Showing posts with label Rasulullah SAW. Show all posts
Showing posts with label Rasulullah SAW. Show all posts

Sisi Esoterik-Metafisik Nabi Muhammad SAW

Mulyadhi Kartanegara

TIDAK banyak yang tahu sisi metafisik Nabi Muhammad sebagai "Tujuan Akhir Penciptaan Alam Semesta." Dan ajaran ini dilandaskan pada sebuah hadis qudsi, yang berbunyi: لولاك ولولاك ما خلقت الافلاق كلها yang artınya kurang lebıh sbb: "Kalau bukan karena engkau (ya Muhammad) tıdak akan pernah Aku cıptakan alam semesta ını. Maka berdasarkan pada hadıs tersebut, bukan hanya umat Islam yang berhutang budı kepada Nabı kıta, tapı seluruh umat manusıa, bahkan seluruh makhluk (yang hidup maupun yang mati) berhutang budi kepada baginda Rasulullah saw. Sebab kalau bukan karena beliau, maka seluruh alam yang maha luas ini tak pernah akan diciptakan oleh Allah.

Konsep ini telah dijadikan salah satu dasar bagı ajaran penting tasawuf tentang Insan Kamıl: Manusia sempurna. Para sufi telah menjadikan Nabi kita sebagai contoh par excellent bagi Insan Kamil. Insan kamil digambarkan sebagai orang yang telah mengaktualkan semua potensi kemanusiaan dan menjadi cermin dari seluruh sifat-sifat Tuhan yang mungkin bagi manusia. Karena itu tidak heran kalau para filosof menyebut manusia sebagai "mikro kosmos."

Tetapı menurut Jalaluddin Rumi ketika seorang manusia mencapai tingkat insan kamil, seperti yang dicontohkan oleh Nabi kita, maka manusia bukan lagi mikrokosmos, tetapi makrokosmos, seperti tergambar dalam salah satu syairnya yang indah: "Memang secara lahiriah (kasat mata) buah muncul dari ranting, tetapi secara hakiki justru ranting, bahkan seluruh pohon itu tumbuh demi buah tersebut. Kalau bukan karena buah akankah sang pekebun menanam pohon?" Buah yang dimaksud tak lain daripada manusia sempurna.

Konsep ini bukan semata doktrin agama tetapi juga mendapat pembenaran ilmiah dari para ilmuwan dalam apa yang mereka sebut sebagai prinsip antropik (Anthropic Principle) yang menyatakan bahwa alam semesta telah ditala dengan sangat halusnya (finely tuned), dan tidak boleh nenyimpang sedikit pun semata-mata untuk menghasilkan makhluk berkesadaran-diri: manusia. Penalaan yang halus itu dibuktikan dalam apa yang disebut sebagai konstanta fisik, seperti konstanta masa atom, konstanta bilangan Avegadro, Boltzmann, Faraday, Bohr dll. yang telah mengatur secara konstan dan halus operasi alam, pada level mokro maupun mikro yang tidak mentolelir sedikit saja penyimpangan. Sedikit saja terjadi penyimpangan maka tujuan peciptaan takkan pernah tercapai.

Teori ini memperkuat pandangan yang mengatakan bahwa manusia--khususnya manusia sempurna--adalah tujuan akhir penciptaan alam senesta, dan karena Nabi kita dikatakan sebagai yang terbaik dari segala makhluk-Nya (khayri khalqihi), maka benarlah pernyataan hadis qudsi tersebut di atas: Kalau bukan karena engkau ya Muhammad, takkan pernah Aku ciptakan alam semesta ini. Karena itulah barangkali kita diminta untuk bersalawat kepada beliau, karena seperti dinyatakan dalam al-Qur'an bahwa Allah sendiri dan para makaikat bersalawat kepada dan untuk junjungan Nabi kita Muhammad saw. Khatam al-nabiyyin wal-mursalin. Mari kita bersalawat kepada beliau sebagai rasa takzim, cinta dan ungkapan terima kasih.

Nabi Muhammad bagaikan batu bata terakhir

sumber: Nadirsyah Hosen

Nabi Muhammad mengajarkan kita akhlak yang mulia, salah satunya berupa kerendahan hati. Dalam Shahih Bukhari (Hadis Nomor 3271) diriwayatkan Nabi bersabda:

"Perumpamaanku dan para Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum sambil berkata; 'Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini". Beliau bersabda: "Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para Nabi".

(catatan: dalam redaksi Shahih Muslim, Hadis Nomor 4240 "Maka akulah yang meletakkan atau memasang bata itu, aku datang sebagai Nabi terakhir.")

Sebagian ulama menjadikan Hadis ini sebagai dalil bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Saya menyetujuinya. Namun saya memahami ilustrasi yang Nabi berikan lebih dalam lagi. Sebagai Sayyidul Anbiya wal Mursalin, Nabi tidak menepuk dada dan menganggap dirinya lebih mulia dari para Nabi sebelum beliau. Beliau menganggap diri beliau tak ubahnya sebagai batu bata terakhir dalam sebuah rumah. Indah nian metafor yang Nabi gunakan.

Pertama, beliau tidak bilang bahwa beliaulah pondasi atau atap rumah itu untuk mengggambarkan pentingnya peranan beliau. Beliau hanya bagian kecil dari rumah yang sudah jadi. Tanpa ada batu bata terakhir rumah tetap berfungsi hanya saja kurang sempurna. Kehadiran beliau tidak lain menyempurnakan bangunan rumah yang sudah ada.

Kedua, beliau SAW tidak membuat rumah baru. Lewat metafor tersebut seolah hendak menegaskan ajaran yang beliau terima bukan untuk menegasikan ajaran Nabi sebelumnya; tapi justru membuat 'rumah' terasa lebih indah.

Ketiga, batu bata tidak ada artinya tanpa tumpukan batu bata sebelumnya. Para Nabi yang lain telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi peradaban umat manusia. Nabi Muhammad hadir untuk melengkapi sumbangsih tersebut.

Keempat, Nabi Muhammad dan para Nabi sebelumnya seakan hidup bersama dalam rumah tersebut. Begitu juga umat pengikut para Nabi. Kita semua berada dalam rumah bersama. Untuk apa para Nabi membangun rumah kalau tidak untuk kita diami bersama-sama? Para Nabi tidak membangun rumah sendiri-sendiri. Ada pesan kerukunan yang kuat di sini.

Meskipun Nabi Muhammad telah meng-imami para Rasul dalam peristiwa Isra Mi'raj di bulan Rajab ini namun beliau tidak pernah mau dianggap lebih dari para Nabi sebelumnya. Inilah akhlak manusia teragung.

Dalam riwayat lain (Shahih Bukhari Hadis Nomor 3156) ada seorang Muslim yang bertengkar dengan Yahudi dimana masing-masing membanggakan Nabinya. Maka Rasul bersabda:

"Janganlah kamu lebihkan aku terhadap Musa karena nanti saat seluruh manusia dimatikan dan akulah orang yang pertama kali dibangkitkan (dihidupkan) namun saat itu aku melihat Musa sedang berpegangan sangat kuat di sisi 'Arsy. Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dimatikan lalu bangkit lebih dahulu daripadaku, atau dia termasuk diantara orang-orang yang dikecualikan (tidak dimatikan)".

Meski Rasulullah telah Allah lebihkan dari para Nabi yang lain, namun sikap rendah hati beliau tidak mau dianggap lebih dari para Nabi yang lain.

Kawan,
Mari kita jaga dan rawat rumah bersama yang telah dibangun dan dibina oleh para Nabi. Mari kita tempatkan diri kita seperti batu bata terakhir, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Shallu 'alan Nabi...

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

Misi Utama Nabi Muhammad Saw

Misi Utama Nabi Muhammad bukan untuk mengislamkan dunia

"Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua manusia di bumi. Maka apakah engkau (Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang yang beriman semua?" (QS Yunus 10:99).

Banyak yang kaget rupanya ketika disodorkan ayat ini. Misi utama Nabi itu sejatinya bukan untuk menaklukkan dunia dan mengislamkan semua orang.

Misi Nabi itu dijelaskan oleh al-Quran sebagai rahmat untuk semesta alam. "Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. Al-anbiya 21/107). Dan dijelaskan sendiri oleh Nabi dalam satu riwayat Hadis Sahih: "Sesungguhya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak yang mulia." Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq (HR Bukhari).

Menebar Rahmat dan memperbaiki Akhlak itulah misi utama Nabi, bukan maksa-maksa orang lain masuk Islam atau memaksa mengikuti fatwa dan tafsiran kita sendiri, atau bahkan memaksa orang lain mengikuti pilihan politik kita. Pemaksaan terhadap orang lain itu bukan rahmat dan bukan pula akhlak yang mulia. La ikraha fi al-din. Tidak ada paksaan dalam beragama.

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan: "tidak perlu memaksa mereka. Barangsiapa dibukakan pintu hatinya oleh Allah maka mereka akan memeluk Islam. Barang siapa dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya maka mereka tidak akan mendapat manfaat jikalau dipaksa masuk Islam".

Tafsir Fi Zhilalil Qur'an mengonfirmasi bahwa "manusia telah diberi tanggung jawab untuk memilih jalannya sendiri, dan mereka pula lah yang akan bertanggungjawab atas pilihannya tersebut."

Keimanan itu tidak perlu dipaksakan. Dakwah itu mengajak, bukan memaksa. Maka hindari cara-cara yang memaksa. QS al-Nahl 16/125 memberi kita petunjuk metode dakwah yang harus ditempuh: Pertama, dengan hikmah, kedua, dengan mauizah (nasehat/pelajaran) yang baik dan terakhir kalau harus berdebat, bantahlah dengan argumentasi yang lebih baik.

Tidak perlu pula menjelekkan atau menghina kepercayaan orang lain. Bahkan standar moral yang luar biasa ditegaskan dalam QS al-An'am 6/108: "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." Kita dilarang dengan tegas untuk menistakan Tuhan dan sesembahan agama lainnya. Inilah akhlak yang diajarkan al-Qur'an.

Mari kawan ...Kita tunjukkan pada penduduk dunia akan ketinggian ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta dan membentuk pribadi-pribadi yang berakhlak mulia. Begitu mereka tahu maka biarkan mereka sendiri yang akan berbondong-bondong masuk Islam.

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat". (QS al-Nashr 110/1-3)

Salam hangat dan selamat melanjutkan misi Nabi Muhammad di hari Senin ini

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

tautan sumber - facebook.com/NadirsyahHosen

Yesus dan Muhammad

Oleh: Komaruddin Hidayat - di mediaindonesia.com


Secara teologis, kehadiran sosok sejarah bernama Yesus sebagai peletak dasar agama Nasrani dan Muhammad sebagai peletak dasar agama Islam telah memberikan sumbangan sangat besar pada peradaban dan sejarah manusia sejagat. Pengaruh mereka masih berlangsung terus sampai hari ini.

Berdasarkan perhitungan statistis-demografis, pengikut dua agama tersebut menempati urusan terbesar, di luar kualitas dan loyalitas pengikut dalam menjalankan ajaran secara benar dan konsekuen.

Nama Yesus dan Isa menurut sebuah kajian historis ialah sosok yang sama, dengan sebutan yang berbeda semata karena pergeseran ucapan.

Isa, Yesaa, Yeshua, Yesus kesemuanya menunjuk pada aktor sejarah yang sama. Perubahan ucapan itu mirip dengan apa yang terjadi pada pemain bola dari Afrika atau Arabia, setelah pindah ke Eropa lalu berubah nama panggilannya seperti Zainuddin menjadi Zidan, Yusuf jadi Joseph, Ibrahim menjadi Abraham. Begitu pun beberapa nama Mehmet di Turki atau Memet di Sunda aslinya ialah Muhammad. Di Indonesia Timur, Abdurrahman bisa berubah menjadi Bedu Amang.

Karena kelahiran Muhammad jauh di belakang Yesus, yaitu 671 M, logis dan wajar saja jika pencatatan riwayat hidupnya lebih komplet dan transparan di mata sejarawan. Tak ada sejarah rasul Tuhan yang riwayat hidupnya tercatat sedemikian komplet kecuali Nabi Muhammad. Bahkan ucapannya yang dianggap autentik dan yang palsu pun terdokumentasikan dengan baik.

Dalam riwayat hidup Yesus banyak penggalan yang sulit ditelusuri sejarawan. Termasuk kompilasi dokumen tertulis ajaran yang disampaikan yang kemudian dihimpun dalam Kitab Injil.

Terlebih sosok Rasul Tuhan seperti Adam, Idris, Nuh, dan Sulaiman, para sejarawan kesulitan menemukan dan mengumpulkan informasi riwayat hidup mereka secara lengkap dan autentik. Itu semata alasan historis, bukan substansi kebenaran ajaran mereka karena semua nabi membawa ajaran dari sumber yang sama, Tuhan semesta alam.

Di luar perdebatan dan tafsiran terhadap ajaran yang diwariskan para rasul Tuhan, kedua sosok Yesus dan Muhammad telah menginspirasi dan menggerakkan jutaan bahkan miliaran orang untuk memperjuangkan cita-cita hidup berlandaskan moralitas agung. Sebuah moralitas yang berasal dari Tuhan yang kemudian menjadi hukum kemanusiaan universal. Tak ada sosok sejarah yang sangat dicintai umatnya, dijadikan model keteladanan hidup, bahkan umatnya rela mati jika kemuliaannya dihinakan, kecuali Yesus dan Muhammad.


Ironisnya, karena perbedaan paham, penafsiran, dan kepentingan politik dari para pengikutnya, pernah terjadi Perang Salib, perang antara pemeluk Nasrani dan Islam. Padahal, asal usul agama itu ialah dari Tuhan yang sama yang mengajarkan cinta kasih dan perdamaian.

Perbedaan paling fundamental antara pemeluk Nasrani dan Islam terletak pada penafsiran dan keyakinan posisi Yesus. Bagi umat Islam, Yesus atau Isa ialah rasul Tuhan sebagaimana sosok rasul yang lain, dengan mengajarkan keimanan dan akhlak mulia.

Umat Islam akan dicap kafir jika mengingkari kerasulan Yesus atau Isa. Umat Islam akan juga marah jika Yesus sebagai rasul Allah dihinakan martabatnya dan diingkari ajarannya.

Namun, bagi umat Kristiani, Yesus diyakini sebagai Juru Selamat yang dalam dirinya Allah bertajali dan berinkarnasi, menyatunya Sang Tuhan dan hamba, mirip pengalaman spiritual kalangan sufi. Hanya, dalam dunia sufi, tajali Allah itu hanya sesaat, sedangkan dalam Yesus bersifat permanen sejak kelahirannya. Maka, terkenal ungkapan bahwa Yesus sebagai jalan keselamatan yang telah mengalahkan dosa manusia, yang tidak mungkin mampu manusia mengalahkan dosa itu, kecuali Tuhan sendiri yang menjelma dalam manusia Yesus demi keselamatan manusia. Yesus sang penebus dosa.

Jadi, sesungguhnya baik Yesus maupun Muhammad keduanya sebagai 'juru selamat', tapi dalam konsep dan formula yang berbeda. Keduanya merupakan instrumen Allah untuk melakukan misi keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia. Dalam konteks Yesus, iman Kristen meyakini penyatuan Tuhan dan Yesus dalam menaklukkan dosa manusia. Yesus ialah firman yang hidup mendunia. Jesus is the way. Paham yang ortodoks, Jesus is the only way.

Dalam konteks Muhammad, kehadiran Allah melalui firman-Nya yang terhimpun dalam Alquran. Jadi, Alquran ialah firman yang kemudian tertulis, lalu Muhammad sebagai perantara dan juru tafsirnya.

Karena mengingat Yesus dan Muhammad lebih daripada sekadar tokoh sejarah, melainkan figur metahistoris yang direspons dengan sikap iman oleh pengikut mereka, pembahasan terhadap kedua tokoh itu mesti dibedakan, apakah kita akan mendiskusikannya dalam jalur historis-ilmiah ataukah akan mendekati secara iman. Ini dua hal yang berbeda.

Sikap yang pertama banyak dilakukan ilmuwan di Barat sekalipun belum tentu sebagai pribadi yang taat beragama. Mereka mengkaji semata sebagai riset ilmiah. Pendekatan kedua, yakni sikap dan pilihan iman, sudah tentu justru hanya akan menimbulkan tengkar jika umat Islam dan Kristen memaksakan keyakinan masing-masing agar diterima pihak lain.

Keyakinan beragama itu melampaui nalar matematis. Tidak mungkin ditemukan pendapat dan kesimpulan akhir yang sama dan seragam. Makanya kata religions selalu berkonotasi plural, jamak, karena di muka bumi memang terdapat pluralitas agama yang tidak mungkin dilebur menjadi satu.

Sekali lagi, karena faktor kesejarahan, sejarah Muhammad memang lebih terang benderang di mata kritikus sejarah. Riwayat hidupnya, sejak lahir sampai wafat, semua mudah ditelusuri jika dibandingkan dengan sejarah Yesus. Namun, karena keduanya pembawa mukjizat Ilahi, yang membuat mereka berpengaruh pada dunia bukan soal akurasi tanggal lahir dan wafat, melainkan ajaran mereka.

Berapa miliar penduduk bumi yang meyakini telah mendapatkan jalan keselamatan dan kebahagiaan oleh kehadiran Yesus dan Muhammad? Tak terhitung orang tumbuh menjadi orang baik, menjadi penolong sesama, karena terinspirasi oleh kedua tokoh itu.

Sementara itu, ada saja yang terlibat permusuhan dengan dalih membela kedua tokoh itu, padahal keduanya mengemban misi yang sama. Instrumen Tuhan untuk menyebarkan kasih dan membangun peradaban. Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. (X-9)

Rasulullah Muhammad SAW

: kumpulan hikmah dari laman facebook Agus Mustofa

RASULULLAH MUHAMMAD SAW

'Sang Al Qur'an berjalan' itu
telah meneladankan seluruh isi Al Qur'an
6,236 ayat tak ada yang terlewatkan
dia jalankan sepanjang kehidupannya

Maka dia pun menjadi manusia mulia
yang akhlaknya dipuji-puji oleh Allah
dan para malaikat bershalawat untuknya

Bagaimanakah dengan kita, para pengikutnya?
Sudah berapa ayatkah yang telah kita jalankan
untuk mencahayai jalan kehidupan kita..?

''Wahai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu.
Dan telah Kami turunkan kepadamu CAHAYA
yang terang benderang (Al Quran).

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah
dan berpegang teguh kepada (petunjuk)-Nya
niscaya Allah akan memasukkan mereka
ke dalam RAHMAT yang besar dari-Nya
dan limpahan karunia-Nya. Serta menunjuki mereka
kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.''
[QS. An Nisaa' (4): 174-175]

~ salam 'mengenang maulid sang nabi' ~

: :

KEBENARAN sejati Islam tersimpan
hanya di dalam Al Qur'an, Firman-Nya
dan 'sang Alqur'an berjalan', utusan-Nya

Selebihnya, adalah 'tafsir kebenaran'
yang bercampur aduk dengan budaya
dan berbagai kepentingan yang menyertainya

''Dan Al-Quran itu adalah kitab (petunjuk)
yang Kami turunkan yang diberkati.
Maka, IKUTILAH dia dan bertakwalah
agar kamu diberi RAHMAT.''
[QS. Al An'aam (6): 155]

~ salam ~

: :

MANAKAH yang lebih Islami, menurut Anda:
Islam Arab Saudi, Islam Iran, Islam Mesir,
Islam Turki, Islam Iraq & Syria, Islam India,
Islam Pakistan, Islam China, Islam Afganistan,
ataukah Islam Indonesia..?

Niscaya, setiap mereka memiliki argumentasi
untuk membenarkan diri sendiri-sendiri...

''(Sebenarnya) jikalau Tuhanmu menghendaki,
tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu,
Namun (toh) mereka senantiasa berselisih pendapat,
kecuali orang-orang yang diberi RAHMAT oleh Tuhanmu...''
[QS. Huud : 118-119]

~ salam ~

: :

ISLAM hadir tidak di 'ruang kosong' peradaban
Mengalir bersentuhan dengan tradisi, budaya,
dan agama-agama pendahulunya...

Dengan budaya Jahiliyah menjadi 'Islam Arab Saudi'
Dengan budaya Persia menjadi 'Islam Iran'
Dengan Hindu-Budha menjadi 'Islam India-Pakistan'
Dengan Konghucu menjadi 'Islam China'
Dengan Budaya Nusantara menjadi 'Islam Indonesia'
Dengan Kristen menjadi 'Islam Turki & Eropa'
Dengan Atheisme dan peradaban modern
menjadi 'Islam Global' yang logis-rasional ...

Semuanya 'baik-baik' saja,
selama bertuhan hanya kepada Allah
dan berteladan kepada Rasulullah SAW...

~ salam ~

: :

Yahudi yang bertuhan kepada Allah
Itulah Islam...
Kristen yang bertuhan kepada Allah
Itulah Islam...
Budha yang bertuhan kepada Allah
Itulah Islam...
Hindu yang bertuhan kepada Allah
Itulah Islam...
Konghucu yang bertuhan kepada Allah
Itulah Islam...
Kejawen yang bertuhan kepada Allah
Itulah Islam...
Jahiliyah yang bertuhan kepada Allah
Itulah islam...
'Atheis' yang bertuhan kepada Allah
Itulah Islam...

Caranya bagaimana?
Meneladani Rasulullah Muhammad saw...

~ salam ~

: :

Sebagian besar umat Islam
merasa lebih penting menjalankan
'ibadah personal' kepada Tuhan
dibandingkan 'ibadah keumatan'
yang bisa mengubah kualitas peradaban.

Sebagian kecil yang lain
berusaha melakukan ibadah keumatan
tetapi dengan cara dogmatis dan doktrinal
yang tak jarang menghalalkan jalan kekerasan

Maka jangan heran, dewasa ini,
umat Islam belum juga menjadi umat teladan
yang membawa rahmat bagi seluruh alam
sebagaimana yang Allah & Rasul-Nya ajarkan...

~ salam 'mengubah mindset' ~
Kebijaksanaan di dalam tindakan-Ku menciptakan engkau adalah untuk melihat bayangan-Ku dalam cermin jiwamu, cinta-Ku dalam hatimu. (Nabi Muhammad Saw.)
Yaa Allah, hanya rahmat Engkau-lah yang aku harapkan, karena itu janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata pun dan perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan selain Engkau. (Rasulullah Muhammad saw.)

Sekilas Tentang Isra Mi'raj

dari dinding FB Alfathri Adlin
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Israa: 1)
Dalam banyak kesempatan, Guru saya sering menceritakan kepingan-kepingan hikmah peristiwa Isra Mi’raj. Saya mencoba merangkum kembali semua kepingan yang pernah beliau ajarkan kepada saya sebagai berikut.

Dalam bukunya, Imam Al-Qusyairi menjelaskan bahwa secara kebahasaan “Mi’raj” itu berarti “Sullam” (tangga). Bentuk jamaknya adalah “Ma'aariij” dan “Ma'aarij”, seperti “Mafaatiih” dan “Mafaatih”. Sedangkan bentuk tunggal “Ma'aarij” adalah “Mi'raj”, seperti “Mirqaah”, kemudian dibaca “Mi'raaj”, dan bentuk jamaknya “Ma'aariij”, seperti “Miftaah” yang bentuk jamaknya adalah “Mafaatiih”. Sedangkan “Ma'raj” bentuk jamaknya adalah “Ma'aarif” seperti “Maftah” yang bentuk jamaknya adalah “Mafaatih”. “Al-Ma'aarij” adalah “Al-Mashaa'id” (tempat naik).

Sebagaimana yang kita ketahui, peristiwa Isra Mi’raj dialami oleh Rasulullah Muhammad saw saat berusia 53 tahun (13 tahun dari awal masa kenabiannya), dan terjadi di tengah-tengah tahun kedukaan, di titik terberat hidup beliau saw di Mekkah, setelah meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah, dan pada saat umat muslim mengalami “embargo” dari kaum kafir.

Namun, setelah peristiwa Isra Mi’raj, hal berat lainnya yang harus beliau saw hadapi—tentu saja selain kaum kafir saat itu akan menyangkalnya—adalah keraguan sesaat dari para sahabat. Pada saat Rasulullah saw menceritakan peristiwa tersebut kepada para sahabat, mereka umumnya terdiam dulu sesaat sebelum kemudian membenarkan, kecuali satu orang yang langsung membenarkannya, yaitu Abu Bakar. Karena peristiwa itulah maka Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq. Itulah peristiwa yang menandai bahwa Abu Bakar telah menjadi seorang yang mencapai ma’rifatullah, karena sebagaimana tertuang dalam Al-Quran:

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu Shiddiqin dan Syuhada di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.” (QS Al-Hadiid 19)

Bisa dibilang bahwa beriman kepada Allah tidaklah sulit, karena akan beriman manusia kepada Allah hingga datang seorang Rasul. Beriman kepada Rasul adalah perkara yang lebih berat, karena manusia akan terantuk pada sosok manusiawi mereka yang tak jarang sukar dimengerti. Misalnya, bukankah sulit untuk mengimani Nuh ketika dia malah membuat perahu di kaki bukit, dan bukannya di pinggir laut? Bukankah sulit untuk mengimani Khidir saat dia melubangi perahu dan membunuh anak kecil? Bukankah sulit mengimani Ibrahim saat dia meninggalkan istri keduanya beserta bayinya di padang pasir tak berpenghuni tanpa sumber air, dan setelah bayi itu dewasa Ibrahim malah hendak menyembelihnya, dan sebagainya, dan sebagainya. Karenanya tak heran bahwa hanya mereka yang sudah mencapai tingkatan Syuhada dan Shiddiqin saja yang bisa mengimani Allah dan Rasul.

"Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya…" (QS Al-Ahzab: 24)

"Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah al-muttaquun." (QS Az-Zumar: 33)


(Hari-hari ini, kita sering melihat orang saling berbunuh-bunuhan justru karena merasa paling benar dan bahwasanya tindakannya itu benar. Lagi pula semua pengajian pasti akan selalu mengaku benar, tidak akan ada pengajian yang mengaku sebagai pengajian sesat, sebagaimana kecap juga selalu mengklaim sebagai kecap No. 1)

Itulah gambaran hal yang harus Rasulullah saw hadapi setelah mengalami peristiwa Isra Mi’raj, mulai dari penolakan kaum kafir hingga keraguan sesaat dari para sahabat, namun penghiburan itu datang dari Abu Bakar yang mulai saat itu mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Sekilas Tentang Isra Mi'raj (02)

Isra itu adalah perjalanan malam, sebuah perjalanan vertikal. Mudahnya, Isra itu adalah semacam napak tilas perjalanan Bani Israil yang menunjukkan keterkaitan nubuwah Rasulullah Muhammad saw dengan apa-apa yang pernah diturunkan di kalangan Bani Israil. Terlebih secara silsilah, beliau saw (sebagai nabi tertinggi) juga merupakan keturunan dari nabi besar Ibrahim as. Namun, karena beliau saw lahir dari Hajar, isri kedua yang merupakan budak pemberian dari Raja Mesir, maka itu pulalah salah satu hal yang membuat kaum Yahudi memandang rendah Rasulullah saw. Pasalnya, kaum Yahudi merasa bahwa mereka lahir dari garis keturunan Sarah, istri pertama Ibrahim yang berasal dari kalangan ningrat dan bukan budak, dan dari rahim Sarah ini pulalah lahir garis keturunan raja-raja Bani Israil.

Namun, justru dalam status Hajar sebagai budak itulah Allah menyimpan sebuah hikmah besar. Bukankah kemuliaan manusia di hadapan Allah adalah justru saat dia menjadi hamba atau “budak” Alllah Ta’ala? Rasulullah saw memang lahir dari “garis budak”, dan coba perhatikan kehidupan beliau saw: beliau makan seperti orang biasa, tidak seperti para raja di istana, beliau bergaul dengan para sahabatnya sebagai orang biasa dan bukan sebagai raja kepada bawahannya, dan seterusnya.

Isra itu sendiri menunjukkan kesinambungan antara jalan yang telah dibukakan sebelumnya oleh para nabi Bani Israil untuk kehadiran nabi tertinggi dan penutup nubuwah keagamaan, yaitu Nabi Muhammad saw.

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah yang dengannya Kami teguhkan fu‘ad-mu…” (QS Huud [11]: 120)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran (ibrah) bagi orang-orang yang mempunyai lubb (ulil albab)…” (QS Yusuf [12]: 111)


Guru saya pernah menguraikan perbedaan ibrah dan hikmah. Secara bahasa, ibrah berasal dari abara yang artinya menyeberangkan atau menembus (seperti jarum). Sementara hikmah berasal dari hakama yang artinya (meng)hukum(i). Dikatakan bahwa kisah para nabi mempunyai ibrah, maksudnya, ada pelajaran tersembunyi yang harus diambil dengan cara “ditembus”. Sementara hikmah lebih merupakan hukum yang, bisa dikatakan, menunjukkan keberpolaan hukum. Menyerupai rotasi elektron mengelilingi proton dan netron yang berulang hingga pola rotasi planet mengitari matahari. Namun, baik ibrah maupun hikmah itu hanya bisa diperoleh oleh mereka yang mempunyai lubb atau ulil albab (QS Al-Baqarah [2]: 269.)

Dalam Islam, kisah kenabian itu tersebar di Al-Quran dan hadis, namun berbentuk fragmen tak utuh. Oleh generasi berikutnya, berbagai fragmen itu berusaha dirangkai utuh menjadi kisah. Berbagai kisah kenabian tersebut sering tak disadari sebenarnya menampilkan ketidaklinieran dan keganjilan perbuatan para nabi. Namun, dibaliknya tersimpan ibrah dan hikmah yang kaya. Bahkan Ibn ’Arabi pun dianugrahi kitab Fushush Al-Hikam yang memaparkan berbagai hikmah kenabian tersebut.

Salah satu hikmah kenabian yang orisinil dan kokoh adalah seperti dipaparkan oleh Guru saya yang mengungkapkan bahwa kisah para nabi—dari Adam as hingga Rasulullah Muhammad saw—merepresentasikan perjalanan setiap nafs (jiwa) manusia dalam menuju Allah. Dimulai dari kejatuhan manusia ke dalam dosa (nabi Adam) hingga berhasil menemukan misi hidupnya dan beramal shalih dalam misi hidup tersebut (Rasulullah Saw). Berikut adalah penggambarannya secara singkat, melompat-lompat dan global (karena merincinya tidak dimungkinkan dalam tulisan ini):

Untuk konteks Isra Mi’raj ini kita akan langsung menyoroti dari mulai Ibrahim as dengan babak tentang “tanah yang dijanjikan” dan pencarian Ibrahim akan tanah tersebut hingga meninggal. Tanah yang dijanjikan itu merupakan simbolisasi dari qalb. Dari Ibrahim, pencarian itu dilanjutkan oleh Ishaq as dan Yaqub as, dan ”terbelokkan” pada Yusuf as yang membawa alurnya ke arah “Mesir”.

Dalam kisah Yusuf episode dia dibuang ke dalam sumur oleh kakak-kakaknya, dan episode dimasukkan ke penjara bawah tanah. Kisahnya tersebut menyoroti aspek “keterpenjaraan di bawah tanah” yang menyimbolkan kondisi nafs yang terpenjara di dalam jasad. Dari Yusuf, kita beralih ke Musa as. Ibn ‘Arabi memaparkan bahwa Mesir adalah simbol dari Madinatul Badan, atau bisa digambarkan juga sebagai “kehidupan dunia”. Di Mesir ini terjadi peristiwa perbudakan Bani Israil dan pembunuhan semua anak laki-laki oleh Fir‘aun dan keluarganya, dan membiarkan anak perempuan hidup. Itulah simbol terjadinya pembunuhan nafs dan membiarkan jasad hidup. Karena itu, datanglah Musa mengajak untuk hijrah kembali kepada pencarian “tanah yang dijanjikan”. Inilah fokus kisah Musa. “Yusuf” yang terpenjara di “bawah tanah” telah diangkat keluar, kemudian dibawa berhijrah dari keburukan kepada kebaikan. Inilah permulaan baru, karena nafs terbangkitkan dari keterpenjaraannya.

Dari Musa kita melompati dulu kisah Yusa as—yang meruntuhkan benteng Yerikho sebagai simbol hancurnya hijab qalb—langsung ke Dawud as. Seluruh hidup Dawud lebih banyak dihabiskan dengan berperang. Kisah hidup Dawud ini menyimbolkan tahap jihad akbar melawan hawa nafsu di “tanah yang dijanjikan” (qalb). Saat “Bani Israil” (yaitu, para salik) tiba di “tanah yang dijanjikan” (qalb), mereka mendapati di atasnya telah berdiri berbagai “kerajaan”—yang melambangkan berbagai hawa nafsu dalam qalb manusia. Di tahap ini, seorang salik harus melakukan jihad akbar untuk menaklukan berbagai “kerajaan hawa nafsu” yang sudah sekian lama bercokol di qalb-nya. Dari sini, kita beralih ke kisah hidup Sulaiman as.

Sulaiman adalah raja Bani Israil terbesar yang memerintah bukan hanya manusia, tetapi juga kalangan jin. Allah menganugerahinya kemampuan untuk berbicara dengan binatang. Hal yang paling penting dari aspek Sulaiman adalah saat membangun Baitullah untuk Bani Israil, sebuah bait di mana tidak ada yang disembah di dalamnya selain Allah. Begitu pula halnya dengan qalb manusia. Setelah jihad akbar, qalb pun berhasil dikuasai sepenuhnya, barulah di sini seorang salik bisa berkata “La ilaha ilallah”. Dari Sulaiman kita melompati dulu beberapa nabi dan langsung ke kisah Isa as.

Dalam Al-Quran, Isa seringkali didampingkan dengan penisbatan Rûh Al-Quds. Kisah Isa menjadi simbol bagi salik yang telah mencapai “Awal ad-din (agama) adalah mengenal Allah” yang sejalan dengan hadis: “Barangsiapa mengenal nafs-nya, maka sungguh dia akan mengenal Rabb-nya.” Gelarnya pun adalah syuhada, yaitu seseorang saksi Allah yang benar, serta terkait dengan peristiwa persaksian primordial (QS Al-A‘raf [7]: 172) dan hakikat syahadat. Dari sini, salik melangkah ke tahap tertinggi yang disimbolkan melalui kehidupan Rasulullah Muhammad saw sebagai representasi ke-shidiqin-an atau orang yang telah paripurna beramal dalam misi hidup yang Allah amanahkan unik pada tiap individu. QS Al-Hadid [57]: 19 menegaskan bahwa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hanyalah Syuhada dan Shidiqin.

Maka, hikmah Isra sebagai “perjalanan horisontal” bagi kita sebagai umat Rasulullah Muhammad saw adalah “perjalanan untuk membaca aspek-aspek jasadiah dalam upaya pengenalan diri, untuk merangkai kepingan puzzle yang bisa dirangkai secara lahiriah untuk membaca diri sendiri. Mudahnya, Isra adalah perjalanan mengindentifikasi diri secara ragawi dalam upaya untuk menemukan misi hidup yang Alllah amanahkan secara unik kepada tiap-tiap individu pada saat penciptaan. Karenanya, secara mudahnya, bisa dikatakan bahwa Isra adalah pencarian horizontal di aspek jasadiah. Sementara dalam konteks Rasullah saw, Isra adalah pengaitan antara nubuwah beliau saw, sebagai batu bata terakhir dari “bangunan kenabian pembawa agama” dengan nubuwah para Nabi dari Bani Israil sebelumnya.

Sekilas Tentang Isra Mi'raj (03)

Kemudian beralih ke Mi’raj, yang merupakan perjalanan dari Baitul Maqdis menuju Sidhratul Muntaha. Dan ini pun masih ada kaitannya dengan Bani Israil, yaitu, bahwasanya jalur untuk Mi’raj yang digunakan oleh Rasullah saw adalah jalur yang pertama kali ditemukan oleh Nabi Yaqub as. Peristiwa Nabi Yaqub as tersebut tertuang dalam Kitab Kejadian 28: 10-22.

--------------------

Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran.
Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.
Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.
Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.
Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu."
Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya."
Ia takut dan berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga."
Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya.
Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.
Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,
sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.
Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu."

--------------------

Rasulullah saw menggunakan tangga Yaqub untuk menuju Sidhratul Muntaha. Dan harus diingat, bahwa gelar yang diberikan kepada Nabi Yaqub dari Allah adalah Israil, yaitu, "berjalan di tengah malam menuju Allah".

Seringkali jalur itu disebut juga sebagai “Tangga Yaqub”, namun jangan Anda memahami bahwa itu adalah tangga harfiah, karena seperti dijelaskan di atas, Mi’raj itu secara kebahasaan adalah “Tangga” dan juga “Tempat Naik”. Tempat “Tangga Yaqub” ini pernah hilang dan tidak diketahui lagi oleh Bani Israil, namun kemudian tempat itu ditemukan kembali oleh Nabi Dawud as. Hal serupa pernahh terjadi juga pada Bani Quraisy yang kehilangan mata air Zamzam, dan kemudian ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib. “Hilangnya” tempat “Tangga Yaqub” dan “Mata Air Zamzam” itu, oleh Guru saya dijelaskan sebagai hilangnya sumber pengetahuan kebenaran di kedua umat itu.

Nah, dalam Mi’raj itulah Rasullah saw bertemu dan bercakap-cakap dengan Allah Ta’ala dan mendapatkan perintah shalat. Seperti kita ketahui semua bahwa Shalat adalah Mi’raj-nya orang Mukmin. Bagi kita, umatnya Muhammad saw, adalah proses kita naik ke tataran jiwa hingga ruh untuk mencapai ma’rifat atau pengenalan diri beserta misi hidup unik yang Allah amanahkan kepada tiap-tiap individu.

Pada kenyataannya, sulit bagi manusia untuk menumbuhkan benih kemisian tersebut jika tanah tempat tumbuhnya benih tersebut merupakan tanah yang gersang, dan bumi diri yang kering dari hujan rahmat Tuhan. Hanya dengan dua bagian rahmat-Nya-lah manusia dapat menempuh jalan pensucian dan disucikan (al-muthaharûn). Karena kesuburan sang muthaharûn pula maka benih ketetapan-Nya dapat dikenali (ma‘rifat) dan dipersaksikan (syuhada) untuk kemudian ditumbuhkan dan berbuah (bagi sesama manusia dan bagi semesta alam), hingga jadilah manusia sebagai kalimah-Nya. Misi nafs harus ditemukan dan dijalankan di bumi ini, tidak ada perubahan dalam misi nafs karena bakat langit nafs merupakan fithrah yang tidak berubah, dan sebagian besar manusia tidak mengetahui ketetapan dirinya karena hatinya dipenuhi dosa.

Meskipun setiap individu memiliki benih serta misi yang spesifik dan unik, namun perlu dikaji pola yang umum berlaku dalam rangka mencapai persaksian dan kedekatan dengan Tuhan. Pintu masuk menuju hal ini adalah pada perkara bagaimana menemukan tatanan yang senantiasa tertanam dalam diri manusia (innate), yaitu struktur insan dalam kaitannya dengan perjalanan menuju Tuhan. Pemahaman tentang struktur insan amat berpengaruh dalam membentuk struktur keberagamaan, karena manusia adalah makhluk yang berproses dan berkembang, baik lahir maupun batin di mana proses tersebut ada polanya. Pola proses inilah yang amat penting dipahami seorang salik, sehingga dia bisa mengukur posisi perjalanannya menuju Allah dan membangun keberagamaannya dengan struktur yang benar dan sesuai kehendak Allah. Proses ini dikenal di kalangan kaum shufi dengan istilah ‘uruj (mi’raj), yaitu proses berpindahnya atau naiknya kesadaran manusia, dari satu kesadaran ke kesadaran lain sehingga faktor kendali kehidupan seseorang senantiasa berpindah sejalan dengan ‘uruj.

Jasad → Nafs → Qalb → ‘Aql → Sirr → Ruh → Khafa’ → Akhfa’

Ini adalah proses manusia untuk mengenal Rabb-nya, yang harus diawali dengan kesadaran atas keberadaan nafs dalam jasadnya sebagai jati diri yang sebenarnya.

Dengan bermujahadah pada proses tazkiyyatun-nafs, maka instrumen mata dan telinga batin (nafs) akan mulai bangun secara bertahap. Seperti bangunnya akal jasadi pada bayi oleh tumbukan terus menerus citra alam dunia melalui indera mata dan telinganya, maka pengendalian mata dan telinga jasmani dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta‘ala akan mencergaskan kembali penglihatan dan pendengaran si nafs, dan dengan sehatnya dua indera batin tersebut akan mulai mengaktivasi akal jiwa (lubb). Manusia yang lubb-nya hidup dinamai sebagai Ulul-Albâb, dan hanya Ulul-Albâb yang bisa memahami kalimah Ilahiyah di alam semesta.

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali Ulul-Albâb.” (Al Baqarah [2]: 269)

Proses ‘uruj tadi merupakan proses taubat, di mana makna taubat adalah perjalanan kembali menuju Allah, merupakan proses ditariknya si hamba mendekat kepada-Nya, dan ini akan melampaui semesta alam-alam, karena jarak antara si hamba dengan Dia adalah tak hingga. Dan tidak ada alam yang ia lampaui, kecuali lubb-nya akan menguasai urusan-urusan di alam tersebut. Siapa yang bertaubat (kembali kepada Allah) maka itu baru awal dari hidayah (pemberian petunjuk), dan siapa yang tidak mencari Allah (tidak bertaubat) maka mendzalimi dirinya sendiri.

“Dialah yang memperlihatkan kepadamu ayat-ayat-Nya dan menurunkan kepadamu rizki dari langit (jiwa). Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang bertaubat(kembali).” (Al-Mu’min [40]: 13)

“Dan sesungguhnya Aku menjadi Maha Pengampun bagi mereka yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, kemudian atasnya petunjuk.” (Thaha [20]: 82)
“Siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Hujurat [49]: 11)

Dalam Al-Quran, bumi itu juga melambangkan jasad. Bumi bisa kita ubah-ubah, seperti halnya gunung bisa kita hancurkan, lereng bukit kita ubah menjadi sawah, dan seterusnya. Itu menggambarkan bahwa jasad kita memang mudah untuk diubah-ubah, karena seperti halnya bumi, maka kita bisa saja merekayasa identitas dan autentisitas menjadi berubah-ubah dan relatif. Bahwa secara jasadiah kita bisa menyangkal bahwa tak ada autentisitas dan ketetapan misi hidup yang sudah Allah gariskan atas diri kita karena sifat jasad kita sama seperti bumi yang bisa kita ubah dan bahkan rusak.

Namun, dalam Al-Quran, langit pun melambangkan jiwa. Dan sebagaimana kita tak bisa seenaknya mengubah-ubah rasi bintang, jalur rotasi planet, bahkan semata ingin membentuk awan, maka begitu pulahal jiwa manusia. Kesejatian manusia terpendam di aspek jiwa ini, bukan di aspek jasad yang seringkali hanya berupa tanda-tanda saja. Karenanya, bagi kita sebagai umat rasulullah Muhammad saw, konteks Mi’raj adalah perjalanan ke aspek batin kita untuk mencari kesejatian diri kita.

Demikianlah salah satu hikmah Isra Mi’raj yang pernah diajarkan kepada saya oleh Guru saya. Tentu semua kesalahan pemaparan adalah kesalahan saya yang tidak mampu mengingat semua detailnya, namun ini saya tuliskan sebagai sebentuk kebersyukuran saya karena telah dipertemukan dengan Guru almarhum dan Guru saya saat ini yang menjelaskan semua paparan di atas. Alhamdulillahi Rabbil Allamin.

Wallahu ‘alam bishawwab.

Tugas/Peran Nabi Menurut Qur'an

Oleh Akhmad Sahal - dari facebook.com

Apa saja yang BUKAN merupakan tugas kenabian Muhammad SAW?

Nabi BUKAN sang pemaksa (Jabbar) terhadap umatnya. Juga bukan sosok yang punya wewenang memaksa (musaythir) thd umatnya. Artinya, peran Nabi bukanlah sebagai penguasa yang punya kekuatan pemaksa (coercive power).

Nabi juga BUKAN seorang hafidz, juga bukan wakil. Artinya: Nabi bukanlah pengawas yang sibuk monitoring umatnya. Boro-boro sbg polisi syariah. Sangat tidak.
Nabi juga bukan orang yang mesti memikul/menanggung perilaku umatnya, karena masing2 bertanggung jawab atas perilakunya sendiri-sendiri.

Simaklah ayat2 di bawah ini:

Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta'ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta'atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS 4:80)

"Dan kaummu mendustakannya (azab), padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: 'Aku ini bukan orang yang diserahi (untuk) mengurus urusanmu'." – (QS.6:66)

"Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(-Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi Barangsiapa yang menta'ati mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka." – (QS.6:107)

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS 10: 99)

Katakanlah:` Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu untuk kecelakaan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu `.(QS 10: 108)

Rabb-mu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu, jika Dia menghendaki, dan Dia akan mengazabmu, jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka (atas semua perbuatannya)." – (QS.17:54)

"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an), untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya, dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali, bukanlah orang yang bertanggung-jawab terhadap mereka." – (QS.39:41)

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (QS 88:21-22).

Lantas, apa tugas kenabian Muhammad SAW menurut AlQur'an?

Nabi digambarkan semata-mata sebagai pemberi peringatan (nadzir, mundzir). Juga sebagai pemberi kabar baik (basyir). Tugas Nabi hanyalah menyampaikan risalah/pesan wahyu dari Allah (balagh).

Simaklah ayat2 ini:

"Jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus kamu, sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)...(QS42:48)

Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, dan engkau bukanlah seorang yang berkuasa memaksa mereka. Oleh itu, berilah peringatan dengan Al-Qur'an ini kepada orang yang takutkan janji azab-Ku. (QS 50:45)

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (QS 88:21-22).

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfa'atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS7:188)
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. (QS 11:12)

Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (QS 13:7).

Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu". (QS 22: 49)

Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata". (QS 38:70)

Dan ta'atlah kamu kepada Allah dan ta'atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS5:92)

Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. (QS 7: 184)

Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS 16:82)
Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur'an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (QS 17:105)

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS25: 56)

Dan supaya aku membacakan Al-Qur'an (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan". (QS 27:92)

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.(QS 33: 45-46)

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS: 34:28)

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS 35:24)

Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan". (QS 46:9)

Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (QS 48:8)

Dan ta'atlah kamu kepada Allah dan ta'atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS 5:92)

Kesimpulan

Kalau umat Islam memang betul2 mau meneladani Nabi dalam menegakkan syi'ar Islam, mestinya mereka meneladani Nabi yang menegakkan Islam dengan cara DAKWAH. Esensi dakwah itu tidak lain adalah ajakan dan undangan kepada kebaikan. Namanya saja undangan. Tentu saja dengan cara sukarela. Kalau ada yang menolak seruan tersebut, maka itu menjadi tanggung jawabnya sendiri di akhirat kelak.

Syiar Islam dengan cara paksaan, intimidasi, kekerasan, "pentung-isme" sangatlah bertentangan dengan teladan Nabi Muhammad SAW seperti digambarkan Qur'an. Dengan kata lain: sangat tidak Qur'ani.

Meneladani Rasulullah

Oleh: Danarto, dalam Gerak-gerik Allah: Sejumput Hikmah Spiritual. Bab II Rasulullah, Teladan, Ibadat dan Surga. Risalah Gusti, 1996

Kebijaksanaan di dalam tindakan-Ku menciptakan engkau adalah untuk melihat bayangan-Ku dalam cermin jiwamu, cinta-Ku dalam hatimu. -Nabi Muhammad Saw.

Banyak sekali sabda Rasul yang bagus-bagus, berdasar wahyu, yang tidak terhimpun di dalam Al-Qur'an. Dengan demikian Al-Qur'an dan Hadis merupakan pasangan tak terpisahkan, menjadi pegangan ummat yang beriman. Hadis yang indah di atas itu, menunjukkan betapa Tuhan telah melukiskan belas kasih kepada Nabi-Nya (dengan demikian kepada seluruh ummatnya) yang tak terbayangkan di benak kita. Begitu besar perhatian dan cinta Tuhan kepada makhluk-Nya, lebih besar daripada perhatian dan cinta kita. Nabi adalah kekasih Allah, menjadi junjungan kita, yang kedudukannya berada di atas diri dan keluarga kita. Dari Hadis itulah kita dapat bercermin akan hidup sehari-hari Rasulullah. 

Seorang penyair India, Faqir Muhammad Machhi di Sindh, menyatakan bahwa Allah menganugerahi Nabi sejak di dalam kandungannya, 7 (tujuh) sifat: sabar, arif, sopan, ramah, tahu berterima kasih, cerdas, dan cinta. Lalu bagaimana kita bisa meneladani Rasulullah di abad 21 ini? Suatu abad yang sebenarnya cukup sulit untuk bisa dimengerti, di mana penindasan terhadap kemanusiaan terjadi di mana-mana, sementara tangan-tangan yang mampu menyetopnya, ternyata tidak melakukannya. 

Tujuh sifat yang sebagus-bagus sifat itu, tentu sangat dikenal, dan diantaranya juga kita miliki. Tetapi, jika semuanya itu digabungkan menjadi satu, dan merasuk di dalam sanubari kita, nah, itulah soalnya.

Manakah yang lebih luhur, misalnya, sabar atau cinta? Atau antara arif dengan cerdas? Banyak di antara kita yang bercita-cita menjadi kekasih Allah, lewat peneladanan perilaku Nabi, lewat tujuh sifat yang dipunyai Rasul. Mampukah orang-orang itu? Tentu hanya Allah yang tahu. Namun di antara kita itu telah banyak juga yang dikaruniai penglihatan batin yang cerdas, sehingga hidup mereka semakin terbimbing. Karunia beruntun Tuhan yang bersifat rohani dan jasmani itu biasanya makin mendorong seseorang untuk tambah dekat ke kehidupan Nabi, yaitu makin mendekatkan diri kepada Tuhan. Di sinilah lalu dikenal suatu pengembaraan yang tak berujung. Hanya Allah yang tahu ujungnya.

Tuhan telah berfirman dan kita telah mendengar firman itu. Bahkan terasa firman itu tersemat di hati kita. Katakanlah, kita telah memiliki tujuh sifat Nabi itu yang mampu menjabarkan firman itu, lalu apa tindakan kita melihat keadaan di sekeliling kita? Itulah soalnya. Kita sebagai manusia biasa, bisa jatuh bangun dalam mencoba meneladani perilaku Nabi. Namun api semangat Nabi selalu mendorong kita untuk tetap maju dalam meningkatkan harkat kehidupan kita. Cinta-Ku dalam hatimu, mampukah kita menjabarkan firman Allah kepada Nabi kita itu, ke dalam masyarakat yang telah menghidupi kita? Salah satu budaya yang hidup, yang sederhana, adalah kita diwajibkan untuk mencintai siapa pun, tanpa memandang golongan dan agama, persis cinta Nabi kepada sesamanya. 

Bertemu Rasulullah

Oleh: Danarto, dalam Gerak-gerik Allah: Sejumput Hikmah Spiritual. Bab II Rasulullah, Teladan, Ibadat dan Surga. Risalah Gusti, 1996
Siapa pun yang melihatku dalam mimpi, maka ia benar-benar telah bermimpi tentang aku. Sesungguhnya setan tidak dapat menyerupai diriku. Nabi Muhammad Saw.

Apakah Anda pernah bertemu Nabi Muhammad Saw.? Oh ya, pernah? Berapa kali? Satu kali? Dua kali? Berkali-kali? Sering? Setiap saat?

Alhamdulillah. Artinya Anda termasuk ummat yang diperhatikan beliau. Tak banyak tentu dari saudara-saudara kita yang telah bertemu Rasulullah di dalam mimpinya.

Merupakan kebahagiaan Anda bisa bertemu Nabi dalam tidur Anda, padahal Anda sendiri tidak pernah membayangkannya atau punya cita-cita yang demikian itu. Banyak yang mendambakan bisa mengalami peristiwa itu, tetapi bermimpi seperti itu tak mungkin dapat direkayasa. 

Itulah pertemuan yang sebenarnya dengan Nabi. Tak mungkin setan atau sejenisnya mampu menyamarkan pertemuan itu. Artinya, tidak akan pernah ada suatu kekuatan yangmampu menyamarkan diri---memba-memba---sebagai Nabi. Hal itu sudah dijamin Nabi, karena hukum kenabian itu abadi. Dan Nabi tidak memilih-milih ummatnya untuk ditemuinya. Siapa saja. Ya ulama, kiai, sarjana, seniman, negarawan, politisi, industriawan, jenderal, presiden, orang-orang biasa, laki-laki maupun perempuan.

Cerita-cerita tentang pertemuan itu bisa bermacam-macam, unik serta fantastik. Hanya saja, biasanya orang merahasiakan mimpinya itu, supaya tidak terjadi pembanggaan diri. Lain halnya bila untuk keperluan ilmiah, orang baru mau bercerita.

Misalnya, ada seorang yang dalam mimpinya melihat Rasul dengan wajahnya yang bercahaya. Lalu, sampai seminggu mata orang ini masih silau oleh cahaya wajah itu, sekalipun dalam keadaan jaga. Ada pula yang setiap hari Nabi mengunjungi seseorang, tak pandang golongan, tak pandang agama. Pernah pula Nabi menyelamatkan seseorang yang berniat aniaya terhadap dirinya sendiri. Ada pula cerita tentang seorang yang bekerja bahu-membahu dengan Nabi, bergotong royong dengan banyak orang mengerjakan sesuatu yang berguna bagi ummat.

Banyak cerita yang beredar sampai di zaman globalissi ini tentang keyakinan ketika seseorang dalam mimpinya bertemu Rasulullah. Itulah sebagus-bagusnya mimpi, itulah mimpi yang menjadi cita-cita, itulah hiasan hidup yang manis ketika kita punya jarak ratusan tahun dengan hidup Nabi kita itu. Suatu mimpi yang diyakini mendatangkan pahala bagi hidup seseorang. Suatu mimpi yang mengisyaratkan, Rasul menghendaki sesuatu kepada orang yang ditemuinya dalam keadaan tidur itu. Suatu mimpi yang memberi petunjuk pada jalan hidup seseorang.

Muhammad dalam Al Quran

Memperingati Maulid Nabi 1425


Disampaikan oleh Ustadz Muhammad Rusli Malik, disalin oleh Lutfah Ariana, Intan KD, Doni SF. (kalo ada yang salah, salahin yg nyalin ya….) dari: laatahzan.wordpress.com/

Nabi Muhammad memiliki popularitas yang lebih tinggi daripada Yesus disebabkan oleh beberapa hal :
  1. Disebutkan di setiap waktu adzan
  2. disebutkan dalam dzikir dan atau sholawat kepada Nabi Muhammad
  3. Banyak orang Islam menggunakan nama ‘Muhammad’sebagai nama depannya
Namun bukan hal tersebut yang penting bagi kita. Kita akan mempelajari bagaimana Nabi Muhammad dalam Alqur’an.Ada yang berpendapat, Nabi Muhammad lahir dan meninggal pada bulan yang sama (Rabiul Awwal). Coba dicek lagi, apakah hari dan tanggalnya juga sama? Dalam komunitas Nahdatul Ulama, dikenal adanya tradisi Khaul, yaitu peringatan hari wafatnya para Kyai/ulama.
Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an dijelaskan dalam beberapa surah berikut :

1. Surat Al-Fath (48) : ayat 29

Muhammad adalah utusan Allah
Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…..” (QS.48:29.terjemahan Al-Qur’an versi DEPAG).

1.1. Muhammad adalah utusan Allah

Muhammad sebagai Rasul Allah adalah sebagai subjek dan predikat dalam istilah Arabnya Mubtada’ dan Khobar.Ada 3 hal yang tidak terpisahkan untuk menjelaskan tentang ‘Muhammad adalah utusan Allah’, yaitu :
    1. Mursil : yang mengutus, yaitu Allah
    2. Risalah : yang dibawa oleh utusan tersebut, yaitu Al-Qur’an
    3. Rasul : utusan, yaitu Muhammad
Allah sebagai pengutus tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, karena Allah yang menciptakan materi ruang dan waktu. Dia tidak mungkin terikat pada ciptaanNya.
Risalah yang berasal dari Allah (disebut sebagai kalimat-kalimatNya) juga tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, sehingga risalah tersebut berlaku sepanjang masa secara universal. Rasul Allah, yaitu Muhammad. Apakah utusan tersebut terikat dengan materi ruang dan waktu? karena dia berbicara dengan Allah?

Menurut kepercayaan orang Nasrani, Yesus tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, karena Yesus adalah utusan Tuhan, membawa injil dari Tuhan, mempunyai sifat-sifat ketuhanan, dan dianggap sebagai anak Tuhan. Hal yang demikian tidak diterima dalam Islam. Dalam Islam, Isa dan Muhammad hanyalah utusan Tuhan, Muhammad tidak sama dengan Tuhan. Isa bukan anak Tuhan. Bukankah anak akan sama dengan ibu dan ayahnya? Anak manusia adalah manusia, anak Tuhan adalah Tuhan, sedangkan Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan.

1.2. Keras/Tegas terhadap kekufuran

Banyak penerjemah menerjemahkan kata al-kuffar pada QS 48:29 tersebut diatas sebagai orang-orang kafir. Tetapi menurut ust. Rusli, kata al-kuffar sebenarnya bermakna kekufuran, jadi lebih menekankan pada perbuatan kufur, bukan pada orang-orang kafir. 

Pertanyaan

Intan : ustadz, pada kitab terjemahan ini, al-kuffar diartikan sebagai orang kafir. Bagaimana ustadz bisa memberi terjemahan yang berbeda? Ini terasa penting, karena ‘orang-orang kafir’ dan ‘kekufuran’ adalah dua hal yang berbeda.

Ustd. Rusli : Untuk menyebut ‘orang kafir’, Alquran pada ayat yang lain menggunakan kata Al-kafir. Silahkan melihat QS. 5 : 54.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Pada QS. 48:29, Alqur’an menggunakan kata-kata: Asyiddaau ‘alaa al-kuffaar (keras terhadap kekufuran). Ayat tersebut dimaknai sebagai sikap keras terhadap segala perbuatan kufur, yaitu segala perbuatan yang mendistorsi lahirnya masyarakat adil dan sejahtera, atau dalam bahasa agama, perbuatan yang melanggar perintah Tuhan. Misalnya : narkoba berkeliaran dimana-mana, sehingga membuat orang cemas, orang mabuk mengganggu ketrentaman masyarakat, dsb. Pada QS. 5 : 54 Alqur’an menggunakan kata-kata:a’izzatin ‘ala al-kaafiriin (keras terhadap orang-orang kafir). A’izzatin berasal dari kata aziz, yaitu tegas, perkasa, atau keras dalam konotasi positif. Maka ‘keras terhadap orang-orang kafir’ dalam ayat tersebut menggambarkan sikap teguh pada prinsip, penuh harga diri, bermartabat, tidak lemah atau rendah diri terhadap orang-orang kafir, dan bukan dimaksudkan sebagai sikap yang kasar kepada orang-orang kafir. “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…..”bekas sujud itulah yang kita sebut sebagai inner beauty. Hilang semua yang negative dari dalam diri.

Kesimpulan : seorang muslim harus bersikap keras terhadap segala bentuk kekufuran, dan bersikap tegas namun tetap menjaga ahlaq terhadap orang-orang kafir. 

2. Surat Al-Kahfi (18) : ayat 110 

Muhammad adalah manusia biasa

Katakanlah kepada mereka “ Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa’. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia persekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS.18:110 versi Depag). 

Penggunaan kata “Qul” menandakan adanya opini atau persepsi akan sesuatu yang telah berkembang sebelumnya. Kata “Qul” digunakan untuk menanggapi atau membantah opini tersebut. Misalnya penggunaan kata ‘Qul’ pada QS. 112:1, yang merupakan bantahan terhadap persangkaan kaum kafir Quraisy bahwa Tuhan itu ada tiga, bahwa malaikat adalah anak-anak Tuhan. “katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa” (QS. 112 : 1)

Pada QS.18:110 diatas, kata “Qul” digunakan untuk menegaskan bahwa Muhammad adalah manusia biasa (lupa euy, apa ya, persepsi yang berkembang untuk Muhammad sebelumnya?). pada ayat tersebut Muhammad menyebut Ana (aku) untuk dirinya. Ini adalah satu-satunya ayat dimana Muhammad menyatakan dirinya dengan jelas, ‘aku’. Kata ‘Basyarun’ bermakna : manusia biasa, manusia yang sama secara biologis, genetic, psikis dengan manusia lain, manusia yang juga bisa sakit, terluka, berdarah, bersedih, menangis, menikah, berketurunan, mati, dan lain-lain.

Maka Muhammad tidak beda dengan manusia yang lain. Dengan kata lain, kita yang merupakan manusia biasa ini mempunyai potensi dan kesempatan untuk dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan Muhammad, kita mempunyai potensi untuk meneladani Muhammad. So, jangan sering-sering bilang, ‘ah, itu kan nabi, sedangkan saya bukan nabi’ dalam rangka membela diri (ini tambahan dari gue:p).

Maka Muhammad juga terikat dengan materi ruang dan waktu. Artinya, walaupun Risalah yang dibawa Rasul jelas-jelas tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, namun alat-alat untuk menerjemahkan risalah tersebut terikat oleh materi ruang dan waktu.
Sebagai contoh : ‘kebersihan’ tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dimana dan sampai kapanpun, manusia akan mencintai kebersihan, dan perintah untuk menjaga kebersihan adalah abadi. Namun ‘menggunakan siwak sebagai alat kebersihan terikat oleh ruang dan waktu. Pada zaman sekarang kita dapat dan diperbolehkan untuk menggunakan benda lain sebagai pengganti siwak.
Contoh lain : ‘makanlah makanan yang halal dan baik (risalah) vs makan dengan 3 jari.
Contoh lain : ‘dilarang bersikap sombong’ (risalah) vs berpakaian diatas tumit.
Kesimpulan : yang harus diikuti secara mutlak adalah risalahNya, bukan penerjemahan terhadap risalah tersebut.


Sari : saya memperhatikan kalimat “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh…”, apakah itu berarti kita ada kemungkinan untuk dapat berjumpa dengan Allah?

Ustd. Rusli : Ya, tentu saja kita dapat berjumpa dengan Allah.

Farhan : bagaimana maksudnya? Berjumpa di dunia atau di akhirat?

Ustd. Rusli : di akhirat bisa, namun berjumpa di dunia juga bisa. Tetapi jangan salah memaknai, ‘berjumpa’ disini tidak sama dengan ‘melihat’. inti kebahagiaan itu ada pada berjumpa, bukan melihat.

Intan : kalau begitu, apa definisi ‘berjumpa’ disini?

Ustd. Rusli : berjumpa adalah menyatunya subjek dengan objek, menyatunya manusia dengan Tuhannya, kembalinya manusia pada Allah, pada asalnya. Ingat, manusia berasal dari Allah, Allah adalah sumber segala materi. Berjumpa tidak harus dengan menggunakan panca indra. Berbeda dengan melihat, ‘melihat’ membutuhkan panca indra, membutuhkan cahaya. Kita hanya dapat melihat benda-benda yang telah dikenai cahaya, kemudian memantulkan cahaya tersebut, sehingga terlihat oleh mata. Sdangkan Allah adalah cahaya diatas cahaya, manusia dapat berjumpa denganNya tanpa panca indra.

Sari : mungkin…, seperti yang digambarkan dengan ‘Allah sedekat urat lehermu sendiri?’

Ustd. Rusli : ya, kalimat itu menggambarkan betapa dekatnya Allah dengan manusia, bahkan tak berjarak, betapa Allah itu ada dimana-mana, bahkan ada di dalam diri kita sendiri. tidak ada tempat dimana Tuhan tidak terlibat.

Coba bayangkan saat ketika Allah masih sendirian, sebagai Yang Maha Terdahulu (Al Awal). Saat itu tidak ada satu zat-pun selain Allah itu sendiri. Kemudian Allah menciptakan alam semesta. Jangan berfikir ada zat lain yang dipakai Allah untuk meracik/menciptakan alam semesta, karena kalau sudah ada zat/bahan lain berarti Allah tidak sendirian, tidak sebagai Yang Maha Awal. Dan kenyataannya Allah menciptakan alam semesta ini termasuk manusia menggunakan sesuatu yang berasal dari Zat-Nya, merupakan bagian dari Zat-Nya!, tidak berasal dari luar Diri-Nya.Jadi hakikatnya Zat Allah meliputi seluruh alam semesta, ada pada setiap sel manusia. Makanya sampai ada sufi yang sudah memiliki tingkat keimanan dan kesadaran akan Allah yang tinggi sampai berujar “Saya ini Al Haq (Allah)”Jadi Allah Yang Maha Suci itu ada pada tangan kita, maka jangan kita kotori tangan kita dengan melakukan sesuatu yang dilarang Allah.

Farhan : siapakah yang dimaksudkan dengan ahlul bait (keluarga nabi)?

Ust. Rusli : umumnya yang dianggap sebagai ahlul bait adalah Ali bin Abi Thalib, Siti Fathimah, Imam Hasan dan Husein.

Rini : teman saya yang kristiani bertanya, mengapa kita umat Islam selalu mendoakan Nabi Muhammad, sedangkan umat kristiani tidak pernah mendoakan Yesus. Kemudian, menurutnya lagi, semua umat kristiani akan masuk surga, karena dosa mereka telah ditebus oleh Yesus. Bagaimana menurut Ustadz?

Ust. Rusli : kita tidak mendoakan Nabi Muhammad, yang ada, kita bershalawat kepadanya. Nabi Muhammad sesungguhnya tidak memerlukan do’a kita, sebaliknya kita bershalawat kepadanya demi kebaikan kita sendiri.Untuk pertanyaan kedua, itu hampir sama dengan pendapat sebagain orang islam yang mengatakan bahwa semua orang islam akan masuk surga. Saya pikir hal tersebut tidak sesuai dengan sifat keadilan Tuhan.

3. Surat Al-Ahzab (33) : ayat 21

Suri teladan yang baik 

sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu ) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. “ (QS. 33:21, versi DEPAG) 

mari kita perhatikan bahwa Alqur’an mengunakan kata Rasulullah pada ayat diatas, bukan kata Muhammad. Artinya, yang harus kita teladani adalah perbuatan-perbuatan keRasulannya yang tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, bukan perbuatan Muhammad sebagai manusia biasa yang terikat oleh materi ruang dan waktu . Sebagai contoh : Nabi Muhammad suka memberi, tidak menyakiti orang dengan lidahnya, bersikap baik pada kawan maupun yang memusuhinya, dan lain sebagainya. Kebaikan Beliau itu bersifat universal, berlaku di semua tempat, sepanjang masa, dan sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Tetapi cara Beliau berpakaian, menyikat gigi, kendaraan yang belian pakai, itu adalah hal-hal yang tidak mutlak diikuti (sekali lagi, karena terikat oleh materi ruang dan waktu). Muhammad sebagai Rasul, pembawa Risalah, yang bernilai universal, dapat diikuti oleh semua manusia, namun Muhammad sebagai manusia biasa tidak seluruhnya dapat kita ikuti. Lalu, apa yang sesungguhnya yang paling utama untuk kita teladani dari rasulullah? Mari kita lihat ayat berikutnya : 

4. Surat Al-Qalam (68) : ayat 4


Berahlaq mulia 

dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. 68 : 4, versi DEPAG)


Nabi Muhammad dipuji karena akhlaknya “ Sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar berada/memiliki akhlak yang sangat mulia”Akhlak adalah hal yang paling penting. Karena akhlak inilah Nabi mendapat gelar Al-Amin (orang yang terpercaya)

Suatu hadist menyebutkan :

Bu’itstu li utammima makarimal akhlaq” 

Saya datang dalam menyempurnakan akhlak.Akhlak bisa meliputi akhlak kepada dirinya sendiri, istri, anak, tetangga, bahkan kepada musuhnya (terlihat dalam berperang)

Dari hal tersebut Nabi Muhammad bisa diteladani. Penting! “Jangan sampai menyakiti perasaan orang lain. Bersihkan pikiran, hati dan perbuatan, sehingga terpancarlah inner beauty, yaitu dengan cara berdzikir untuk membersihkan diri. Kalau orang tidak suka dekat dengan kita berarti ada sesuatu yang busuk dalam diri kita. Kalau kita berprasangka buruk/negative berarti kita telah menyimpan bangkai di dalam diri kita (hadits: kita memakan bangkai saudara kita…) 

Bercanda diperbolehkan asalkan tidak boleh berbohong dan terukur agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Hilangkan kebohongan.Tidak ada manfaatnya menyimpan benci dan dendam. Hanya menghabiskan energi positif kita saja. Karena marah, benci menguras energi paling banyak, sehingga tidak ada gunanya.Baik juga kalau kita berlatih membuang hal negative dari diri kita, misal dengan membuat check list setiap hari.
# 

Seputar Falsafah Kenabian
http://laatahzan.wordpress.com/2008/05/08/seputar-falsafah-kenabian/

dirangkum dari Kajian Rhaudah, Ustad Bagir, 04/05/2008
disalin oleh Elin

Apa sih hakikat wahyu yang diturunkan kepada Nabi?

Apakah hakikat wahyu? Wahyu berasal dari Tuhan yang diturunkan kepada Nabi berisi tentang hakikat-hakikat ke-Tuhan-an (divine realities / al haqoiq illahiyyah) dan hal-hal yang mengutuhkan eksistensi manusia. Oleh karena itu, kehadiran Nabi di dunia menjadi wajib adanya (the necessity of prophethood), sebagai bentuk ke-maha adilan-Nya. Karena tanpa ada hal ini manusia tidak bisa hidup dan eksis secara total sebagai manusia sesungguhnya (kebutuhan primer manusia).

Bagaimana sih wahyu diturunkan?

Nabi menerima wahyu secara spiritual ke dalam qalbu-nya (wa nazzala fiihi ruhul amin ‘ala qalbika), sedemikian divine realities ini (hakikat-hakikat illahiyyah) ini dimanifestasikan/di’tajalli’kan dalam level ruhani bukan fisik. Oleh karena itu, manusia lain tidak dapat mengetahui atau mendeteksi proses turunnya wahyu tersebut, karena qalbu bersifat sangat pribadi.

Bagaimana cara meng-identifikasi Nabi / penerima wahyu?

Salah satu cara untuk membuktikan kenabian seseorang itu adalah mukjizat (fauqul ‘adah). Pertanyaan berikutnya adalah apakah hakikat mukjizat itu? Fauq (diatas/beyond) al ‘adah (adat/kebiasaan). Jadi secara literal mukjizat adalah sesuatu yang diluar kebiasaan. Muncul lagi pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan biasa? Bagaimankah konsep diluar kebiasaan ini sebenarnya agar bisa didefinisikan sebagai mukjizat. Nabi Sholeh mukjizatnya ‘unta keluar dari batu’, itu adalah salah satu contoh fauqul ‘adah. Dalam teologi fauqul ‘adah itu:

1- No precedent (sebelumnya tidak ada orang yang pernah melakukan hal itu/ke belakang).

2- No repetition (di masa depan tidak akan ada orang yang melakukan hal yang sama/ tidak terulang).

3- No learning process (tidak ada proses belajar, tidak bisa dipelajari).

Jadi secara singkat, mukjizat adalah hal-hal yang diluar kebiasaan, belum pernah ada yang melakukannya dan tidak akan ada yang mampu mengulangi serta tanpa proses relajar. Contoh mukjizat Nabi Muhammad Saw adalah Al Qur’an, membelah saqul qamar (bulan); bisa dibuktikan bahwa dua-duanya adalah mukjizat. Dua hal tersebut tidak pernah ada yang melakukannya, tidak akan terulang dan tanpa melalui proses belajar.

Lebih jelas lagi tentang mukjizat?

Secara jenis, mukjizat terbagi dua:

1- Mukjizat qauli (transmitif, ilmiah,disampaikan lisan); Contohnya Al Qur’an. Bahasanya yang sangat istimewa. Sebagian ada yang menyebut bahwa yang menyebabkan Al Qur’an dikatakan sebagai mukjizat adalah karena Tuhan berbicara dalam bahasa manusia (pembicaraan Tuhan dalam bahasa manusia). Mukjizat qauli adalah bukti untuk orang-orang intelektual (karena orang intelektual tidak gampang di permainkan dengan hal-hal bersifat luar biasa dari segi perbuatan).

2- Mukjizat fi’li (perbuatan yang dilakukan); seperti mukjizatnya Nabi Sholeh dimana unta keluar dari batu, Nabi Musa dimana lautan terbelah. Nabi Muhammad Saw yang membelah bulan. Ini adalah bukti untuk orang-orang awam. Terjadinya sekali, sekedar untuk membuktikan kenabian beliau. Nabi tidak menginginkan seseorang beriman hanya karena melihat hal yang luar biasa saja.

Bagaimana sikap kita jika ada orang yang mengaku sebagai Nabi?

Jadi jika ada seseorang mengaku sebagai Nabi kita tinggal tanya dia untuk membuktikan mukjizat fi’li dan qauli-nya. Pada zaman Nabi banyak yang mengaku sebagai Nabi. Ada diantaranya seorang yang mengaku sebagai Nabi, kemudian Nabi Muhammad Saw meminta dia untuk menunjukkan mukjizat fi’li nya dengan menaikkan permukaan air sungai. Tapi ternyata dia tidak mampu, yang ada malah permukaan air sungainya turun. Nabi pada saat itu tidak berbuat apa-apa lagi, karena terbukti dengan sendirinya kalau dia bukanlah Nabi. Tapi Nabi tidak pernah menyatakan bahwa “darahnya halal” karena itu, atau rumahnya boleh dirusak (seperti yang dilakukan segelintir orang atau golongan di negeri ini). Nabi tidak pernah mengajarkan kita untuk agresif, karena menentukan kebenaran itu tidak boleh agresif. Karena apa? Karena ada ‘lakum diinukum waliyadin’. Tidak mungkin ada ayat ini jika kita dituntut untuk agresif. Sekali lagi islam itu rahmatan lil’alamin, tidak mengenal sikap agresif dan main hakim sendiri.