Showing posts with label nadirsyah hosen. Show all posts
Showing posts with label nadirsyah hosen. Show all posts

Keberhasilan itu juga berproses

Hal-hal baru itu tidak muncul begitu saja. Youtube tidak mungkin lahir pada tahun 1980. Kenapa? Karena pada tahun 1980 belum tersedia koneksi internet yang cepat dan belum ada pula perangkat untuk menyaksikan video di layar komputer. Ebay tidak mungkin hadir pada tahun 1950 karena saat itu belum muncul pc (personal computer), belum ada jaringan internet dan belum tersedia software untuk melakukan pembayaran onlne. Begitupula apa yang kini terjadi dengan facebook dan instagram. Produk masa kini itu hasil dari masa lalu dan bagian dari masa depan.

Ide besar itu boleh saja muncul tiba-tiba tapi ia sesungguhnya didahului oleh hal-hal kecil yang mendahuluinya. Boleh jadi kita mengalami momen "Eureka" dimana kita menemukan solusi atas apa yang kita pikirkan, lantas seperti orang gila kita berteriak-teriak keluar dari kamar mandi saking gembiranya.

Tapi, tunggu sebentar, momen "Eureka" seperti Archimedes juga sesungguhnya didahului bukan saja oleh berbagai renungan ngawur, penolakan, guncangan dan kepusingan yang akut, tapi juga oleh suasana nyaman dan segar di kamar mandi. Pendek kata, seperti jagad raya ini, semuanya saling berkaitan dan berhubungan.

Yang kita sebut dengan penemuan besar, ide cemerlang, atau solusi nan mujarab harus dimulai oleh langkah kecil, dan boleh jadi bukan kita yang mengawalinya, tapi orang lain. There is nothing new under the sun. Tidak ada hal yang benar-benar baru di kolong langit ini. Maka mengapresiasi hal-hal kecil yang dilakukan orang lain adalah bagian dari proses penting sebuah 'discovery'.

Menoleh ke belakang adalah bagian dari cara kita menatap masa depan. Persis seperti pengemudi yang melihat kaca spion sebelum memutuskan bermanuver. Kita tidak bisa menjadi seperti sekarang tanpa menjalani apa yang terjadi di masa lampau.

Alih-alih menyesali apa yang terjadi seraya berharap memutar jarum jam ke belakang, kita justru harus terus mengendarai pengalaman masa lalu, bergerak maju dengan bekal yang ada dan menunggu waktu yang tepat untuk momen "Eureka" kita. Mereka yang mengalami akan terus beramal. Maka tepatlah ungkapan para Kiai di pondok: Menjaga hal-hal baik di masa lalu, dan membuka diri untuk mengerjakan hal-hal baru yang lebih baik.

Hidup ini kompleks dan komplit. Berdoa juga seperti itu. Tuhan itu sangat komplit dan menyeluruh. Tidak akan dikabulkannya doa kita sampai Dia persiapkan dulu hal-hal kecil maupun prasarana dan sarananya sehingga kita mampu dan sukses menjalani apa yang kita panjatkan kepadaNya. Saat doa terkabul, tidak dibiarkannya kita menjalaninya sendirian. Tidak dilepaskannya kita begitu saja. Semua titik kecil yang berserakan dihimpunkanNya menjadi sebuah aksara "kun fayakun" untuk kita.

Seperti munculnya ebay dan youtube, disiapkanNya kita untuk tampil dan berhasil pada waktu yang telah dipilihkanNya. Saat doa terkabul, kita telah direngkuh untuk terlibat menjadi bagian dari perencanaanNya. Dan bukankah sebuah kehormatan jikalau hidup kita telah dimasukkan dalam lintasan QadhaNya?

Tabik,

Nadirsyah Hosen
*masa lalu, masa kini dan masa depan bersama denganMu*

Hukum Islam yang Konstan dan Dinamis

Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, para sahabat dipaksa oleh keadaan untuk berijtihad. Semula mereka tinggal bertanya kepada Nabi, namun wafatnya Nabi membuat para sahabat harus menggali dari al-Qur'an dan Hadis akan jawaban terhadap berbagai kasus baru. Masing-masing dari Khulafa al-Rasyidin telah berijtihad dan tak jarang memantik reaksi dari sahabat lainnya.


Umar ibn Abd al-Aziz memberi komentar menarik: “Saya tidak suka kalau para sahabat tidak berbeda pendapat, sebab kalau mereka hanya mempunyai satu pendapat, tentu manusia akan berada dalam kesempitan, padahal mereka itu adalah para pemimpin yang dijadikan panutan oleh umat. Kalau ada seseorang mengambil salah satu dari beberapa pendapat sahabat yang ada, maka ia berada dalam keluasan.”

Pada masa tabi'in pengunaan ijtihad juga semakin meluas seiring dengan bertambahluasnya wilayah yang tergabung dalam kekuasaan Islam. Di Madinah saja pada abad kedua Hijriah muncul tujuh fuqaha termasyhur yang menjadi rujukan umat. Mereka meriwayatkan hadits sambil memberikan fatwa menjawab berbagai persoalan pelik. Ini belum lagi disebut para fuqaha di Kufah yang sering berbeda pandangan dengan ahlul hijaz.

Perbedaan pendapat tidak bisa dihindari sejak di masa sahabat sampai tabi'in. Namun banyak pihak yang merasa gelisah dan galau. Kesimpangsiuran mana hukum yang bisa dijadikan pegangan memaksa para ulama merumuskan konsep ta'abbudi dan ta'aquuli. Ada ajaran yang harus diterima apa adanya tanpa perlu dipikirkan hikmah dibalik pensyariatannya. Dan ada ajaran yang bisa dirasionalkan dan karenanya bisa diubah sesuai perkembangan. Pembagian ini ternyata tidak menghentikan perbedaan pendapat, maka muncullah teori kesepakatan (ijma').

Tapi bagaimana menentukan cakupan ijma' itu? Apakah ijma' ulama madinah saja sudah cukup dijadikan pegangan? Atau harus ijma' semua ulama? Apakah harus tercapai kesepakatan itu dengan pernyataan terbuka atau cukup dengan diam dan tanpa bantahan (ijma' sukuti)? Mulai abad ketiga hijriah, sudah semakin sulit mengklaim terjadinya Ijma'. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menganggap pembohong bagi mereka yang mengklaim ijma' setelah abad ketiga Hijriah.

Ketika ijma' gagal untuk menghentikan terjadinya perbedaan pendapat, maka muncul konsep Qat'i dan Zanni. Teks atau lafaz dari Nash yang mengandung kejelasan perintah atau larangan yang bersifat pasti tidak perlu ditanyakan lagi, Ini sudah masuk wilayah Qath'i al-dalalah. Di lain pihak sejumlah ayat yang memang mengandung penafsiran berbeda boleh terus didiskusikan karena ini wilayah Zhanni al-dalalah.

Ijtihad tidak berlaku pada wilayah yang Qath'i. Bahkan lambat laun muncul pula pernyataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Jadi, bukan hanya pada wilayah tertentu tapi pada semua aspek kita cukup mengikuti apa yang telah diputuskan para ulama terdahulu. Inilah masa kegelapan umat Islam, yang efeknya masih terasa sampai sekarang.

Namun gerak langkah peradaban dunia yang begitu dinamis membuat para ulama kembali berpikir ulang untuk membuka kembai pintu ijtihad. tapi bagaimana caranya? Kalau pintu dibuka dan tidak ada yang berani memasukinya terus apa gunanya?

Muncullah para pembaru yang dengan berani mengajukan pertanyaan: sejauhmana kita bisa meninggalkan teks Qath'i untuk kemudian merujuk pada maqashid al-Syari'ah? Sejak era Imam Syathibi, para ulama berdiskusi mengenai lima dasar tujuan pensyariatan hukum islam yaitu untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Inikah ijtihad model baru?

Bisakah yang kita anggap Qath'i itu adalah lima elemen maqashid al-Syari'ah di atas? Bisakah yang ta'abbudi menjadi ta'aqquli? Masihkah kita harus berpegang pada kesepakatan ulama terdahulu? Bisakah kita memfiqihkan yang Qath'i?

Perdebatan terus berlangsung untuk menyingkap mana wilayah yang konstan dan mana wilayah hukum Islam yang dinamis. Kalau kita perbesar wilayah yang konstant, maka gerak langkah umat menjadi terbatas. Kalau kita geser wilayah dinamis menjadi meluas, maka dikhawatirkan akan bablas dan tidak tersisa agama ini kecuali hal-hal ghaib dan mitos belaka. Bagaimana menentukan formula yang tepat dan seimbang?

Sementara itu kaum sufi menyimak perdebatan berabad-abad para fuqaha di atas dengan tersenyum sambil berucap lirih, "bukankah sudah kami usulkan untuk berpegang pada sabda Nabi: istafti qalbak (mintalah fatwa pada hatimu)?!"

Tuhan,
anugerahi kami akal tajam para fuqaha
dan hati bening para sufi.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama dan Dosen Senior Monash Law School

Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar

Prof Ahmad Chatib (Allah yarham) pernah bercerita beliau baru saja membeli sebuah buku dalam perjalanan di luar negeri. Kemudian beliau berpapasan di pintu dengan Gus Dur yang segera melihat buku bagus di tangan Prof Ahmad Chatib. Gus Dur bergegas ke dalam toko buku hendak membeli buku yang sama, tapi ternyata itu stok buku terakhir yang ada. Gus Dur kemudian cepat-cepat mengejar Prof Ahmad Chatib dan meminta beliau untuk meminjamkan buku tersebut.

Prof Ahmad Chatib, yang menceritakan kisah ini di kelas mata kuliah Filsafat Hukum Islam tahun 1994 di IAIN Jakarta, berkata: "terpaksa saya sodorkan buku itu kepada Gus Dur yang ingin sekali membaca buku tersebut". Selang beberapa lama setiap bertemu di Jakarta, Prof Ahmad Chatib selalu menanyakan nasib bukunya yang dipinjam Gus Dur itu. Akhirnya Gus Dur mengembalikan buku itu. Prof Ahmad Chatib terkejut setelah membukanya, "wah buku saya sudah penuh dengan catatan Gus Dur di sana-sini". Rupanya begitulah kesungguhan Gus Dur dalam menelaah sebuah kitab: sampai buku pinjaman pun dicoret-coreti.

Kisah kedua yang hendak saya ceritakan ini mengenai Kiai Abbas dari Buntet Pesantren. Saat Abah saya hendak mengaji kepada Kiai Abbas dengan membawa kitab Jam'ul Jawami', Kiai Abbas mengaku belum terlalu menguasai kitab itu, dan meminta Abah saya datang kembali membawa kitab tersebut beberapa hari ke depan. Rupanya Kiai Abbas menyimak dulu isi kitab ushul al-fiqh karya Imam al-Subki tersebut, dan kemudian setelah itu Abah saya dipanggil kembali dan Kiai Abbas dengan lancar mengajarkan isi kitab tersebut.

Dua kisah di atas saya ceritakan untuk menunjukkan kesungguhan para Kiai itu menuntut ilmu. Para Kiai itu membaca, menyimak dan memberi catatan isi kitab. Mereka menjadi alim bukan terjadi begitu saja. Sengaja diambil kisah dua kiai, yaitu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Abbas. Kedua tokoh hebat pada masanya masing-masing ini lebih sering dibahas karomah beliau berdua ketimbang dikisahkan kesungguhan beliau berdua belajar menuntut ilmu.

Kiai Abbas, menurut penuturan Abah saya yang menjadi santri khususnya, sangat menguasai ushul al-fiqh dan ilmu fiqh perbandingan mazhab. Pengakuan Abah: "kuliah saya di al-Azhar Cairo terasa mudah dengan bekal ilmu yang sudah diajarkan Kiai Abbas". Yang terkenal kemana-mana itu adalah peristiwa heroik 10 November dimana Kiai Abbas merontokkan pesawat sekutu dengan lemparan biji tasbih dan bakiaknya. Tentu saja Abah saya juga menceritakan berbagai karomah gurunya ini, namun setiap saya tanya apa wiridnya, Abah cuma berpesan: "belajar yang rajin saja Nak, belum waktunya membaca wirid macam-macam, nanti kalau kamu sudah jadi Kiai, kamu akan mengerti sendiri hal-hal gaib dan ajaib yang kamu tanyakan itu. Sekarang baca buku lagi!"

Dan kini kalau saya ceritakan kepada para santri bahwa saya meraih dua gelar PhD di dua bidang berbeda, di dua negara berbeda, dan saya selesaikan pada waktu yang bersamaan, spontan yang mereka tanya: "wiridnya apa sehingga bisa seperti itu?" Jarang yang tertarik bertanya bagaimana kesungguhan saya belajar sehingga bisa menyelesaikan dua program PhD tersebut. Lebih menarik bertanya doa dan wiridnya. Mungkin disangkanya lebih mudah wiridan ketimbang membaca buku.

Pesantren itu sejatinya lembaga pendidikan, bukan semata tempat orang belajar mistik apalagi klenik. Ini yang harus ditegaskan karena banyak kesalahpahaman. Selain kesannya ndeso, pesantren itu dikesankan tempat untuk belajar ilmu gaib. Orang tua menjadi takut mengirim anaknya ke pondok. Pulang dari pondok hobinya nanti menangkap jin. Sementara para santri ada sebagian yang bukannya belajar dengan tekun tapi malah sibuk mau jadi waliyullah dengan berharap mendapat ilmu laduni. Bahwa Gus Dur dan Kiai Abbas memiliki karomah, tentu kita yakini itu. Tetapi karomah itu hanya bonus saja, hasil dari istiqamah para kiai yang luar biasa. Istiqamah menuntut ilmu dengan terus rajin belajar, membaca, berdiskusi, dan menulis --ini yang harus kita warisi dari para masyayikh dan guru-guru kita.

Ceritakanlah kepada khalayak bagaimana Mbah Sahal Mahfud membaca dengan tekun dan karenanya menulis berbagai kitab yang luar biasa. Di ruang tamu beliau berjejer kitab fiqh dari mazhab selain mazhab Syafi'i. Kitab dari mazhab Syafi'i malah ditaruh di bagian belakang. "Kenapa?" tanya Prof Martin van Bruinessen. Jawab Mbah Sahal kalem, "karena kitab dari mazhab Syafi'i sudah saya hafal semua."

Kisahkanlah di medsos bagaimana Kiai Ihsan Jampes mengarang kitab yang kemudian dijadikan rujukan di manca negara. Atau tolong mintakan kepada KH Ahmad Mustofa Bisri untuk berkenan bercerita proses kreatif beliau sehingga tercipta berbagai tulisan dan barisan puisi yang menyentuh jiwa dan mengundang kita untuk merenunginya.

Jikalau ini yang kita ceritakan, tidak semata soal karomah para Kiai, baru kemudian umat akan memahami bahwa pesantren itu juga gudangnya dunia ilmu pengetahuan. Dan mereka akan lebih apresiatif saat mengetahui bahwa zikir dan pikir telah menjadi satu tarikan nafas keseharian para Kiai.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

: :

Tentang Hidup

- Nadirsyah Hosen

Hidup ini indah. Akal memberi pertimbangan, hati jua yang memilih. Akal pergi berlayar, hati jua tempat berlabuh.

Hidup ini penuh makna. Akal yang ngakali, namun hati jua yang berhati-hati. Akal melesat, namun hati jua yang merapat.

Hidup ini amanah. Akal yang melantunkan, hati jua yang menghaturkan. Akal yang menghitung, namun hati jua yang mendukung.

Hidup ini sebentar. Akal yang mencakar, namun hati jua yang menakar. Akal yang membakar, namun hati jua yang mengakar.

Logika, Diplomasi dan Berdebat dalam al-Qur'an

sumber: Nadirsyah Hosen

Al-Qur'an mengajarkan banyak hal kepada kita, bukan hanya melulu soal ritual dan aqidah, tapi juga tentang menggunakan logika dalam berargumentasi. Begitu juga ada sejumlah contoh bagaimana al-Qur'an menggunakan cara-cara halus dalam berdiplomasi yang seolah menguntungkan lawan tetapi sebenarnya tajam menghujam logika mereka. Dan juga bagaimana al-Qur'an menyontohkan kepada kita cara berdebat yang baik.

Kalau kita baca ayat-ayat al-Qur'an mengenai hal di atas dan bandingkan dengan cara kita berdiskusi dan berdebat di medsos, wah...kalah deh kita...sudah gak logis, gak diplomatis dan bukannya berdebat tapi malah caci-maki. Kelihatannya kita perlu menyimak lebih dalam lagi kandungan al-Qur'an.

Masalah penggunaan logika dalam menyampaikan kebenaran. Banyak sekarang kawan-kawan kita yang anti dengan logika. Pokoknya jangan pakai akal kalau bicara agama. Aneh juga...padahal otak ini adalah karunia ilahi. Kalau gak boleh kita pakai saat mengupas firmanNya, lantas buat apa kita dikasih akal pikiran, dan buat apa perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad itu adalah iqra' (bacalah!). Islam menyuruh kita pintar, bukan menyuruh kita tidak menggunakan akal.

Contoh: dalam QS. Al-Baqarah: 258 diceritakan perdebatan Nabi Ibrahim yang pakai logika.

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah ia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Ketika Nabi Musa dan Nabi Harun diutus untuk bertemu Fir'aun, Allah menitipkan pesan yang luar biasa dalam menyampaikan dakwah, yaitu terhadap Fir'aun sekalipun dakwah harus dilakukan dengan kata-kata yang lemah lembut; bukan mencak-mencak gak karuan.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” QS. Thaha: 43-44

Makanya kalau ada yang mencak-mencak dan menuduh sana-sini kepada kita, jawab saja: "Saya belum seingkar Fir'aun, dan anda belum se-suci nabi Musa, tapi kenapa Nabi Musa diperintah berkata lemah lembut ke Fir'aun, dan anda malah mencaci-maki saya?" ‪#‎makjelbbb‬

Terakhir, contoh diplomasi tingkat tinggi dalam al-Qur'an. Ketika terjadi perdebatan mana yang benar umat Islam atau kaum musyrikin. Maka al-Qur'an mengajarkan:

"Katakanlah: "Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat". (QS Saba':25)

Perhatikan, penggunaan kata "dosa yang kami perbuat" dan bandingkan dengan frase "apa yang kamu perbuat". Kenapa kok kesannya kita jadi mengaku berdosa sedangkan mereka tidak?

Begitulah bentuk diplomasi halus al-Qur'an. Seolah Allah mengajari kita untuk berkata kepada mereka: "kalau ente anggap ane berbuat dosa dan bid'ah, terus apa masalahnya buat ente? emangnya ente bakal ditanya soal dosa ane? Enggak kan...ya ane sendiri yang harus bertanggungjawab kalau ane dianggap salah. Ane juga gak bakal ditanya apa yang ente kerjakan baik benar atau salah. nanti aja Allah yang tentukan di hari kiamat." Beres dah diskusinya....

Jadi, ayo kita belajar menggunakan logika, berdebat dan berdiplomasi ala al-Qur'an....jangan bisanya cuma emosi, nyerang pribadi, atau nyalah-nyalahin orang aja. Kalaupun harus menyatakan ketidaksetujuan kita, gunakanlah dengan cara-cara yang berkelas tinggi kayak contoh dalam al-Qur'an. Jangan yang gaya murahan lah, apalagi sampai mati gaya ente :)

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

Tuhan pun mau diajak bernegosiasi: hikmah isra-mi'raj

sumber: Nadirsyah Hosen

Dua sifat Allah yang saling berkaitan erat: jamaliyah dan jalaliyah. Allah yang Maha Pengampun dan Penyayang serta Maha Lemah Lembut adalah cerminan sifat Jamaliyah; sedangkan Allah yang Maha Besar, Maka Kuat, Maha Kuasa merupakan contoh sifat Jalaliyah.

Melalui sifat Jamaliyah ini Allah berkenan berdialog bahkan bernegosiasi dengan makhluk ciptaanNya. Jadi kalau ada hambaNya yang keras kepala, tidak mau kompromi dan tidak bisa diajak bernegosiasi sedikitpun maka orang tersebut perlu belajar melembutkan hatinya dengan menyimak kisah Isra-Mi'raj.

Dalam peristiwa Mi'raj, Anas bin Malik menyebutkan, "Nabi SAW bersabda: "Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? 'Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya.

Tapi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu!' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabbku'.

(Shahih Bukhari, Hadis Nomor 336 dan 3094; Shahih Muslim, Hadis Nomor 237)

Para ulama terpesona membaca kisah di atas: bagaimana mungkin sebuah perintah Allah, belum dilaksanakan pun, sudah bisa dinegosiasi? Ini semua tidak mungkin terjadi kalau Allah tidak menampakkan belas-kasihanNya kepada umat Muhammad SAW. Nabi Musa, berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya, terus meminta Nabi Muhammad kembali menghadap Allah untuk bernegosiasi, sampai Nabi sendiri akhirnya merasa malu untuk kembali.

Bercermin dari sikap Nabi, ya begitulah salah satu adab para salik: Allah terus menawarkan rahmatNya sampai para salik sendiri menjadi malu dan merasa cukup. Ya Rabb, rahmatMu terus mengalir ke bumi, padahal dosa-dosa kami terus naik ke langit. Engkaulah Rabb yang kasih sayangMu melebihi murkaMu. Astaghfirullah...

Kalau kisah di atas belum juga mampu meruntuhkan tembok ego diri kita yang ngeyel dan ngotot untuk tidak mau berkompromi soal pelaksanaan Syariat, maka tengoklah kisah Nabi Ayub yang kelepasan bersumpah mencambuk istrinya seratus kali. Nabi Ayub kemudian menyesal seraya teringat kembali bakti sang istri. Beliau kebingungan karena sumpah harus dilaksanakan.

Tafsir Ibn Katsir menceritakan bagaimana Allah memberikan petunjuk melalui wahyu-Nya yang menganjurkan kepada Nabi Ayub untuk mengambil lidi sebanyak seratus buah yang semuanya diikat dijadikan satu, lalu dipukulkan 100 lidi kepada istrinya sekali pukul. Dengan demikian, berarti Ayub telah memenuhi sumpahnya dan tidak melanggarnya serta menunaikan nazarnya itu.

Hal ini adalah merupa­kan jalan keluar yang Allah berikan: ketimbang seratus kali mendera, maka cukup seratus lidi digabung jadi satu dan dipukulkan sekali. Luar biasa, bukan? Allah 'mengajari' Nabi Ayub untuk 'mengakali' sumpahnya tanpa harus melanggar esensi sumpah. Allah mengajari Nabi Ayub akan maqashid al-syari'ah.

(Catatan: sebelum ada yang kebakaran jenggot dan menuduh Ibn Katsir dan saya sebagai liberal atau syi'ah, saya persilakan untuk membaca kisah Nabi Ayub di atas dalam QS Shad:44).

Begitulah....Allah pun begitu lentur, fleksibel, dan negotiable terhadap aturanNya. Syariat sebagai cerminan sifat Jalaliyah Allah, memang harus digandeng dengan Tasawuf sebagai perwujudan sifat Jamaliyah Allah. Kalau Allah saja mau berkompromi dan bernegosiasi, masihkah hati anda keras seperti batu? Lantas bagaimana kita mau mi'raj kalau terus kita bawa kekerasan hati ini?

Ya Lathif, Ulthuf bina....

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

Mazhab itu juga berdasarkan Qur'an-Hadits

sumber: Nadirsyah Hosen

Seringkali saya baca komentar semacam ini:

1. Jangan pakai pendapat ulama, cukup kita kembali kepada Qur'an-Hadis
2. Para ulama tidak ma'shum bisa salah, kita berpegang pada Allah dan Rasul-Nya saja
3. Penafsiran di kitab tafsir itu bisa aja salah, cuma Qur'an dan Hadis yang tidak pernah salah, jadi kenapa pakai kitab tafsir?
4. Jangan menuhankan ulama, ikuti apa kata Allah dan Rasul, jangan ikuti yang lain

Inilah salah satu kejahiliyahan abad modern. Kalau tidak melalui indoktrinasi kelompok tertentu bagaimana bisa omongan mereka bisa seragam semua seperti ini? Mereka di doktrin seakan-akan para imam mazhab, penulis kitab tafsir dan syarh hadis itu tidak berpegang pada Qur'an dan Hadis. Gak usah jauh-jauh untuk membantahnya, saya ambil saja contoh almarhum Abah saya, yang semasa hidupnya dua puluh tahun menjadi ketua Komisi fatwa MUI dan Guru Besar Fiqh Muqarin di sejumlah universitas.

Sewaktu pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan beliau di Fakultas Syariah Al-Azhar Cairo, beliau tidak mendirikan Institut Ilmu Syariah atau yang semacamnya. Tahun 1971 beliau mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) bersama para ulama lainnya seperti KH Moch Dahlan (ketua PBNU yang saat itu menjadi Menteri Agama). PTIQ khusus untuk Pria, maka pada tahun 1977 beliau mendirikan Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) khusus perempuan. Mahasiswa PTIQ dan IIQ wajib menghafal al-Qur'an.

Saya pernah bertanya kepada beliau:

"Kenapa ahli fiqh seperti Abah malah mendirikan perguruan tinggi khusus al-Qur'an?"

"Nak, ingat yah....ahli fiqh itu berpegang kukuh pada Qur'an dan Hadis. Semua pendapat dalam fiqh merupakan hasil pemahaman mereka terhadap Qur'an dan Hadis. Karena itu umat harus paham keduanya sebelum belajar fiqh. itu sebabnya Abah dirikan terlebih dahulu perguruan ilmu al-Qur'an"

Buat ahli fiqh, mereka tidak perlu kembali kepada al-Qur'an dan Hadis karena mereka memang tidak pernah meninggalkan keduanya. Belajar fiqh itu tidak hanya menghafal halal-haram berdasarkan opini mazhab, tapi juga belajar bagaimana menggali hukum dari kedua kitab suci itu. Maka para ulama mengeluarkan seperangkat kaidah sebagai alat bantu untuk ber-istinbath. Inilah yang disebut Ushul al-Fiqh.

"Tapi pendapat ulama suka aneh-aneh dan ngawur serta bertentangan dengan Qur'an dan Hadis?" begitu biasanya komplen mereka. Perbedaan pendapat dalam fiqh itu hal biasa. Para ulama berbeda pendapat justru karena ayat dan hadis membuka peluang terjadinya keragaman. Diskusi di kalangan ulama itu juga biasa saja.

Abah saya pun fatwa-fatwanya banyak dipersoalkan oleh ulama yang lain. Dan ini wajar-wajar saja. yang gak wajar itu mencaci maki ulama tanpa argumentasi apapun dan menuduh mereka sesat telah keluar dari al-Qur'an dan Hadis. Masak mengatakan ulama ngawur hanya dengan modal copas terjemahan ayat dan hadis. Mikiirrrr smile emoticon Emangnya para ulama gak paham ayat dan hadis yang ente copas? smile emoticon

Contoh lain, KH Ali Mustafa Ya'qub saat pulang dari Timur Tengah langsung diminta Abah saya untuk mengajar Hadis di IIQ. bahkan Abah promosikan beliau sebagai Guru Besar Ilmu Hadis di IIQ. Kata Abah, "Agar umat tahu bahwa Qur'an dan Hadis itu tidak bisa terpisah. Maka kita perlu memiliki Profesor Hadis di IIQ."

Sewaktu IIQ membuka program s2, Abah kembali mengingatkan agar kajian s2 yang dibuka yaitu konsentrasi Ulumul Qur'an dan Ulumul Hadis. Sekali lagi, ini bukti nyata bahwa ahli fiqh tidak mau lepas dari Qur'an dan Hadis.

Dan bukalah kitab fiqh yang ditulis para imam mazhab anda akan temui penuh kutipan al-Qur'an dan Hadis. Anda periksa argumentasi mereka, maka akan anda temukan bagaimana mereka mengajukan pendapat berdasarkan wajah istidlal dari Nash al-Qur'an dan Hadis. Ketika mereka melakukan tarjih (memilih pendapat yang paling kuat) mereka juga memeriksa semua dalil yang ada Gak seenaknya aja mengeluarkan pendapat.

Jadi, kalau ada yang bilang ulama gak punya dalil dari al-Qur'an dan Hadis atau kitab fiqh tidak berdasarkan Qur'an dan Hadis, saya pastikan orang yang bilang begitu itu masuk kategori jahil murakkab (tidak tahu kalau dirinya itu tidak tahu apa-apa).

Orang seperti ini mesti diajak ngopi bareng. :) Lalu bisikkan kata-kata ini: "Jangan buru-buru meminum kopi mu saat masih panas, nikmati saja aromanya, baru kau teguk pelan-pelan ....begitu juga belajar ilmu agama, gak bisa terburu-buru apalagi dengan hati yang panas, nikmati saja proses belajar ini..."

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

Berdakwah dan Berfatwa hanya dengan modal satu ayat?

 sumber: Nadirsyah Hosen

Banyak ustadz dan da'i kagetan yang mendadak menjadi ahli fatwa yang menghukumi halal-haram, bid'ah atau sunnah, dan mana yang sesat atau selamat. Mereka merasa cukup paham satu ayat dan sudah bisa ber-istinbath mengeluarkan fatwa. Alasan mereka adalah Hadis Nabi SAW yang gemar mereka kutip, ballighu 'anni walau ayat, sampaikan dariku meski hanya satu ayat.

Bagaimana sebenarnya maksud Hadis Nabi tersebut?

٣٢٠٢ - حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّحَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Telah bercerita kepada kami Abu 'Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza'iy telah bercerita kepada kami Hassan bin 'Athiyyah dari Abi Kabsyah dari 'Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka".

Hadis dari kitab shahih bukhari (hadis nomor 3202) di atas biasanya dikutip tidak utuh, makanya saya cantumkan lengkap di atas. Hadis tersebut juga tercantum dalam Sunan Abi Dawud, Hadis Nomor 3177; Sunan al-Tirmidzi, Hadis Nomor 2593; dan Musnad Ahmad, Hadis Nomor 6198.

Tiga kitab Hadis yang pertama (Bukhari, Abu Dawud dan al-Tirmidzi) mencantumkannya dalam bab Bani Israil. Kenapa? Nah di sini clue penting yang menjadi hilang kalau Hadis di atas tidak dikutip secara lengkap seperti yang dilakukan para da'i dan ustadz dadakan itu.

Pertama, Hadis di atas bicara soal penyampaian informasi. Rasul menjelaskan ayat yang beliau baru terima tidak selalu didepan semua sahabat. Adakalanya saat menerima wahyu Rasul didampingi oleh 2-3 sahabat. Atau saat memberikan penjelasan di masjid, ada sahabat yang tidak hadir. Ini sebabnya dalam riwayat lain Nabi bersabda "Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir” ((HR Bukhari-Muslim).

Inilah konteks Hadis 'sampaikan dariku meski satu ayat'. Sahabat diminta menyampaikan penjelasan Rasul kepada yang tidak hadir atau tidak mendengar langsung dari Rasul agar mereka juga tahu apa penjelasan dari Rasul. Jadi, meski seorang sahabat hanya mendengar satu ayat, tapi kalau satu ayat itu tidak diketahui oleh yang lain, sampaikanlah. Begitulah penjelasan Ibn Hajar dalam Fathul Bari yang men-syarah-i Hadis di atas.

Kedua, Hadis di atas juga mengabarkan bahwa info yang disebar itu bukan hanya dari Rasul tapi juga dari bani israil. Mungkin ini sebabnya hadis ini suka dipangkas karena sudah menyebut soal bani israel. Kalau konsisten mau berdalil dengan Hadis ini maka jelas kita harus sampaikan juga info lainnya termasuk dari bani israil. Jangan menyembunyikan info untuk kepentingan tertentu.

Hadis di atas sesungguhnya tengah mengajarkan kita tentang pentingnya memberikan keseimbangan info. Mentang-mentang tidak suka dengan kelompok tertentu maka dalil bantahan mereka disembunyikan. Ini tidak benar karena info dari bani israel saja kata Nabi tidak mengapa diceritakan, sebagaimana para sahabat menceritakan penjelasan ayat dari Nabi. Di sinilah tingginya muatan moral dari Nabi masalah penyebaran informasi ini.

Ketiga, ada satu larangan dalam Hadis di atas, yaitu kita jangan bohong atas nama Rasul atau mengada-ngadakan cerita bahwa Rasul bilang begini dan begitu padahal itu tidak benar. Melakukan dusta atas nama Rasul ini akan dijamin masuk neraka seperti disebutkan dalam bagian akhir Hadis di atas.

Walhasil, dengan membaca teks lengkap dan memahami konteks serta membaca syarh Hadis tersebut, maka kita akan memperoleh pemahaman yang menyeluruh bahwa Hadis di atas bukan bermakna boleh berdakwah apalagi mengeluarkan fatwa cuma dengan modal satu ayat. Menyampaikan berita/info itu tidak sama dengan menyampaikan kandungan atau tafsir ayat al-Qur'an. Ibaratnya, Bagian Humas dengan Bagian Litbang itu jelas berbeda. Yang satu cuma meneruskan info yang ada, dan yang satu lagi mengkaji dan meneliti info tersebut.

Jelas Hadis tersebut kalau dibaca secara lengkap tidak bicara dalam konteks berdakwah apalagi memutus perkara halal-haram, atau dipakai untuk menyalah-nyalahkan orang lain yang berbeda pemahaman. Hadis di atas sejatinya bicara soal penyampaian, penyeimbangan dan akurasi informasi. Wa allahu a'lam bi al-shawab

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

Nabi Muhammad bagaikan batu bata terakhir

sumber: Nadirsyah Hosen

Nabi Muhammad mengajarkan kita akhlak yang mulia, salah satunya berupa kerendahan hati. Dalam Shahih Bukhari (Hadis Nomor 3271) diriwayatkan Nabi bersabda:

"Perumpamaanku dan para Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum sambil berkata; 'Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini". Beliau bersabda: "Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para Nabi".

(catatan: dalam redaksi Shahih Muslim, Hadis Nomor 4240 "Maka akulah yang meletakkan atau memasang bata itu, aku datang sebagai Nabi terakhir.")

Sebagian ulama menjadikan Hadis ini sebagai dalil bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Saya menyetujuinya. Namun saya memahami ilustrasi yang Nabi berikan lebih dalam lagi. Sebagai Sayyidul Anbiya wal Mursalin, Nabi tidak menepuk dada dan menganggap dirinya lebih mulia dari para Nabi sebelum beliau. Beliau menganggap diri beliau tak ubahnya sebagai batu bata terakhir dalam sebuah rumah. Indah nian metafor yang Nabi gunakan.

Pertama, beliau tidak bilang bahwa beliaulah pondasi atau atap rumah itu untuk mengggambarkan pentingnya peranan beliau. Beliau hanya bagian kecil dari rumah yang sudah jadi. Tanpa ada batu bata terakhir rumah tetap berfungsi hanya saja kurang sempurna. Kehadiran beliau tidak lain menyempurnakan bangunan rumah yang sudah ada.

Kedua, beliau SAW tidak membuat rumah baru. Lewat metafor tersebut seolah hendak menegaskan ajaran yang beliau terima bukan untuk menegasikan ajaran Nabi sebelumnya; tapi justru membuat 'rumah' terasa lebih indah.

Ketiga, batu bata tidak ada artinya tanpa tumpukan batu bata sebelumnya. Para Nabi yang lain telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi peradaban umat manusia. Nabi Muhammad hadir untuk melengkapi sumbangsih tersebut.

Keempat, Nabi Muhammad dan para Nabi sebelumnya seakan hidup bersama dalam rumah tersebut. Begitu juga umat pengikut para Nabi. Kita semua berada dalam rumah bersama. Untuk apa para Nabi membangun rumah kalau tidak untuk kita diami bersama-sama? Para Nabi tidak membangun rumah sendiri-sendiri. Ada pesan kerukunan yang kuat di sini.

Meskipun Nabi Muhammad telah meng-imami para Rasul dalam peristiwa Isra Mi'raj di bulan Rajab ini namun beliau tidak pernah mau dianggap lebih dari para Nabi sebelumnya. Inilah akhlak manusia teragung.

Dalam riwayat lain (Shahih Bukhari Hadis Nomor 3156) ada seorang Muslim yang bertengkar dengan Yahudi dimana masing-masing membanggakan Nabinya. Maka Rasul bersabda:

"Janganlah kamu lebihkan aku terhadap Musa karena nanti saat seluruh manusia dimatikan dan akulah orang yang pertama kali dibangkitkan (dihidupkan) namun saat itu aku melihat Musa sedang berpegangan sangat kuat di sisi 'Arsy. Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dimatikan lalu bangkit lebih dahulu daripadaku, atau dia termasuk diantara orang-orang yang dikecualikan (tidak dimatikan)".

Meski Rasulullah telah Allah lebihkan dari para Nabi yang lain, namun sikap rendah hati beliau tidak mau dianggap lebih dari para Nabi yang lain.

Kawan,
Mari kita jaga dan rawat rumah bersama yang telah dibangun dan dibina oleh para Nabi. Mari kita tempatkan diri kita seperti batu bata terakhir, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Shallu 'alan Nabi...

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand

Kembali ke ruh dakwah, bukan lagi al-ghazwul fikri

sumber: Nadirsyah Hosen

Kenapa mereka yang ikut pengajian model halaqah menjadi begitu mudah reaktif menyerang pihak yang berbeda? Bukankah dakwah itu mengajak, bukan mendepak; dakwah itu merangkul bukan memukul?

Salah satu sebabnya adalah materi al-ghazwul fikri yang diajarkan di berbagai kelompok pengajian. Maksudnya adalah adanya perang pemikiran yang terjadi antara umat Islam dengan pihak yang hendak meruntuhkan Islam. Ditengarai, dalam konteks al-ghazwul fikri ini, banyak tokoh, ulama dan cendekiawan Islam sendiri yang sadar atau tidak sadar telah digunakan pihak musuh untuk meracuni umat Islam dengan berbagai pemikiran yang menyimpang. Mereka itu adalah musuh dalam perang pemikiran ini. Begitu inti materi yang diajarkan.

Efek negatif dari materi ini maka mereka yang sudah kena indoktrinasi menganggap mereka yang berbeda pemahaman akan al-Quran dan Hadis dipandang sebagai musuh yang mau merusak Islam. Kita lihat hasil doktrinasi ini dari mulai sangat percaya dengan teori konspirasi yahudi, kemudian tidak segan-segan menyerang para ulama dan tokoh Islam, menyeleksi berbagai referensi atau bacaan yg dianggap menyimpang, menghentikan diskusi/seminar yg dianggap bertentangan dengan Islam, mendiskreditkan ormas Islam dan lembaga pendidikan Islam yang tidak sesuai dengan mereka, sampai dengan memfitnah dan memberi label kafir, sesat, liberal dst nya kepada pihak yang berbeda paham.

Karena konteksnya adalah "perang" maka berlakulah hukum perang meski hanya di level abstrak (bukan fisik). Ini yang menyebabkan kawan-kawan kita itu menjadi reaktif, agresif dan provokatif. Memfitnah dianggap halal. Mencaci maki dianggap wajar. Menghack atau mengambil alih akun media sosial atau email dianggap bagian dari ghanimah peperangan. Pendek kata, bagi mereka, ini adalah era perang pemikiran. Masalah dakwah dan akhlak menjadi urusan belakangan.

Sudah saatnya kita tinjau ulang indoktrinasi al-ghazwul fikri yang kebablasan ini. Mari kita kembali ke ruh al-da'wah yang hakiki. Kalau konteksnya dakwah, maka perbedaan bukan berarti bermusuhan. Kebenaran harus dipeluk dan dirangkul. Yang belum benar diajak ke jalan dakwah baik dengan hikmah, nasehat yg baik ataupun diskusi yang argumentatif, sesuai petunjuk al-Qur'an.

Inilah bahasa dakwah. Islam yang ramah bukan marah-marah. Islam yang menebar rahmat bukannya malah enteng melaknat orang lain. Mari kita kembali gunakan kosa kata dakwah, bukan lagi menggunakan kaca mata 'perang pemikiran' yang parahnya justru diarahkan kepada sesama umat Islam.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

Manusia dengan multi kategori

sumber: Nadirsyah Hosen

Buat anda apakah Gus Dur itu seorang Kiai, seorang budayawan atau seorang politisi?

Sewaktu menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Dur juga menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ini membuat sejumlah Kiai sepuh murka, "masak ketua NU ngurusi ketoprak!" Banyak yang kemudian juga terkaget-kaget ketika Gus Dur dengan enteng memimpin Forum Demokrasi dan sering mengeluarkan pernyataan mengkritik Presiden Soeharto. Sulit kemudian untuk memasukkan jimat NU ini ke dalam satu kategori saja. Tambah satu lagi, Gus Dur sangat menggemari musik klasik dan juga jago mengulas pertandingan sepakbola. Belum lagi ia rajin menulis kolom di Tempo dan Kompas. Apalagi kalau sudah ngebanyol, rasanya pelawak beneran seperti Miing Bagito aja kalah lucu sama Gus Dur.

Buat banyak orang, Gus Dur ini manusia paling aneh dalam sejarah pesantren". Tapi keanehan itu bukan cuma dimiliki Gus Dur sendirian. Misalnya bagaimana anda sekarang memasukkan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam kategori apa? Seorang Kiai yang mengajar kitab kuning dan memberi fatwa? Seorang budayawan karena jago menulis dan membaca puisi? Seorang pelukis? Cerpenis? Kolumnis? Mantan politisi? Kiai kampung karena mengasuh pondok? atau Kiai modern karena pakai gadget dan iPad (dibaca "iped" dg gaya khas Gus Mus saat tampil di Mata Najwa)?

Sebetulnya keanehan kedua beliau itu karena kita sendiri yang aneh, yaitu memaksakan memandang orang hanya dengan satu kategori saja. Kalau seorang masuk kategori Kiai, maka kita akan merasa aneh kalau tiba-tiba Kiai mengulas musik klasiknya Mozart atau lukisan Monalisa-nya Leonardo Da Vinci. Atau misalnya ada anak muda bergaya metal yang ternyata fasih membaca Qur'an. Kita terkejut mendapati kenyataan bahwa kategori yang kita pakai untuk menilai orang lain itu ternyata terlalu sempit atau kaku.

Dengan kategori yang kaku itu pula kita akan bingung misalnya mendapati seorang profesor hukum yang ternyata di rumahnya dia jago masak. Dia tidak menganggap kemampuannya menganalisa pasal dalam undang-undang itu bertentangan dengan kemampuan dia meracik bumbu masakan. Dua-duanya bisa jalan sendiri-sendiri tanpa pernah tertukar antara pasal dan bumbu.

Begitulah kawan...sebenarnya diri kita ini sangat multi fungsi dan dapat berperan sesuai dengan kemampuan dan situasi yang kita hadapi. Dan berbagai peran itu sebenarnya saling terhubung satu sama lain. Nabi Muhammad menyadari hal ini sehingga ketika para sahabat bertanya mengenai amalan apa yang paling utama, Nabi memberi jawaban berbeda-beda tergantung konteks dan tergantung siapa yang bertanya.

Dalam satu kesempatan Nabi SAW menjawab bahwa amalan yang paling utama itu beriman kepada Allah; di lain kesempatan Nabi menjawab "al-shalatu ala waqtiha"; atau pada waktu lain Nabi menjawabnya dengan "zikrullah". Nabi pernah pula menjawab pertanyaan yang sama dengan " Engkau bersedekah makanan dan mengucapkan salam kepada yang kau kenal dan yang tidak kau kenal." Suatu waktu Nabi menjawab "berjihad di jalan Allah" dan juga ada riwayat lain dimana Nabi mengatakan "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an".

Begitulah kawan...Nabi Muhammad tahu bahwa kondisi kita berbeda-beda sesuai dengan perbedaan peran dan kapasitas kita. Maka banyak sekali pilihan amal yang bisa kita lakukan. Tidak perlu memaksa orang lain mengikuti amalan kita; atau mencemooh karena orang lain memilih prioritas amal yang berbeda dengan kita. Semakin banyak peran yang kita jalankan, semakin banyak ladang amal yang bisa kita kerjakan.

Sayup-sayup terdengar lantunan lagu Chrisye, "Aku tak akan bisa menjadi seperti yang Engkau minta..."

Dan hatiku berdesir menjawab, "Tapi Aku tak pernah meminta apa-apa...cukup menjadi dirimu sendiri, wahai hamba Allah!"

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Monash Law School

Sejarah Hukum Islam (gambaran singkat)

dari tulisan Pak Nadirsyah Hosen di fb

Allah telah menjadikan al-Qur'an dan RasulNya sebagai medium untuk berinteraksi dengan hambaNya. Kalau Nabi Musa meninggalkan umatnya 40 hari mendaki gunung Sinai untuk menerima 10 perintah Allah dan begitu kembali ke umatnya Nabi Musa mendapati mereka begitu mudah terkecoh oleh Samiri, ini berbeda dengan Nabi Muhammad. Proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad adalah di saat Nabi Muhammad tengah berada di tengah-tengah umatnya. Pernah Nabi menerima langsung wahyu saat mi'raj ke langit tapi itupun hanya semalam saja, tidak perlu sampai 40 hari meninggalkan umatnya.

Tidakkah lebih mudah kalau ayat Qur'an turun sekaligus? Tidak! Karena Allah ingin wahyuNya berinteraksi akrab dengan situasi dan kondisi yang dialami Nabi dan sahabatnya. Al-Qur'an turun bukan sekaligus dalam bentuk lempengan batu seperti 10 perintah yang Nabi Musa terima, tapi turun berangsur-angsur selama 23 tahun. Pada kurun waktu itu terus terjadi interaksi antara Allah, Nabi Muhammad dan Umat.

Peristiwa demi peristiwa yang dialami Nabi dan sahabatnya direspon Allah dalam bentuk wahyu. Bukan itu saja, bahkan berbagai aturan ritual dan hukum pun ditetapkan secara gradual (seperti keharaman khamr) dan juga dihapus aturan lama dengan aturan baru (seperti kewajiban shalat tahajud yang berubah menjadi anjuran saja). Saya membayangkan betapa akrabnya interaksi antara Sang Khaliq, Sang Nabi dan para sahabatnya saat itu.

Namun kini wahyu al-Qur'an sudah berbentuk kitab (silakan baca lagi tulisan saya soal proses kodifikasi al-Qur'an). Nabi sudah lama wafat. Pertanyaannya: bagaimana kita tetap bisa berinteraksi akrab dengan Allah dan Nabi serta al-Qur'an?

Imam Malik punya jawaban terhadap pertanyaan di atas. Karena Nabi Muhammad berinteraksi dengan sahabatnya selama tinggal di kota Madinah, maka kita perhatikan saja apa amalan penduduk Madinah. Apa yang mereka lakukan tentu berdasarkan petunjuk Nabi dan dilakukan secara kolektif sehingga menjadi amalan atau tradisi penduduk Madinah.

Tapi bagaimana kalau ada petunjuk dari Hadis Nabi yang ternyata tidak diamalkan penduduk Madinah? Kalau Hadisnya ahad artinya hanya diriwayatkan oleh satu orang maka tentu kalah banyak dengan amalan orang sekampung Madinah. Pendekatan Imam Malik ini sangat antropologis sekali smile emoticon

Konsekuensinya Imam Malik mendahulukan amal ahli madinah ketimbang riwayat Hadis Ahad. Contohnya: Hadis mengenai keutamaan puasa 6 hari di bulan syawal ditolak oleh Imam Malik karena gak ada tuh penduduk Madinah yang mengamalkan puasa syawal. Sampai di sini jawaban Imam Malik untuk pertanyaan bagaimana berinteraksi dengan Allah, Nabi dan al-Qur'an menjadi kontroversial.

Tambah kontroversial ketika Islam sudah tersebar luas di luar jazirah Arab. Masak umat Islam yang tinggal di Kufah harus mencontoh tradisi, budaya dan amalan penduduk Madinah hanya untuk bisa berinteraksi akrab dengan Allah, Nabi dan al-Qur'an? Lagipula tradisi penduduk Madinah itu harus kita analisa lebih jauh: apakah itu asalnya dari petunjuk Nabi sehingga hukumnya wajib diikuti atau Nabi diamkan saja tradisi tersebut sehingga dianggap Nabi merestuinya? Kalau sekedar diam saja, berarti konsekuensinya hanya mubah tapi tidak wajib diikuti oleh penduduk non-Madinah.

Secara sosiologis, Islam Madinah ala Imam Malik dianggap berbeda dengan Islam Kufah (apalagi dengan Islam Nusantara yah?). Maka para ulama mengajukan pertanyaan baru yaitu bagaimana berinteraksi dengan Allah, Nabi dan al-Qur'an untuk mereka yang tinggal di luar Madinah?

Munculah tawaran yang sangat humanis dari Imam Abu Hanifah di Kufah dengan teori istihsan (memilih dalil yang samar ketimbang dalil yang kuat karena lebih cocok dengan situasi). Tapi teori itu dibantah Imam Syafi'i yang kurang sreg kalau baik dan buruk ditentukan oleh pandangan manusia.

Imam Syafi'i berkesempatan melihat perbedaan tradisi di Madinah, Baghdad dan Mesir. Lantas Mazhab Syafi'i menawarkan kaidah al-'adah muhakkamah (menjadikan adat setempat yang tidak bertentangan dengan syariat sebagai salah satu sumber hukum Islam). Jadi, berbeda dengan Imam Malik yang hanya menerima tradisi Madinah, Imam Syafi'i menerima tradisi manapun selama tidak melanggar Syari'ah. Konsep tradisi yang bisa diterima Islam mulai bertambah luas.

Menyadari tidak selamanya bisa berpatokan pada amal ahli Madinah (apalagi kalau jaraknya semakin jauh dengan masa sahabat dan tabi'in), Mazhab Maliki menyodorkan jawaban lain, yaitu mashalih mursalah (menerima aturan hukum yang tidak ada dasarnya dari Qur'an dan Hadis atau di luar tradisi penduduk Madinah namun bisa kita terima dengan dasar kemaslahatan). Sampai di sini, kita melihat ada titik kesamaan antara istihsan-nya mazhab Hanafi dan istishlah-nya mazhab Maliki: yaitu bisa menerima hal-hal yang baik meski tidak ada dalil kuat dari al-Qur'an dan Hadis.

Kalau begitu, apakah kita harus menerapkan hukum Islam persis sama dengan jaman Nabi dan sahabatnya? Ibn Qayyim dari mazhab Hanbali menawarkan jawaban: hukum itu bisa berubah disebabkan perubahan waktu, tempat, niat dan tradisi. Kalau begitu, tidak harus sama persis dengan praktek Nabi dan Sahabat yah?

Berbagai jawaban luar biasa dari ulama mazhab yang saya gambarkan di atas itu kalau jaman sekarang ini sudah dianggap menyesatkan atau dianggap Liberal dan bakal di-bully habis-habisan di medsos. Beruntunglah para ulama klasik itu, jaman mereka belum ada medsos.

Penggambaran singkat sejarah hukum Islam di atas menyiratkan beberapa hal penting:

Sejak awal al-Qur'an tidak turun pada ruang yang hampa. Al-Qur'an sangat akrab dengan keseharian Nabi dan umat. Sepeninggal Nabi dan semakin tersebarnya Islam ke penjuru dunia, para ulama terus mencoba menawarkan jawaban agar interaksi akrab antara Al-Qur'an dan Hadis dengan umat terus berlangsung. Para ulama sejak awal menyadari perlunya dalil tambahan untuk memahami al-Qur'an dan Hadis, baik berupa tradisi setempat maupun kemaslahatan. Itu semua hasil bacaan dan observasi para ulama masa lalu akan kondisi masyarakat yang berbeda-beda lokasinya.

Dengan kata lain, para ulama berpendapat bahwa sumber hukum sekunder seperti amal ahli madinah, istihsan, 'urf (adat) dan mashalih mursalah itu juga diakui sebagai bagian dari dalil agama. Terakhir, dalil sekunder tersebut saat ini bisa dilengkapi dengan ilmu lainnya seperti antropologi, sosiologi, politik, atau ekonomi. Inilah cara kita membuat wahyu ilahi dan petunjuk Nabi untuk terus relevan dan tetap akrab dengan berbagai problematika keseharian yang kita hadapi.

Jadi, bukan sekedar "kembali" kepada al-Qur'an dan Hadis, tapi kita harus terus "maju" membangun peradaban umat dengan mengaplikasikan al-Qur'an dan Hadis pada konteks lokal yang berujung pada kemaslahatan bersama. Semoga!

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

: :

“Berislam itu tidak pernah di ruang hampa. Selalu dalam ruang dan waktu. Untuk saya, ruang itu namanya Indonesia dan waktu itu adalah sekarang. Dengan tetap memegang teguh tsawabit, lokalitas harus dihargai dan bahkan diberi tempat dalam membentuk keutuhan berislam kita,” demikian kata alumni Universitas Al Azhar Kairo yang juga seorang ahli tafsir Al Qur’an ini. (TGH M Zainul Majdi, Gubernur NTB di sini.)

Tafsir

Kesan Pertama Begitu Menggoda - dari fb Pak Nadirsyah Hosen

Saya posting kembali catatan saya tahun 2013:

membaca ‪#‎tafsir‬ fi zhilalil qur'an karya sayyid qutb itu kesannya spt baca pidato, penuh dg titik-titik kayak ada kalimat yg tdk tuntas

membaca #tafsir al-mawardi itu spt baca ringkasan singkat pendapat para ulama yg sdh dibahas dlm tafsir al-Thabari

membaca #tafsir al-Razi itu seperti sdg diskusi dg pengarangnya. Banyak diungkap berbagai persoalan yg tdk terpikirkan sebelumnya

membaca #tafsir jalalain itu spt sedang mengeja makna kata demi kata

membaca #tafsir Ibn Katsir itu seperti sedang membaca cerita pendek

membaca #tafsir al-munir karya Syekh Wahbah al-Zuhaili itu spt membaca makalah ilmiah yg pakai footnote

membaca #tafsir Durul Mansur itu spt sekalian belajar hadis. Penuh dg kutipan riwayat

membaca #tafsir al-Thabari itu spt sedan menyaksikan Nabi naik di atas mimbar dan berceramah di depan kita

membaca #tafsir al-alusi itu spt membaca ensiklopedi, luas dan detil pembahasannya serta bergaya sufistik

membaca #tafsir zamakhsyari itu spt menonton dialog di tv, dg gaya khasnya "fa in qulta...fa qultu"

membaca #tafsir al-khazin di dalamnya kita dapati sejumlah pendapat ahli tafsir kecuali pendapat dia sendiri smile emoticon

membaca #tafsir al-maraghi itu spt membaca majalah dg bahasa yg renyah dan pembahasan masalah sosial-aktual

membaca #tafsir al-wasith karya sayyid thantawi spt mencari jalan singkat dari perdebatan klasik yg bertele-tele

membaca #tafsir al-manar itu seperti membaca 'cerita bersambung' yang belum selesai

begitulah kawan, kesan2 ku thd sejumlah kitab #tafsir. Al-Qur'an itu spt intan berlian, kita lihat dari sudut manapun tetap bercahaya

kalau ada yang punya kesan lain ya gak apa apa namanya juga kesan tentu subyektif.

silahkan berbagi kesan juga di sini, termasuk kesan thd kitab #tafsir yang belum disebutkan di atas. Semoga semakin membuat kita semangat menelaah cahaya al-Qur'an.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand yang sedang jadi TKI mengajar Hukum Konstitusi Australia di Monash Law School

Misi Utama Nabi Muhammad Saw

Misi Utama Nabi Muhammad bukan untuk mengislamkan dunia

"Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua manusia di bumi. Maka apakah engkau (Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang yang beriman semua?" (QS Yunus 10:99).

Banyak yang kaget rupanya ketika disodorkan ayat ini. Misi utama Nabi itu sejatinya bukan untuk menaklukkan dunia dan mengislamkan semua orang.

Misi Nabi itu dijelaskan oleh al-Quran sebagai rahmat untuk semesta alam. "Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. Al-anbiya 21/107). Dan dijelaskan sendiri oleh Nabi dalam satu riwayat Hadis Sahih: "Sesungguhya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak yang mulia." Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq (HR Bukhari).

Menebar Rahmat dan memperbaiki Akhlak itulah misi utama Nabi, bukan maksa-maksa orang lain masuk Islam atau memaksa mengikuti fatwa dan tafsiran kita sendiri, atau bahkan memaksa orang lain mengikuti pilihan politik kita. Pemaksaan terhadap orang lain itu bukan rahmat dan bukan pula akhlak yang mulia. La ikraha fi al-din. Tidak ada paksaan dalam beragama.

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan: "tidak perlu memaksa mereka. Barangsiapa dibukakan pintu hatinya oleh Allah maka mereka akan memeluk Islam. Barang siapa dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya maka mereka tidak akan mendapat manfaat jikalau dipaksa masuk Islam".

Tafsir Fi Zhilalil Qur'an mengonfirmasi bahwa "manusia telah diberi tanggung jawab untuk memilih jalannya sendiri, dan mereka pula lah yang akan bertanggungjawab atas pilihannya tersebut."

Keimanan itu tidak perlu dipaksakan. Dakwah itu mengajak, bukan memaksa. Maka hindari cara-cara yang memaksa. QS al-Nahl 16/125 memberi kita petunjuk metode dakwah yang harus ditempuh: Pertama, dengan hikmah, kedua, dengan mauizah (nasehat/pelajaran) yang baik dan terakhir kalau harus berdebat, bantahlah dengan argumentasi yang lebih baik.

Tidak perlu pula menjelekkan atau menghina kepercayaan orang lain. Bahkan standar moral yang luar biasa ditegaskan dalam QS al-An'am 6/108: "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." Kita dilarang dengan tegas untuk menistakan Tuhan dan sesembahan agama lainnya. Inilah akhlak yang diajarkan al-Qur'an.

Mari kawan ...Kita tunjukkan pada penduduk dunia akan ketinggian ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta dan membentuk pribadi-pribadi yang berakhlak mulia. Begitu mereka tahu maka biarkan mereka sendiri yang akan berbondong-bondong masuk Islam.

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat". (QS al-Nashr 110/1-3)

Salam hangat dan selamat melanjutkan misi Nabi Muhammad di hari Senin ini

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia-New Zealand

tautan sumber - facebook.com/NadirsyahHosen