut keahlian, dia telah lebih dari memadai. Kedua, dia ahli dalam setidaknya tiga bahasa: Yunani, Suryani, dan Arab. Diceritakan bahwa Hunain menghilang di daerahnya, dan ternyata dia pergi mencari naskah-naskah dan informasi ke Yunani sendiri, tanpa mengalami hambatan linguistik. Dia menguasai dengan baik bahasa Suryani, bahasa aslinya, dan bahasa Arab, sebuah bahasa ilmiah yang harus dikuasai oleh seorang cendekiawan sekaliber Hunain. Dan dia sendiri keturunan Arab, dan karena itu berbahasa Arab. Selain ahli dalam bidangnya dan bahasa-bahasa yang bersangkutan, dia juga memiliki cara atau metode penerjemahan yang baik. Dikatakan bahwa sebelum melakukan penerjemahan, dia akan mengumpulkan beberapa manuskrip dari karya yang akan diterjemahkan, dan setelah diadakan perbandingan dan "kolasi", kemudian memutuskan mana di antara manuskrip tersebut yang terbaik untuk diterjemahkan. Selain itu, untuk menjamin mutu dan akurasi sebuah terjemahan, dia sering melakukan revisi, baik terhadap terjemahan yang dilakukan orang lain, seperti terhadap sebuah karya Aristoteles oleh Yohanna ibn Hailan, ataupun terhadap terjemahannya sendiri yang telah dia lakukan waktu masih muda. Untuk memastikan mutu dan akurasinya, tidak jarang Hunain melakukan tiga kali revisi terhadap karya yang sama!

Tentu ini berbeda sekali dengan realitas penerjemahan yang dilakukan di negeri ini. Siapapun penerjemahnya, apapun bidang keahliannya, dan betapapun mutu terjemahannya, sekali dia terbit, tidak pernah direvisi untuk diterbitkan ulang. Bahkan ketika terjadi penyimpangan yang berarti atau pemenggalan satu bagian yang sangat signifikan, terjemahan tetap diterbitkan dan diedarkan tanpa penjelasan, seperti yang terjadi pada penerjemahan karya etika Majid Fakhry, Ethical Theories in Islam. Versi terjemahan dari karya ini telah menghilangkan satu bagian—tanpa penjelasan—yang menurutku justru inti dari buku tersebut, yakni etika filosofinya, karena dua alasan: (1) keahlian Majid Fakhry yang utama adalah filsafat—dia adalah pengarang buku A History of Islamic Philosophy, yang kebetulan telah aku terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; (2) bahwa bagian ini (etika filosofis) merupakan yang terpanjang dan paling terperinci dibandingkan dengan yang lain. Akan tetapi, sayang, bahkan sampai saat aku menulis karya ini, tidak ada apologi, apalagi revisi dari penerjemah maupun penerbitnya.

Bagian 4

Tahap kedua yang bisa kita lakukan untuk meratakan jalan panjang menuju renaisans ketiga adalah menghimpun sebanyak mungkin karya-karya ilmiah dan filosofis klasik, untuk kemudian dikaji, dianalisis, dan diterjemahkan sebaik mungkin. Penghimpunan atau koleksi karya-karya agung ilmiah dan filosofis ini sangat perlu dilakukan dalam rangka membangun tradisi intelektual kita yang komprehensif, mengingat langkanya karya-karya tersebut di negeri kita. Sebenarnya khazanah intelektual Islam dalam bidang ilmu dan filsafat amatlah kaya. Di Istanbul sendiri terdapat hampir sejuta manuskrip ilmiah dan filosofis seperti itu, sebagaimana dilaporkan oleh Brockelmann dan Fuad Sazgin. Sedangkan di daerah-daerah bekas jajahan Rusia terdapat puluhan ribu manuskrip lainnya. Namun, di negeri kita, informasi tentang karya-karya ilmiah-filosofis ini amat langka dan asing, seperti juga informasi tentang tokoh-tokohnya, yang menurut laporan dari 'Uyun Al-Anba' fi Thabaqat Al-Athibba', sebuah karya ilmiah Ibn Abi Ushaibi‘ah, dan Nuzhat Al-Arwah wa Raudhah Al-Afrah karya Syams Al-Din Sahrazuri, jumlahnya bisa mencapai ratusan, jika tidak ribuan.

Dari yang pernah kuketahui ternyata banyak sekali karya filosofis yang telah dihasilkan Dunia Islam, dan siap untuk direnaisans. Dalam bidang kimia, misalnya, kita mewarisi ribuan karya yang terhimpun dalam apa yang dikenal sebagai Geberian Corpus, kumpulan tulisan yang dianggap berasal dari seorang ahli, bahkan boleh dikata "Bapak" kimia Islam, Jabir ibn Hayyan (w. 833 M). Dalam bidang matematika, kita mempunyai kitab yang paling terkemuka, Al-Jabr wa Al-Muqabbalah, karya Muhammad ibn Musa AI-Khwarizmi, sebuah karya aljabar, sebagaimana bisa kita lihat dari judulnya, dan Miftah Al-Hisab, karya Ghiyats Al-Din Jamsyid, dalam bidang aritmetika, yang untuk pertama kalinya fraksi desimal ditemukan.

Dalam bidang astronomi, Dunia Islam juga telah melahirkan karya-karya besar, seperti Al-Qanun Al-Mas‘udiyyah, karya Al-Biruni, yang, telah melakukan beberapa modifikasi dan perbaikan astronomi matematik Ptolemeus, dan beberapa tabel astronomi, yang disebut "zij", sebagai hasil observasi para astronom Muslim di beberapa observatorium, seperti Zij A I-Hakimiyyah oleh Ibn Yunus di Kairo, Zij IIkhaniyyah oleh Nashir Al-Din Thusi dan kawan-kawan di Maraghah dan Zij Ulugh Begh oleh Ulugh Begh di Samarkand. Sementara itu, Nihayah Al-Idrak oleh Quthb Al-Din Syirazi, yang diikuti oleh Ibn Syathir, telah menemukan metode baru untuk menghitung gerakan planet yang kemudian disebut "Kopel Thusi" (Thusi's Couple).

Dalam bidang fisika, kita memiliki karya-karya yang cukup besar, seperti bagian fisika dari Kitab Al-Syifa' oleh Ibn Sina, dan kitab yang sangat terkenal dalam bidang optika (salah satu cabang fisika) oleh Ibn Haitsam, Kitab Al-Manazhir, seperti yang telah disinggung, dibuktikan dan dibedakan mengenai teori penglihatan yang benar dari teori yang keliru. Dalam karya ini pengarang menggunakan metode eksperimental dalam mempelajari spektrum cahaya dan analisis ilmiah tentang refleksi, refraksi yang berkaitan dengan pelangi, dan menciptakan instrumen-instrumen optik termasuk cermin parabolik. Kitab ini juga mendapat perhatian yang serius bahkan kritik yang konstruktif dari ahli optik abad ke-15, Kamal Al-Din, yang telah memberikan deskripsi akurat tentang pembentukan pelangi, yang menurut pengamatannya, disebabkan oleh refraksi dan refleksi cahaya.

Dalam bidang sejarah alam, kita patut berbangga dengan dua kitab yang mempelajari hewan bukan saja dari sudut anatomisnya, melainkan juga dimensi moral dalam kehidupan hewan: Kitab Al-Hayawan oleh Al-Jahiz, dan Hayat Al-Hayawan al-Kubra oleh Al-Damiri.

Bagian 5

Bidang ilmiah lain yang patut kita banggakan adalah bidang kedokteran. Kemajuan dalam bidang kedokteran ini barangkali bisa kita lihat dari jumlah dokter yang mencapai lebih dari 800 ratusan sebagaimana yang dilaporkan pada abad ke-13 oleh Ibn Abi Ushaibi‘ah dalam kitabnya 'Uyun Al-Anba fi Thabaqat Al-Athibba'. Karya-karya besar medis yang lain juga bermunculan, antara lain Kitab Al-Hawi karangan ahli klinis Persia, Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya Al-Razi, yang ditulis dalam dua puluh jilid sebagai buah praktik kedokteran Al-Razi selama lima belas tahun terakhir hidupnya, dan Kitab Al-Qanun fi Al-Thibb, karangan Ibn Sina (Avicenna) yang dikatakan telah mensintesiskan dua tradisi besar medis Yunani, Hippokratik dan Galenik. Bidang yang berkaitan dengan kedokteran, seperti farmasi dan farmakologi juga telah melahirkan karya besar, seperti Al-Jami’ limufradat Al-Aghdziyyah wa Al-Adwiyyah, karangan farmakolog Andalusia, Ibn Baithar dan bagian farmakologi dari Kitab Al-Qanun, karya Ibn Sina.

Selain karya-karya ilmiah, kita juga mewarisi banyak sekali karya-karya filosofis di sepanjang sejarah pemikiran Islam. Namun, sebelum kita mendaftarkan karya-karya besar dalam bidang ini, perlu dikemukakan bahwa individu-individu filosof atau ilmuwan, yang mungkin hanya didaftarkan satu karya utamanya, sebenarnya telah menulis puluhan bahkan ratusan karya. Misalnya lebih dari dua ratus karya, dikatakan telah ditulis oleh Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, dan puluhan oleh Suhrawardi, Nashir Al-Din Thusi dan Quthb Al-Din Syirazi. Di antara karya-karya filosofis utama yang pernah dihasilkan filosof Muslim adalah: Al-Falsafah Al-Ula' dalam bidang metafisika oleh Al-Kindi, Ara' Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah, dan Al-Siyasah Al-Madaniyyah dalam bidang metafisika dan politik oleh Al-Farabi. Ibn Sina telah menghasilkan puluhan karya besar dalam bidang filsafat, di antaranya Al-Syifa', Al-Najah, Manthiq Al-Masyriqiyyin, Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, dan Kitab Al-Inshaf. Selain itu, dia juga menulis karya-karya novel (visionary recitals), seperti Risalat Al-Thair, Hayy ibn Yaqzhan, dan Salaman wa Absal.

Sebagai pengkritik filsafat, Al-Ghazali telah menghasilkan setidaknya dua karya filosofis yang terkenal, Maqashid Al-Falasifah dan Tahaput Al-Falasifah, yang pada gilirannya telah menghasilkan sebuah karya tandingan Tahafut Al-Tahafut oleh Ibn Rusyd. lbn Rusyd sendiri telah menghasilkan karya-karya komentar yang kaya terhadap karya-karya Aristoteles, seperti komentar terhadap Metafisika, Poetika, De Interpretatione, Etika Nichomakean, dan Rhetorika, di samping karyanya sendiri yang orisinal, Al-Fashl Al-Maqal dan Kitab Al-Kasyf 'an Manahij Al-'Adillah. Teman sezaman Ibn Rusyd di Timur, Suhrawardi Al-Maqtul, pendiri Mazhab Isyraqi, juga telah menghasilkan karya-karya besar filosofisnya, seperti Al-Talwihat, Al-Muqawamat, Al-Masyari' wa Al-Mutharahat, dan yang paling orisinal dari semua itu Hikmat Al-lsyraq. Karya-karya Isyraqi ini disusul oleh karya-karya Nashir Al-Din Thusi, yang membela tradisi Ibn Sina, dan Quthb Al-Din Syirazi, yang lebih sejalan dengan tradisi Isyraqi. Karya-karya filosofis Thusi antara lain Syarh Al-Isyarah wa Al-Tanbihat, Baqa' Al-Nafs, Aqsam Al-Hikmah, Rabth Al-Hadits bi Al-Qadim, Kaifiyyah Al-Shudur AI-Maujudat, dan yang paling terkenal di antaranya, Akhlaq-i Nashiri (The Nasirean Ethics), sebuah karya etika yang berusaha menyempurnakan kitab serupa dari Miskawaih, Tahdzib AI-Akhlaq. Sedangkan di antara karya-karya Quthb Al-Din Syirazi, selain Nihayah Al-Idrak, yang telah kita singgung, adalah Syarh fi Risalah fi Tahqiq 'Alam Al-Mitsal, dan magnum opus-nya, Durrah Al-Taj li Ghurrah Al-Dubaj, yang meliputi enam jilid (25.000 halaman).

Bagian 6

Masih tentang karya-karya filosofis, kita memiliki sederetan panjang karya-karya yang tidak begitu dikenal, tetapi penting sebagai mata-rantai antara Thusi dan Mulla Shadra, seperti Al-Risilah Al-Syamsiyyah dan Hikmah Al-‘Ain, karangan ‘Umar Al-Katibi Al-Qazwini (w. 1276 M), Risillah Al-‘Ulum Al-‘Aliyyah oleh Haidar Al-Amuli (w. 1385 M), Kitilb Al-Mujli oleh Ibn Abi Jumhur Al-Ahsha'i (w. 1499 M) dan Akhlilq-i Jalali oleh Jalal Al-Din Al-Dawwani (w. 1503 M). Termasuk kategori ini juga beberapa karya filosofis dari para filosof yang tergabung dalam apa yang dikenal sebagai "Mazhab Isfahan", seperti Risalah Shana'iyyah oleh Findiriski, Riyadh Al-Abrar karangan Rustamdari (w. setelah 1571 M), dan Al-Qabasat serta Jadzawat oleh pendiri Mazhab Isfahan, Mir Damad, yang dikenal di kalangan murid-muridnya sebagai al-mu'allim al-tsalits (guru ketiga), setelah Aristoteles dan Al-Farabi. Dia juga adalah guru utama bagi filosof terbesar pasca Ibn Rusyd, Mulla Shadra. Tentunya Mulla Shadra, panggilan populer Shadr Al-Din Al-Syirazi (w. 1641 M), telah menyumbangkan beberapa karya agung filosofis, seperti Al-Syawahid Al-Rububiyyah, Hikmah Al-‘Arsyiyya dan Al-Masya‘ir dan yang terpenting dari semua karyanya dan telah menjadi masterpiece-nya, Al-Asfar al-‘Arba'ah Fi Al-Hikmah Al-Muta'aliyah. Karya-karya ini disusul oleh beberapa karya karangan murid-muridnya, seperti ‘Ain Al-Yaqin oleh Mulla Faidh Kasyani dan karya Persia, Gauhar-i Murad, oleh Mulla ‘Abd Al-Razzaq Lahiji. Karya-karya lain yang bisa dimasukkan ke dalam kategori ini adalah sebuah risalah Persia Kalid-i Bihist (Kunci Firdaus) oleh Qadhi Sa'id Qummi (w. 1691 M), dan Syarh Al-Manzhumah, serta Asrar Al-Hikam karangan Mulla Hadi Sabzawari (w. 1873 M), filosof terbesar Dinasti Qajar.

Selain karya-karya ilmiah dan filosofis, kita juga tidak boleh mengabaikan karya-karya mistik-filosofis, seperti Al-Thawasin oleh Al-Hallaj, Munajat oleh Khwaja ‘Abd Allah Anshari (w. 1089 M), Ihya’ ‘Ulum Al-Din dan Misykat Al-Anwar oleh Abu Hamid Al-Ghazali, Hadiqah Al-Haqiqah oleh Hakim Sana'i (w. 1150), Futuh Al-Ghaib oleh Syaikh ‘Abd Al-Qadir Jailani (w. 1166 M), Asrar Namah dan Manthiq Al-Thair oleh Farid Al-Din 'Aththar (w. 1204 M), Fushush Al-Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyyah oleh Ibn ‘Arabi, Matsnawi Ma‘nawi oleh Jalal Al-Din Rumi, Lama'at oleh Fakhr Al-Din ‘Iraqi (w. 1289 M), Kitab Al-Hikam oleh Atha' Allah Al-Iskandari (w. 1309 M), dan Al-Insan Al-Kamil oleh ‘Abd Al-Karim Al-Jili (w. 1403 M). Masih ada sederetan panjang dari karya-karya mistik Islam, yang tidak perlu disebutkan secara terperinci di sini.

Nah, selain dihimpun tentu saja karya-karya ini perlu kita kaji secara intensif, diadaptasi, dan kalau mungkin direvisi serta dikembangkan sesuai dengan perkembangan mutakhir dalam bidang ilmu dan filsafat. Dan yang paling penting adalah bahwa karya-karya klasik yang maha-penting ini perlu sekali diterjemahkan dengan sebaik dan seakurat mungkin (bahkan kalau bisa dianotasi dan diberi komentar oleh penerjemahnya). Karya-karya ini perlu dipelihara dan ditangani secara serius, untuk kemudian dihimpun secara teratur dan sistematik dalam perpustakaan-perpustakaan negeri atau pribadi, mengingat sangat terbatasnya dalam peredaran karya-karya masterpiece di atas, baik dalam bentuk aslinya maupun, untuk kepentingan yang lebih luas, dalam bentuk terjemahan.

Penerjemahan karya-karya klasik ini ke dalam bahasa Indonesia sangat dibutuhkan oleh kaum terpelajar dan kawula muda, yang tidak terlatih secara profesional dalam bahasa aslinya, untuk bisa mengakses karya-karya utama—dari tangan pertama para penulis aslinya. Harus diakui, karya-karya utama ini sangat sukar kita peroleh pada saat ini sehingga pengetahuan kita tentang karya-karya tersebut selalu bergantung pada sumber-sumber sekunder, dengan segala risiko bias dan distorsinya, yang kadang cukup signifikan. Ketersediaan dan aksesibilitas dari karya-karya klasik inilah yang kita harapkan dapat meratakan jalan atau meletakkan dasar beranjak dari perjalanan panjang menuju renaisans. Dan cukup bagiku untuk merasa bangga dan bersyukur seandainya aku bisa turut ambil bagian--betapapun tidak berartinya--dalam proses perataan jalan panjang ini, sekalipun realisasi dari impian itu mungkin baru akan terlaksana jauh setelah generasi kita semuanya menghadap ke hadirat-Nya.

Bagian 7

Satu hal lagi yang ingin aku ungkapkan, sebelum mengakhiri bab ini, adalah kenyataan bahwa kita, pada saat ini, sebenarnya berada pada posisi yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan para perintis Renaisans terdahulu sebab pada saat ini kita memiliki lebih dari satu sumber peradaban. Selain khazanah Islam yang amat luas—yang sedang kita upayakan membangkitkannya kembali—kita juga memiliki warisan yang tidak kalah kaya dan menariknya, yaitu warisan ilmiah dan filosofis Barat, yang masih berlangsung dan terus berkembang di hadapan kita. Sekalipun kita perlu menyaringnya dengan kritis dan selektif, tetapi tidak berarti bahwa warisan Barat bisa kita tinggalkan.

Dalam bidang filsafat, Barat terus melahirkan banyak sekali karya agung, baik sebelum dan terutama setelah masa Renaisans (kedua). Filsafat Barat modern boleh dikata bermula dari karya Rene Descartes (w. 1650 M), yang sering disebut Bapak Filsafat Modern, dengan salah satu karya utamanya The Meditations. Setelah itu menyusul karya-karya besar lain yang berpengaruh, seperti Essay Concerning Human Understanding oleh John Locke (w. 1704 M), Principles of Human Knowledge oleh George Berkeley (w . 1753 M), A Treatise of Human Nature oleh David Hume (w. 1776 M). Pada abad ke-19, karya-karya ini diperkaya oleh Immanuel Kant (w. 1804 M) dengan tiga macam kritik, yaitu Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason, dan Critique of Judgment oleh Hegel (w.1831 M) dengan karyanya The Phenomenology of Mind dan oleh Karl Marx (w. 1883 M) dengan karya besarnya, Das Kapital, yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran filosofis dan sosial abad ke-20.

Abad ke-20 juga telah menyumbang banyak sekali karya filosofis yang agung, antara lain: Memory and Matter dan Creative Evolutionoleh Henri Bergson (w. 1941 M), Logische Untersuchungen dan Ideen zu einer reinen Phanemenologie und phaenologischen Philosophie oleh Edmund Husserl (w. 1938 M), Process and Reality, Principle of Natural Knowledge, dan The Concept of Nature oleh Alfred North Whitehead (w. 1947 M), Time and Being oleh Martin Heidegger (w. 1976 M), La Nause, Being and Nothingness oleh Jean Paul Sartre (w. 1980 M), dan Essays in Self-Criticism oleh seorang strukturalis, Althusser (w. 1990 M), dan tentunya masih banyak lagi karya yang tidak perlu disebutkan di sini.

Namun, fenomena yang lebih menarik dan bahkan spektakuler justru terjadi dalam bidang ilmu (sains) yang telah melahirkan teknologi yang sangat canggih, yang dengannya manusia mampu menjelajahi dunia yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Banyak penemuan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dihasilkan oleh pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Barat. Telah kita singgung bagaimana Nicholai Copernicus (w. 1543 M) dalam bukunya, De Revolutionbus Orbium Caelestium atau On the Revolution of the Celestial Orbs, telah mengadakan revolusi astronomis, yang telah menggeser teori geosentris ke heliosentris. Adapun Pierre Simon de Laplace (w. 1827 M) dengan bukunya The Celestial Mechanics,telah merintis sebuah teori besar "Big Bang".

Bagian Akhir

Alat-alat astronomis juga berkembang pesat. Edwin Hubble (w. 1953 M), dengan teleskop 200 inci-nya di Gunung Palomar, telah mengadakan penyelidikan terhadap galaksi, dan mengukuhkan dengan bukti-bukti yang akurat teori bahwa alam semesta senantiasa berkembang. Dengan merunut ke belakang ke kejadian awal alam semesta, peristiwa "Big Bang" diperkirakan terjadi dua puluh miliar tahun yang lalu.

Barat juga telah mencatat prestasi yang fantastik dan sulit dipercaya, misalnya dengan mendaratkan manusia di bulan, membangun stasiun, satelit di luar angkasa, dan menyelidiki tata surya melalui satelit tidak berawak, Viking, untuk memantau dan memotret planet-planet tata surya, seperti Mars, Yupiter, Saturnus, beserta bulan-bulan mereka, dari dekat.

Dalam bidang fisika, penemuan-penemuan Barat juga begitu gemilang. Dimulai dengan penemuan Isaac Newton (w. 1727 M ), yang menemukan hukum gravitasi universal dan hukum determinisme mekanik dalam bukunya yang terkenal Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, atau sering disebut Principia saja. Sukses Newton yang luar biasa dalam bidang ini, menjadikan fisika mekanikanya sebagai "The Science", yakni model bagi semua cabang ilmu modern, seperti kimia, astronomi, bahkan biologi, dan sosiologi. "Fisika Newtonian" menguasai panorama ilmiah selama tiga abad setelah penemuannya. Teori ini hanya ditandingi oleh teori General Relativity Albert Einstein (w. 1955 M), yang telah membuat langkah penting filosofis dengan menjadikan sang pengamat bagian penting secara fisik dari dunia, dan tentu saja oleh teori Mekanika Kuantum yang merupakan hasil usaha bersama fisikawan modern, seperti Max Planck, Einstein sendiri, Niels Bohr, Werner Heisenberg, Paul Diract dan Edwin Schrbdinger. Dengan teori kuantum ini banyak misteri di dunia subatom terbongkar, dan dia telah melakukan revisi yang sangat fundamental terhadap fisika tradisional. Misalnya, dengan teori ini batallah teori yang mengatakan bahwa atom merupakan bagian partikel material terkecil yang tidak bisa dibagi lagi karena menurut teori ini atom-atom ini masih bisa dibagi lagi ke dalam inti (nukleus), inti ke dalam hadron (proton, neutron, dan elektron), dan hadron ke dalam quark. Dari penyelidikan mereka juga diketahui bahwa unsur materi dalam atom itu hanya sepersejuta dari atom tersebut, sedangkan sisanya adalah nonmateri.

Tentu saja fenomena-fenomena spektakuler lainnya terjadi dalam bidang-bidang lain, seperti biologi (Evolusi Darwin), kimia, anatomi, dan biokimia (ingat kasus bayi tabung dan kloning), yang semata-mata menunjukkan kekayaan warisan Barat, tetapi tentu saja tidak bisa kita sebutkan satu per satu di sini. Cukuplah dikatakan di sini bahwa khazanah peradaban Barat telah mewariskan banyak sekali bahan-bahan baku (raw materials) yang dapat kita gunakan dan kita olah untuk merumuskan pandangan dunia yang kita harapkan.

Dengan demikian, jelaslah kepada kita tersedianya bahan baku yang luas, baik dari warisan klasik Islam maupun warisan Barat dan ini merupakan kekayaan potensial yang luar biasa besarnya untuk kita olah bersama warisan intelektual pribumi sebagai bahan dasar. Dari bahan-bahan dasar inilah kita harapkan akan muncul sintesis-sintesis teoretis besar yang menjadi syarat bagi tercapainya sebuah renaisans. Akan tetapi, ini baru mungkin kita lakukan, apabila bahan-bahan baku tersebut dibuat available dan accessible bagi para cerdik pandai bangsa tercinta ini, dengan langkah-langkah yang telah aku usulkan, yaitu mendaftarkan sebanyak mungkin, meneliti, menganalisis, dan mengadakan kajian-kajian intensif terhadap karya-karya tersebut dan kalau mungkin menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Yang perlu aku ingatkan di sini adalah bahwa "peluang emas" ini—di mana kita mewarisi karya-karya klasik Islam, yang masih perlu kita hidupkan kembali, di satu pihak, dan warisan Barat modern dan kontemporer yang masih hidup dan berkembang, di pihak lain, untuk kita jadikan fondasi yang kukuh bagi upaya menciptakan renaisans ketiga—mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sekali kita melepaskan peluang emas ini, bisa saja kita akan kehilangannya untuk selama-lamanya.

(Dikutip dari buku Menembus Batas Waktu, Mizan, 2002)

Prof. Jeffrey Lang dan Muslim Desas-Desus

Oleh - dari liputanislam.com
“Sehari setelah saya masuk Islam, saya mulai mengikuti salat berjamaah lima waktu di mesjid University of San Fransisco (USF). Karena saya adalah staf fakultas, mudah bagi saya—sambil bekerja—untuk mengikuti tiga salat pertengahan (Zuhur, Ashar, Maghrib). Di samping itu karena apartemen saya cukup dekat dari kampus, saya bisa mengikuti jamaah dua salat lainnya. Yang saya sesalkan, konversi saya ke dalam Islam menjadi berita besar di kampus…bagaimanapun juga, masuk Islamnya seorang staf sebuah universitas Katolik terkenal, sekurang-kurangnya, layak diperhatikan…
Tidak lama kemudian, saya menyadari bahwa jamaah mesjid ini terbagi menjadi beberapa kelompok yang bersaing. Kelompok-kelompok ini memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi internasional, seperti Jamaah Tabligh, gerakan Salafi, dan Ikhwan al-Muslimun. Terkadang, saya merasa mereka berlomba juga untuk menguasai saya. Saya dimasukkan ke dalam suatu kelompok dan diperingatkan agar berhati-hati dengan “saudara-saudara yang lain”. Setiap kelompok mengatakan bahwa kelompok lainnya menyimpang dari Islam…saya segera memperoleh kesan bahwa, sekalipun Islam sangat mengutuk penyebaran desas-desus dan fitnah, kaum muslim rupanya sudah biasa menjadi tukang gosip. Agaknya, kegiatan itu menjadi keasyikan masyarakat.”
“Tukang desas-desus, gosip, dan fitnah”, itulah kesan pertama yang ditangkap oleh Prof. Jeffrey Lang tentang umat Islam sesaat setelah ia menjadi muallaf (masuk Islam). Kesan itu bukan hanya milik pribadinya, tetapi nyaris setiap muallaf yang dikenalnya. Mengapa begitu? Karena penafsiran Islam yang tidak tunggal menjadi komoditi setiap komunitas untuk mempromosikan kelompoknya. Promosi itu, tragisnya sembari menebarkan kecurigaan, menyebarkan desas-desus, gosip dan fitnah, serta terlalu cepat mengecam pihak lain berbuat salah dan bid’ah. Seorang teman Prof. Lang pernah berkomentar bahwa menfitnah dan sling menyebarkan desas-desus tampaknya menjadi hiburan paling favorit di kalangan kaum muslim. Ini sangat disayangkan karena menyebarkan fitnah dan desas-desus seperti itu akan menciptakan iklim intimidasi yang menghalangi kebebasan berbicara dan pengkajian kritis. Selain itu, tentu saja dapat menghambat dakwah dan persatuan umat Islam yang harus di junjung tinggi. Semestinya, kata Prof. Lang, kaum Muslim Amerika—dan tentu juga dimana saja—harus lebih terbuka dan saling mempercayai satu sama lain. Kisah dan kesannya di atas diceritakan oleh Prof. Jeffrey Lang pada buku keduanya, Even Angel Ask, Bahkan Malaikat pun Bertanya (2000:  255-256).

Bukan hanya Prof. Lang dan teman-teman muallaf-nya di Amerika, kita yang hidup di Indonesia ini yang rata-rata bukan muallaf juga mengalami fenomena muslim desas-desus tersebut. Tak jarang lontaran tuduhan bid’ah, khurafat, hingga sesat, musyrik, dan kafir mewarnai ungkapan dan tulisan oleh kelompok monopoli Islam yang merasa paling suci dan paling paham tentang Islam. Bahkan tema-tema tersebut menjadi tema-tema head line dalam perdebatan organisasi-organisasi Islam yang besar di Indonesia dengan melibatkan para intelektual, cendekiawan, ulama, kyai, hingga ustadz-ustadz tingkat kampung, bahkan kaum awam sekalipun. Ini fenomena dunia, yang bukan hanya melanda Indonesia, tetapi nyaris setiap negara kaum muslim di seluruh semesta.

Apa konsekuensinya dari fenomena kaum muslim desas-desus ini? Sederet hal negatif bisa disebutkan, seperti manipulasi informasi, menyulut kebencian dan permusuhan, intimidasi, tiadanya kebebasan berpendapat, diskriminasi, hingga kekerasan dan konflik keagamaan. Salah satu kelompok, yang diangkat oleh Prof. Lang, yang sering menjadi korban desas-desus, gosip dan fitnah adalah syiah. Syiah sering menjadi korban, karena merupakan kelompok yang paling jarang diketahui baik oleh umat Islam di Timur maupun di Barat. Selain itu, literatur-literatur tentang syiah, selalu menampilkan informasi yang keliru. Dan Prof. Lang sendiri pernah termakan info keliru tersebut dan mengkampanyekan “kesesatan dan bahaya syiah”. Tapi belakangan dia sadar, bahwa dia telah dipengaruhi konservatisme yang berlebihan dan literatur anti-syiah yang tidak objektif. Pertemuanya dengan mahasiswa Iran mengubah drastis jalan hidupnya dalam memandang syiah dan kelompok-kelompok Islam lainnya. Sejak saat itu, beliau berjanji untuk lebih objektif, dan mengedepankan toleransi. Dan dia berniat memperjuangkkan hal itu sampai akhir hayatnya. Beliau menuturkan kisahnya—dalam Bahkan Malaikat pun Bertanya, hal 263-265 dengan sedikit revisi terjemahan—berikut ini:
“Setelah memeluk Islam (muallaf), saya tinggal di San Fransisco sekitar lima tahun. Tiga tahun pertama ditandai dengan kemajuan yang tetap menuju konservatisme radikal dan intoleransi atas berbagai padangan yang berbeda. Tahun keempat adalah tahun ketika saya mulai mengalami kekecewaan dan keraguan atas jalan yang ditempuh. Tahun kelima adalah masa perbaikan, ketika saya mendamaikan diri saya dengan keimanan saya…
Saya telah berjanji pada diri sendiri, tidak ingin lagi berpartisipasi dalam gosip komunitas saya. Saat itu, ada satu kelompok kaum muslim yang disingkirkan dari komunitas kami dan sangat dibenci…Jamaah mesjid USF, yang dikelola mahasiswa muslim sunni, menjelaskan bahwa kaum muslim syiah tidak disukai dan tidak diterima di mesjid… saudara-saudara sunni, terutama yang berasal dari Jazirah Arab, sangat mengecam orang syiah dan menghina mereka… sejumlah literatur anti-syiah membanjiri mesjid-mesjid Amerika yang dikirim dari negara-negara Teluk… Literatur tersebut jelas lebih bersifat propaganda ketimbang ilmiah. Saya mempelajarinya dan menggunakan informasinya untuk mengecam syiah kapan saja ada kesempatan.
Pada suatu malam, saya memberikan ceramah di mesjid tentang bahaya Islam syiah, saya mengakhiri dengan menggambarkan Islam syiah sebagai “ancaman terbesar dan racun mematikan dalam tubuh umat Islam”.
Selesai acara, seorang mahasiswa Timur Tengah dengan sopan meminta berbicara pribadi dengan saya. Ia mengatakan bahwa ia berasal dari Iran dan dibesarkan dalan keluarga syiah, tetapi ia menjadi seorang muslim sunni. Ia berkata bahwa ceramah saya sangat melukai hatinya, karena ia membayangkan ibu dan ayahnya, yang saya lukiskan dengan berbagai keburukan dan bahaya bagi Islam. Ia berkata, sekalipun telah menghabiskan sebagian besar hidupnya, berada di masyarakat mayoritas syiah, ia belum pernah mendengar orang-orang syiah meyakini dan mengamalkan apa-apa yang saya ceramahkan tadi. Dengan ucapan penuh kemasygulan ia berkata, “Anda telah  menjadikan orang tua saya tampak seperti musuh-musuh Islam! Demi Allah, dari mana anda memperoleh informasi seperti itu?”
Saya diliputi perasaan menyesal, karena saya sadar “fakta-fakta” itu saya himpun dengan terburu-buru dan tidak bertanggungjawab…, saya meminta maaf kepadanya, dan berjanji akan mengkaji Islam syiah secara lebih mendalam dan objektif, dan saya akan mengoreksi setiap pernyataan saya yang salah di depan umum. Kemudian, setelah melakukan kajian,  saya mengetahui bahwa apa yang saya ceramahkan malam itu, semuanya sarat dengan informasi keliru, salah tafsir, dan pernyataan berlebih-lebihan.
Pertemuan dengan mahasiswa Iran itu sangat bermanfaat bagi saya dalam meperbaiki metode-metode riset yang saya gunakan; perbincangan itu membuat saya takut. Itulah pertama kalinya saya dihadapi secara pribadi oleh target serangan kata-kata saya sendiri… saya melihat dan merasakan betapa berbahayanya perilaku saya. Saya mulai meragukan keberagamaan dan keikhlasan saya serta mempertanyakan tindakan dan motif saya. Saya heran mengapa saya menjadi pemarah dan suka mengecam pihak-pihak lain yang berbeda dengan saya. Saya bertanya kepada diri sendiri : apa yang telah terjadi dengan diri saya sejak pertama kali memeluk Islam? Saya memeluk Islam ini dengan damai, tetapi sekarang saya hanya menunjukkan kekerasan dan kepicikan.” (cr/liputanislam.com)

Shamsi Ali: Agama dan Kebebasan Berpikir, Ibarat Ikan dan Air

sumber: www.satuislam.org

Satu Islam, Jakarta – Shamsi Ali amat terkenal di Amerika. Beberapa hari terakhir ini, Imam masjid Al-Hikmah, di New York itu, adu argumen dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Shamsi mengkritik Fadli, Ketua DPR Setya Novanto dan rombongan Dewan yang menghadiri kegiatan capres Donald Trumph, saat kunjungan ke Amerika.

Perseteruan sepertinya akan berlanjut karena Fadli Zon berniat melakukan somasi. Siapakah Shamsi Ali? Anak bangsa yang berkiprah di dunia internasional ini dikenal sebagai tokoh dialog antar umat beragama. Banyak pemikiran-pemikirannya yang menarik saat diwawancarai Eksklusif oleh Kiki Iswara, Ratna Susilowati dan Mellani Eka Mahayana dari Rakyat Merdeka, 20 Agustus lalu. Selama di Indonesia, bulan lalu, Shamsi banjir undangan jadi pembicara dimana-mana.

Mengapa Anda berkelana hingga ke Amerika Serikat?

Setelah menyelesaikan sekolah S1 dan S2 di Pakistan, saya mengajar di Jeddah, Arab Saudi. Saya mengajar non muslim dan para mualaf di sebuah institusi dakwah. Itulah saat-saat awal interaksi saya dengan orang-orang selain muslim. Dua tahun di sana, saya merasa resah. Jiwa saya ini pemberontak dan tidak bisa menerima pemikiran-pemikiran yang dipaksakan.

Saya ingin ada kebebasan dalam berpikir. Namun kenyataannya saat itu di Saudi Arabia, cara paham diseragamkan. Bahkan, pemahaman non agama pun harus sama. Misalnya, kalau saya berceramah, materi dianggap agak beda, besoknya dipanggil. Rupanya ceramah saya dipantau, dimata-matai. Padahal, kebebasan dan agama itu seperti ikan dan air. Sebesar apapun ikannya, kalau tak ada air, akan mati pelan-pelan. Sehebat apapun simbol-simbol agama, tanpa kebebasan, tak akan langgeng. Hal lain, saya juga resah karena terkait nasib TKI TKW kita di sana. Ada pemerkosaan, penyiksaan dan sebagainya.

Karakter Anda menarik juga ya. Menginginkan ada kebebasan berpikir, padahal selama sekolah di Pakistan, mungkin mengalami kehidupan agama yang cukup keras.

Dari luar, Pakistan dipersepsikan keras, karena ada konflik. Apalagi, tahun 1987-1988 (saat Shamsi Ali bersekolah di sana), saya mendapatkan angin perang. Itu mempengaruhi cara berpikir. Tapi guru-guru saya amat bagus dan pikirannya terbuka. Sebagian mereka tamatan dari Jerman dan Inggris. Kehidupan agama di Pakistan sebenarnya heterogen. Memang ada pertarungan terbuka, dan sama-sama membuat ketegangan.

Islam dan kebebasan berpikir di Indonesia apakah sudah dalam kondisi ideal saat ini?

Setelah tumbangnya Orde Baru, kita masuk era kebebasan berpikir. Mungkin ada yang menganggap kita sekarang berada di persimpangan jalan. Tergantung kita mau membawanya kemana. Saya diundang masuk di grup whatssaap yang isinya sejumlah orang dengan beragam pemikiran agama. Mulai dari keras, sampai lunak. Kalau bicara tentang sebuah masalah, berdebat kasus, semuanya datang dengan alur pemikiran masing-masing.

Di grup itu semuanya blended, meskipun berbeda konsepnya. Masing-masing ingin menunjukkan diri sebagai sebuah solusi. Yang kita kuatirkan, kita terbawa emosi berlebihan, sehingga rasionalitas berpikir jadi berkurang.

Banyak orang sangat sensitif saat tersinggung agamanya. Bahkan jadi mudah marah. Bagaimana agar umat Islam tidak mudah tersulut emosi. Saat muncul kasus kartun Nabi, kami demonstrasi dan mendatangi Konjen Denmark di Amerika. Kami mempertanyakan, mengapa Denmark melakukan penghinaan kepada Nabi, yang dihormati miliaran umat manusia. Mereka lalu memohon maaf. Mereka katakan, negaranya tidak mengurus agama. Mereka malah balik menantang pikiran kami. Katanya, tantangannya justru sekarang tergantung Anda. Bagaimana Anda mendidik kami, karena kami tidak tahu tentang agama Anda, tidak tahu tentang Nabi anda. Nah, itulah. Ternyata mereka tidak tahu. Tantangannya, kita harus memberi tahu, menyebarkan pengetahuan kepada mereka. Artinya, memaafkan di sini, mencari solusi. Buatlah marah menjadi positif.

Bagaimana Anda merasakan kehidupan beragama di Amerika belakangan ini. Apakah menunjukkan tren yang semakin bersahabat untuk kehidupan kaum muslim.

Di Eropa Barat, sekularisme agama berarti jangan sampai simbolisasi agama terlihat di muka publik. Sementara di Amerika malah sebaliknya. Negaranya sekuler, Pemerintah Amerika tidak mengurus agama, tapi justru menjamin dan melindungi kehidupan beragama. Di Amerika, ada polwan muslim dan berjilbab, itu biasa. Baru-baru ini ada seorang Pakistan yang bekerja di Airport dipecat karena janggutnya panjang. Dia mengadu dan di Pengadilan, hakim memenangkan orang Pakistan itu. Dia diberi uang kompensasi dan boleh kembali bekerja. Artinya apa? Amerika dianggap anti-Islam, tapi kenyataannya menghormati hak orang berjenggot karena alasan mengikuti agamanya.

Mengapa kita gampang mencurigai orang di luar Islam, lalu dicap anti-Islam?

Problemnya di penafsiran. Apa-apa dikaitkan dengan agama. Saya di Amerika, tinggal bertetangga dengan non muslim. Tiap hari bertemu dan saling menyapa. Tidak mungkin, kita hidup bertetangga, tapi kita tidak memberi senyum pada mereka. Agama mengajarkan pertemanan dan hati yang lembut. Itu dasarnya tolerasi. Ada contohnya. Saat Rasul membuat konstitusi berupa piagam Madinah, beliau melibatkan seluruh komponen masyarakat. Ini artinya, saat urusan negara, semua komponen dilibatkan. Juga saat ada sejumlah orang nonmuslim datang menemui dan ingin mendebat Rasulullah, mereka diterima dan boleh menginap di Mesjid-nya Nabi. Bahkan, mereka boleh istirahat di situ. Saat ini, kehidupan sudah global. Tetangga tidak lagi disebut 40 rumah ke kiri dan ke kanan, tapi seluruh dunia. Sebab, tak ada lagi barrier-nya.

Selama 20 tahun tinggal di Amerika, pernahkah menerima perlakukan diskriminatif?

Nama saya mengandung kata-kata “Muhammad” dan “Ali” sehingga, saat check in di airport, beberapa kali kena lack. Memang kadang cukup merepotkan. Di Amerika, dua kata itu, jika dimasukkan ke komputer, otomatis di-lack. Tapi biasanya, setelah di-interview sebentar, tidak masalah. Berulang kali saya katakan, kapan sistem itu diubah. Saya tidak sedih mengalami ini. Saya memahami, negara punya hak untuk melindungi warganya dari perasaan tidak aman. Menghadapinya, kita harus sabar. Selain hal itu, saya tidak pernah merasa diperlakukan diskriminatif. Saat diwawancara oleh CNN, saya ditanya, apakah menurut Anda, Amerika anti-Islam? Saya jawab, saya merasa lebih bebas mempraktekan ajaran agama Islam, dan bebas menyampaikan apa saja di Amerika. Kebebasan beragama di Amerika ternyata lebih terasa.

Dalam beberapa ceramah, Anda sering bilang Islam itu indah, dan kita harus bisa menampilkan keindahannya. Bagaimana caranya? Apakah di Indonesia, Islam sudah cukup indah?

Menurut saya, kita masih dalam proses. Umat Islam di Indonesia sedang mencari jati diri. Yang saya khawatir, kita mengedepankan emosi. Padahal, kalau kita meluapkan emosi, apakah hasilnya bisa lebih teratur? Lebih hebat dan berkuasa? Menurut saya, saat kita berjuang untuk agama, etika tetap harus digunakan. Jangan sampai memperjuangkan agama, tapi etikanya diinjak-injak. Contoh sederhana, menyebarkan berita yang dimanipulatif atas nama agama sehingga membuat orang marah dan emosi. Itu ketidakjujuran dalam memperjuangkan agama. Kita marah saat orang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, lalu mengapa kita melakukan itu. Janganlah memanipulasi berita atas nama memperjuangkan agama.

Bagaimana stigma Islam di mata barat pada umumnya?

Saat diinterview televisi CBS (Columbia Broadcasting System), Saya bertemu seorang Rabi. Kami salaman, tapi dia membuang muka. Saya tanyakan, kenapa dia bersikap begitu. Dia bilang alasannya ada dua. Pertama, karena dia membenci Islam. Dan kedua, dia tidak yakin saya muslim. Kenapa dia membenci Islam? Karena stigma yang tertanam pada dirinya, bahwa Islam itu terbelakang, tidak kenal sains, tidak rasional, tidak menghormati HAM dan tidak menghormati wanita. Juga dianggap tidak bersahabat, kaku dan tidak demokratis. Inilah tantangan.

Saat saya mengikuti konferensi Islam di PBB, saya ingin menampilkan bahwa Islam tidak seperti itu. Islam bukan hanya di Arab. Di dunia ini, orang Islam Arab hanya 15 persen. Sementara Islam di luar Arab, yaitu gabungan Asia Tenggara dan negara lainnya, mencapai 65 persen. Kita janganlah bersikap inferior. Di dunia usaha misalnya, kita jangan seolah cium tangan pada pekerja yang kulitnya putih (asing, Red). Atau, begitu Arab datang, janganlah selalu menganggap mereka yang paling benar. Jangan sampai semua keturunan Arab dianggap keturunan Nabi. Kan, di Arab juga ada Abu Lahab.

Mengapa ada pandangan Islam anti-demokrasi?

Kita harusnya mencontoh cara yang dilakukan Nabi. Beliau tidak menunjuk penggantinya sebelum meninggal dunia. Itu artinya Islam tidak diktator. Nabi mungkin menginginkan masyarakat Islam mempraktekan cara musyawarah. Itulah contoh berdemokrasi.

Di Indonesia, sejumlah partai politik juga memperjuangkan agama. Apakah cara itu cukup efektif membesarkan dan menguatkan agama?

Banyak kawan saya di sejumlah parpol Indonesia. Ada yang pernah satu pondok pesantren dengan saya saat di Bulukumba (Sulsel). Pergerakan mereka melalui pembinaan dikampus, sehingga banyak anggota partainya yang terpelajar. Agar partai agama besar, sifatnya harus terbuka, merangkul semua orang. Sebaiknya tidak membuat partai yang isinya kelompok dari kalangan sendiri, karena bisa mengundang kebencian. Partai tidak akan pernah besar, jika golongannya eksklusif. Silakan membuat partai agama, tapi perjuangkan ke-indonesiaan. Kalau hanya memakai agama, bisa tercerai. Islam agamanya, tapi ya pengikutnya tetap manusia. Dan manusia bisa salah dan diuji.

Dapatkah Dunia Islam Kembali Ke Cahaya Ilmu Pengetahuan?

sumber: budhiana.salmanitb.com

Judul Asli: Can Islam Come Back to the Light of Science? Karya Ross Pomeroy, diterjemahkan atas seizin yang bersangkutan (translated by permission)

Hari Minggu lalu adalah titik balik matahari musim panas di belahan bumi utara. Begitu sumbu bumi miring, matahari mencapai posisi tertinggi di langit, memanggang daerah lintang utara untuk jangka waktu yang panjang. Warga Fairbanks Alaska menjalani hari yang berlangsung hampir 22 jam, sedangkan penduduk Duluth,Minneosta melewati siang yang cukup moderat yaitu 16 jam.

Tahun ini yang merupakan Tahun Cahaya Internasional sangatlah pantas kita menyebut seorang manusia yang pernah menulis tentang cahaya : Ibnu Haytham. Sebagai seorang muslim saleh yang cinta sains, dia percaya bahwa mencari kebenaran dan pengetahuan tentang alam akan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Pencarian dirinya — hal yang ilmiah dan spiritual– telah membawa menulis karya besarnya : Buku tentang Cahaya atau Kitāb al-Manāẓir‎ (كتاب المناظر). Terbit sekitar 1000 tahun lalu,buku tebal itu menggambarkan seluk beluk cahaya lebih akurat dari pada yang pernah ada sebelumnya, dan yang paling penting, dilengkai dengan bukti-bukti eksperimental rinci nan cermat. Terlebih lagi, Ibnu Haytham menggambarkan eksperimennya secara jelas sehingga siapapun dapat mengulanginya. Apa yang dilakukannya ini menjadi cikal bakal lahirnya metoda ilmiah itu sendiri.

Ibnu Haytham mempublikasikan karya monumentalnya ini di era keemasan ilmu pengetahuan di kawasan Timur Tengah. Kira-kira antara tahun 750 hingga 1258, penemuan-penemuan ilmiah mengalir dari dunia Islam bak air Sungai Tigris dan Euphrat. Tidak ada bagian dunia lainnya yang menyaingi kebangkitan intelektual Timur Tengah saat itu. Perpustakaan agung dibangun di Kairo, Aleppo dan Bagdad. Para sarjana dari pelbagai penjuru dunia berkumpul di kota-kota metropolitan untuk bertukar pikiran. Penemuan-penemuan revolusioner begitu melimpah dan murah.

Tapi kemudian semua itu berakhir. Para penyerang Perang Salib dari Eropa, dan gelombang invasi Mongolia dari Asia adalah gara-garanya. Perang telah menyebabkan dunia Islam compang-camping. Bertahun-tahun terjadilah perpecahan dan kemiskinan. Akhirnya, dari serpihan abu ribuan buku yang terbakar, dari reruntuhan perpustakaan yang hancur lebur, dan ide-ide yang musnah itu, justru muncul pola pikir seperti abad pertengahan yang meniadakan rasa ingin tahu dan berdasarkan iman buta. Selama abad keemasan para pemimpin Islam selalu mengobarkan kalimat Qur’an “Tinta ulama lebih mulia daripada darah syuhada,” dan “Tidakkah mereka melihat bagaimana awan diciptakan, bagaimana langit ditnggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan?” *) dan mereka menganggap sains sebagai sesuatu yang suci. Namun di era baru itu, para pemimpin Islam memandang sains dengan apatis. Jawaban-jawaban tentang kehidupan selalu dilemparkan langsung kepada kitab suci; tidak ada dorongan untuk investigasi lebih dalam.

Pandangan seperti ini telah membuat pincangnya sains di dunia Islam selama berabad-abad. Seperti yang dilaporkan The Economist, efeknya masih berlangsung hingga sekarang:
Tahun 2005 Universitas Harvard memproduksi jauh lebih banyak karya ilmiah dibanding keseluruhan 17 negara Arab. Dari 1,6 miliar muslim di dunia hanya ada dua peraih Nobel untuk ilmu pengetahuan yaitu kimia dan fisika. Dua-duanya hijrah ke Barat. Yang masih hidup tinggal kimiawan Ahmad Hassan Zawail yang mengajar di California Institute of Technology. Di pihak lain, kaum Yahudi yang jumlahnya hanya seperseratusnya dari muslim, memenangkan 79 Nobel. Ke seluruh 57 negara yang tergabung dalam Organisasi Konperensi Islam hanya menyediakan 0,81% dari produk domestik bruto (PDB) untuk riset dan pengembangan, atau hanya sepertiga dari rata-rata dunia. Amerika sebagai negeri yang paling besar anggarannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan membelanjakan 2,9% dari PDB-nya. Israel berlimpah dengan 4,4%.

Namun demikian, ada tanda-tanda perbaikan. Riset terakhir Thomson Reuter menunjukkan bahwa negara-negara Arab, Iran, dan Turki menghasilkan lebih banyak output sains, tumbuh lebih cepat dibanding Asia dan Amerika Latin. Dengan melihat gejolak politik di kawasan Timur Tengah, baik dampak buruk mapun positif, sangatlah menarik untuk mencermati apakah trend ini akan terus berlanjut.

Reuters melaporkan, Ahmad Zawail, ilmuwan Mesir pertama peraih Nobel ilmu pengetahuan, mengungkapkan tiga kunci untuk mendorong berkembangnya sains di dunia Islam:
“Pertama, membangun sumbedaya manusia dengan cara memberantas buta huruf, memastikan adanya partisipasi aktif perempuan dalam masyarakat, dan memperbaiki pendidikan. Kedua, harus ada reformasi konstitusi demi adanya kebebasan berpikir, meminimalkan birokrasi, mengembangkan merit system, dan membangun hukum yang kredibel dan bisa ditegakkan. Terakhir, cara terbaik untuk meraih kepercayaan diri adalah menyiapkan centers of excellence di dalam bidang sains dan teknologi di masing-masing negara muslim untuk menunjukkan bahwa cita-cita itu bisa diraih, untuk menunjukkan bahwa muslim bisa berkompetisi di era ekonomi global ini dan mendorong kaum muda untuk lebih bergairah belajar.”

Sayangnya, usulan Zawail ini tampaknya akan menemui jalan buntu di negara-negara dengan rezim otoriter dan dogmatik. Banyak masyarakat Islam yang terjerumus dalam aturan-aturan agama yang membatasi kebebasan dan berekspresi, dua kunci yang justru penting bagi sains. Terlebih lagi, hukuman-hukuman brutal siap menghadang mereka yang ingin mengubah status quo.

Berkembangnya ISIS merupakan salah satu hambatan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Di area-area yang berada dalam penguasaan kaum radikal, mengajarkan evolusi adalah sesuatu yang terlarang, fisika dan kimia diajarkan dengan catatan : Allah mengatur segala hal. Yang paling memprihatinkan adalah siswa dilarang belajar matematika.
“Mereka tidak mengerti bahwa kata “aljabar” muncul dari matematikawan Persia, Al-Khwarizmi, yang Kitab al-Jabr Wa al-Mugabala,” ujar Karen Graham.

Di Tahun Internasional untuk Cahaya ini, ada tanda-tanda kemandegan dan ada tanda-tanda kebangkitan Islam dalam ilmu pengetahuan. Kita hanya berharap bahwa warga dunia Islam bisa melihat zaman keemasan mereka dan menatap jalan terang di depan.***


*) Mungkin penulis mengutip QS Al-Ghasiyah, namun tidak pas.

Steven “Ross” Pomeroy is the assistant editor of RealClearScience. A zoologist and conservation biologist by training, Ross has nurtured a passion for journalism and writing his entire life. Ross weaves his insatiable curiosity and passion for science into regular posts and articles on RealClearScience’s Newton Blog. Additionally, his work has appeared in Science Now and Scientific American. @SteRoPo

Islam Komprehensif

Mulyadhi Kartanegara

Islam yang kita perlukan di negeri kita adalah Islam yang komprehensif, canggih (sophisticated) dan holistik. Bukan yang dogmatik, simplistik, dan bukan juga yang liberal yang kehilangan identitas dan emosi keagamaan.

Saya sangat prihatin atas perkembangan Islam di negeri kita akhir-akhir ini yang semakin mengarah pada pemahaman Islam yang simplistik, dogmatik dan semakin keras. Kita harus kebih banyak belajar dari timur tengah, akibat yang mengerikan dari sikap tersebut, yang semakin jauh dari citra Islam sebagai agama yang berperadaban tinggi dan penuh rahmat bagi umat manusia.

Kita harus hati-hati terhadap sikap yang kita ambil. Salah mengambil sikap dan penafsiran terhadap Islam bisa menimbulkan banyak masalah. Itulah sebabnya kita harus mengambil sikap dan penafsiran yang komprehensif agar pemahamna kita luas, tidak simplistik tapi juga tidak terlalu liberal sehingga melesat kauh dari koridor yang diharapkan.

Pendidikan Keislaman yang sempit, kilat dan tidak mendalam, menyebabkan masyarakat kita sangat mudah untuk dibujuk, diyakinkan pada paham yang salah. Karena itu pendidikan Islam yang lebih komprehensif, yang menyentuh bukan hanya fikih, tapi juga ilmu kalam, tasawuf, sains dan filsafat sangat diperlukan untuk bisa menimbang, meneliti sebelum kita menerima sebuah penafsiran Islam, sehingga kita tidak terjebak pada dogmatisme yang mematikan akal pikiran kita.

Inilah tantangan kaum intelektual untuk menciptakan pendidikan Islam yang bukan hanya mengajarkan Islam secara tradisional, tetapi juga mengajarkan Islam yang memperhatikan aspek pemikiran, peradaban, spiritualitas, sebagaimana yang telah diajarkan, dikembangkan oleh para pemikir Muslim, apakah mereka itu filosof, saintis, sufi, fukaha, mufassir, dan syu'ara dan sebagainya. Pokoknya semua aspek peradaban Islam harus diperkenalkan kepada masyarakat luas.

> Moef Hasbullah: Saya menyebutnya 'Islam kontekstual,' yg sesuai konteks, jadi komprehensif, semua ada dalam konteksnya masing-masing, itu yang diajarkan Nabi, bukan radikal, bukan fundamentalis, bukan moderat dan bukan liberal. Kalau Islam hanya radikal wajahnya akan menakutkan, kalau hanya fundamentalis akan sempit, kalau hanya moderat akan jadi lemah, kalau hanya liberal akan jadi kabur, tak punya identitas dan kehilangan emosi agama. Kata Ibnul Qayyim Al-Jauziyah: "Sesungguhnya dasar agama adalah ghirah (emosi), orang yang tak memiliki ghirah sama dengan tidak memiliki agama." 

> Tedi Sumardi: Pengalaman saya berinteraksi dg teman-teman yg rata-rata mereka adalah S1/S2, yg mestinya mereka terbiasa berfikir kritis rasional, ternyata ketika ngomong soal agama mereka tidak suka dengan hal-hal yg bersifat berfikir lebih dalam. Mereka lebih suka model belajar agama yg jawabannya hitam putih, ya atau tidak, haram atau halal. Ambil contoh ttg jilbab, kalo kita dengar pendapat Pak Quraish, beliau memberikan banyak pendapat shg spt disuguhi dengan berbagai menu, ternyata mereka bilang bingung dan nggak jelas. Dugaan saya ada yg salah dlm sistim pendidikan kita, yg tidak merangsang orang untuk aktif berfikir.

Model-model aliran Islam keras sangat cocok bagi mereka-mereka yg malas berfikir, shg bisa dengan mudah masuk ke dalam masyarakat kita. Sementara semangat beragamanya cukup tinggi tapi dasar keilmuannya minim, jadi gampang tergelincir kpd ekstrimitas.

> M. Dakhlan: Apakah ini menegaskan 'Ramalan' Rasulullah (hadis): 'akan datang suatu masa saat orang-orang muda yang memahami agama sedemikan rupa, bahkan kata-katanya halus lagi indah, namun dalam berprilaku tidak menunjukkan kehalusannya, bahkan tidak jarang kejam terhadap sesama. Mereka sebenarnya meninggalkan Islam, seperti melesatnya anak panah dari busurnya.' 

Jawaban : Terjadinya kemalasan berfikir kritis adalah buah dari sistem pendidikan yang dogmatis, dimana si murid tidak boleh mempertanyakan lebih dalam sebuah persoalan yang tidak mereka ketahui. Anak tidak dibiasakan mengeluarkan pemikirannya secara bebas. Dipelajarinya mantiq di pesantren adalah modal yang besar. Tapi berbeda dengan sistem pendidikan pada zaman al-Ghazali dimana setiap murid diajarkan cara berdebat dan selalu diminta tanggapan terhadap apa yang disampaikan sang guru, dalam sistem pendidikan tradisional kita, mantik tidak benar-benar diterapkan sebagai metoda berfikir, karena sering kiyainya tak mau dikritik dan dipersalahkan.

Tapi justru inilah yang menjadi salah satu sebab kemunduran Islam di timur tengah sekarang ini. Tradisi ilmiah Islam yang gemilang yang membawa cahaya terang benderang telah dilupakan, Islam di Timur tengah sedang kembali ke masa kegelapan...

Mekah

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. TEMPO, 9/11/2012. Sumber dari sini. (Untuk kita renungkan... )

– Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.”

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. “It is the end of Mekkah“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin naik; kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan “lapisan-lapisan sejarah” Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.

Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun seperti Big Ben yang digembrotkan (“meniru seperti monyet”, kata Angawy) ia merasa kalah total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah – dan sebab itu harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.

Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.

Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas. Apa yang terjadi?

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?

Mungkin piknik instan ke kemewahan.

Islam Itu Universal, Tidak Sama Dengan Arabisme

Lack of Pluralism Means Decadence (I)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Salah satu 'penyakit' saya adalah skeptisisme. Ketika mendengar ada orang pindah agama menjadi Muslim, lalu bertingkah kearab-araban, baik dalam cara berpakaian maupun dalam bertutur kata, simpati saya kepadanya langsung menguap. Orang mungkin menilai saya sebagai seorang yang tidak terlalu bahagia jika jumlah umat Islam secara kuantitatif semakin bejibun, tetapi dari sisi kualitas malah menjadi beban. Beban itu bisa dalam bentuk formula: Arabisme=Islam.

Tetapi, jika orang senang memakai pakaian ala Arab tanpa didorong oleh kecenderungan semacam itu, bagi saya, tidak ada masalah.

Sama halnya jika seseorang, misalnya, baru kembali dari Nigeria, lalu tertarik dengan model pakaian bangsa atau salah satu suku di sana, tentu semuanya itu sah belaka. Skeptisisme saya tentu akan semakin kambuh jika ada orang memasung Islam dalam jubah Arabisme. Seakan-akan di luar Arabisme, muatan keislaman seseorang dianggap telah menipis atau malah dicurigai sebagai manusia sekuler dengan segala sumpah serapah yang diguyurkan kepadanya. Bagi saya, Islam itu bercorak universal, dirancang untuk segala zaman dan segala tempat. Oleh sebab itu, Islam tidak boleh dibonsai hanya menjadi milik suku, bangsa, atau peradaban tertentu.

Tetapi, skeptisisme saya bukan tidak pernah kecele. Kali ini, saya benar-benar menyesal. Dugaan negatif saya kepada pendatang baru Muslim yang akan dibicarakan di bawah ini, sungguh meleset. Coba Anda bayangkan salah satu karya pendatang baru itu berjudul: Religion on the Rise: Islam in the Third Milennium. (Maryland: Amana Publications, 2001). Penulisnya adalah Murad W Hofmann. Karya ini tidak pernah saya buka karena skeptisisme di atas. Bahkan, ketika mulai mengapresiasi tokoh ini sejak bulan yang lalu, saya berputar-putar mencari buku aslinya di perpustakaan saya, namun belum juga ketemu. Yang didapat malah terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbitan tahun 2003.

Siapa Murad Hofmann? Sebagian pembaca pasti sudah tahu, terutama mereka yang akrab dengan internet atau mereka yang 'gila' dengan informasi tentang keislaman yang mengandung terobosan. Nama lengkapnya setelah jadi Muslim sejak 25 September 1980 adalah Murad Wilfried Hofmann, kelahiran Jerman 1931. Pendidikan terakhirnya PhD Universitas Harvard bidang hukum. Pernah menjabat Direktur Penerangan NATO tahun 1983-1987 dan duta besar Jerman untuk Aljazair dan Moroko antara 1987-1994. Di usia lanjutnya, Hofmann menetap di Istanbul bersama istri keduanya warga Turki. Dalam pengalaman diplomatiknya, Hofmann tidak pernah mengalami diskriminasi oleh Pemerintah Jerman. Bahkan, Presiden Republik Federasi Jerman, Dr Carl Carstens, malah memberi anugerah kepadanya dalam bentuk the Order of Merit of the Federal Republic of Germany tahun 1984, tiga setengah tahun setelah menganut Islam. Lebih jauh dari itu, Pemerintah Jerman membagi-bagikan catatan hariannya berjudul Diary of a German Muslim kepada semua misi luar negeri Jerman di negara-negara Muslim sebagai sebuah alat analitikal. Hofmann tidak pernah terhalang menjalankan prinsip-prinsip agama barunya selama bertugas sebagai diplomat. Bulan Ramadhan, misalnya, dia tetap saja menjamu makan para tamu, sementara di depannya terletak piring kosong.

Pada 1995, secara sukarela dia mengundurkan diri sebagai diplomat untuk kemudian mengabdikan dirinya bagi kepentingan masa depan Islam.

Judul Resonansi kali ini berasal dari salah satu enam tesis Hofmann tentang Islam yang semula disampaikan di Islamabad tahun 2001. Tesis 1-5 adalah: 1. Sejarah Islam selalu memuat komponen intelektual; 2. Sejak awal Islam menyediakan latihan intelektual; 3. Islam selama 500 tahun menjadi pemimpin intelektual [sejagat]; 4. Ortodoksi Islam tidaklah antiintelektual; 5. Intelektualisme berarti Pluralisme; 6. Kekurangan Pluralisme berarti kemerosotan (dekadensi). Dalam tulisan ini saya hanya membicarakan tesis keenam. Pembaca yang ingin mengikutinya secara lengkap, mohon buka Google di layar internet: >Murad Hofmann on The Intellectual Challenge to Islamic Civilization.

Mengapa masalah pluralisme demikian penting di mata Hofmann? Inilah uraiannya. Adalah kenyataan bahwa Islam tidak selalu menghormati pluralisme dengan segala buntut buruknya kemudian. Contoh-contoh berikut diberikan: berlakunya konflik antara 'Aisyah dan Ali, khalifah ketiga; perang antara Mu'awiyah dan Ali; konflik Ali dan bekas pengikutnya kaum Khawarij.

Konflik ini tidak saja panas, tetapi juga berdarah-darah. Konflik itu terus saja mewarnai sejarah Islam berikutnya. Perang saudara antara dinasti Umayyah dan dinasti 'Abbasiyah, konflik antara golongan Mu'tazilah dan Asy'ariyah, bentrokan sunni-syi'i, sampai sekarang belum juga reda.

Juga konflik sesama syi'i, dan jangan lupa pembunuhan terhadap tokoh sufi al-Hallaj karena benturan teologis. Artinya, pluralisme paham keagamaan tidak punya tempat dalam wacana mereka. Ujungnya: konflik menjadi berkepanjangan. (-)

[Resonansi - Selasa, 13 Oktober 2009]


Abou El Fadl tentang Peta Umat (I)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Jika dibandingkan dengan metode Fazlur Rahman dalam kajian keislaman yang cenderung melebar, tetapi tidak kurang tajam dan mendalamnya, pendekatan Khaled Abou El Fadl lebih menukik dan berani, khususnya dalam masalah syariah yang memang merupakan disiplin utamanya. El Fadl kelahiran Kuwait, lama belajar di Mesir, kemudian di Amerika Serikat.

Sekarang adalah guru besar hukum Islam di UCLA School of Law. Mata kuliah yang diasuhnya adalah hukum Islam, hukum imigrasi, hukum hak-hak asasi manusia, dan hukum internasional dan keamanan nasional. Semuanya berkaitan dengan masalah hukum. Saya pernah memapah Abou El Fadl di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta pada saat memberi ceramah di sana sekitar satu setengah tahun yang lalu, yang dipandu oleh Sukidi, sekarang belajar di Harvard. Dalam kondisi fisik yang tidak lagi prima, El Fadl adalah salah seorang juru bicara Islam kontemporer yang cerah di muka bumi. Ia telah menulis beberapa karya penting tentang Islam yang diramunya dari sumber-sumber klasik dan modern. Di atas ramuan itulah ia memetakan tafsirannya tentang Islam dengan cara yang sangat kritikal, mendalam, dan komprehensif.

Pedang kritiknya dibidikkan kepada dua sasaran: Puritanisme Islam dan modernitas sekuler. Solusi yang ditawarkannya adalah sebuah Islam moderat yang cerdas, kreatif, dan penuh semangat juang, sebagai cerminan dari rahmat bagi seluruh alam. Resonansi ini sebagian didasarkan pada kesimpulan salah satu karya terbarunya, The Great Theft / Kemalingan Besar. ( New York: HarperSanFrancisco, 2005, 290 hlm. plus catatan akhir). Karya lain yang tidak kurang menantangnya, di antaranya And God Knows the Soldiers dan Speaking in God’s Name. Kedua buku ini banyak berbicara tentang gelombang puritanisme kontemporer. Menurut El Fadl, aliran puritan dapat dilacak akarnya pada golongan Khawarij, bekas pengikut ‘Ali bin Abi Thalib, yang pada abad pertama Islam telah banyak membunuh orang Islam dan non-Muslim, dan bertanggung jawab dalam menghabisi nyawa ‘Ali bin Abi Thalib sendiri. Setelah terlibat dalam pertumpahan darah yang panjang dan sia-sia, sisa-sisa kaum Khawarij masih dijumpai sedikit di Oman dan Ajazair, tetapi mereka sudah berubah menjadi moderat, bahkan pasifis (suka damai).

Dalam penglihatan El Fadl, mengapa arus ekstremisme marak di dunia Muslim sekarang? Salah satu sebabnya adalah karena ”lembaga-lembaga tradisional Islam yang secara historis bertindak untuk meminggirkan aliran ekstremis tidak ada lagi. Inilah yang membuat periode sejarah Islam sekarang jauh lebih sulit dibandingkan periode yang lain, dan inilah sebabnya mengapa orientasi puritanisme modern lebih mengancam integritas moralitas dan nilai-nilai Islam melebihi gerakan-gerakan ekstremis sebelumnya.

Barangkali inilah pertama kali dalam sejarah bahwa pusat dunia Islam, Makkah dan Madinah, telah berada di bawah kontrol negara puritan selama periode yang demikian lama.” (Ibid., hlm. 102). Dengan uang yang melimpah, Wahabisme telah diekspor ke berbagai pojok bumi yang mematikan kebebasan berpikir dan intelektualisme Islam. Ironisnya adalah bahwa Kerajaan Saudi dalam politik global banyak bergantung pada Amerika Serikat.

Inilah sebuah kongsi yang aneh antara dua sistem politik yang sebenarnya sangat rapuh, tetapi direkat oleh kepentingan-kepentingan pragmatis jangka pendek. Puritanisme kontemporer memang umumnya muncul dari rahim Wahabisme, dan Taliban adalah salah satu bentuknya. Jadi, tidak mengherankan jika seorang Usamah bin Ladin diterima baik dalam kultur Taliban, karena persamaan doktrin yang dianut, dengan catatan jasa Amerika cukup besar dalam mendukung puritanisme ini sewaktu menghadapi pasukan Uni Soviet di Afghanistan.

Sejak tragedi 11 September 2001, kemudian aliansi mereka pecah. Dan Amerika sekarang kewalahan menghadapi ”anak didiknya” ini yang sebagian terlibat dalam kegiatan teror global, sebagaimana juga Gedung Putih di bawah Bush telah pula menjadi pusat teror negara bersama Israel. Invasi terhadap Afghanistan dan Irak dengan helah yang dibuat-buat adalah bentuk terorisme negara untuk menghancurkan dua bangsa dan negara lemah, yang sekarang kondisinya malah semakin memburuk dan rusak.

Menurut keterangan yang diberikan Pak Taufiq Kiemas kepada saya di pesawat Garuda dalam penerbangan ke Yogyakarta pada 23 November, sebenarnya Presiden Megawati telah mengingatkan Bush agar tidak menyerang Irak, sebab akan sulit keluar dari sana, tetapi Bush tetap nekat. Sebuah kenekatan yang harus dibayar dengan ongkos yang sangat mahal, termasuk kekalahan Partai Republik baru-baru ini dalam pemilihan senat dan kongres Amerika.

[Resonansi, Republika - Nov 06]

Abou El Fadl tentang Peta Umat (II)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Selanjutnya mari kita ikuti tesis-tesis El Fadl tentang kutub umat Islam kontemporer yang saling berhadapan. Pertama, kekuatan Islam puritan (sebutan lain dari fundamentalis), dan kedua, Islam moderat yang merupakan mayoritas mutlak dari sekitar 1,3 miliar umat Islam di muka bumi. Ada sebuah pertanyaan kunci yang dihadapkan kepada kedua kutub ini: Siapa yang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan atas nama agama? Jawaban pertanyaan ini ternyata lebih sulit dari apa yang dibayangkan oleh sementara orang. Kedua kutub umat itu memberikan jawaban yang sungguh berbeda.

Dalam penilaian El Fadl, kaum puritan akan mengatakan bahwa itu adalah sebuah pertanyaan yang salah, sebab, ”Bagaimana seseorang dapat membedakan antara sebuah agama dan tanggung jawab terhadapnya. Kaum puritan akan mengatakan bahwa agama tidak diwakili oleh apa pun selain teks dan ritualnya, dan para pengikut yang tulus akan membaca teks dan melaksanakan ritual.” 

Sebaliknya golongan moderat akan mengatakan, ”Posisi kaum puritan tidak saja naif, tetapi penuh masalah. Apa yang membuat suatu agama melebihi teks dan ritual, dan apa yang berlaku karena teks dan ritual bukanlah sebuah perwujudan penuh dari Ketuhanan. Tuhan dan kemauan Tuhan terlalu mulia dan luas untuk dapat dinyatakan oleh teks dan ritual. Tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan manusia atas nama Tuhan mesti jatuh atas pundak umat manusia.” (Hlm 276). 

Kedua kutub itu, ”Sama-sama ingin sepenuhnya terikat dengan Tuhan. Keduanya tidak ingin menjalani hidupnya di bumi tanpa petunjuk Tuhan. Tetapi, apa yang membedakan puritan dan moderat cukup lebar –terutama yang bertalian dengan masalah amanah dan aksesibilitas (apa yang dapat diraih). Kaum moderat yakin bahwa Tuhan memberi kepercayaan kepada manusia dengan kekuatan nalar dan kemampuan membedakan antara baik dan buruk. Tetapi, amanah yang ditempatkan pada diri manusia itu begitu dahsyat –demikian dahsyatnya sehingga manusia dan hanya manusia saja yang bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Inilah yang pada gilirannya membenarkan tanggung jawab di Hari Akhir. 

Amanah yang diletakkan pada diri manusia tidak hanya untuk menjalankan atau melaksanakan seperangkat perintah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tetapi, Tuhan menyediakan untuk manusia arahan dan tujuan, dan terpulanglah kepada manusia untuk menemukan hukum-hukum yang perlu dan layak.” (Ibid)

Di mana posisi kaum puritan? ”Sebaliknya, kaum puritan tidak percaya bahwa amanah yang ditempatkan pada manusia demikian lebar dan kabur. Tuhan memberikan hukum kepada manusia, yang sebagian besar keadaannya bersifat khas dan rinci, dan memercayai mereka untuk melaksanakannya. Maka, anugerah Tuhan yang benar kepada manusia bukanlah kemampuan menalar tetapi kekuatan untuk memahami dan menaati. Tidaklah mengherankan kemudian, kaum puritan diyakinkan bahwa Tuhan mengurus masalah-masalah kecil urusan manusia dengan memberikan hukum-hukum konkret dan khas yang mengatur banyak dari apa yang dikatakan dan diperbuat manusia.” 

Di mana pula posisi kaum moderat dalam masalah ini? ”Kaum moderat memercayai sebaliknya: Sebagian besar masalah yang menyangkut persoalan manusia terserah kepada kebijaksanaan manusia yang dengannya mereka berbuat yang terbaik sejauh yang mungkin asal mereka mengamati garis pedoman moral yang umum.” (Ibid). 

Masih ada beberapa perbedaan pendekatan dan pemahaman Islam antara dua kekuatan itu yang terekam dalam kesimpulan karya El Fadl yang tidak akan dibeberkan di sini. 

El Fadl tidak menutup kemungkinan adanya pendekatan yang ketiga, tetapi memerlukan kajian tersendiri. Sekarang yang sedang berhadapan adalah dua kutub di atas. Pertanyaannya adalah: Mana di antara keduanya yang mesti diperkuat untuk mencapai tujuan Islam berupa rahmat bagi semua? Jelas El Fadl memilih jalan moderat, sebab hanya jalan inilah yang dapat membawa umat Islam mencapai tujuannya melalui cara-cara yang beradab, damai, dan manusiawi, tetapi tetap berpegang kepada prinsip yang diyakini, tidak boleh terombang-ambing dalam tarikan gelombang modernitas yang sekuler dan tidak adil. 

Akhirnya, karya-karya El Fadl kini sedang serius dibicarakan di kalangan intelektual muda NU dan Muhammadiyah untuk dipakai sebagai salah satu rujukan penting dalam upaya memahami peta Islam kontemporer, baik global maupun yang bertalian dengan arus gerakan Islam di Indonesia. El Fadl telah memperkaya literatur Islam kontemporer dengan cara yang sangat bertanggung jawab.

[Resonansi, Republika - Des 06]

Sains dan Kemandirian Muslim

Agus Purwanto, DSc.*)

Pendahuluan

Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa dunia Islam pernah mencapai penguasaan yang gemilang di bidang sains, teknologi, dan filsafat di masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa itu tradisi intelektual dan spirit pencarian serta pengembangan ilmu pengetahuan, yang diawali dengan translasi massif atas karya-karya ilmiah para filsuf Yunani kuno tertancap kuat, tumbuh dan berkembang pesat.

Dunia Islam melahirkan sederet nama ilmuwan masyhur. Mereka itu seperti Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Al Razi (kimia, kedokteran), Al Bitruji (astronomi), ibnu Haitsam (teknik, optik), ibnu Sina (kedokteran), ibnu Rusyd (filsafat), ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi), dan banyak lagi yang lain.
Sumbangan dunia Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantah. Bermula dari dunia Islamlah, ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat, yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Spirit al-Qur’an

Ketika masa keemasan Islam berakhir bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1491, masyarakat Barat kemudian mengambil alih. Barat dengan sains dan teknologinya terus memimpin peradaban sampai saat ini sementara Islam terus dalam kegelapan dan ketakberdayaan. Bahkan selama kurang lebih tiga abad negara-negara muslim dijajah oleh kolonialisme Barat yang diperankan oleh Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan Amerika Serikat. Lebih memilukan lagi, sesama negeri muslim sulit bersatu dan mudah diadu seperti kasus paling aktual resolusi PBB nomor 1747 tentang nuklir Iran yang juga disetujui negeri muslim Indonesia dan Qatar.

Kini umat Islam mencoba bangkit dari keterpurukan dalam sains dan teknologi. Umat Islam, untuk saat ini harus mengkaji kembali kekuatan mereka berupa sains dan kemudian melahirkan teknologi, yang mereka genggam erat selama abad 8-15 M. 

Umat Islam di masa lampau telah meletakkan ilmu pengetahuan pada posisi yang benar dan memandang sebagai pemilik yang sah. Pandangan ini mempunyai landasan yang kokoh yakni hadis nabi Muhammad saw, "Ilmu itu adalah harta (kearifan) yang hilang dari orang beriman, di mana pun dan kapan pun mereka menemukannya, mereka harus memungutnya kembali". Di dalam riwayat lain disebutkan: "Jika engkau menginginkan kebahagiaan dunia, maka carilah dengan ilmu. Jika kau mencari kebahagiaan akhirat, maka cari juga dengan ilmu."

Sedangkan landasan dari kitab suci juga tidak kurang banyaknya. Spirit umat Islam awal adalah wahyu pertama yang memerintahkan umat Islam agar membaca, membaca, dan membaca (QS 96: 1-3). Ayat tersebut dan hadis-hadis terdahulu yang memerintahkan pentingnya menuntut ilmu dan hendaknya jadi pelecut umat Islam agar kembali mencintai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dorongan seperti ini tidak dimiliki oleh umat beragama apapun di dunia ini.

Problem Aktual

Fakta-fakta kegemilangan sains masa lampau dan landasan-landasan normatif bagi umat Islam untuk menguasai sains cukup banyak dan jelas tetapi realitas lapangan memperlihatkan hal sebaliknya. Umat Islam tidak mempunyai kepedulian yang memadai terhadap sains, bahkan lebih ekstrim umat Islam memperlihatkan kecenderungan sikap antisains. Sains seolah tidak terkait dan tidak mengantar umat Islam ke surga sebagaimana zakat, anak yatim, kaum duafa dan pendirian masjid. Banyak umat Islam mempunyai pemahaman dan persepsi bahwa sains adalah kafir dan membawa pada kekafiran karena merupakan produk orang kafir (baca Eropa dan Amerika). 

Pandangan salah tersebut tidak hanya terjadi di kalangan awam berpendidikan rendah melainkan juga sebagian elit umat. Akibatnya tidak ada dukungan yang memadai untuk pengembangan sains. Jurusan-jurusan sains dan teknologi di perguruan tinggi islam didirikan seolah hanya untuk menampung mahasiswa baru dan strategi bisnis jangka pendek. Di kalangan mahasiswa, masuk jurusan eksakta (sains dan teknologi) hanya faktor latah dan gengsi sesaat karena setelah itu mereka kembali pada kecenderungan umum umat Islam yakni meninggalkan dan anti sains.

Pada tahun 1930-an Syeh Jauhari Thonthowi di dalam tafsirnya al-Jawahir menggugat dengan menyebutkan bahwa ulama menghabiskan waktu, tenaga dan materi hanya untuk urusan fikih dan mengabaikan ayat-ayat kauniyah. Padahal ayat-ayat hokum di dalam al-Quran hanya sekitar 150 ayat sementara ayat kauniyah sekitar 750 ayat. Dus, ayat kauniyah lima kali lebih banyak dari ayat hokum. Keadaan ini sampai sekarang belum banyak berubah.

Ada sebagian orang dengan serampangan berargumen bahwa tidak tumbuh dan berkembangannya sains di dunia islam disebabkan kemiskinan dunia Islam. Alasan ini jelas sangat lemah. Tidak sedikit di antara negara-negara Islam memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, sehingga sulit dikatakan negeri muslim sebagai negeri miskin. Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) pada tahun 2000 melaporkan, sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan sebanyak 73 persen cadangan minyak dunia.

Knowledge is power demikian pernyataan tokoh modernisme Francis Bacon. Amerika, Eropa dan Jepang sampai saat ini menjadi kiblat kemajuan dunia karena sains dan teknologinya. Taiwan dan Korea merupakan dua negeri industri baru sedangkan Cina dan India dikenal luas sebagai kandidat kekuatan pemimpin baru ekonomi dunia dua dasawarsa mendatang. Negara-negara tersebut adalah negara yang mengembangkan sains fundamental dan kemudian terapannya secara konsisten.

Israel negeri yang sangat kecil menjadi sangat digdaya karena kemampuannya dalam sains dan teknologi. 16% pemenang nobel fisika dan kedokteran adalah ilmuwan berdarah Yahudi. Sekitar 200 peluru berhulu ledak nuklir dimiliki oleh negeri ini. Sementara Iran yang baru dikucilkan oleh PBB dengan resolusi 1747 baru bisa membuat satu senjata nuklir sepuluh tahun lagi.

Jalan Sains: Terjal dan Sunyi

Untuk menguasai sains ada dua langkah utama yang harus dilakukan. Pertama sosialisasi bahwa sains adalah bagian dari islam dan diisaratkan berulang-ulang di dalam al-Qur’an serta telah dipraktekkan oleh generasi muslim awal. Kedua sosialisasi bahwa tidak ada jalan pintas bagi sains. Jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk serta pola hidup glamour.

Dakwah dengan berceramah telah menjadi aktivitas harian di masyarakat kita. Sosialisasi sains bagian dari islam bisa disampaikan melalui ceramah-ceramah agama ini. Sekedar contoh ayat-ayat terkait dengan alam

Alam diciptakan dalam enam masa (QS 32:4)
Bumi diciptakan dalam dua masa (QS 41:9)
Penciptaan tujuh langit dalam dua masa (QS 41:12)
Awan dikirim ke bumi yang tandus (QS 32: 27)
Teknologi pembuatan baju besi dikuasi nabi Daud as (QS 34:10-11)
Rekayasa angin dan tembaga cair dikuasai nabi Sulaiman as (QS 34:12)
Sains dan rekayasa angin (QS 38:36; 41:16)
Dinamika udara dan awan (QS 35:9)
Pola air laut (QS 35:12)
Kesetimbangan langit dan bumi (QS 35:41)
Penciptaan pasangan materi-antimateri (QS 36:36, 42:11)
Dinamika benda langit (QS 36:38-40)
Perkapalan (QS 36:41-43; 42:33-34)
Relasi kapal laut dan gunung (QS 42:32)
Pola garis putih, merah dan hitam pekat di antara gunung (QS 35:27)
Materi-materi di langit, bumi dan antaranya (QS 42:12).
Api dari kayu hijau (QS 36:80)
Suluh api (QS 37:10)
Rahasia dan kekuatan petir (QS 41:13)
Fertilasi tanaman dan manusia (QS 41:47)

Sosialiasi menjadi lebih konkrit bila kita dapat memperlihatkan naskah-naskah dari para sarjana muslim awal yang disebut di depan. Misalnya saja, bagaimana sebenarnya matematika yang dirumuskan al-Khawarizmi, astronominya al-Bitruji dan optic dari ibnu Haitsam. Tanpa contoh ini, sulit mengubah persepsi bahwa sains tidak ada kaitan dengan surga karena di saat awal Islam Rasulullah saw dan para sahabat tidak ada yang mengembangkan sains.
Dengan tersosialisasinya pesan bahwa sains merupakan kesatuan dari islam maka diharapkan lebih banyak lagi mahasiswa yang mau menekuni dan memilih jalur sains dan teknologi sebagai profesinya. Selain itu diharapkan pengusaha muslim juga sadar untuk mengalokasikan dana bagi upaya pengembangan sains dan teknologi misalnya dengan memberi beasiswa mahasiswa potensial atau membuat funding bagi riset fundamental.

Tanpa keterlibatan para pengusaha dan negara pengembangan sains tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, terjadi braindrain ilmuwan cemerlang negara dunia ketiga termasuk negara muslim ke negara maju. Realitas ini makin membuat negara ketiga makin tertinggal dari negara maju

Selanjutnya perlu dikenali bahwa jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi. Idealnya seorang ilmuwan telah melampaui pendidikan strata-3 lalu postdoctoral 2-3 tahun. Artinya, ilmuwan akan relatif matang setelah melalui fasa tersebut. Masa dan fasa tersebut harus dilalui di laboratorium dan perpustakaan yang jauh dari riuh-rendah publisitas. 

Sebagai gambaran, universitas-universitas di Jepang buka selama 24 jam perhari. Laboratorium menjadi rumah kedua bagi mahasiswa S1 tingkat akhir ke atas. Diskusi antara mahasiswa dan profesornya seringkali berlangsung sampai larut malam dan profesor kadang juga bermalam dan tidur di laboratorium. Perpustakaan universitas kadang buka di hari Minggu. Jelas, di sinilah beratnya dunia ilmu bagi para mahasiswa yang cenderung ingin tampil cepat dan gegap gempita sebagaimana umumnya dunia politik dan selebriti.

Tradisi sains adalah tradisi riset. Sedangkan tradisi riset akan melahirkan budaya mencipta dan memproduksi. Artinya, kemandirian material hanya bisa lahir dari budaya produksi dan menuntut penguasaan sains terlebih dulu. Tanpa tradisi riset dan produksi maka kita hanya akan mampu menjadi bangsa makelar yang bergantung kepada para bangsa produsen.

Penutup

Penguasaan sains merupakan hal yang mendesak bahkan keniscayaan bagi negeri khususnya negeri muslim yang ingin eksis di percaturan global. Tanpa sains suatu negeri akan lemah dan menjadi negeri yang bergantung pada bangsa-bangsa maju. Indonesia yang luas dan kaya dengan sumber daya alam tetapi tidak menguasai sains dan teknologi akhirnya menjadi sangat bergantung pada Amerika dan Jepang.

Jembatan Suramadu dan lumpur Porong yang terkatung-katung juga merupakan akibat lemahnya penguasaan bangsa kita terhadap sains dan teknologi. Lumpur Porong yang berlarut-larut sesungguhnya mencerminkan aneka klaim hebat yang semu bangsa kita. Lumpur Porong menyodorkan realitas pseudoilmiah, pseudoilmuwan, pseudoinsinyur, pseudopakar, pesudoanalisa, pseudosolusi, pseudoserius serta pseudopolicy di depan kita. 

Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim dan menempati area seluas 8 juta kilometer persegi tidak bisa terus-menerus menyerahkan pengelelolaan aneka kekayaan alam yang melimpah kepada orang asing. Indonesia harus mandiri karenanya harus cerdas dan terampil khususnya dalam sains dan teknologi. Indonesia tidak boleh selamanya menjadi bangsa makelar dan kuli baik kuli di negeri orang apalagi kuli di negeri sendiri.

Kita harus bangkit, mandiri, berdaulat dan berdiri sejajar dengan negara-negara lain. Syarat untuk itu tidak lain adalah iman dan ilmu (QS 58:11). Kedaulatan dan harga diri harus ditopang dengan kekuatan baik spiritual maupun material. Iman yang benar akan mendorong pada penguasaan sains. Sebaliknya pengabaian sains sebenarnya refleksi iman yang salah dan kebahlulan modern.

Terakhir, meski tidak dianjurkan berperang tetapi kita harus kuat dan mampu mempertahankan diri dari serangan pihak lain termasuk dari kemungkinan serangan menggunakan peluru berhulu ledak nuklir. Aneka upaya diplomasi tetap akan tidak efektif bila kita lemah. Al-Qur’an surat al-Anfal ayat 60 menegaskan agar umat Islam mempersiapkan seluruh potensi dan kekuatan yang ada.

*) NBM: 547243, mantan ketua IMM-ITB, Doctor of Science, pekerja Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS.

Dari : jatim.imm.or.id