Showing posts with label sejarah islam. Show all posts
Showing posts with label sejarah islam. Show all posts

Al-Nadim Pustakawan Besar Abbasiyah dan Klasifikasi Ilmu

Oleh: Abdul Hadi WM 
 
Zaman kekhalifatan Abbasiyah di Baghdad, yang membentang dari abad ke-8 hingga 13 M, merupakan zaman kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Pada zaman ini lahir begitu banyak ilmuwan, filosof, sastrawan, ulama, dan pustakawan besar. Perpustakaan besar dijumpai di mana-mana di kota-kota besar, begitu pula toko buku. Seorang di antara pustakawan besar itu ialah Abu'l-Faraj Muhammad bin Is'hāq al-Nadim (Arabic: ابوالفرج محمد بن إسحاق النديم‎). Dia memiliki toko buku besar di tengah kota Baghdad, serta koleksi buku yang berlimpah. Berkat ketekunannya mencatat buku-buku yang pernah menjadi koleksinya, serta pengelompokan buku-buku tersebut menurut isi atau bidang ilmunya, kita mengenal klasifikasi ilmu yang berkembang dalam sejarah Islam.

Tanggal dan tahun kelahiran al-Nadim tidak diketahui. Yang kita ketahui hanya tahun wafatnya yaitu September 17, 995 or 998 M. Kitāb al-Fihrist adalah karyanya yang masyhur. Dia mengatakan dalam bukunya itu [bahwa Kitāb al-Fihrist adalah]: "an Index of the books of all nations, Arabs and non-Arabs alike, which are extant in the Arabic language and script, on every branch of knowledge; comprising information as to their compilers and the classes of their authors, together with the genealogies of those persons, the dates of their birth, the length of their lives, the times of their death, the places to which they belonged, their merits and their faults, since the beginning or every science that has been invented down to the present epoch: namely, the year 377 of Hijra."

Riwayat hidupnya tak banyak diketahui. Dia hanya dikenal sebagai penyalin naskah (warraq) dan pedagang buku sebagaimana ayahnya. Di antara guru-gurunya yang disebut olehnya ialah al-Sirafi (wafat 978-9), 'Ali b. Harun b. al-Munajjim (wafat 963) and filosof Abu Sulayman al-Mantiqi. Koleksi bukunya luar biasa banyaknya. Karena sedemikian besar cintanya pada buku, tokoh yang hidup pada abad ke-10 M ini sangat bergairah mencatat buku-buku yang pernah dimiliki di perpustakaan dan dijual di toko bukunya. Yang dicatat bukan hanya sekadar nama pengarang dan judul buku, tetapi juga keterangan mengenai isi buku itu, riwayat hidup pengarang serta karya-karyanya, dan pengelompokan buku-buku itu menurut bidang pembahasannya. Catatannya yang luar biasa itu diterbitkan dengan judul Kitab al-Fihrist (Buku Indeks).

Nama al-Nadim yang disandangnya hanyalah gelar, yang artinya ialah "sahabat orang-orang terkemuka". Seorang warraq (penyalin naskah) dan pedagang buku pada waktu itu mempunyai pergaulan luas. Kenalan mereka terdiri dari tokoh-tokoh penting seperti pembesar, cendekiawan, filosof, ahli kaligrafl, pengarang, seniman, penyair dan profesor. Sebelum tinggal di Baghdad al-Nadim pernah tinggal di Mosul. Kepindahannya ke Baghdad itulah yang memungkinkan bakat dan kariernya berkembang pesat.

Pada masa mudanya al-Nadim belajar kepada guru-guru yang terkemuka seperti al-Siraf (wafat 978 M), al-Munajim (wafat 963) dan filosof Abu Sulayman al-Mantiqi. Dari merekalah dia mempelajari pengetahuan yang luas tentang filsafat dan beragam ilmu pengetahuan. Ketika telah cukup dewasa dia bergabung dengan Isa ibn Ali (914-1001), yang mendirikan sebuah halaqah (lingkaran diskusi intelektual) terkenal di Baghdad. la memuji Isa ibn Ali dan menyanjungnya, oleh karena pengetahuannya yang mendalam tentang logika dan al-ulum al-qadimah (ilmu-ilmu Yunani, Mesir, Persia, India dan Cina).

Al-Nadim juga bersahabat dengan filosof Ibn al-Khammar. Keduanya kerap sekali memperbincangkan masalah-masalah kefilsafatan yang aktual, dan keduanya adalah pengagum Aristoteles. Aristoteles mereka kagumi karena keluasan pandangannya, tanpa perlu menyetujui seluruh isi fllsafatnya. Seperti al-Khammar, al-Nadim juga dikenal sebagai penganjur toleransi agama, walaupun keduanya menolak sikap akomodatif Muslim kepada pemeluk ajaran agama lain.

Setengah riwayat menyatakan bahwa dia penganut mazhab Syi'ah, yang melakukan takiyyah. Kritik-kritiknya amat keras terhadap kaum tradisionalis. Dia menyanjung kaum Mu'tazilah yang disebutnya sebagai ahlal-'adl. Sedang golongan Asy'ari dia sebut sebagai golong-an al-Mujbirah. Menurut dia, sebenarnya banyak cendekiawan dari mazhab Syafi'i, yang secara diam-diam bersimpati pada ajaran Syi'ah Imamiyah.

Kitab al-Fihrist, sebagai karya agungnya, mencerminkan masa-masa kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan, filsafat dan seni. Setelah terbit, kitab ini banyak sekali disalin, terutama di Mesir dan Turki, dan dijadikan rujukan utama oleh para pengamat karena kelengkapan indeks buku yang dimuatnya, serta keterangan-keterangan yang berharga mengenai buku-buku yang pernah dibaca dan pernah dia dengar dari ahli-ahlinya yang terpercaya.

Maksud Penulisan "al-Fihrist"

Bagi setiap Muslim yang taat, segala perbuatan dan pekerjaan di dunia ini merupakan suatu ibadah dan perjalanan menuju Dia. Tujuan suatu pekerjaan ialah untuk mendapatkan rida Allah dan berkah-Nya. Demikian juga tujuan utama al-Nadim dalam menulis kitabnya ini. Kecuali itu, sebagai seorang yang mengetahui banyak permasalahan buku, dia merasa terpanggil untuk menyusun daftar buku yang pernah ditulis atau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Walhasil, Kitab al-Fihrist merupakan katalog yang lengkap dengan uraian yang jelas. Ada buku yang diuraikan secara panjang lebar mengingat pentingnya buku tersebut, ada pula yang diuraikan secara ringkas.

Dalam kata pengantarnya al-Nadim menyatakan: "Kitab ini me­rupakan indeks buku-buku karangan orang-orang Arab dan non-Arab yang ditulis dalam bahasa Arab tentang semua cabang pengetahuan; disusun berdasarkan pengelompokan pengarang, asal-usul dan riwayat hidupnya, negeri tempat tinggal dan kebajikan-kebajikan mereka; sejak pada waktu setiap cabang ilmu dikembangkan sampai pada tahun 987-8 M."

Tentu tidak mudah menyusun sebuah indeks buku masa itu, karena melimpahnya jumlah buku yang ditulis. Sejak awal penulisannya pada tahun 938, kitab ini telah berkali-kali direvisi oleh pengarangnya dan diperluas isinya.

Kitab al-Fihrist terdiri dari sepuluh (10) bab besar. Enam (6) bab pertama menerangkan buku-buku yang berkenaan langsung dengan Islam, sedangkan empat (4) bab selebihnya memuat daftar buku yang pertaliannya dengan Islam tidak langsung, namun penting.

Bab I. Bab ini terdiri dari tiga (3) bagian:

(1) Daftar buku yang menguraikan bahasa-bahasa penduduk Arab dan non-Arab; karakter tulisan mereka, macam-macam tulisan dan bentuk hurufnya;
(2) Daftar buku hukum dan undang-undang yang ditulis oleh pemuka-pemuka mazhab agama Islam, Yahudi, Kristen, Sabea dan aliran-aliran dalam agama tersebut;
(3) Daftar buku tentang ilmu-ilmu berkenaan kitab suci berbagai agama, para perawi hadis dan keganjilan hasil pembacaan mereka;

Bab II. Terdiri dari tiga (3) bagian:

(1) Asal usul tata bahasa, ahli-ahli tata bahasa mazhab Basrah, ahli-ahli stilistika Arab dan judul-judul buku mereka;
(2) Uraian tentang ahli-ahli tata bahasa dan filologi mazhab Kufah dan judul buku-buku mereka;
(3) Uraian tentang ahli-ahli tata bahasa yang cenderung menggabungkan pandangan dua mazhab di atas.

Bab III. Terdiri dari tiga (3) bagian tentang sejarah, sastra Adab, biografi dan silsilah:

(1) Ahli-ahli sejarah, penulis cerita, ahli-ahli silsilah, penulis biografi, judul buku-buku mereka dan tarikh penulisan masing-masing buku;
(2) Raja-raja, sekretaris mereka, para kuttab, duta besar, wazir dan pejabat pemerintah yang menulis buku dan judul karangan-ka-rangan mereka;
(3) Para penghibur istana, tokoh-tokoh favorit, pelawak dan lain-lain yang menulis buku dan judul buku-buku mereka.

Bab IV. Terdiri dari dua (2) bagian tentang puisi dan penyair:

(1) Kelompok-kelompok penyair, sajak-sajak zaman Jahiliyah sampai zaman Islam, kumpulan puisi mereka dan nama-nama buku puisi mereka yang diterbitkan;
(2) Kelompok pengarang dan penyair Muslim, termasuk penulis abad ke-9 dan 10 di lingkungan kekhalifahan Abbasiyah.

Bab V. Terdiri dari lima (5) bagian tentang Filsafat Scholastik dan orang-orang terpelajar:

(1) Falsafah Scholastik, tokoh-tokoh Mu'tazilah dan Murji ah, dan judul buku-buku mereka;
(2) Orang-orang terpelajar dari kalangan mazhab Syi'ah, baik Syi'ah Imamiyah dan Zaydiyah maupun Ghulat (ekstrem) dan Ismailiyah, serta judul buku-buku mereka;
(3) Orang-orang terpelajar Jabariyah dan Hasywiyah dan judul buku-buku mereka;
(4) Orang-orang terpelajar Khawarij dan judul buku-buku mereka;
(5) Para Darwisy, Sufi dan pengajar falsafah Scholastik, serta judul buku-buku mereka.

Bab VI. Terdiri dari delapan (8) bagian tentang Fiqih, Fuqaha dan Ahli Hadis:

(1) Imam Malik, murid-muridnya dan judul buku-buku karangan mereka;
(2) Imam Hanafi dan murid-muridnya, serta judul buku-buku ka­rangan mereka;
(3) Imam Syafi'i, pengikut dan judul buku-buku mereka;
(4) Daud ibn. Ali al-Isfahani dan para pengikutnya, serta judul buku-buku mereka;
(5) Para fuqaha Syi'ah dan judul buku-buku mereka;
(6) Para fuqaha yang juga ahli hadis dan perawi hadis, serta judul buku-buku mereka;
(7) Abu Ja far al-Tabari dan murid-muridnya, serta judul buku-buku mereka;
(8) Para fuqaha Khawarij dan judul buku-buku mereka.

Bab VII. Terdiri dari tiga (3) bagian tentang Falsafah dan Ilmu Klasik.

(1) Filosof aliran Materialisme dan ahli-ahli logikanya, serta judul buku-buku mereka;
(2) Ahli-ahli matematika, geometri, aritmatik (ilmu hisab), musikus, akuntan, astronom dan pencipta alat-alat ilmiah dan ahli meka-nik serta insinyur;
(3) Asal-usul ilmu kedokteran, para tabib lama dan modern, judul buku-buku mereka, karya saduran dan komentar terhadap karya-karya mereka.

Bab VIII. Terdiri dari tiga (3) bagian tentang legenda, kisah binatang atau fabel, doa-doa, mantra dan ilmu nujum;

(1) Tukang cerita, orang-orang bijak dan seniman serta judul buku-buku mereka tentang legenda dan kisah binatang;
(2) Ahli sihir, nujum, tcnung dan judul buku-buku mereka;
(3) Buku-buku tentang topik aneka ragam serta nama pengarang yang kurang dikenal.

Bab IX. Terdiri dari dua (2) bagian tentang mazhab dan aliran agama bukan Islam:

(1) Aliran Harranian, Khaldea, Sabean, Dualis seperti Manichean, Bardesania, Khursani, Maronit, Mazdak dan Iain-lain, serta judul buku-buku tentang aliran-aliran tersebut;
(2) Aliran-aliran agama dari India, Cina dan negeri lain.

Bab X. Tentang ahli-ahli kimia dan farmasi, lama dan modern, serta judul buku-buku mereka.

Banyaknya salinan kitab ini membuat banyak pula edisi yang sedikit saling berbeda isinya. Di antara edisi yang terkenal adalah edisi Fluegel, yang didasarkan atas naskah yang tersimpan di Museum Paris, dengan nomor indeks de Slane 4457. Naskah ini adalah salinan Kitab al-Fihrist tahun 1220 di Turki. Naskah lain adalah manuskrip Chester Beatty di Museum Lon­don. Dalam edisi Fluegel ditargetkan bahwa buku itu memuat daftar buku ilmu pengetahuan yang ditulis para sarjana Arab dan terjemahan karya penulis Yunani, Persia dan India dalam bahasa Arab.

Sebagai pencinta filsafat, tidak mengherankan jika al-Nadim menguraikan secara panjang lebar Plato dan Aristoteles dalam kitabnya itu. Uraian lain yang menarik adalah tentang kitab Hasan Afian, kitab yang merupakan cikal bakal Kisah Seribu Satu Malam. Dari uraiannya mengenai agama-agama non-monoteistik, kita mengetahui keluasan pengetahuannya mengenai kehidupan agama-agama ini dan adat istiadat para penganutnya.

Muhammad ibn Ishaq al-Nadim hanya mencatat dan menerangkan tentang buku-buku yang pernah dia baca sendiri, di samping buku-buku yang didengar dari ahli-ahli yang terpercaya dalam bidang masing-masing.

Sering di dalam kitabnya itu dia membicarakan juga mengenai ukuran buku, jumlah halaman buku, dan jika menerangkan buku puisi tak lupa menjelaskan jumlah bait dan baris menurut teks aslinya. Ini dia lakukan, karena tak jarang para penyalin naskah menjual buku yang tidak lengkap atau tak sesuai dengan buku asli.

Dia juga selektif dalam menyusun daftar buku. Hanya buku-buku yang disalin oleh ahli kaligrafi terkemuka dan terpercaya yang dia daftar. Misalnya salinan ahli kaligrafi seperti Ibn al-Kufi, Ibn Muqlah, Abu al-Tayyib al-Syafi'i, al-Tirmizi, Ibn 'Ammar dan lain-lain. Ibn Ammar dikenal sebagai penyalin yang mengkhususkan diri pada buku-buku puisi.

Para penggemar buku, seluk beluk perdagangan dan pelelangan buku, masalah pena, kertas, teknik penerbitan, tidak lupa dibicarakan. Menurut al-Maghribi (wafat 1027) dia juga menulis buku berjudul Kitab al-Awsafwa al-Tasybihat.

Forum Mu'tazilah

Pada masa itu toko buku al-Nadim tergolong besar di Baghdad. Lagi pula letaknya sangat strategis, tidak jauh dari Masjid Besar tempat yang biasa digunakan sebagai pertemuan para penulis buku dan tidak jauh pula dari Bayt al-Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid sebagai pusat perbukuan kerajaan. Lemari dan rak buku memadati ruang-ruang toko bukunya yang bertingkat.

Tapi di situ al-Nadim juga menyediakan ruang pertemuan bagi kaum cendekiawan, fllosof, pengarang, penyair, dan seniman. Ceraman-ceramah ilmiah dan agama kerap diselenggarakan di tempat itu, menjadikan toko bukunya juga berfungsi sebagai pusat kebudayaan.

Al-Nadim adalah pecinta filsafat. Tak mengherankan jika di antara buku-buku yang dia jual sebagian besar adalah buku-buku filsafat, terutama karangan kaum Mu'tazilah. Salah satu buku karangan sarjana Mu'tazilah terkenal adalah Kitab Mengenai Masalah Gerakan dan Benda-benda. Buku yang ditulis oleh Abu al-Huzayl al-Allaf ini sudah tergolong buku yang langka waktu itu, karena tak banyak penyalin yang menyalinnya lagi dalam edisi baru. Waktu itu memang sudah muncul gerakan and rasionalisme. Akan tetapi al-Nadim tetap setia menyalin buku yang penting itu dan menjualnya.

Yang lebih menarik lagi adalah karena al-Nadim telah menjadikan tokonya sebagai tempat pertemuan cendekiawan Mu'tazilah. Dibanding pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya, forum Mu'tazilah paling kerap diadakan di situ. Al-Nadim menyukai mereka, karena mereka meyakini bahwa rahasia-rahasia alam semesta dan dasar kepercayaan agama bisa diterangkan dengan akal-pikiran, walaupun ada batas-batasnya. Tanpa memberikan peran kepada upaya akal pikiran secara maksimal, kehidupan keberagamaan umat Islam menurutnya tidak akan mengalami perkembangan yang dinamik dan maju.

Di antara buku-buku yang paling disayang al-Nadim adalah buku-buku yang dikarang al-Kindi, filosof yang paling dikagumi olehnya. Di antara buku-buku al-Kindi yang dibacanya secara mendalam ialah Pengantar Filsafat, Filsafat Intrinsik, Masalah-masalah Logika dan Filsafat yang Pelik, Komposisi Angka, Pengantar Logika, Pengantar Musik, Keterangan Mengenai Benda-benda Angkasa dan Seluk-beluk Geometri.

Al-Nadim juga menerangkan beberapa buku yang paling laris. Misalnya buku-buku karangan al-Khwarizmi (wafat 863), Bapak Logaritma. Terutama bukunya tentang aljabar dan astrolobe.

Buku-buku kedokteran yang paling laris adalah karya Hunayn ibn Ishaq (wafat 877), khususnya buku-bukunya mengenai penyakit mata dan perut. Disusul buku-buku karangan Ibn Luqa tentang penyakit rambut dan buku-buku karangan Zakariya al-Razi.

Buku matematika dan ilmu kalam yang laris adalah karangan al-Razi. Buku astronomi yang paling digemari ialah karangan al-Farghani. Sedangkan buku yang paling populer adalah Kitab al-Hawi (ensiklopedi lengkap ilmu kedokteran) dan Kitab al-Judari wa-al-Hasbah (Tentang Penyakit Campak dan Cacar), juga karangan al-Razi.

Menurut al-Nadim, kecuali menulis buku-buku kedokteran, al-Razi juga menulis 45 buku tentang ilmu kimia dan dia sendiri menyaksikannya. Sedangkan kitab geografi yang paling populer waktu itu adalah Klasifikasi Pengetahuan Wilayah-wilayah karangan al-Maqdisi. Buku tentang musik dan nyanyian yang digemari pembaca ialah buku karangan Ishaq al-Mawsili.

Tergambar dalam keterangan al-Nadim itu tentang semaraknya kehidupan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.

Perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari perkembangan bahasa, dan bahasa Arab pada waktu itu telah berkembang sedemikian rupa berkat tersebar luasnya tradisi membaca dan menulis. Tidak mungkin ilmu pengetahuan berkembang, tanpa didahului oleh perkembangan teknologi mengarang dan menulis.

Oleh karena itu, menurut al-Nadim, peranan penyair, pengarang dan ahli tata bahasa sangat vital bagi kemajuan suatu peradaban dan kebudayaan. Vitalnya peranan pengarang dan ahli tata bahasa ini juga dihubungkan oleh al-Nadim dengan pentingnya peranan kalam atau pena.

Pena, benda yang sederhana itu, bagaimana pun adalah justru yang luar biasa. Di dalamnya tersimpan rahasia teknologi yang canggih. Tidak salah apabila penyair al-Attabi menyatakan, "Pena ialah binatang liar yang hanya bisa dijinakkan oleh pemahaman dan kearifan."

Ini membuktikan bahwa mengarang sebuah buku yang isinya berbobot tidak mudah. Seorang pengarang harus memeras bukan saja tenaga, namun pikiran. Tak mungkin seseorang itu menulis tanpa memiliki pengetahuan, pemahaman dan kearifan—sesuatu yang harus dipelajari seseorang sejak kecil dan bertahun-tahun lamanya, menempuh berbagai rintangan dan pengalaman getir.

Karena itu, al-Attabi juga benar, kata al-Nadim, ketika mengatakan, "Buku tersenyum ketika pena meneteskan air mata". Meneteskan air mata, karena pena mesti berhadapan dengan rimba raya bahasa, dan rimba raya bahasa adalah rimba raya pikiran manusia yang pelik dan rumit.

Karena pandangannya itulah al-Nadim sangat mencintai buku karangan Muhammad ibn al-Lays al-Khatib, Keahlian Menulis dan Menggunakan Kalam—yang membicarakan secara panjang lebar ilmu dan teknologi tulis-menulis.

Jika kita bertanya kepada al-Nadim mengapa dia lebih banyak menjual buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan, maka dia akan menjawab seperti apa yang ditulis dalam Kitab al-Fihrist "Suatu ketika," kata al-Nadim, "ada orang yang menyampaikan berita menarik, yaitu mimpi Khalifah Harun al-Rasyid. Dalam mimpinya itu Khalifah Harun al-Rasyid bertemu dengan seorang lelaki yang wajahnya cerah, berkulit putih, berdahi lebar dan pandangan matanya tajam. Orang itu duduk di tempat tidur khalifah. Ketika melihatnya, khalifah berdiri terpaku di depannya dan gemetar. Tetapi dia memberanikan diri bertanya. Orang itu ternyata Aristoteles. Menurut Khalifah, Aristoteles berkata bahwa yang baik dalam kehidupan ini adalah dalam pikiran manusia, juga dalam hukum dan apa yang ada di tengah khalayak ramai. Pendek kata, Aristoteles berbicara tentang pentingnya kepedulian pengetahuan, kepedulian hukum dan kepedulian sosial."

Inilah alasan al-Nadim mengapa dia banyak menjual buku filsafat dan ilmu pengetahuan, sebab bagaimana pun keduanya penting bagi kehidupan seorang Muslim, yang kitab sucinya menganjurkan berulang-ulang pentingnya pembudayaan akal pikiran dan pengetahuan.

Menurut al-Nadim, buku menghadirkan kepada pembacanya perkiraan-perkiraan dan pembuktiannya. Pembuktiannya bisa benar, bisa salah. Kita dapat mengujinya lewat bantuan logika dan pengamatan. Kebenaran akan membuktikan dirinya apabila pengetahuan mengalami kemajuan. Jika pengetahuan mandek, maka kebenaran tetap terselubung. "Saya membuka toko buku untuk melayani mereka yang haus akan ilmu pengetahuan," kata al-Nadim.

Tetapi, menurut al-Nadim lagi, pikiran tidak hanya memerlukan pengetahuan. Jika pikiran hanya dipompa oleh ilmu dan filsafat, dia akan kering kerontang. Pikiran manusia memerlukan penyegaran melalui karya-karya imajinatif. Karena itu, dia merasa terpanggil un­tuk menjual buku-buku sastra dan berbagai kisah petualangan dan pengembaraan yang menarik hati.***

Renaisans Ketiga: Mungkinkah terjadi di Indonesia dan Asia Tenggara?

Oleh: Mulyadhi Kartanegara

Bagian 1

Besar harapanku bahwa bangsa Indonesia sebagai penduduk terbesar umat Islam mampu memainkan peranan intelektual yang vital, bukan hanya pada taraf domestik, melainkan juga regional, bahkan kalau mungkin, dunia, Banyak harapan serupa pernah dilontarkan rekan-rekan kita di Malaysia, bahkan almarhum Prof. Dr. Fazlur Rahman (w. 1988 M) sendiri pernah meramalkan bahwa kebangkitan Islam pada masa mendatang akan muncul bukan di dunia Arab, melainkan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia.

Seberapa feasible-kah harapan tersebut untuk diwujudkan? Jika kita melihat morat-maritnya kondisi ekonomi dan politik kita saat ini, boleh jadi kita akan sangat pesimis. Namun, terlepas dari kondisi real di atas, masyarakat Indonesia sebenarnya telah memiliki aset yang sangat potensial, dilihat dari keterbukaannya terhadap informasi dan pemikiran apapun yang datang dari luar. Dalam wacana keislaman, misalnya, aku sangat berbahagia bahwa di negeri ini kita boleh menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya dalam bidang keilmuan Islam apapun, seperti tasawuf, ilmu kalam, bahkan filsafat—yang oleh negara-negara tertentu, seperti Arab Saudi, sangat dibatasi bahkan dilarang—oleh aliran manapun, entah itu modernis, dan lain-lain, dan oleh siapa pun, entah itu Fazlur Rahman, Nasr, Maududi, Ali Syari'ati, Hassan Hanafi, dan sebagainya.

Keterbukaan intelektual seperti ini patut kita syukuri dan kita pertahankan karena ia akan memberi dasar yang kuat bagi pengembangan daya intelektual dan perluasan wawasan umat, yang sangat diperlukan bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran yang kreatif dan orisinal. Pemikiran yang kreatif dan orisinal akan bisa tumbuh hanya apabila kita telah memiliki dan mewarisi khazanah intelektual yang kaya dan luas. Warisan seperti ini, pada saat ini, sebenarnya masih dapat kita peroleh melalui berbagai karya ilmiah dan filosofis, baik asli maupun terjemahan—yang berasal dari sumber-sumber Islam maupun Barat, asal saja kita telah bisa bersikap terbuka dan berlapang dada terhadap dunia luar. Dan kondisi ini, alhamdulillah, telah kita miliki.

Nah, pada tahap sekarang ini ketika penulis-penulis asli dari kaum cendekiawan pribumi belum mampu menyuplai bahan-bahan kajian yang memadai untuk bangsa ini—bahkan masih sangat jauh, maka terjemahan merupakan salah satu solusi yang barangkali terbaik bagi konsumsi intelektual kita, meskipun karya terjemahan masih secara keliru dipandang inferior dibandingkan dengan karya orisinal. Sebenarnya, kita sama sekali tidak boleh menganggap sepele terhadap karya-karya terjemahan ini. Sejauh yang dapat aku ketahui dari bacaan selama ini, dapat dikatakan bahwa dua renaisans yang telah pernah terjadi di dunia—Islam dan Eropa—tidak bisa dibayangkan muncul tanpa tersedianya karya-karya terjemahan. Abad ke-l0 M, telah dipandang oleh beberapa ahli—Adam Mez dan Joel L. Kraemer—sebagai renaisans Islam karena tokoh-tokoh besar, seperti Al-Farabi, Abu Sulaiman Al-Sijistani (w. 983 M), Abu Al-Hasan Al-‘Amiri (w. 992 M), dan Miskawaih muncul, berkembang, dan mempengaruhi tokoh-tokoh sesudahnya. Akan tetapi, Renaisans Islam—yang harus dipahami dalam konteks ini sebagai upaya kaum Muslim untuk menggali kembali warisan klasik, terutama Yunani—ini hanya dimungkinkan setelah terjadi gelombang besar-besaran dari penerjemahan karya-karya Yunani dan India—ke dalam bahasa Arab pada abad ke-9 dan awal abad ke-10 M atau abad ke-3 dan ke-4 H, dengan para penerjemah ternama, seperti Hunain ibn Ishaq, Ishaq ibn Hunain, Al-Kindi, Abu ‘Utsman Al-Dimasyqi, dan Hubaisy. Para penerjemah ini telah dengan sangat metodik dan akurat berhasil menerjemahkan ribuan karya klasik, yang pada gilirannya telah menjadi bahan dasar (raw material) bagi pembentukan sintesis-sintesis agung pada masa-masa berikutnya, seperti yang dilakukan oleh Ibn Sina, Suhrawardi, dan Mulla Shadra.

Bagian 2

Demikian juga tidak bisa terbayangkan munculnya Renaisans Barat, yang lebih terkenal, pada abad ke-14 hingga abad ke-16, tanpa didahului oleh penerjemahan-penerjemahan yang intensif di Toledo dan Sisilia dari karya-karya ilmiah-filosofis Muslim (Arab) oleh para penerjemah Latin dan Yahudi, seperti Gundissalinus, Michael Scott, dan Ibn Dawud, ke dalam bahasa Latin dan Ibrani, pada awal abad ke-14, dan -13. Ratusan--bahkan mungkin ribuan--karya ilmiah dan filosofis Muslim, seperti Kitab Al-Manazhir, Al-Qanun, Al-Syifa’, Al-Hawi, Maqashid Al-Falasifah, dan Tahafut Al-Falasifah, dan terutama ratusan komentar Ibn Rusyd yang kaya dan bervariasi terhadap karya-karya Aristoteles dan Plato. Kehadiran karya-karya Arab dalam bentuk terjemahan-terjemahan inilah, aku yakin, yang telah memicu dan mengilhami gerakan Renaisans Eropa (terutama Italia) untuk menghidupkan kembali warisan klasik Yunani. Tanpa karya-karya terjemahan tersebut, aku yakin tidak akan ada renaisans di Eropa, dan tanpa renaisans ini tidak bisa dibayangkan terjadinya revolusi ilmiah yang sekarang menandai peradaban Barat modern.

Oleh karena itu, aku berharap berhentilah menghina karya terjemahan, dan marilah kita terus berusaha menerjemahkan sebanyak mungkin dan seakurat mungkin karya-karya besar dunia, baik klasik Islam maupun modern Barat, untuk kita jadikan sebagai bahan dasar (adonan) bagi terbentuknya pemikiran-pemikiran sintesis yang agung di negeri tercinta ini. Hanya dengan cara itulah barangkali kebangkitan Dunia Islam bisa terwujud di kawasan ini.

Mungkinkah dengan realitas seperti sekarang ini, bangsa kita dapat melahirkan Renaisans Ketiga, setelah Arab dan Eropa? Mengapa tidak. Bukankah seperti yang telah disinggung, kita telah memiliki aset yang sangat berharga, yaitu sikap terbuka terhadap pemikiran dunia? Meskipun demikian, harus segera disadari bahwa jalan menuju perealisasiannya masih sangat jauh dan berliku-liku. Di sini kita berbicara bukan tahunan, bahkan bukan pula dasawarsa-an, melainkan abad. Oleh karena itu, diperlukan persiapan mental yang tangguh dan energi serta cita-cita yang tinggi, siap mental untuk gugur di tahap-tahap awal perjalanan itu, dan untuk tidak berharap dapat melihat hasil perjuangan kita. Aku sudah akan merasa puas, seandainya generasi kita ini telah sanggup meratakan jalan bagi perjalanan yang panjang ini.

Menurut keyakinanku, jalan ini bisa kita tempuh melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah penerjemahan. Kita telah maklum bahwa penerjemahan telah dan akan tetap memainkan peranan yang sangat penting bahkan kunci dari sebuah renaisans. Aku juga telah menyatakan kegembiraanku atas diperkenankannya oleh pihak berwenang penerjemahan dan penerbitan karya-karya ilmiah dari manapun asalnya, dari siapapun penulisnya, dan apapun alirannya. Akan tetapi, tentu saja dalam hal ini kita tidak boleh puas dengan apa yang telah kita capai. Kita harus terus mengupayakan perbaikan dan peningkatan—baik dalam arti jumlah maupun mutu—dari penerjemahan.


Bagian 3

Sebuah terjemahan yang baik, menurut hematku, adalah yang diterjemahkan oleh seorang yang ahli—dalam arti menguasai—baik bahasa sumber yang diterjemahkan maupun bahasa sasaran, dan seorang ahli dalam bidang keilmuannya. Selain itu, terjemahan yang baik adalah yang telah berkali-kali dikonsultasikan dan direvisi sebelum diterbitkan. Bahkan karya terjemahan yang telah diterbitkan pun perlu direvisi jika di dalamnya terdapat kekeliruan-kekeliruan penting yang bisa menyesatkan pembaca.

Sebenarnya, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana membuat terjemahan yang baik dari para penerjemah klasik Dunia Islam pada abad ke-9 dan 10. Misalnya, kasus Hunain ibn Ishaq, penerjemah Kristen Nestorian, yang telah menerjemahkan ratusan karya Yunani—baik dari bahasa Yunani sendiri maupun dari bahasa Suryani—ke dalam bahasa Arab. Dia sendiri adalah ahli kedokteran dan filsafat dan cabang-abang ilmu rasional lainnya, di samping teologi. Jadi, dari sudut keahlian, dia telah lebih dari memadai. Kedua, dia ahli dalam setidaknya tiga bahasa: Yunani, Suryani, dan Arab. Diceritakan bahwa Hunain menghilang di daerahnya, dan ternyata dia pergi mencari naskah-naskah dan informasi ke Yunani sendiri, tanpa mengalami hambatan linguistik. Dia menguasai dengan baik bahasa Suryani, bahasa aslinya, dan bahasa Arab, sebuah bahasa ilmiah yang harus dikuasai oleh seorang cendekiawan sekaliber Hunain. Dan dia sendiri keturunan Arab, dan karena itu berbahasa Arab. Selain ahli dalam bidangnya dan bahasa-bahasa yang bersangkutan, dia juga memiliki cara atau metode penerjemahan yang baik. Dikatakan bahwa sebelum melakukan penerjemahan, dia akan mengumpulkan beberapa manuskrip dari karya yang akan diterjemahkan, dan setelah diadakan perbandingan dan "kolasi", kemudian memutuskan mana di antara manuskrip tersebut yang terbaik untuk diterjemahkan. Selain itu, untuk menjamin mutu dan akurasi sebuah terjemahan, dia sering melakukan revisi, baik terhadap terjemahan yang dilakukan orang lain, seperti terhadap sebuah karya Aristoteles oleh Yohanna ibn Hailan, ataupun terhadap terjemahannya sendiri yang telah dia lakukan waktu masih muda. Untuk memastikan mutu dan akurasinya, tidak jarang Hunain melakukan tiga kali revisi terhadap karya yang sama!

Tentu ini berbeda sekali dengan realitas penerjemahan yang dilakukan di negeri ini. Siapapun penerjemahnya, apapun bidang keahliannya, dan betapapun mutu terjemahannya, sekali dia terbit, tidak pernah direvisi untuk diterbitkan ulang. Bahkan ketika terjadi penyimpangan yang berarti atau pemenggalan satu bagian yang sangat signifikan, terjemahan tetap diterbitkan dan diedarkan tanpa penjelasan, seperti yang terjadi pada penerjemahan karya etika Majid Fakhry, Ethical Theories in Islam. Versi terjemahan dari karya ini telah menghilangkan satu bagian—tanpa penjelasan—yang menurutku justru inti dari buku tersebut, yakni etika filosofinya, karena dua alasan: (1) keahlian Majid Fakhry yang utama adalah filsafat—dia adalah pengarang buku A History of Islamic Philosophy, yang kebetulan telah aku terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; (2) bahwa bagian ini (etika filosofis) merupakan yang terpanjang dan paling terperinci dibandingkan dengan yang lain. Akan tetapi, sayang, bahkan sampai saat aku menulis karya ini, tidak ada apologi, apalagi revisi dari penerjemah maupun penerbitnya.

Bagian 4

Tahap kedua yang bisa kita lakukan untuk meratakan jalan panjang menuju renaisans ketiga adalah menghimpun sebanyak mungkin karya-karya ilmiah dan filosofis klasik, untuk kemudian dikaji, dianalisis, dan diterjemahkan sebaik mungkin. Penghimpunan atau koleksi karya-karya agung ilmiah dan filosofis ini sangat perlu dilakukan dalam rangka membangun tradisi intelektual kita yang komprehensif, mengingat langkanya karya-karya tersebut di negeri kita. Sebenarnya khazanah intelektual Islam dalam bidang ilmu dan filsafat amatlah kaya. Di Istanbul sendiri terdapat hampir sejuta manuskrip ilmiah dan filosofis seperti itu, sebagaimana dilaporkan oleh Brockelmann dan Fuad Sazgin. Sedangkan di daerah-daerah bekas jajahan Rusia terdapat puluhan ribu manuskrip lainnya. Namun, di negeri kita, informasi tentang karya-karya ilmiah-filosofis ini amat langka dan asing, seperti juga informasi tentang tokoh-tokohnya, yang menurut laporan dari 'Uyun Al-Anba' fi Thabaqat Al-Athibba', sebuah karya ilmiah Ibn Abi Ushaibi‘ah, dan Nuzhat Al-Arwah wa Raudhah Al-Afrah karya Syams Al-Din Sahrazuri, jumlahnya bisa mencapai ratusan, jika tidak ribuan.

Dari yang pernah kuketahui ternyata banyak sekali karya filosofis yang telah dihasilkan Dunia Islam, dan siap untuk direnaisans. Dalam bidang kimia, misalnya, kita mewarisi ribuan karya yang terhimpun dalam apa yang dikenal sebagai Geberian Corpus, kumpulan tulisan yang dianggap berasal dari seorang ahli, bahkan boleh dikata "Bapak" kimia Islam, Jabir ibn Hayyan (w. 833 M). Dalam bidang matematika, kita mempunyai kitab yang paling terkemuka, Al-Jabr wa Al-Muqabbalah, karya Muhammad ibn Musa AI-Khwarizmi, sebuah karya aljabar, sebagaimana bisa kita lihat dari judulnya, dan Miftah Al-Hisab, karya Ghiyats Al-Din Jamsyid, dalam bidang aritmetika, yang untuk pertama kalinya fraksi desimal ditemukan.

Dalam bidang astronomi, Dunia Islam juga telah melahirkan karya-karya besar, seperti Al-Qanun Al-Mas‘udiyyah, karya Al-Biruni, yang, telah melakukan beberapa modifikasi dan perbaikan astronomi matematik Ptolemeus, dan beberapa tabel astronomi, yang disebut "zij", sebagai hasil observasi para astronom Muslim di beberapa observatorium, seperti Zij A I-Hakimiyyah oleh Ibn Yunus di Kairo, Zij IIkhaniyyah oleh Nashir Al-Din Thusi dan kawan-kawan di Maraghah dan Zij Ulugh Begh oleh Ulugh Begh di Samarkand. Sementara itu, Nihayah Al-Idrak oleh Quthb Al-Din Syirazi, yang diikuti oleh Ibn Syathir, telah menemukan metode baru untuk menghitung gerakan planet yang kemudian disebut "Kopel Thusi" (Thusi's Couple).

Dalam bidang fisika, kita memiliki karya-karya yang cukup besar, seperti bagian fisika dari Kitab Al-Syifa' oleh Ibn Sina, dan kitab yang sangat terkenal dalam bidang optika (salah satu cabang fisika) oleh Ibn Haitsam, Kitab Al-Manazhir, seperti yang telah disinggung, dibuktikan dan dibedakan mengenai teori penglihatan yang benar dari teori yang keliru. Dalam karya ini pengarang menggunakan metode eksperimental dalam mempelajari spektrum cahaya dan analisis ilmiah tentang refleksi, refraksi yang berkaitan dengan pelangi, dan menciptakan instrumen-instrumen optik termasuk cermin parabolik. Kitab ini juga mendapat perhatian yang serius bahkan kritik yang konstruktif dari ahli optik abad ke-15, Kamal Al-Din, yang telah memberikan deskripsi akurat tentang pembentukan pelangi, yang menurut pengamatannya, disebabkan oleh refraksi dan refleksi cahaya.

Dalam bidang sejarah alam, kita patut berbangga dengan dua kitab yang mempelajari hewan bukan saja dari sudut anatomisnya, melainkan juga dimensi moral dalam kehidupan hewan: Kitab Al-Hayawan oleh Al-Jahiz, dan Hayat Al-Hayawan al-Kubra oleh Al-Damiri.

Bagian 5

Bidang ilmiah lain yang patut kita banggakan adalah bidang kedokteran. Kemajuan dalam bidang kedokteran ini barangkali bisa kita lihat dari jumlah dokter yang mencapai lebih dari 800 ratusan sebagaimana yang dilaporkan pada abad ke-13 oleh Ibn Abi Ushaibi‘ah dalam kitabnya 'Uyun Al-Anba fi Thabaqat Al-Athibba'. Karya-karya besar medis yang lain juga bermunculan, antara lain Kitab Al-Hawi karangan ahli klinis Persia, Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya Al-Razi, yang ditulis dalam dua puluh jilid sebagai buah praktik kedokteran Al-Razi selama lima belas tahun terakhir hidupnya, dan Kitab Al-Qanun fi Al-Thibb, karangan Ibn Sina (Avicenna) yang dikatakan telah mensintesiskan dua tradisi besar medis Yunani, Hippokratik dan Galenik. Bidang yang berkaitan dengan kedokteran, seperti farmasi dan farmakologi juga telah melahirkan karya besar, seperti Al-Jami’ limufradat Al-Aghdziyyah wa Al-Adwiyyah, karangan farmakolog Andalusia, Ibn Baithar dan bagian farmakologi dari Kitab Al-Qanun, karya Ibn Sina.

Selain karya-karya ilmiah, kita juga mewarisi banyak sekali karya-karya filosofis di sepanjang sejarah pemikiran Islam. Namun, sebelum kita mendaftarkan karya-karya besar dalam bidang ini, perlu dikemukakan bahwa individu-individu filosof atau ilmuwan, yang mungkin hanya didaftarkan satu karya utamanya, sebenarnya telah menulis puluhan bahkan ratusan karya. Misalnya lebih dari dua ratus karya, dikatakan telah ditulis oleh Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, dan puluhan oleh Suhrawardi, Nashir Al-Din Thusi dan Quthb Al-Din Syirazi. Di antara karya-karya filosofis utama yang pernah dihasilkan filosof Muslim adalah: Al-Falsafah Al-Ula' dalam bidang metafisika oleh Al-Kindi, Ara' Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah, dan Al-Siyasah Al-Madaniyyah dalam bidang metafisika dan politik oleh Al-Farabi. Ibn Sina telah menghasilkan puluhan karya besar dalam bidang filsafat, di antaranya Al-Syifa', Al-Najah, Manthiq Al-Masyriqiyyin, Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, dan Kitab Al-Inshaf. Selain itu, dia juga menulis karya-karya novel (visionary recitals), seperti Risalat Al-Thair, Hayy ibn Yaqzhan, dan Salaman wa Absal.

Sebagai pengkritik filsafat, Al-Ghazali telah menghasilkan setidaknya dua karya filosofis yang terkenal, Maqashid Al-Falasifah dan Tahaput Al-Falasifah, yang pada gilirannya telah menghasilkan sebuah karya tandingan Tahafut Al-Tahafut oleh Ibn Rusyd. lbn Rusyd sendiri telah menghasilkan karya-karya komentar yang kaya terhadap karya-karya Aristoteles, seperti komentar terhadap Metafisika, Poetika, De Interpretatione, Etika Nichomakean, dan Rhetorika, di samping karyanya sendiri yang orisinal, Al-Fashl Al-Maqal dan Kitab Al-Kasyf 'an Manahij Al-'Adillah. Teman sezaman Ibn Rusyd di Timur, Suhrawardi Al-Maqtul, pendiri Mazhab Isyraqi, juga telah menghasilkan karya-karya besar filosofisnya, seperti Al-Talwihat, Al-Muqawamat, Al-Masyari' wa Al-Mutharahat, dan yang paling orisinal dari semua itu Hikmat Al-lsyraq. Karya-karya Isyraqi ini disusul oleh karya-karya Nashir Al-Din Thusi, yang membela tradisi Ibn Sina, dan Quthb Al-Din Syirazi, yang lebih sejalan dengan tradisi Isyraqi. Karya-karya filosofis Thusi antara lain Syarh Al-Isyarah wa Al-Tanbihat, Baqa' Al-Nafs, Aqsam Al-Hikmah, Rabth Al-Hadits bi Al-Qadim, Kaifiyyah Al-Shudur AI-Maujudat, dan yang paling terkenal di antaranya, Akhlaq-i Nashiri (The Nasirean Ethics), sebuah karya etika yang berusaha menyempurnakan kitab serupa dari Miskawaih, Tahdzib AI-Akhlaq. Sedangkan di antara karya-karya Quthb Al-Din Syirazi, selain Nihayah Al-Idrak, yang telah kita singgung, adalah Syarh fi Risalah fi Tahqiq 'Alam Al-Mitsal, dan magnum opus-nya, Durrah Al-Taj li Ghurrah Al-Dubaj, yang meliputi enam jilid (25.000 halaman).

Bagian 6

Masih tentang karya-karya filosofis, kita memiliki sederetan panjang karya-karya yang tidak begitu dikenal, tetapi penting sebagai mata-rantai antara Thusi dan Mulla Shadra, seperti Al-Risilah Al-Syamsiyyah dan Hikmah Al-‘Ain, karangan ‘Umar Al-Katibi Al-Qazwini (w. 1276 M), Risillah Al-‘Ulum Al-‘Aliyyah oleh Haidar Al-Amuli (w. 1385 M), Kitilb Al-Mujli oleh Ibn Abi Jumhur Al-Ahsha'i (w. 1499 M) dan Akhlilq-i Jalali oleh Jalal Al-Din Al-Dawwani (w. 1503 M). Termasuk kategori ini juga beberapa karya filosofis dari para filosof yang tergabung dalam apa yang dikenal sebagai "Mazhab Isfahan", seperti Risalah Shana'iyyah oleh Findiriski, Riyadh Al-Abrar karangan Rustamdari (w. setelah 1571 M), dan Al-Qabasat serta Jadzawat oleh pendiri Mazhab Isfahan, Mir Damad, yang dikenal di kalangan murid-muridnya sebagai al-mu'allim al-tsalits (guru ketiga), setelah Aristoteles dan Al-Farabi. Dia juga adalah guru utama bagi filosof terbesar pasca Ibn Rusyd, Mulla Shadra. Tentunya Mulla Shadra, panggilan populer Shadr Al-Din Al-Syirazi (w. 1641 M), telah menyumbangkan beberapa karya agung filosofis, seperti Al-Syawahid Al-Rububiyyah, Hikmah Al-‘Arsyiyya dan Al-Masya‘ir dan yang terpenting dari semua karyanya dan telah menjadi masterpiece-nya, Al-Asfar al-‘Arba'ah Fi Al-Hikmah Al-Muta'aliyah. Karya-karya ini disusul oleh beberapa karya karangan murid-muridnya, seperti ‘Ain Al-Yaqin oleh Mulla Faidh Kasyani dan karya Persia, Gauhar-i Murad, oleh Mulla ‘Abd Al-Razzaq Lahiji. Karya-karya lain yang bisa dimasukkan ke dalam kategori ini adalah sebuah risalah Persia Kalid-i Bihist (Kunci Firdaus) oleh Qadhi Sa'id Qummi (w. 1691 M), dan Syarh Al-Manzhumah, serta Asrar Al-Hikam karangan Mulla Hadi Sabzawari (w. 1873 M), filosof terbesar Dinasti Qajar.

Selain karya-karya ilmiah dan filosofis, kita juga tidak boleh mengabaikan karya-karya mistik-filosofis, seperti Al-Thawasin oleh Al-Hallaj, Munajat oleh Khwaja ‘Abd Allah Anshari (w. 1089 M), Ihya’ ‘Ulum Al-Din dan Misykat Al-Anwar oleh Abu Hamid Al-Ghazali, Hadiqah Al-Haqiqah oleh Hakim Sana'i (w. 1150), Futuh Al-Ghaib oleh Syaikh ‘Abd Al-Qadir Jailani (w. 1166 M), Asrar Namah dan Manthiq Al-Thair oleh Farid Al-Din 'Aththar (w. 1204 M), Fushush Al-Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyyah oleh Ibn ‘Arabi, Matsnawi Ma‘nawi oleh Jalal Al-Din Rumi, Lama'at oleh Fakhr Al-Din ‘Iraqi (w. 1289 M), Kitab Al-Hikam oleh Atha' Allah Al-Iskandari (w. 1309 M), dan Al-Insan Al-Kamil oleh ‘Abd Al-Karim Al-Jili (w. 1403 M). Masih ada sederetan panjang dari karya-karya mistik Islam, yang tidak perlu disebutkan secara terperinci di sini.

Nah, selain dihimpun tentu saja karya-karya ini perlu kita kaji secara intensif, diadaptasi, dan kalau mungkin direvisi serta dikembangkan sesuai dengan perkembangan mutakhir dalam bidang ilmu dan filsafat. Dan yang paling penting adalah bahwa karya-karya klasik yang maha-penting ini perlu sekali diterjemahkan dengan sebaik dan seakurat mungkin (bahkan kalau bisa dianotasi dan diberi komentar oleh penerjemahnya). Karya-karya ini perlu dipelihara dan ditangani secara serius, untuk kemudian dihimpun secara teratur dan sistematik dalam perpustakaan-perpustakaan negeri atau pribadi, mengingat sangat terbatasnya dalam peredaran karya-karya masterpiece di atas, baik dalam bentuk aslinya maupun, untuk kepentingan yang lebih luas, dalam bentuk terjemahan.

Penerjemahan karya-karya klasik ini ke dalam bahasa Indonesia sangat dibutuhkan oleh kaum terpelajar dan kawula muda, yang tidak terlatih secara profesional dalam bahasa aslinya, untuk bisa mengakses karya-karya utama—dari tangan pertama para penulis aslinya. Harus diakui, karya-karya utama ini sangat sukar kita peroleh pada saat ini sehingga pengetahuan kita tentang karya-karya tersebut selalu bergantung pada sumber-sumber sekunder, dengan segala risiko bias dan distorsinya, yang kadang cukup signifikan. Ketersediaan dan aksesibilitas dari karya-karya klasik inilah yang kita harapkan dapat meratakan jalan atau meletakkan dasar beranjak dari perjalanan panjang menuju renaisans. Dan cukup bagiku untuk merasa bangga dan bersyukur seandainya aku bisa turut ambil bagian--betapapun tidak berartinya--dalam proses perataan jalan panjang ini, sekalipun realisasi dari impian itu mungkin baru akan terlaksana jauh setelah generasi kita semuanya menghadap ke hadirat-Nya.

Bagian 7

Satu hal lagi yang ingin aku ungkapkan, sebelum mengakhiri bab ini, adalah kenyataan bahwa kita, pada saat ini, sebenarnya berada pada posisi yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan para perintis Renaisans terdahulu sebab pada saat ini kita memiliki lebih dari satu sumber peradaban. Selain khazanah Islam yang amat luas—yang sedang kita upayakan membangkitkannya kembali—kita juga memiliki warisan yang tidak kalah kaya dan menariknya, yaitu warisan ilmiah dan filosofis Barat, yang masih berlangsung dan terus berkembang di hadapan kita. Sekalipun kita perlu menyaringnya dengan kritis dan selektif, tetapi tidak berarti bahwa warisan Barat bisa kita tinggalkan.

Dalam bidang filsafat, Barat terus melahirkan banyak sekali karya agung, baik sebelum dan terutama setelah masa Renaisans (kedua). Filsafat Barat modern boleh dikata bermula dari karya Rene Descartes (w. 1650 M), yang sering disebut Bapak Filsafat Modern, dengan salah satu karya utamanya The Meditations. Setelah itu menyusul karya-karya besar lain yang berpengaruh, seperti Essay Concerning Human Understanding oleh John Locke (w. 1704 M), Principles of Human Knowledge oleh George Berkeley (w . 1753 M), A Treatise of Human Nature oleh David Hume (w. 1776 M). Pada abad ke-19, karya-karya ini diperkaya oleh Immanuel Kant (w. 1804 M) dengan tiga macam kritik, yaitu Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason, dan Critique of Judgment oleh Hegel (w.1831 M) dengan karyanya The Phenomenology of Mind dan oleh Karl Marx (w. 1883 M) dengan karya besarnya, Das Kapital, yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran filosofis dan sosial abad ke-20.

Abad ke-20 juga telah menyumbang banyak sekali karya filosofis yang agung, antara lain: Memory and Matter dan Creative Evolutionoleh Henri Bergson (w. 1941 M), Logische Untersuchungen dan Ideen zu einer reinen Phanemenologie und phaenologischen Philosophie oleh Edmund Husserl (w. 1938 M), Process and Reality, Principle of Natural Knowledge, dan The Concept of Nature oleh Alfred North Whitehead (w. 1947 M), Time and Being oleh Martin Heidegger (w. 1976 M), La Nause, Being and Nothingness oleh Jean Paul Sartre (w. 1980 M), dan Essays in Self-Criticism oleh seorang strukturalis, Althusser (w. 1990 M), dan tentunya masih banyak lagi karya yang tidak perlu disebutkan di sini.

Namun, fenomena yang lebih menarik dan bahkan spektakuler justru terjadi dalam bidang ilmu (sains) yang telah melahirkan teknologi yang sangat canggih, yang dengannya manusia mampu menjelajahi dunia yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Banyak penemuan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dihasilkan oleh pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Barat. Telah kita singgung bagaimana Nicholai Copernicus (w. 1543 M) dalam bukunya, De Revolutionbus Orbium Caelestium atau On the Revolution of the Celestial Orbs, telah mengadakan revolusi astronomis, yang telah menggeser teori geosentris ke heliosentris. Adapun Pierre Simon de Laplace (w. 1827 M) dengan bukunya The Celestial Mechanics,telah merintis sebuah teori besar "Big Bang".

Bagian Akhir

Alat-alat astronomis juga berkembang pesat. Edwin Hubble (w. 1953 M), dengan teleskop 200 inci-nya di Gunung Palomar, telah mengadakan penyelidikan terhadap galaksi, dan mengukuhkan dengan bukti-bukti yang akurat teori bahwa alam semesta senantiasa berkembang. Dengan merunut ke belakang ke kejadian awal alam semesta, peristiwa "Big Bang" diperkirakan terjadi dua puluh miliar tahun yang lalu.

Barat juga telah mencatat prestasi yang fantastik dan sulit dipercaya, misalnya dengan mendaratkan manusia di bulan, membangun stasiun, satelit di luar angkasa, dan menyelidiki tata surya melalui satelit tidak berawak, Viking, untuk memantau dan memotret planet-planet tata surya, seperti Mars, Yupiter, Saturnus, beserta bulan-bulan mereka, dari dekat.

Dalam bidang fisika, penemuan-penemuan Barat juga begitu gemilang. Dimulai dengan penemuan Isaac Newton (w. 1727 M ), yang menemukan hukum gravitasi universal dan hukum determinisme mekanik dalam bukunya yang terkenal Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, atau sering disebut Principia saja. Sukses Newton yang luar biasa dalam bidang ini, menjadikan fisika mekanikanya sebagai "The Science", yakni model bagi semua cabang ilmu modern, seperti kimia, astronomi, bahkan biologi, dan sosiologi. "Fisika Newtonian" menguasai panorama ilmiah selama tiga abad setelah penemuannya. Teori ini hanya ditandingi oleh teori General Relativity Albert Einstein (w. 1955 M), yang telah membuat langkah penting filosofis dengan menjadikan sang pengamat bagian penting secara fisik dari dunia, dan tentu saja oleh teori Mekanika Kuantum yang merupakan hasil usaha bersama fisikawan modern, seperti Max Planck, Einstein sendiri, Niels Bohr, Werner Heisenberg, Paul Diract dan Edwin Schrbdinger. Dengan teori kuantum ini banyak misteri di dunia subatom terbongkar, dan dia telah melakukan revisi yang sangat fundamental terhadap fisika tradisional. Misalnya, dengan teori ini batallah teori yang mengatakan bahwa atom merupakan bagian partikel material terkecil yang tidak bisa dibagi lagi karena menurut teori ini atom-atom ini masih bisa dibagi lagi ke dalam inti (nukleus), inti ke dalam hadron (proton, neutron, dan elektron), dan hadron ke dalam quark. Dari penyelidikan mereka juga diketahui bahwa unsur materi dalam atom itu hanya sepersejuta dari atom tersebut, sedangkan sisanya adalah nonmateri.

Tentu saja fenomena-fenomena spektakuler lainnya terjadi dalam bidang-bidang lain, seperti biologi (Evolusi Darwin), kimia, anatomi, dan biokimia (ingat kasus bayi tabung dan kloning), yang semata-mata menunjukkan kekayaan warisan Barat, tetapi tentu saja tidak bisa kita sebutkan satu per satu di sini. Cukuplah dikatakan di sini bahwa khazanah peradaban Barat telah mewariskan banyak sekali bahan-bahan baku (raw materials) yang dapat kita gunakan dan kita olah untuk merumuskan pandangan dunia yang kita harapkan.

Dengan demikian, jelaslah kepada kita tersedianya bahan baku yang luas, baik dari warisan klasik Islam maupun warisan Barat dan ini merupakan kekayaan potensial yang luar biasa besarnya untuk kita olah bersama warisan intelektual pribumi sebagai bahan dasar. Dari bahan-bahan dasar inilah kita harapkan akan muncul sintesis-sintesis teoretis besar yang menjadi syarat bagi tercapainya sebuah renaisans. Akan tetapi, ini baru mungkin kita lakukan, apabila bahan-bahan baku tersebut dibuat available dan accessible bagi para cerdik pandai bangsa tercinta ini, dengan langkah-langkah yang telah aku usulkan, yaitu mendaftarkan sebanyak mungkin, meneliti, menganalisis, dan mengadakan kajian-kajian intensif terhadap karya-karya tersebut dan kalau mungkin menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Yang perlu aku ingatkan di sini adalah bahwa "peluang emas" ini—di mana kita mewarisi karya-karya klasik Islam, yang masih perlu kita hidupkan kembali, di satu pihak, dan warisan Barat modern dan kontemporer yang masih hidup dan berkembang, di pihak lain, untuk kita jadikan fondasi yang kukuh bagi upaya menciptakan renaisans ketiga—mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sekali kita melepaskan peluang emas ini, bisa saja kita akan kehilangannya untuk selama-lamanya.

(Dikutip dari buku Menembus Batas Waktu, Mizan, 2002)

Tradisi Ilmiah Islam, Khazanah yang Terabaikan

 Oleh: Salahuddin - di sini

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين والصلاة والسلام على اشرف المرسلين وعلى اله وصحبه اجمعين. وبعد,

Yth. Bapak Dekan Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin
Yth, Para Pembantu Dekan, Para Dosen, dan Karyawan di Lingkungan Fak. Tarbiyah dan Keguruan dan,
Terkhusus kepada Adik-adik Mahasiswa Baru Fak. Tarbiyah dan Keguruan, kami ucapkan selamat atas kelulusan adik-adik bergabung di Fakultas tercinta ini.

Assalâmu ‘alaikum Wr. Wb.
Pada kesempatan ini, perkenankan saya, selaku yang diamanahi membawakan orasi ilmiah pada Pembukan Kuliah hari ini, untuk berbicara seputar tradisi ilmiah Islam. Pembicaraan ini saya anggap sangat penting karena tradisi yang telah dibangun sedemikian panjang oleh para ilmuwan Muslim ini mungkin tidak lagi kita kenal, dan karena tidak kenal, maka kita anggap tidak ada. Padahal justru karena adanya tradisi inilah, umat Islam pernah sedemikian lama berjaya. Nah dalam rangka meraih kembali kejayaan peradaban Islam tersebut, tradisi ilmiah Islam ini kita angkat kembali.

Hadirin yang terhormat.
Sejarah umat manusia mencatat bahwa ilmu pengetahuan mempunyai korelasi positif dengan maju mundurnya sebuah bangsa. Bangsa yang ilmu pengetahuannya berkembang dengan baik adalah bangsa yang maju bahkan terkemuka di dunia, sekalipun dari sudut jumlah penduduk dan wilayah geografisnya tidak begitu besar.

Sejarah juga mencatat bahwa umat Islam pernah mencatat prestasi yang sangat gemilang dalam bidang ilmu pengetahuan. Kala itu, umat Islam menjadi penguasa dunia satu-satunya. Pertanyaan besar kita adalah mengapa para pendahulu kita bisa sedemikian maju, sementara kita begitu terpuruk? Tentu mungkin banyak faktor yang menjadi penyebabnya, tapi yang jelas bukan faktor ajaran Islamnya. Karena mungkin kita semua tahu, (tapi tidak menyadari?), bahwa Islam adalah agama yang sangat (bahkan paling) empatik dalam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu.

Hadirin yang terhormat.
Tentu saja orasi ini tidak berpretensi menjawab atau menganalis faktor-faktor penyebab keterpurukan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan, tetapi hanya ingin menggelitik kita semua dengan mengemukakan secuil dari tradisi para ilmuwan Muslim dalam menuntut ilmu, yang kemudian mengantar mereka menggapai peradaban gemilang di masa lalu.

Hadirin yang terhormat.
Banyak sekali kita temukan ayat al-Qu’an maupun Hadis Nabawi sangat menekankan pada pentingnya ilmu dan keutamaan menuntutnya lebih dari yang lain. Karenanya, tidak heran jika kemudian para sahabat, tabi‘în, tabi‘it tâbi‘în dan beberapa generasi setelahnya begitu bersemangat dalam mengejar dan menuntut ilmu. Berikut beberapa cuplikan ayat maupun hadis tentang hal tersebut.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (al-Mujadalah: 11)
“Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga.”
“Barang siapa menginginkan dunia, maka hendaklah dengan ilmu, barang siapa menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”
“Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya untuk orang-orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang diperbuat mereka. Sesungguhnya seluruh isi langit dan bumi akan memintakan ampun bagi orang yang berilmu, bahkan ikan di air. Kelebihan orang berilmu dibanding dengan orang yang giat beribadah bagaikan bulan dibanding dengan planet-planet lain. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris nabi-nabi. Sesungguhnya para nabi itu tidak meninggalkan warisan uang dinar, tidak pula dirham, tetapi mereka meninggalkan ilmu. Barangsiapa yang mewarisinya, berarti ia mendapat keuntungan yang banyak.”

Hadirin yang terhormat.
Berbeda dengan kebanyakan ilmuwan modern yang mengkaji alam sebagai sebuah realitas independen, para ilmuwan Muslim dalam mengkaji ayat kawniyah (alam), tidak pernah menganggapnya sebagai realitas yang independen yang terlepas kaitannya dengan realitas-realitas apapun yang lebih tinggi darinya. Kata Nasr, tidak ada seorang ilmuwan Muslim yang mengkaji dan meneliti alam hanya demi melunaskan rasa ingin tahu saja. Tetapi mereka semua melakukan itu dalam rangka mencari jejak-jejak ilahi (Vestigia Dei). Atau kata Iqbal, karena alam adalah medan kreatifitas Tuhan, maka meneliti alam akan sama dengan meneliti sistem kerja (af’âl) Tuhan. Dengan demikian, meneliti alam dapat meningkatkan iman dan kecintaan kita kepada Sang Pencipta, bukan sebaliknya, seperti yang sering terjadi di Barat yang justru menjauhkan ilmuwan dari Allah.

Hal ini sangat penting untuk kita catat karena ini akan berimplikasi sangat signifikan terhadap paradigma keilmuan yang nantinya akan kita bangun di UIN ini. Karena yang mendominasi dunia pendidikan dewasa ini adalah pendekatan Barat yang sekuler, yang memisahkan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Pemisahan ini seperti yang terlihat hasilnya dewasa ini justru semakin menjauhkan manusia dengan Tuhannya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan tradisi ilmiah yang telah dibangun oleh para ilmuwan Muslim terdahulu.

Hadirin yang terhormat.
Di Barat, banyak ilmuwan besar yang menjadi nabi-nabi pengetahuan, setelah dewasa secara umur dan dari segi keilmuan, mereka malah meninggalkan Tuhan. Setelah tahu bahwa alam ini diatur oleh hukum mekanik, Laplace mengatakan, kalau begitu kita tidak perlu lagi Tuhan. Tuhan dulu diperlukan untuk menjelaskan kenapa alam ini bisa bekerja seperti ini. Sekarang, Newton sudah menemukan hukum alam yang mengatakan bahwa alam diatur oleh hukum mekanik. Dengan ditemukannya hukum ini, bagi Laplace, Tuhan sudah tidak punya peran apa-apa dan tidak diperlukan lagi. Darwin mengatakan, dulu memang bisa kita mengatakan bahwa hewan-hewan itu diciptakan Tuhan, tapi sekarang dengan diketemukannya hukum seleksi alam, kerang harus menciptakan sendiri engselnya kalau dia ingin survive

Di bidang Psikologi, juga Tuhan diberhentikan sebagai Tuhan. Dilihat dari proses kejiwaan manusia, kata para psikolog, saya curiga, jangan-jangan bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Karena ide Tuhan muncul ketika manusia tidak mampu lagi menjawab tantangan alam, dan kemudian merasa kecil di hadapan alam kemudian minta tolong secara imajinatif, membayangkan adanya Yang Mahakuasa dengan harapan bahwa yang Kuasa ini akan menolongnya dalam kesusahan. Kata mereka, daripada menyembah Tuhan yang kita ciptakan sendiri, lebih baik hadapi alam dengan gagah.

Di bidang Sosiologi, juga Tuhan diberhentikan sebagai Tuhan. Kata mereka, selama ini kita keliru menganggap Tuhan itu ada. Padahal Tuhan itu adalah proyeksi masyarakat. Masyarakatlah sebenarnya yang berhak disebut Tuhan. Karena masyarakat begitu berkuasa, apa kata masyarakat itulah yang jadi.

Dengan demikian, dari sudut materi, kehidupan, budaya, dan pemikiran, semua mencampakkan Tuhan. Ini akibat dari mempelajari alam tidak karena untuk menguak tanda-tanda kekuasaan Allah.

Berbagai karut marut dan kekacauan yang terjadi di dunia saat ini, sepenuhnya berakar pada keterpisahan manusia dengan Tuhannya. Keterpisahan inilah yang menumbuhkembangkan ego dalam diri manusia yang kemudian melahirkan manusia-manusia yang materialis, serba eksak, dan individualis. Akibat selanjutnya adalah gap yang semakin lebar antara kaya dan miskin, pintar dan bodoh dan lain-lain. Keberhasilan selalu diukur hanya dari laba material keberhasilan usaha juga dinilai hanya dari ekspansi, pendapatan, dan kekuasaan untuk menguasai yang lain. Keterpisahan ini kemudian berakibat lebih jauh, yakni keterpisahan dengan sesamanya, keterpisahan dengan makhluk lainnya, dan keterpisahan dengan semesta. Praktiknya antara lain menyebabkan kerusakan lingkungan, kemiskinan, penyakit, jurang kesenjangan sosial yang menganga, dan berbagai dampak serius lainnya. Dampak itu termasuk keresahan sosial, ketiadaan kesetiaan dan kepercayaan dalam hubungan-hubungan sosial, menguatnya pandangan membedakan orang lain, dan munculnya kelompok eksklusif berdasarkan agama, etnis, dan golongan. Karena yang dikejar modal material, maka kehendak untuk menjaga, merawat, berbagi, dan melayani juga tipis. Korupsi merajalela karena orang tak punya rasa bersalah mencuri hak milik banyak orang.

Tak ada obat yang paling mujarab untuk mengatasi semua ini selain mengembalikan manusia kepada Tuhannya.

Kenyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa ilmu itu tidak netral. Ilmu adalah hasil (by product) dari pandangan hidup (worldview) suatu bangsa.

Hadirin yang terhormat.
Tradisi kritik. Salah satu kunci sukses keilmuan Islam adalah adanya semangat dan tradisi mengeritik yang luar biasa di kalangan ilmuwan Muslim. Tentu saja semangat mengeritik ini sangat diperlukan bagi kemajuan dan perkembangan ilmiah di manapun, karena melalui semangat mengeritik ini, teori-teori ilmiah yang telah ada diuji kesolidan dan koherensinya, sehingga hanya teori-teori yang betul-betul solid dan koheren yang dapat tahan uji, sedangkan yang tidak, akan gugur dan ditinggalkan. Dengan cara begitu, sebuah teori akan terus mengalami perbaikan, revisi, bantahan dan sebagainya, hingga fondasi baru yang solid dapat ditemukan. Dalam hal kritik ini, ada nasihat yang sangat bijak dari al-Ghazali katanya, “kalau kita ingin kritikan kita efektif, maka hendaknya kita menguasai dulu dengan baik materi yang akan kita kritik, bahkan kalau bisa mengungguli para ahlinya.” Al-Ghazali rupanya tidak sekedar membual dan memberi nasehat, tetapi betul-betul ia praktekkan. Sebelum ia menulis kritiknya terhadap filsafat dalam Tahâfut al-Falâsifah (Kerancuan Para Filosof), ia menghabiskan waktu selama 1.5 sampai 2 tahun untuk mempelajari filsafat, bahkan ia menulis apa yang ia pelajari dari filsafat dalam bukunya Maqâshid al-Falâsifah (Maksud-Maksud Para Filosof). Setelah itu, barulah ia menulis kritiknya terhadap para filosof dalam Tahâfut al-Falâsifah. Juga ketika beliau masih belajar di bawah bimbingan AGH. al-Juwainî, Imâm al-Haramain. Al-Ghazâlî juga memperlihatkan sikap kritisnya yang luar biasa yang membuat sang guru kebakaran jenggot. Seperti biasanya, setiap selesai mengajar, al-Juwainî, Sang Guru Besar, meminta untuk memberikan kritik terhadap pelajaran yang baru saja disampaikannya. Ketika membaca ta’liqah kedua al-Ghazâlî, Sang guru dilaporkan menyatakan, “Engkau sungguh telah menguburku hidup-hidup! Tidakkah engkau bisa bersabar sedikit untuk menangguhkannya sampai aku mati dulu? Demikian kita melihat adanya semangat kritis untuk menemukan kesalahan dari guru tertentu dan ajaran-ajarannya.

Hadirin yang terhormat.
Tiga Sumber Ilmu. Dalam tradisi keilmuan Islam, setidaknya terdapat tiga sumber ilmu, yaitu indera, akal, dan hati atau intuisi. Di dalam Misykât al-Anwâr-nya Al-Ghazali menyebut hal ini sebagai cahaya-cahaya yang akan mengantar seseorang untuk meraih petunjuk/hidayah Allah swt. Apabila ketiga potensi itu termaksimalkan akan melahirkan manusia yang profesional dalam ragam dan bidang yang beraneka pula. Dengan potensi daya indrawi yang termaksimalkan, akan lahir bukan saja olah ragawan-olah ragawan yang berprestasi tetapi juga saintis-saintis yang handal. Dengan potensi daya akal, akan lahir para pemikir atau pun para filosof yang mumpuni. Dengan potensi daya hati atau intuisi, akan lahir seniman-seniman, spritualis-spiritualis atau sufi-sufi agung. Karena potensi-potensi tersebut telah ada dalam setiap diri manusia, maka sangat dimungkinkan, meski mungkin sangat jarang, seseorang bisa menghimpun ketiga keahlian tersebut dalam dirinya. Kita dapat menemukan betapa banyak ilmuwan muslim yang memiliki lebih dari satu keahlian di dalam dirinya. Misalnya saja, Ibn Sina di samping sebagai seorang filosof, ia juga berprofesi sebagai seorang dokter yang handal. Bukunya, masih dikaji di fakultas-fakultas kedokteran dan telah mengalami ribuan kali dicetak ulang di negeri Barat sampai saat ini. Di abad ini, kita juga menemukan nama Muhammad Hisyâm Kabbânî, seorang Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah, yang juga seorang ahli Fiqh dan ahli Fisika. Tentu saja, lebih banyak lagi yang mempunyai keahlian pada satu bidang saja.

Repotnya, sekarang ini, mereka yang memiliki keahlian pada bidang tertentu seringkali mengklaim bahwa bidangnya itulah yang terbaik sembari meremehkan bidang-bidang lainnya. Kalau sudah menjadi sufi, ia anti filsafat; kalau sudah menjadi filosof, ia anti tasawuf; dan kalau sudah jadi ilmuwan, anti filsafat dan tasawuf. Sikap seperti ini sebenarnya lebih merupakan sikap arogansi yang justru mengingkari potensi lain yang ada pada dirinya. Kalau bisa tiga-tiganya kita kuasai, karena indera, akal, dan hati ada dalam diri yang sama. Kitalah penyandang tiga sumber yang istimewa ini dalam diri kita.

Hadirin yang terhormat.
Ke depan, UIN harus mengembangkan ketiga sumber ini secara integral. Sains melalui pengamatan indera kita pelajari, filsafatnya melalui analisa akal kita pelajari, tasawufnya melalui persepsi intuitifnya juga kita pelajari, dan wahyunya (dalam pandangan para filosof Muslim merupakan tingkatan tertinggi perolehan intuitif) melalui metode bayaninya kita pelajari. Sehingga di sini betul-betul terjadi integrasi.

Kebanyakan ketika kita bicara tentang integrasi ilmu, yang terpikir oleh kita adalah ilmunya, atau sains dari Barat, dan agamanya Islam, yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Akibatnya, ketika kita integrasikan, yang terjadi adalah hasil-hasil sains itu kemudian diberi ayat, dilabelisasi. Setidaknya ada dua kelemahan yang sangat mendasar dari pelabelan seperti ini. Pertama, kita menganggap bahwa seakan-akan apa yang dihasilkan oleh sains Barat itu oke, dan ada kesan bahwa sains itu universal, tidak ada yang bertentangan dengan Islam, dan tugas kita hanya mencari ayat-ayat dan hadis-hadis untuk menguatkannya. Anggapan ini sesungguhnya melupakan fakta bahwa kadang-kadang hasil penelitian ilmiah Barat itu juga perlu diteliti, karena ternyata banyak yang merugikan dari sudut aqidah seperti yang telah kita singgung di atas. Kalau kita baca Darwin misalnya, di situ tidak ada dikatakan bahwa Tuhan adalah pencipta species-species. Karena yang bertanggungjawab terhadap munculnya species adalah hukum seleksi alam. Jadi Tuhan sama sekali dicoret dalam biologi. Jadi peng-ayatan sains itu berasal dari asumsi yang keliru bahwa sains itu mesti cocok, tidak ada problem, dan karena itu tinggal dicarikan ayat-ayatnya. Kedua, seakan-akan Islam tidak punya tradisi ilmiah, tidak punya sains. Jadi ketika mereka harus mengislamkan sains, mereka tidak punya perspektif, bagaimana harus menilai sains itu. Itu karena mereka telah lama meninggalkan tradisi ilmiah Islam. Mereka tidak pernah menduga bahwa di dalam Islam telah pernah ada zoologi psikologi, anatomi, botani dan sebagainya. Ini terutama terlihat dari para pembaharu yang biasanya agak melupakan tradisi ini. Ajakan mereka kembali ke Qur’an dan Hadis itu kemudian melupakan hasil ilmiah yang sedemikian panjang, dan kemudian karena tidak tahu seolah-olah tradisi itu tidak ada.

Hadirin yang terhormat.
Jadi pentingnya kajian ini adalah untuk melihat bahwa sebenarnya ada tradisi ilmiah dalam arti saintifik di dalam tradisi ilmiah Islam. Jadi kalau mau melihat sains, barangkali kita bisa melihatnya melalui perspektif tradisi ini. Bagaimana Ibn Sina, yang sekaligus ilmuwan, sekaligus juga religius melihat sains itu. Apa pandangan filosofisnya terhadap sains. Inilah yang seharusnya digali. Tapi karena mereka mengabaikan tradisi yang sudah berumur ribuan tahun itu, maka ketika mereka dihadapkan kepada sains mereka kemudian bingung. Satu-satunya yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana memberikan ayat-ayat, pelabelan, justifikasi dengan asumnsi bahwa hasil sains Barat itu oke, tidak ada problem. Padahal orang Barat sendiri sudah mengeritik sains mereka dengan posmonya.

Contoh kecil bisa kita kemukakan di sini misalnya dalam bidang zoologi (ilmu hewan). Berbeda dengan zoologi di Barat yang hanya membatasi diri pada aspek fisiologi hewan, para ahli zoologi Muslim melebarkan penelitian mereka pada aspek-aspek lain seperti fisiologis, religius, eskatologis, farmakologis, etik, bahkan literature dan filosofis. Al-Jâhizh misalnya, telah meneliti dan mempelajari 350 hewan. Al-Jâhizh tidak hanya melakukan pendeskripsian dan pengklasifikaian hewan ke dalam empat kategori menurut cara mereka bergerak, tetapi juga banyak tertarik kepada psikologi hewan. Selain itu, Al-Jâhizh juga menjadikan zoologi sebagai sebuah cabang kajian agama, karena menurutnya tujuan mempelajari zoologi tidak lain daripada menunjukkan keberadaan Tuhan dan kebijaksanaan yang ada pada ciptaan-Nya. Sementara yang lain meneliti hewan dari persfektif moral. Kitab Kalîlah wa Dimnah misalnya, memperlihatkan bahwa penulisnya tidak hanya tertarik untuk belajar tentang hewan, tapi juga belajar dari hewan. Banyak pelajaran moral yang dapat kita petik dari kitab tersebut, yang merupakan cerita hewan (fable) yang menunjukkan berbagai karakter hewan serta akibat dari tingkah laku mereka.

Jadi dengan kembali pada tradisi ilmiah para ilmuwan Muslim ini, saya kira kita tidak akan terjatuh pada pelabelan atau justifikasi yang mungkin atau boleh jadi dipandang sinis oleh para ilmuwan Barat. Demikian juga, dengan kembali menengok tradisi ini, problem dikhotomi keilmuan juga setidaknya akan teratasi. Kita juga tidak perlu risau dengan kurangnya jam mata pelajaran agama di sekolah-sekolah, bahkan lebih dari itu, tidak perlu kiranya menambah jam pelajaran agama menjadi 4 jam pelajaran seperti yang belum lama ini terjadi. Karena kalau hal ini dipahami dengan baik oleh semua pendidik, maka otomatis mereka akan memberikan nuansa keagamaan terhadap mata pelajaran apapun yang dibinanya.

Hadirin yang terhormat.
Hierarki Kebahagiaan. Bersesuaian dengan sumber ilmu di atas, di dalam tradisi ilmiah Islam kita juga mengenal adanya hierarki kebahagiaan. Bagi para ilmuwan Muslim, alangkah malangnya kita, kalau yang kita kenal dan kita ketahui hanya kebahagiaan/kesenangan fisik. Kalau hanya kebahagiaan ini saja yang kita tahu, maka hidup kita tak ada bedanya dengan hewan-hewan. Bahkan kata al-Qur’an, lebih buruk dari hewan, karena kita punya potensi lebih dari yang dimiliki hewan, yaitu akal dan hati. Karena kebahagiaan fisik itu begitu terbatas. Kita hanya bisa merasakan nikmatnya makan kalau kita ada penyakit yang namanya lapar. Nikmatnya minum ketika ada penyakit yang namanya haus. Dan lain-lain. Hisyâm Kabbânî, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah, bercerita bahwa ketika ia menjalani latihan spiritual di bawah bimbingan gurunya, selama 6 bulan ia dilatih untuk makan hanya satu biji kurma setiap harinya. Coba kita renungkan, adakah orang-orang seperti Hisyâm Kabbânî ini akan cemas akan makan apa ia dalam hidup ini? Bukankah dengan sepuluh biji kurma saja ia sudah bisa makan sepuluh hari? Bagaimana dengan kita?

Yang lebih tinggi dari kebahagiaan ini adalah kebahagiaan intelektual. Kata Socrates, kebahagiaan intelektual itu adalah kebahagiaan tak terbatas, karena obyeknya juga tak terbatas. Akan tetapi, kata Ibn Hazm, ada lagi yang lebih tinggi dari hanya kebahagiaan intelektual yaitu kebahagiaan moral. Kebahagiaan moral itu adalah kalau kita dapat mengamalkan apa yang kita ketahui. Kalau kita mengetahui bahwa sedekah itu baik, maka alangkah bahagianya kalau kita bisa menjadi pemberi sedekah. Secara psikologis, pemberi pasti selalu merasa lebih bahagia daripada yang diberi. Yang lebih tinggi lagi, kata para sufi adalah kebahagiaan spiritual, yaitu ketika seorang dapat mencintai dan menyaksikan Tuhannya lebih nyata dari yang lain di balik setiap yang ada ini.

Diceritakan bahwa nama besar al-Râzî, teolog Muslim Sunni, telah menarik setiap ulama/orang untuk datang menghadiri ceramahnya ke kota manapun ia datang. Suatu saat ketika ia berada dan berpidato di Nishabur, ia mendapat laporan bahwa seorang alim tidak datang. Ketika al-Râzî berkunjung ke rumah orang tersebut, yang ternyata adalah adalah Najm al-Dîn Kubrâ, ia bertanya, “Mengapa Anda tidak datang menghadiri ceramahku, padahal ia menjelaskan hal yang sangat penting, seperti 1001 macam argumen adanya Tuhan.” Dalam jawabnya, Najm al-Dîn berkata, “1001 argumen hanya penting bagi mereka yang punya keraguan akan adanya Tuhan, sedangkan aku sendiri, bagaimana aku bisa ragu terhadap keberadaan Tuhan padahal kini aku sedang jatuh cinta pada-Nya.

Hadirin yang terhormat.
Potret Semangat Para Ilmuwan Muslim. Diceritakan bahwa Yaqut al-Hamawî sampai berguru dengan sungguh-sungguh kepada lebih dari 3000 orang guru. Al-Tabarî dikatakan, telah menulis sebanyak 40 halaman perhari selama 40 tahun. Dalam 6 bulan, Ibn Sina telah menulis sebuah kitab, yaitu al-Inshâf, yang di dalamnya didiskusikan kurang lebih 28.000 masalah filsafat. Ia juga telah menulis 270 buah buku. Al-Râzî mengarang buku sebanyak 200 buah. Ibn Hazm menulis 400 buku. Al-Suyûthî telah menulis 600 buku selama hidupnya. Dan banyak lagi penulis-penulis produktif lainnya seperti al-Ghazâlî, Ibn ‘Arabî, Jalaluddin Rûmî, Ibn Rusyd, Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim al-Jawziyyah, dan lain-lain. Jangan dikira karena banyaknya jumlah karangan mereka, lalu kemudian mereka hanya menghasilkan karya yang tipis-tipis saja, tidak! Rata-rata buku yang ditulis ilmuwan Muslim juga sangat besar jumlah halamannya, yang menunjukkan intensitas minat dan stamina yang mereka miliki dan juga kompleksitas keilmuan yang mereka hadapi. Sebagai contoh, al-Qânûn fî al-Thibb karangan Ibn Sina edisi terakhir yang ada sekarang ini terdiri dari tiga jilid besar dengan masing-masing rata-rata lebih dari 500 halaman. Al-Hâwî yang dianggap sebagai buku induk kedokteran karya al-Râzî terdiri dari 20 jilid dengan masing-masing rata-rata 600 halaman.
Di dalam syair Jalaluddin Rumi diceritakan ada seorang Syekh dengan lentera di tangan. Orang-orang lalu bertanya, Ya Syekh, mencari apa kamu dengan lenteramu. Syekh tersebut menjawab, “Aku mencari orang, aku mencari manusia.” Dalam pikiran mereka (yang bertanya), apa kamu juga bukan manusia. Syekh itu melanjutkan, “Aku bosan dengan hewan-hewan. Aku bosan dengan dengan orang yang patah semangat.” Mereka lalu menimpali ucapan Syekh tadi katanya, “Ya Syekh, yang engkau cari telah kami cari, dia tidak ada di mana-mana.” Kata Syekh lagi, “Dia yang dicari oleh kamu yang tidak ada di mana-mana itulah yang aku cari.”

Hadirin yang terhormat.
Apresiasi Penguasa dan Masyarakat terhadap Ilmuwan dan Karyanya. Ibn Rusyd tidak akan dikenal terutama di Barat sebagai komentator Aristoteles kalau bukan karena penguasa Muwahhidun, Abû Ya’kub Yûsuf, yang memiliki ketetarikan kepada ilmu pengetahuan khususnya filsafat, yang memintanya untuk memberi komentar terhadap karya Aristoteles tersebut. Sebelumnya, Ibn Sînâ juga diminta penguasa Alâ’ al-Dawlah, penguasa Kakuyd di Isfahan untuk menulis sebuah karya filsafat untuknya, sehingga lahirlah karyanya Danish Nama-i Ala’i. Al-Azîz (975-996) membeli buku sejarah al-Thabarî dengan harga seratus dinar, hampir separuh dari budget perpustakaan pertahun. Karya Ibn Duraid di bidang leksikografi al-Jamhara dibeli dengan harga 60 dinar. Mahmûd al-Ghazna menghargai 60.000 keping emas terhadap karya Firdawsî, Shah Namah (buku tentang Raja-Raja Persia) yang berisi 60.000 ribu syair. Sementara karya Ibn Sîna, al-Syifâ dibeli oleh Muhammad Tughlûq, Sultan Delhi, seharga 200.000 mitsqal emas. Khalifah al-Ma’mûn, pendiri Bayt al-Hikmah, begitu besar perhatiannya terhadap ilmu, mengapresiasi karya-karya terjemahan dari Bahasa Yunani ke Bahasa Arab dengan membayar penerjemahnya dengan emas berbanding dengan berat buku terjemahan yang dihasilkannya. Demikian juga dalam seminar-seminar, sangat sering beliau dalam membuka suatu seminar, dia sendiri juga berpartisipasi aktif dan penuh dalam seminar tersebut sampai berakhir. Demikian juga dengan Raja Ja’far dari Sijistan.

Hadirin yang terhormat.
Perpustakaan. Begitu besar minat dan perhatian para ilmuwan, masyarakat, dan terlebih para penguasa terhadap ilmu, juga dapat dilihat dari besar dan banyaknya koleksi buku yang ada di perpustakaan mereka. Bayt al-Hikmah, di samping sebagai sebuah akademi, ia juga berfungsi sebagai perpustakaan di mana ribuan atau bahkan ratusan ribu jilid buku langka dan berharga disimpan dan dikaji dengan seksama. Dâr al-Hikmah yang didirikan oleh al-Hakîm di Mesir memuat tidak kurang dari 100.000 volume atau sekitar 600.000 jilid buku. Observatorium Maraghah memiliki sekitar 400.000 jilid. Perpustakaan Fadhliyyah yang didirikan oleh Salâhuddîn al-Ayyûbî memiliki 120.000 volume. Bandingkan misalnya dengan perpustakaan di Eropa. Universitas Paris pada abad XIV hanya memiliki 2000 manuskrip. Perpustakaan Vatikan pada abad XV memiliki 2.257 buah. Demikian juga dibanding dengan China, perpustakaan Peking yang mewarisi buku-buku dari Dinasti Chin, Sun dan Yuan, pada tahun 1441 hanya memiliki koleksi buku sebanyak 7.350 buah.

Demikian orasi ini, semoga ada manfaatnya bagi kita semua, wa Allâh al-musta‘ân, wassalâmu alaikum warahmatullâh wabarakâtuh.

Dapatkah Dunia Islam Kembali Ke Cahaya Ilmu Pengetahuan?

sumber: budhiana.salmanitb.com

Judul Asli: Can Islam Come Back to the Light of Science? Karya Ross Pomeroy, diterjemahkan atas seizin yang bersangkutan (translated by permission)

Hari Minggu lalu adalah titik balik matahari musim panas di belahan bumi utara. Begitu sumbu bumi miring, matahari mencapai posisi tertinggi di langit, memanggang daerah lintang utara untuk jangka waktu yang panjang. Warga Fairbanks Alaska menjalani hari yang berlangsung hampir 22 jam, sedangkan penduduk Duluth,Minneosta melewati siang yang cukup moderat yaitu 16 jam.

Tahun ini yang merupakan Tahun Cahaya Internasional sangatlah pantas kita menyebut seorang manusia yang pernah menulis tentang cahaya : Ibnu Haytham. Sebagai seorang muslim saleh yang cinta sains, dia percaya bahwa mencari kebenaran dan pengetahuan tentang alam akan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Pencarian dirinya — hal yang ilmiah dan spiritual– telah membawa menulis karya besarnya : Buku tentang Cahaya atau Kitāb al-Manāẓir‎ (كتاب المناظر). Terbit sekitar 1000 tahun lalu,buku tebal itu menggambarkan seluk beluk cahaya lebih akurat dari pada yang pernah ada sebelumnya, dan yang paling penting, dilengkai dengan bukti-bukti eksperimental rinci nan cermat. Terlebih lagi, Ibnu Haytham menggambarkan eksperimennya secara jelas sehingga siapapun dapat mengulanginya. Apa yang dilakukannya ini menjadi cikal bakal lahirnya metoda ilmiah itu sendiri.

Ibnu Haytham mempublikasikan karya monumentalnya ini di era keemasan ilmu pengetahuan di kawasan Timur Tengah. Kira-kira antara tahun 750 hingga 1258, penemuan-penemuan ilmiah mengalir dari dunia Islam bak air Sungai Tigris dan Euphrat. Tidak ada bagian dunia lainnya yang menyaingi kebangkitan intelektual Timur Tengah saat itu. Perpustakaan agung dibangun di Kairo, Aleppo dan Bagdad. Para sarjana dari pelbagai penjuru dunia berkumpul di kota-kota metropolitan untuk bertukar pikiran. Penemuan-penemuan revolusioner begitu melimpah dan murah.

Tapi kemudian semua itu berakhir. Para penyerang Perang Salib dari Eropa, dan gelombang invasi Mongolia dari Asia adalah gara-garanya. Perang telah menyebabkan dunia Islam compang-camping. Bertahun-tahun terjadilah perpecahan dan kemiskinan. Akhirnya, dari serpihan abu ribuan buku yang terbakar, dari reruntuhan perpustakaan yang hancur lebur, dan ide-ide yang musnah itu, justru muncul pola pikir seperti abad pertengahan yang meniadakan rasa ingin tahu dan berdasarkan iman buta. Selama abad keemasan para pemimpin Islam selalu mengobarkan kalimat Qur’an “Tinta ulama lebih mulia daripada darah syuhada,” dan “Tidakkah mereka melihat bagaimana awan diciptakan, bagaimana langit ditnggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan?” *) dan mereka menganggap sains sebagai sesuatu yang suci. Namun di era baru itu, para pemimpin Islam memandang sains dengan apatis. Jawaban-jawaban tentang kehidupan selalu dilemparkan langsung kepada kitab suci; tidak ada dorongan untuk investigasi lebih dalam.

Pandangan seperti ini telah membuat pincangnya sains di dunia Islam selama berabad-abad. Seperti yang dilaporkan The Economist, efeknya masih berlangsung hingga sekarang:
Tahun 2005 Universitas Harvard memproduksi jauh lebih banyak karya ilmiah dibanding keseluruhan 17 negara Arab. Dari 1,6 miliar muslim di dunia hanya ada dua peraih Nobel untuk ilmu pengetahuan yaitu kimia dan fisika. Dua-duanya hijrah ke Barat. Yang masih hidup tinggal kimiawan Ahmad Hassan Zawail yang mengajar di California Institute of Technology. Di pihak lain, kaum Yahudi yang jumlahnya hanya seperseratusnya dari muslim, memenangkan 79 Nobel. Ke seluruh 57 negara yang tergabung dalam Organisasi Konperensi Islam hanya menyediakan 0,81% dari produk domestik bruto (PDB) untuk riset dan pengembangan, atau hanya sepertiga dari rata-rata dunia. Amerika sebagai negeri yang paling besar anggarannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan membelanjakan 2,9% dari PDB-nya. Israel berlimpah dengan 4,4%.

Namun demikian, ada tanda-tanda perbaikan. Riset terakhir Thomson Reuter menunjukkan bahwa negara-negara Arab, Iran, dan Turki menghasilkan lebih banyak output sains, tumbuh lebih cepat dibanding Asia dan Amerika Latin. Dengan melihat gejolak politik di kawasan Timur Tengah, baik dampak buruk mapun positif, sangatlah menarik untuk mencermati apakah trend ini akan terus berlanjut.

Reuters melaporkan, Ahmad Zawail, ilmuwan Mesir pertama peraih Nobel ilmu pengetahuan, mengungkapkan tiga kunci untuk mendorong berkembangnya sains di dunia Islam:
“Pertama, membangun sumbedaya manusia dengan cara memberantas buta huruf, memastikan adanya partisipasi aktif perempuan dalam masyarakat, dan memperbaiki pendidikan. Kedua, harus ada reformasi konstitusi demi adanya kebebasan berpikir, meminimalkan birokrasi, mengembangkan merit system, dan membangun hukum yang kredibel dan bisa ditegakkan. Terakhir, cara terbaik untuk meraih kepercayaan diri adalah menyiapkan centers of excellence di dalam bidang sains dan teknologi di masing-masing negara muslim untuk menunjukkan bahwa cita-cita itu bisa diraih, untuk menunjukkan bahwa muslim bisa berkompetisi di era ekonomi global ini dan mendorong kaum muda untuk lebih bergairah belajar.”

Sayangnya, usulan Zawail ini tampaknya akan menemui jalan buntu di negara-negara dengan rezim otoriter dan dogmatik. Banyak masyarakat Islam yang terjerumus dalam aturan-aturan agama yang membatasi kebebasan dan berekspresi, dua kunci yang justru penting bagi sains. Terlebih lagi, hukuman-hukuman brutal siap menghadang mereka yang ingin mengubah status quo.

Berkembangnya ISIS merupakan salah satu hambatan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Di area-area yang berada dalam penguasaan kaum radikal, mengajarkan evolusi adalah sesuatu yang terlarang, fisika dan kimia diajarkan dengan catatan : Allah mengatur segala hal. Yang paling memprihatinkan adalah siswa dilarang belajar matematika.
“Mereka tidak mengerti bahwa kata “aljabar” muncul dari matematikawan Persia, Al-Khwarizmi, yang Kitab al-Jabr Wa al-Mugabala,” ujar Karen Graham.

Di Tahun Internasional untuk Cahaya ini, ada tanda-tanda kemandegan dan ada tanda-tanda kebangkitan Islam dalam ilmu pengetahuan. Kita hanya berharap bahwa warga dunia Islam bisa melihat zaman keemasan mereka dan menatap jalan terang di depan.***


*) Mungkin penulis mengutip QS Al-Ghasiyah, namun tidak pas.

Steven “Ross” Pomeroy is the assistant editor of RealClearScience. A zoologist and conservation biologist by training, Ross has nurtured a passion for journalism and writing his entire life. Ross weaves his insatiable curiosity and passion for science into regular posts and articles on RealClearScience’s Newton Blog. Additionally, his work has appeared in Science Now and Scientific American. @SteRoPo

Baitul Hikmah, Mengadabkan Dunia Timur dan Barat dengan Buku

Oleh Kholili Hasib. Sumber: inpasonline.com

Baitul Hikmah merupakan perpustakaan terbesar yang pernah dimiliki umat Islam di Baghdad. Dibangun oleh Khalifah Harun al-Rasyid pada abad IX M yang kemudian diteruskan oleh puteranya Al- Makmun. Perpustakaan ini tidak hanya mengoleksi buku, tapi juga berfungsi sebagai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting.

Peran vitalnya, mampu mendorong aktivitas intelektual hingga kemudian mengangkat Daulah Abbasiyah menapaki kejayaannya. Perpustakaan ini dianggap sebagai pusat intelektual dan keilmuan semasa zaman kegemilangan Islam.

Kampanye Penerjemahan

Dalam catatan sejarah, perpustakaan itu mengoleksi sekitar 2 juta jilid buku. Jumlah yang cukup fantastis pada masa itu. Kegiatan penting dalam Baitul Hikmah adalah penerjemahan karya-karya asing.Baitul Hikmah pada mulanya hanya berminat untuk menterjemah hasil kerja orang Parsi, bermula dari bahasa Pahlavi, kemudian Syriak dan seterusnya dari bahasa Yunani. Oleh itu banyak terjemahan dilakukan dalam bidang astrologi, matematik, pertanian, perobatan dan filsafat.

Dalam sejarah peradaban Islam, kekhalifahan Abbasiyah merupakan kekhalifahan yang banyak melahirkan ilmuan dan menghasilkan temuan-temuan ilmiah. Faktor utama yang mengangkat era keemasan Abbasiyah salah satunya adalah penerjemahan buku-buku dan penelitian manuskrip di perpustakaan Baitul Hikmah.

Puncak aktifitas penerjemahan itu pada masa Khalifah al-Ma’mun. Pada masa itu, Baitul Hikmah berada di bawah seorang penyajak dan ahli astrologi Sahl ibn-Harun. Sarjana lain yang dikaitkan dengan perpustakaan tersebut adalah al-Khawarizmi, al-KindiMohamed Jafar ibn Musa dan Ahmad ibn Musa. Hunayn ibn Ishaqditugaskan dalam kerja menterjemah oleh Khalifah dan di antara penerjemah terkenal pada masa itu adalah Thabit ibn Qurra. Terjemahan pada masa itu sangat bermutu tetapi di kemudian hari penekanan terhadap terjemahan menurun karena idea baru menjadi lebih penting.

Thabit ibn Qurra menerjemahkan tulisan-tulisan baik dari bahasa Syiria, Yunani ke bahasa Arab. Ia menerjemahkan buku-buku Aristoteles, Archimides, Apollonius, Hero, Ptolomeus dan lain-lain. Selain menerjemhakan, di Baitul Hikmah ia dibayar khalifah untuk menulis buku-buku sains. Hingga kini menurut catatan John Freely, delapan puluh manuskrip dari buku-buku Thabit masih ada, termasuk 30 buku astronomi, 29 buku matematika, 4 buku sejarah, 3 buku mekanika, 3 buku geografi, 2 buku filsafat, 2 buku kedokteran, 2 buku mineralologi, 2 buku tentang music, 1 buku filsafat, 1 buku zoologi dan satu buku tasawwuf.

Buku asli karya Thabit di bidang matematika, fisika, astronomi dan pengobatan yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin sangat berpengaruh di Eropa. Roger Bacon memandang Thabit merupakan filsuf paling handal di Baitul Hikmah. Bukunya bahkan dijadikan acuan oleh Copernicus dalam teori pengukuran tahun dan hari.

Tokoh penting lainnya dalam gerakan kampanye penerjemahan adalah Qusta ibn Luqa yang Heliopolis Syiria. Ia dibayar sang Khalifah untuk menerjemahkan buku-buku berhasa Yunani. Ia beragama Kristen Syria yang fasih berbahasa Arab dan Yunani. Terjemahannnya terhadap buku Arithmetica karya Diophantus dinilai vital dalam mempertahankan karya tersebut karena versi aslinya yang berbahasa Yunani telah hilang. Hasil terjemahan lainnya adalah buku tentang kedokteran; On Isnomnia, On Sleep and Dreams, On Length and Shortnes of Life, On the Diversities of the Character of Men.

Menara Ilmu

Setelah proyek penerjemahan dirasa cukup, pemerintahan Abbasiyah kemudian mempekejakan ilmuan-ilmuan dari berbagai disiplin untuk meriset buku dan hasil terjemahan. Fungsi Baitul Hikmah bertambah. Ia tidak sekedar sebagai pusat penerjemahan buku-buku, akan tetapi menjadi lembaga penelitian, observatorium, tempat melakukan eksperimen sains, tempat berdiskusi pada mahasiswa dan bahkan menjadi tempat kuliah para mahasiswa dari berbagai penjuru negeri. Ketika kegiatan ilmiah semakin marak, di Baitul Hikmah dibangun asrama untuk menginap para mahasiswa dari luar negeri yang belajar di sana.

Para mahasiswa dan akademisi pada masa itu tersedot ke Kota Baghdad. Ini juga memberi peluang bisnis. Para pedagang, seniman, buruh dari penjuru negeri memenuhi daerah di sekitar Baitul Hikmah. Para cendekiawan yang datang ke Baghdad membawa serta ide-ide, ramuan disiplin ilmu dari negeri asalnya, kemudian dikembangkan di Baitul Hikmah hingga menjadi ilmu yang matang. Kondisi tradisi inilah yang memicu bangkitnya pencerahan Islam. Baghadad seakan menjadi menara ilmu sedunia.

Dari sini, terjadi ‘perkawinan’ ilmu pengetahuan. Ilmu para cendekiawan muslim bertemu dengan ilmu-ilmu dari Yunani. ‘Perkawinan’ ilmu ini tidak pernah terjadi sebelumnya oleh tradisi Kristen. Ada semacam ketakutan dari para ilmuan Kristen untuk membaca karya-karya Yunani. Ilmuan Kristen khawatir terpengaruh oleh filsafat Yunani.

Akan tetapi itu tidak terjadi dalam tradisi para ilmuan Islam. Para ilmuan Baitul Hikmah mengadapsi (atau Islamisasi) terhadap ilmu-ilmu asing. Konsep-konsep yang tidak Islami, dibuang dan diganti dengan filosofi Islam. Hasil karya adaptasi inilah yang kemudian diboyong oleh ilmuan Barat modern pada abad ke-15 untuk dikembangkan.

Dari hasil kajian yang sangat marak di Baitul Hikmah, khalifah kemudian mendirikan lembaga penerbitan. Hasil-hasil riset para guru besar dan ulama dibubukan. Berat bukunya ditimbang dengan emas oleh khalifah kemudian hasilnya diberikan kepada penulisnya sebagai tanda jasa. Baitul Hikmah yang telah menjadi pusat studi sedunia itu menurut catatan sejarah tidak kalah dengan Academia pada masa Yunani kuno.

Sistem madrasah juga lahir dan matang di Baitul Hikmah. Cikal bakal Madrasah Nizamiyah –dimana Imam al-Ghazali pernah menjadi guru Besar di situ– berasal dari Baitul Hikmah. Dari Baitul Hikmah ini lahir pakar ilmu dari berbagai bidang. Di antaranya; ahli fikih seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Dalam bidang teologi dan filsafat di antaranya, al-Kindi, Ibn Sina, al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi, Ibn Maskawih dan lain-lain. Sehingga sinar keilmuannya dikenal oleh para peneliti di Barat. []

Bangsa Arab, Islam dan Semit

Abdul Hadi W. M. - Facebook Notes

Bangsa Arab adalah salah satu bangsa dari keluarga rumpun ras Semit. Bahasa dan bangsa Semit adalah istilah/sebutan yang diberikan para sejarawan atas bangsa-bangsa yang berbahasa Arab, Ibrani, Suryani (Suriah Lama), Ethiopia, Phoenisia, Assyria, dan Aramea. Isitilah Semit sendiri dinisbahkan kepada Sam, putera Nabi Nuh a.s. sebagaimana diisyaratkan di dalam Perjanjian Lama (Kitab Kejadian 10:1). Boleh jadi sebutan itu terutama disandang bangsa Arab, di samping bangsa Yahudi, karena bangsa Arab merupakan bangsa yang paling gigih memelihara kepribadian dan ciri ras Semit sejak dulu hingga sekarang. Bahasa Arab pun demikian. Ia termasuk ke dalam bahasa rumpun Semit yang paling terpelihara ciri dan karakternya. Semua ini ada hubungan dengan kondisi kehidupan di Semenanjung Arab dengan keadaan alamnya yang tidak begitu ramah, yang membuat ras dan bahasa Arab mampu bertahan dari berbagai serbuan sebagaimana menimpa bangsa dan rumpun bahasa Semit lain yang bukan Arab. Peran kemunculan agama Islam juga sangat besar dalam mengukuhkan kemantapan perkembangan bahasa Arab dan kebudayaan bangsa Arab. Kita tahu al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab Hejaz, tempat Nabi Muhammad dilahirkan, dan disebabkan pesatnya studi al-Qur'an itulah bahasa dan kesusastraan Arab berkembang pesat pada masa awal penyebaran Islam.

Sebagian peneliti berpendapat bahwa penafsiran tradisional yang menyatakan bahwa bangsa-bangsa Semit adalah keturunan Sam bin Nuh tidak diperkuat oleh penelitian ilmiah. Sebab cikal-bakal bangsa-bangsa yang tinggal di wilayah ini, seperti bangsa Babylonia, Assyria, Khaldea, Aramea, Phoenisia, Ibrani, Arab dan Ethiopia, pada zaman dahulu sebelum mereka berpencar adalah satu bangsa yang tinggal di tempat yang sama. Kenyataan ini dikukuhkan oleh adanya berbagai aspek kemiripan di antara bahasa-bahasa mereka. Menurut para ahli bahasa, akar kata kerja dalam semua bahasa mereka, yaitu bahasa-bahasa Semit, terdiri dari tiga huruf dan keterangan waktunya mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk masa lalu dan bentuk masa kini. Perobahan kata kerjanya pun serupa, demikian pula pokok kata-kata, di antaranya kata ganti dan kata benda yang menunjuk pada hubungan darah dan bilangan, dan sebagian kata benda dari organ tubuh hampir sepenuhnya sama. ”Apabila kita melihat sistem sosial dan keagamaan bangsa-bangsa yang berbicara dalam bahasa-bahasa Semit ini dan kita bandingkan ciri jasmani mereka, akan tampak keserupaan di antara mereka begitu nyata. Kekerabatan bahasa memang merupakan salah satu manifestasi kesatuan ras, sebagaimana jika kita bandingkan dengan kekerabatan bahasa-bahasa pribumi Nusantara dan keserupaan ciri fisiknya. Keserupaan juga tampak gamblang dalam hal seperti naluri keagamaan, tajamnya imajinasi, dan kuatnya perasaan individualistik dari bangsa-bangsa dari rumpun ras Semit ini.

TEMPAT TINGGAL

Mengenai tempat tinggal bangsa-bangsa Semit yang awal para ilmuwan berbeda pendapat. Mereka yang merujuk kepada kitab Taurat/Perjanjian Lama berpendapat bahwa tempat asal manusia adalah Mesopotamia, yang kemudian berpencar ke seluruh penjuru bumi. Dari bangsa Semit lahirlah bangsa Assyria dan Babylonia di Iraq, bangsa Aramea di Syam, bangsa Phoenisia di pantai Suriah, bangsa Arab di Semenjanjung Arab, dan bangsa Ethiopia di Afrika. Sedangkan sebagian Orientalis, yang mendasarkan pendapat mereka pada asal-usul bahasa dan kata jadiannya, serta adanya keserupaan antara bahasa Semit dan bahasa Hamedh (yaitu bahasa Afrika), berpendapat bahwa tempat asal bangsa Semit adalah Afrika, tepatnya Ethiopia, mengingat banyaknya persamaan antara Ethiopia dan negeri Arab, baik iklim maupun bahasanya. Tetapi beberapa Orientalis lain berpendapat bahwa daerah asal bangsa Arab adalah Semenanjung Arab. Dari Semenanjung inilah kemudian mereka berpencar ke berbagai penjuru dunia dalam berbagai gelombang migrasi seperti halnya yang terjadi pada permulaan Islam. Sedang orientalis lain lagi mengatakan bahwa tempat asal bangsa –bangsa Semit adalah Lembah Syam sampai ke Nejd.

Tetapi tujuan pembicaraan kita bukan memastikan tempat asal bangsa-bangsa Semit. Melainkan bagaimana kebudayaan-kebudayaan yang telah ada sebelum datangnya Islam, mempunyai dampak tidak langsung khususnya bagi bangsa Arab setelah datangnya agama Islam. Ketika agama Islam lahir di tanah Arab, bangsa Arab dibagi ke dalam dua kelompok: Pertama, kaum Baduwi atau nomaden yang tinggal di padang pasir dan kerap berpindah-pindah, dan kedua, penduduk perkotaan yang hidup di daerah-daerah yang subur. Sebagaimana kita ketahui jantung Semenanjung Arab adalah padang pasir tanpa air dan tumbuh-tumbuhan, tetapi di pinggir-pinggirnya terdapat wadi-wadi subur yang mendapat curah hujan tinggi sehingga tanamannya dapat tumbuh dengan baik, Di daerah pinggir ini juga terdapat daerah perdagangan yang diikuti dengan tumbuhnya kebudayaan. Adanya dua macam keadaan berbeda secara geografis ini telah mengakibatkan terjadinya dualisme dalam karakter penduduk Semenanjung Arab sejak dulu, yaitu antara kaum Baduwi dan penduduk kota. Kata-kata Baduwi yang semula dinisbatkan bagi suku-suku yang hidup nomaden di padang pasir, kemudian diperluas hingga meliputi mereka yang yang menghuni daerah-daerah pertanian. Ini terutama karena mayoritas orang Baduwi, sesuai karakter peradaban di negeri-negeri Arab, mampu menjadikan hubungan-hubungan antara kenomadenan dan kekotaan begitu erat. Ini tampa manifestasinya dalam perpaduan keduanya sampai ke batas tertentu. Walaupun distribusi geografis antara padang pasir dan wilayah subur berpengaruh, namun keterjalinan dan keterikatan yang ditimbulkan oleh perdagangan dan budaya mampu membuat kedua kelompok sosial ini tidak jauh berbeda.

Sepanjang sejarah mereka, sejak lama sebelum Islam lahir, kehidupan perkotaan telah merefleksikan berbagai keadaan yang menunjukkan berbagai temperamen yang sama seperti dimiliki kaum Baduwi. Penduduk kota misalnya cukup banyak yang memiliki kebiasaan merantau dan berpindah tempat, sesuai dengan pergantian musim, atau ketika negeri mereka tertimpa paceklik serta mengalami pergolakan seperti peperangan antar kaiblah.

Keserupaan antara kehidupan suku Baduwi di Semenjanung Arab dengan penduduk perkotaan, ditopang oleh kebiasaan suku Baduwi yang suka menetap di tempat yang terdapat air dan padang penggembalaan, walaupun tidak jarang mereka sengaja mendatangi atau pindah ke daerah-daerah perkotaan, terlepas dari masalah ternak gembalaan mereka. Karena itu terjadilah interaksi dan kontak, kemudian system kesukuan pun menjadi sistem yang berkembang di seluruh Semenanjung Arab. Walau demikian, di berbagai kawasan perkotaan, pinggir-pinggir pantai, telah muncul pusat-pusat kebudayaan Arab kuna. Ini terlihat dari berbagai relief yang ada di sana, suatu pertanda telah tegaknya beberapa kebudayaan. Di Semenjanjung Arab sebelah Timur misalnya, terdapat kebudayaan Khaldea dan Assyria. Di sebelah Utara kebudayaan Aramea, Kanaan, dan Anbath. Di sebelah Selatan kebudayaan Saba’ dan Humair. Sedangkan di sebelah Barat, di sepanjang pantai Laut Merah berdiri beberapa kota yang penduduknya adalah kaum Lahyan dan Tsamud. Secara tidak langsung kebudayaan-kebudayaan Semit kuna tersebut memberikan andil bagi berkembangnya kebudayan Islam.

ARAB DAN KEBUDAYAAN ISLAM

Dalam membentuk kebudayaan Islam sejumlah besar bangsa yang memeluk Islam telah ikut berperan besar. Khususnya bangsa-bangsa Persia, India, Turk, Yunani, dan lain sebagainya. Bangsa-bangsa ini pula, ketika Islam datang sedang terburuk dan masih dalam keadaan belum subur kebudayaannya, menjadi bangsa yang berm,artabat dan memainkan peranan penting dalam pentas sejarah dunia berkat datangnya Islam. Sebut saja bangsa Persia dan Turk. Ketika Islam datang kekaisaran Persia sednag ambruk dan bangsa Persia sedang terpuruk. Pun ketika Islam datang bangsa Turk di Asia Tengah masih merupakan bangsa nomaden yang hidup tanpa kesatuan politik, tetapi begitu mereka bergabung dengan Islam maka sejarah mereka ke puncak-puncak kejayaannya.

Kebudayaan Islam, seperti halnya kebudayaan-kebudayaan lainnya, tidaklah muncul dari kekosongan. Melainkan berawal dari munculnya berbagai kebudayaan di kawasan dunia lain seperti Mesir, Persia, Yunani, Babylonia, Tiongkok, Romawi dan lain-lain. Unsur-unsur dari kebudayaan-kebudayaan ini kemudian tersaring menjadi bahan pembentuk kebudayaan Islam, setelah lebih dahulu dilebur dalam satu wadah oleh Islam, dan diwarnai dengan corak Islam dalam kedudukannya sebagai dasar aqidah dan metode kehidupan. Namun ini tidak berarti bahwa kita harus menutup mata terhadap keanekaragaman sifat-sifat khusus kebudayaan-kebudayaan itu dan perbedaan dalam cita rasa , kecenderungan politik, agama, khazanah sastra, lingkungan geografis, dan bahasa yang berkembang di dalamnya, karena jelas itu ada. Misalnya jika kberbicara tentang kebudayaan Islam Arab, Persia, Turki, Afrika, Indo-Pakistan dan Melayu-Indonesia/Nusantara.

Akan tetapi untuk kepentingan pembicaraan kita sekarang, yang penting dicatat ialah upaya penyatuan yang telah dilakukan Islam itu secara intuitif, mencakup konsepsi Islam tentang wujud dan wawasan sejarah yang membuat bangsa yang budayanya anekaragam itu bisa saling berkerabat dan berdekatan. Dilihat dari sudut pandang lain, peran serta bangsa-bangsa bukan Arab dalam benetuk kebudayaan Islam tidaklah mengurangi orisinalitas kebudayan Islam. Sebab apa pun yang disebut dngan kebudayaan itu tidak lain daripada tindakan memberi dan menerima serta hasil bersama pengalaman manusia sepanjang sejarah.

Kebudayaan Islam baru yang unggul ini berhasil membuat pudar berbagai kebudayaan kuna, serta memanfaatkan khazanah dan unsur kebudayaan yang ada dengan merombaknya, menukilnya, atau menidadakannya, sehingga dalam kawasan-kawasan kaum Muslimin timbul pula sifat-sifat baru yang dodominasi semangat yang sama, yaitu semangat Timur khusus yang menyatukan anggota-anggota imperium Islam, sekalipun asal dan ras mereka aneka ragam. Semangat seperti itulah yang mampu menaklukkan filsafat Yunani ketika filsafat ini masuk ke dalam lingkungan kebudayaan Timur, dan mewarnai filsafat ini dengan corak rohani dan ilham yang berbeda dari asalnya serta unik. Ia adalah semangat yang oleh pera penelit dipahami sebagai sebagai karakteristik bersama dari kaum Muslim yang kebangsaannya berbeda-beda.

Pada waktu Islam muncul dan tersebar luas di berbagai negeri Timur, semangat ini menjadi berkembang dan kukuh, sampai kemudian semangat ini disatukan oleh Islam, sehingga bangsa-bangsa tersebut bernaung di bawah satu hukum, atau sistem pemerintahan, berbicara dengan satu bahasa dan mayoritas mereka memeluk agama yang sama. Walaupun transportasi ketika itu sukar, namun para ilmuwan Muslim sangat sering mengadakan perlawatan untuk bertukar pikiran dan menyebarluaskan seruan-seruan agama dan politik. Sementara para penguasa dan khilafah pun mengirim para utusan yang dibekali dengan ajaran-ajaran yang satu dalam substansinya. Semuanya ini membuat bersatunya bangsa-bangsa tersebut dan membentuk apa yang disebut sebagai Ummat yang satu, yang memiliki tradisi sastra yang satu, kebudayaan yang satu, dan ilmu yang dibagi bersama baik khazanah maupun ciri-ciri metodologinya.

Jelaslah di sini bahwa kebudayaan Islam bukan kebudayaan Arab, akan tetapi dalam pembentukan kebudayaan Islam, unsur Arab memainkan peranan penting. Ini karena bangsa Arab adalah bangsa pertama yang menerima Islam dan menegakkan panji-panjinya serta menyerukan panggilannya. Mereka adalah bangsa yang dalam puncak kejayaannya memancarkan hal-hal cemerlang yang selalu menyertai nama-nama para penakluk dunia. Dalam masa seabad saja bangsa ini telah mampu mendirikan sebuah kekhalifatan/imperium besar yang kekuasaannya terentang dari pantai Lautan Atlantik hingga perbatasan Tiongkok, dan mengungguli kekaisaran Romawi dalam puncak kejayaannya. Selama periode perluasan ini, yang belum pernah terjadi sebelumnya, lewat kontak dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkan bangsa Arab mampu membuat putra-putera bangsa tersebut menerima agama, bahasa, dan adab mereka, suatu hal yang tidak pernah mampu dibuat oleh bangsa lain sebelumnya, juga sesudahnya, dan dalam hal ini tiada perkecualian bagi bangsa Yunani, Romawi, Anglo Saxon dan Rusia.

(Nukilan dari buku `Effat al-Sharqawi “Filsafat Kebudayaan Dalam Islam”.)