Showing posts with label budhy munawar rachman. Show all posts
Showing posts with label budhy munawar rachman. Show all posts

Filsafat Ekologi Arne Naess

Oleh: Budhy Munawar Rachman

Arne Naess adalah seorang filsuf Norwegia yang dikenal luas sebagai pencetus konsep "ekologi dalam" (deep ecology), sebuah pendekatan yang menggali akar permasalahan ekologis dari sudut pandang etika, ontologi, dan metafisika. Berbeda dari pendekatan konvensional yang sering hanya fokus pada dampak langsung lingkungan (ekologi dangkal), Naess menggagas pemikiran ekologi yang lebih mendalam, yang mempertanyakan sistem nilai dan pandangan hidup manusia terhadap alam. Filsafat ekologi Naess tidak hanya memperjuangkan perlindungan lingkungan tetapi juga mengusulkan perubahan mendasar dalam cara manusia memahami posisinya dalam alam semesta. Artikel ini akan menjelaskan secara rinci konsep-konsep utama yang diperkenalkan oleh Naess, kontribusinya terhadap filsafat ekologi, serta implikasi etis dari gagasan "ekologi dalam" bagi masyarakat modern.

Latar Belakang 

Arne Naess lahir di Oslo, Norwegia, pada tahun 1912. Ia menunjukkan minat mendalam pada filsafat dan ilmu alam sejak usia muda. Naess memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dari Universitas Oslo dan kemudian menjadi profesor filsafat di universitas yang sama. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh filsafat Timur, terutama Buddhisme, dan juga oleh fenomenologi. Naess mengkritik pendekatan reduksionis dalam ilmu pengetahuan yang memandang alam sebagai objek terpisah yang dapat dimanipulasi demi keuntungan manusia. Ia berargumen bahwa untuk menyelesaikan krisis ekologis, manusia perlu merevisi secara mendasar hubungan mereka dengan alam.

Di dalam ekologi dangkal, alam dianggap sebagai sumber daya yang harus dilindungi demi kesejahteraan manusia. Sebaliknya, dalam ekologi dalam yang dirumuskan Naess, alam memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada kegunaannya bagi manusia. Pandangan ini menganggap bahwa semua makhluk hidup, termasuk spesies yang tampak tak penting bagi manusia, memiliki hak untuk hidup dan berkembang dalam lingkungan alami mereka.

Konsep Utama 

Pemikiran Naess tentang ekologi dalam mencakup beberapa konsep utama, yang masing-masing menggambarkan aspek penting dari filosofi ini.
Menurut Naess, alam memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada manfaatnya bagi manusia. Artinya, segala sesuatu di alam, baik itu hewan, tumbuhan, gunung, atau sungai, memiliki hak untuk hidup dan berkembang tanpa harus memberikan keuntungan bagi manusia. Pandangan ini berusaha menggeser persepsi manusia yang sering kali bersifat antroposentris, yaitu yang menganggap manusia sebagai pusat alam semesta dan memandang alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi.
Dengan mengakui nilai intrinsik alam, Naess mendorong manusia untuk lebih menghormati alam dan menghindari kerusakan lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan ekosistem. Naess mengajak manusia untuk memandang dirinya sebagai bagian dari alam, bukan sebagai penguasa atau pemilik alam.

Naess memperkenalkan konsep identifikasi ekologis sebagai bentuk perluasan diri. Dalam pandangan ini, manusia tidak hanya teridentifikasi dengan kelompoknya sendiri atau dengan spesiesnya, tetapi dengan seluruh komunitas kehidupan. Ketika seseorang memperluas dirinya secara ekologis, ia melihat dirinya dalam hubungan yang lebih luas dengan seluruh alam. Pandangan ini menekankan bahwa manusia seharusnya mengembangkan empati yang mendalam dan rasa keterhubungan dengan seluruh kehidupan di bumi.

Identifikasi ekologis ini memungkinkan munculnya rasa tanggung jawab yang lebih besar terhadap pelestarian lingkungan. Naess percaya bahwa ketika seseorang memiliki keterikatan emosional dan identitas ekologis dengan alam, ia akan cenderung lebih peduli dan melindungi lingkungan secara sukarela, bukan karena paksaan hukum atau moralitas eksternal.

Naess menolak pendekatan mekanistik dan reduksionistik yang sering digunakan dalam ilmu pengetahuan modern untuk memahami alam. Ia menekankan bahwa alam harus dilihat secara holistik, sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan dan saling memengaruhi. Misalnya, hutan bukan hanya kumpulan pohon, melainkan sebuah ekosistem yang terdiri dari berbagai elemen yang saling berkaitan.

Dalam pendekatan holistik, setiap bagian dari alam dianggap penting dan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan. Pemahaman ini berimplikasi bahwa ketika manusia merusak satu bagian dari alam, maka akan ada dampak yang menyebar dan memengaruhi bagian lainnya. Oleh karena itu, Naess menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghindari intervensi yang dapat merusak integritas ekosistem.

Naess menyusun delapan prinsip utama yang mendasari ekologi dalam, yang dikenal sebagai "Platform Ekologi Dalam." Prinsip-prinsip ini dirancang untuk menjadi panduan bagi individu dan komunitas dalam mengembangkan sikap dan tindakan yang lebih ekologis:

1. Kesejahteraan dan kelangsungan hidup semua makhluk hidup di bumi memiliki nilai yang bersifat intrinsik.
2. Kekayaan dan keanekaragaman kehidupan berkontribusi pada realisasi nilai-nilai tersebut dan memiliki nilai pada dirinya sendiri.
3. Manusia tidak memiliki hak untuk mengurangi keanekaragaman dan kekayaan kehidupan kecuali untuk memenuhi kebutuhan vital.
4. Perkembangan kehidupan manusia yang terus menerus dan berlebihan mengancam kehidupan non-manusia dan memperburuk kondisi ekologis.
5. Pembatasan jumlah penduduk manusia sangat penting demi keseimbangan ekosistem.
6. Perekonomian yang berkelanjutan harus mengutamakan kebutuhan dasar daripada konsumsi yang berlebihan.
7. Manusia harus membuat perubahan kebijakan yang drastis demi keberlanjutan ekologi jangka panjang.
8. Manusia harus mempraktikkan transformasi nilai untuk menekankan kualitas hidup daripada standar hidup yang tinggi.

Prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa Naess tidak hanya menawarkan kritik terhadap pandangan antroposentris, tetapi juga mengajukan alternatif sistem nilai yang lebih harmonis dengan alam.
Filsafat ekologi Naess memiliki implikasi yang luas bagi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk etika, kebijakan lingkungan, dan gaya hidup individu.

Naess mendorong pembentukan etika lingkungan yang tidak bersifat antroposentris. Dalam etika ekologi dalam, manusia diharapkan untuk bertindak demi kepentingan alam dan bukan semata-mata demi kepentingan manusia. Sikap ini bertentangan dengan pandangan konvensional yang sering kali memperlakukan alam sebagai objek yang dapat dimanfaatkan secara bebas.
Naess mengusulkan bahwa kebijakan lingkungan harus didasarkan pada prinsip-prinsip ekologi dalam, yang berfokus pada pelestarian keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem. Kebijakan-kebijakan tersebut seharusnya mengakui nilai intrinsik alam dan tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Pendekatan ini membutuhkan perubahan paradigma dalam perumusan kebijakan lingkungan yang berfokus pada keberlanjutan jangka panjang, bukan hanya eksploitasi sumber daya alam secara maksimal.

Naess mengajak manusia untuk menjalani gaya hidup yang lebih sederhana dan berkesadaran ekologis. Ia mendorong pengurangan konsumsi yang berlebihan, menghindari limbah yang merusak lingkungan, serta lebih menghargai kualitas hidup daripada sekadar akumulasi materi. Pandangan ini mempromosikan gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan kurang bergantung pada pola konsumsi yang merusak alam.

Relevansi Filsafat Ekologi Naess 

Filsafat ekologi Arne Naess masih sangat relevan di era modern, di mana krisis lingkungan semakin mendesak. Pandangannya memberikan dasar filosofis bagi gerakan lingkungan modern yang mendorong perubahan gaya hidup dan kebijakan yang lebih ekologis. Selain itu, pemikiran Naess juga menginspirasi gerakan-gerakan global seperti hak lingkungan dan perlindungan ekosistem.
Dalam menghadapi masalah lingkungan saat ini, pendekatan Naess menjadi relevan sebagai panduan untuk memahami bahwa penyelesaian masalah lingkungan tidak bisa hanya dilakukan melalui teknologi, melainkan juga melalui perubahan sikap dan nilai. Filsafat ekologi dalam membantu manusia menyadari bahwa setiap tindakan manusia memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan di bumi.

Arne Naess melalui filsafat ekologi dalam telah menawarkan sebuah pendekatan yang revolusioner terhadap masalah lingkungan. Dengan memperkenalkan konsep nilai intrinsik alam, identifikasi ekologis, dan pendekatan holistik, Naess mendorong manusia untuk melihat alam sebagai entitas yang layak dihormati dan dilindungi. Prinsip-prinsip dalam ekologi dalam tidak hanya menantang sistem nilai yang eksploitatif tetapi juga membuka jalan bagi munculnya etika dan gaya hidup yang lebih berkesadaran ekologis.

Konsep Naess mengingatkan kita bahwa penyelesaian masalah lingkungan tidak hanya menuntut solusi teknis, tetapi juga perubahan mendasar dalam cara kita berpikir dan berperilaku terhadap alam. Filsafat ekologi Naess, dengan fokusnya pada nilai intrinsik alam dan keseimbangan ekosistem, adalah pengingat bagi manusia untuk lebih menghargai dan melindungi planet ini sebagai rumah bersama bagi semua kehidupan.

Emosi adalah Inti Pengalaman Manusia

Saya ingin berbagi bacaan buku kepemimpinan dan motivasi hidup bermakna, Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ, karya Daniel Goleman (1995).

Daniel Goleman dalam bukunya ini, memberi sebuah pandangan yang mendalam tentang peran emosi dalam kehidupan manusia. Dengan pendekatan yang komprehensif, buku ini menjelaskan bagaimana kecerdasan emosional (EI), bukan hanya IQ, menjadi penentu utama keberhasilan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan. Goleman menggunakan gaya narasi yang menggugah, menghadirkan contoh-contoh konkret dan studi ilmiah untuk membuktikan bahwa emosi adalah inti dari pengalaman manusia.

Sejak awal, hadirnya buku ini, Goleman mengajak kita untuk melihat kekuatan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Ia membuka dengan kisah seorang pengemudi bus di New York yang menyapa penumpangnya dengan ramah di tengah suasana yang muram. Dengan sapaan sederhana, ia berhasil mengubah mood para penumpangnya, menciptakan lingkungan yang lebih positif. Contoh ini menggambarkan betapa kuatnya pengaruh emosi dalam interaksi sosial dan bagaimana emosi bisa menjadi alat untuk menciptakan dampak positif yang meluas.

Dari sini, Goleman membawa kita ke dalam penjelasan ilmiah tentang mekanisme dasar emosi. Ia menjelaskan tentang sistem limbik dalam otak manusia, yang melibatkan amigdala sebagai pusat kontrol emosi. Amigdala bertugas merespons rangsangan emosional dengan cepat, sering kali sebelum neokorteks, bagian otak yang rasional, sempat menganalisis situasi. Proses ini disebut "hijacking emosional" karena emosi mengambil alih kontrol sebelum kita bisa berpikir jernih.

Fenomena ini, yang berevolusi untuk melindungi manusia dari bahaya, sering kali menjadi penyebab perilaku impulsif dalam konteks modern yang kompleks.
Namun, bukan hanya reaksi impulsif yang menjadi fokus Goleman. Ia juga membahas potensi kecerdasan emosional untuk mengelola respons kita terhadap emosi.

Kecerdasan emosional, menurut Goleman, mencakup lima elemen utama: *kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial*. Kesadaran diri memungkinkan kita mengenali emosi kita sendiri, sementara pengendalian diri membantu kita mengelola emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. Motivasi mendorong kita untuk mencapai tujuan meskipun menghadapi rintangan. Empati memungkinkan kita memahami perasaan orang lain, dan keterampilan sosial memungkinkan kita membangun hubungan yang bermakna dan produktif.

Dalam buku ini, Goleman menggambarkan dampak kecerdasan emosional terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan interpersonal. Ia memberikan banyak contoh nyata untuk menunjukkan bagaimana pemahaman dan pengelolaan emosi dapat membantu seseorang menghindari konflik, memperkuat hubungan, dan menciptakan kedekatan emosional.

Dalam konteks pernikahan, misalnya, seorang pasangan yang mampu mendengarkan dengan empati dan merespons dengan bijak lebih mungkin menjaga keharmonisan hubungan mereka. Di tempat kerja, kecerdasan emosional menjadi faktor penting yang menentukan kesuksesan. Kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan, berkomunikasi secara efektif, dan bekerja sama dalam tim adalah atribut yang sangat dihargai di lingkungan kerja modern.

Selain itu, Goleman menunjukkan hubungan erat antara kecerdasan emosional dan kesehatan. Stres kronis, yang sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola emosi, dapat merusak tubuh, termasuk melemahkan sistem kekebalan, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, dan mempercepat proses penuaan. Sebaliknya, orang yang memiliki keseimbangan emosional cenderung lebih sehat secara fisik dan mental, karena mereka dapat menghadapi tantangan hidup dengan cara yang lebih konstruktif. Goleman mengutip berbagai penelitian yang mendukung klaim ini, menunjukkan bahwa emosi memiliki dampak langsung pada tubuh kita.

Namun, kecerdasan emosional bukanlah sesuatu yang hanya relevan bagi orang dewasa. Goleman menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan emosional sejak usia dini. Ia mengkritik sistem pendidikan tradisional yang terlalu berfokus pada pengembangan kecerdasan intelektual, sementara aspek emosional sering kali diabaikan. Ia berpendapat bahwa sekolah harus menjadi tempat di mana anak-anak belajar mengenali dan mengelola emosi mereka, selain menguasai keterampilan akademik. Program pelatihan sosial-emosional, yang telah diterapkan di beberapa sekolah, memberikan hasil yang menjanjikan. Anak-anak yang mengikuti program ini menunjukkan peningkatan dalam kemampuan akademik, empati, pengendalian diri, dan keterampilan menyelesaikan konflik.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keyakinan Goleman bahwa *kecerdasan emosional dapat dipelajari dan dikembangkan sepanjang hidup*. Tidak seperti IQ yang cenderung stabil, kecerdasan emosional adalah keterampilan dinamis yang bisa ditingkatkan melalui refleksi, latihan, dan pengalaman. Goleman memberikan berbagai strategi praktis untuk meningkatkan kecerdasan emosional, mulai dari cara menghadapi stres hingga cara meningkatkan empati terhadap orang lain.

Misalnya, ia menyarankan agar kita melatih kesadaran diri dengan mengenali emosi yang muncul dalam situasi tertentu dan merenungkan bagaimana emosi tersebut memengaruhi perilaku kita.

Namun, buku ini juga menghadapi kritik. Salah satu kritik utama adalah bahwa Goleman terkadang terlalu optimis dalam menghubungkan kecerdasan emosional dengan berbagai aspek kesuksesan hidup. Meskipun banyak penelitian mendukung pentingnya kecerdasan emosional, beberapa ahli berpendapat bahwa hubungan ini tidak selalu sekuat yang digambarkan Goleman. Selain itu, konsep kecerdasan emosional itu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi. Ada yang berargumen bahwa kecerdasan emosional lebih cocok dianggap sebagai kumpulan keterampilan atau sifat kepribadian, bukan sebagai bentuk kecerdasan yang setara dengan IQ.

Namun, meskipun ada kritik, buku ini tetap memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang emosi. Dengan gaya penulisan yang mudah diakses dan penuh dengan contoh-contoh relevan, Goleman berhasil mengkomunikasikan ide-idenya dengan cara yang dapat dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Buku ini tidak hanya memberikan wawasan tentang pentingnya kecerdasan emosional, tetapi juga menawarkan panduan praktis untuk mengembangkannya.

Di bagian akhir bukunya, Goleman menggambarkan visi masa depan di mana kecerdasan emosional menjadi bagian integral dari pendidikan dan kehidupan masyarakat. Ia membayangkan dunia di mana *empati, pengendalian diri, dan keterampilan sosial* diajarkan sejak dini di sekolah, menciptakan generasi yang lebih harmonis dan penuh pengertian. Dengan mengintegrasikan kecerdasan emosional ke dalam kehidupan sehari-hari, Goleman percaya bahwa kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih manusiawi, di mana orang-orang saling memahami dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

"Emotional Intelligence" adalah buku yang menggugah pemikiran dan memberikan wawasan baru tentang bagaimana kita memahami dan mengelola emosi. Dalam dunia yang semakin kompleks dan emosional, pesan Goleman menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Buku ini tidak hanya menginspirasi kita untuk mengenali pentingnya emosi dalam kehidupan mereka, tetapi juga menjadi panduan yang berharga untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna.

Dengan demikian, karya ini adalah panggilan untuk introspeksi dan perubahan, baik pada tingkat individu maupun sosial.

Pengaruh

Sejak diterbitkannya buku Emotional Intelligence oleh Daniel Goleman pada tahun 1995, konsep kecerdasan emosional (EQ) telah mengalami perkembangan signifikan dan memberikan dampak yang luas dalam berbagai aspek kehidupan.

Di bidang pendidikan, pemahaman bahwa EQ memainkan peran penting dalam keberhasilan akademis dan sosial siswa telah mendorong integrasi program pengembangan kecerdasan emosional dalam kurikulum sekolah. Program-program ini bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan kesadaran diri, pengendalian diri, empati, dan keterampilan sosial yang esensial untuk interaksi yang sehat dan produktif. Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan EQ yang baik cenderung memiliki prestasi akademis yang lebih tinggi dan hubungan sosial yang lebih positif.

Dalam lingkungan profesional, konsep EQ telah menjadi faktor penentu dalam proses rekrutmen dan pengembangan karyawan. Perusahaan semakin menyadari bahwa keterampilan teknis saja tidak cukup untuk mencapai kesuksesan; kemampuan untuk bekerja dalam tim, mengelola stres, dan berkomunikasi efektif menjadi sama pentingnya. Goleman dalam bukunya Working with Emotional Intelligence (1998) menekankan bahwa EQ adalah kunci untuk kepemimpinan yang efektif dan kinerja kerja yang optimal.

Selain itu, kesadaran akan pentingnya EQ telah meningkatkan fokus pada kesehatan mental dan kesejahteraan individu. Kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi sendiri serta memahami emosi orang lain berkontribusi pada hubungan interpersonal yang lebih baik dan penurunan tingkat stres. Goleman menghubungkan kecerdasan emosional dengan kesehatan mental dan fisik, mengutip penelitian yang menunjukkan bagaimana ketahanan emosional dapat mengurangi stres, meningkatkan hubungan, dan meningkatkan kepuasan hidup secara keseluruhan.

Seperti sudah dikemukakan sedikit di atas, meskipun demikian, konsep EQ tidak luput dari kritik. Beberapa ahli berpendapat bahwa pengukuran EQ kurang objektif dibandingkan IQ, dan ada perdebatan mengenai sejauh mana EQ dapat diajarkan atau dikembangkan. Namun, banyak penelitian dan praktik di lapangan yang menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, aspek-aspek EQ dapat ditingkatkan melalui pelatihan dan pengalaman.
Secara keseluruhan, pengaruh konsep kecerdasan emosional yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman tetap signifikan hingga saat ini. EQ telah menjadi komponen penting dalam pendidikan, dunia kerja, dan kesehatan mental, dengan penekanan pada pentingnya memahami dan mengelola emosi untuk mencapai kesuksesan dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Insight Baru EQ

Daniel Goleman dalam The Brain and Emotional Intelligence: New Insights (2011), menggali lebih jauh ke dalam temuan-temuan baru yang telah memperluas pemahaman kita tentang kecerdasan emosional (EI) sejak konsep ini pertama kali diperkenalkan, seperti dijelaskan di atas. EQ, yang merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengatur emosi baik pada diri sendiri maupun orang lain, telah terbukti menjadi elemen penting dalam kepemimpinan, hubungan interpersonal, dan kesejahteraan individu.

Gokeman memulai dengan mengulas pertanyaan mendasar, yaitu apakah kecerdasan emosional benar-benar merupakan entitas yang terpisah dari IQ. Studi-studi neurologi menunjukkan bahwa EI beroperasi melalui area otak yang berbeda dari IQ, termasuk amigdala dan korteks prefrontal. Contohnya, amigdala berfungsi sebagai pusat radar emosional, sementara korteks prefrontal membantu dalam pengaturan impuls dan pengambilan keputusan yang lebih rasional. Studi ini memperkuat pandangan bahwa EI adalah seperangkat kemampuan unik yang melibatkan sirkuit otak tertentu.

Lebih lanjut, Goleman mengidentifikasi empat domain utama EI: kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan manajemen hubungan. Kesadaran diri melibatkan kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri dan memahami dampaknya. Ini adalah fondasi dari kecerdasan emosional, dan area seperti amigdala serta korteks somatosensori memainkan peran kunci dalam mengolah emosi pribadi. Dengan kesadaran diri yang kuat, seseorang dapat membuat keputusan yang lebih baik karena mereka mampu mengevaluasi perasaan mereka secara rasional.
Pengelolaan diri adalah kemampuan untuk mengontrol impuls dan emosi negatif, yang sangat penting untuk mencapai kinerja optimal. Goleman menjelaskan fenomena “amygdala hijack,” yaitu ketika amigdala mengambil alih fungsi otak rasional, menyebabkan respons emosional yang berlebihan. Namun, melalui latihan seperti mindfulness dan meditasi, seseorang dapat memperkuat sirkuit otak yang membantu mengelola stres dan emosi, mengurangi dampak negatif dari hijack ini.
Kesadaran sosial adalah kemampuan untuk memahami dan merespons emosi orang lain, termasuk empati. Temuan tentang neuron cermin, yang memungkinkan kita untuk “mencerminkan” emosi orang lain, menyoroti bagaimana otak sosial kita dirancang untuk koneksi interpersonal. Misalnya, ketika seseorang berbicara dengan nada positif, emosi tersebut dapat menular ke orang lain, membangun hubungan yang lebih harmonis. Sebaliknya, nada negatif dapat menciptakan ketegangan.

Manajemen hubungan mencakup keterampilan interpersonal yang lebih kompleks, seperti menginspirasi orang lain, menyelesaikan konflik, dan membangun kolaborasi. Goleman menunjukkan bahwa pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu memanfaatkan EI untuk memengaruhi emosi tim mereka, menciptakan suasana kerja yang positif dan produktif.
Salah satu wawasan penting dalam buku ini adalah hubungan antara EI dan kinerja optimal. Goleman menguraikan hukum Yerkes-Dodson, yang menunjukkan bahwa ada tingkat stres optimal di mana seseorang dapat mencapai kinerja terbaik. Ketika seseorang terlalu santai, mereka mungkin kehilangan motivasi, tetapi ketika stres terlalu tinggi, hal ini dapat menyebabkan kelelahan atau "frazzle." Zona optimal, yang disebut sebagai “flow,” adalah keadaan di mana seseorang sepenuhnya terfokus dan menikmati tugas mereka. Untuk mencapai flow, seseorang membutuhkan keseimbangan antara tantangan tugas dan kemampuan mereka.

Kreativitas juga menjadi topik yang dibahas secara mendalam. Goleman menjelaskan bahwa otak kreatif melibatkan koneksi yang luas antara berbagai bagian otak, termasuk hemisfer kanan dan kiri. Selama momen “aha,” aktivitas gamma di otak meningkat, menunjukkan integrasi informasi yang tiba-tiba dan inovatif. Untuk memfasilitasi kreativitas, Goleman merekomendasikan fase relaksasi setelah konsentrasi intens, yang memungkinkan otak untuk membangun koneksi baru secara spontan.

Dalam konteks organisasi, EI memainkan peran penting dalam menciptakan tim yang efektif dan kepemimpinan yang inspiratif. Pemimpin yang memiliki EI tinggi dapat memengaruhi emosi tim mereka dengan cara yang positif, mendorong kolaborasi, inovasi, dan produktivitas. Mereka juga lebih mampu menangani konflik dengan empati dan keterampilan komunikasi yang baik.

Buku ini juga menyoroti tantangan EI di era digital. Goleman mencatat bahwa interaksi online sering kali kurang memberikan isyarat emosional, seperti nada suara atau ekspresi wajah, yang biasanya membantu kita menafsirkan pesan secara akurat. Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman, seperti dalam kasus “flaming” atau respons emosional berlebihan di email dan media sosial. Solusinya adalah dengan meningkatkan kesadaran akan dampak emosi dalam komunikasi digital dan berupaya menciptakan koneksi yang lebih manusiawi.

Secara keseluruhan, buku Emotional Intelligence ini menawarkan pandangan mendalam tentang bagaimana EI dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks pribadi maupun profesional. Dengan memahami dan mengembangkan EI, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih baik, membuat keputusan yang lebih bijaksana, dan mencapai kinerja yang lebih tinggi.

Buku ini tidak hanya relevan bagi individu yang ingin meningkatkan⁸, tetapi juga bagi organisasi yang ingin menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dan produktif.

Daftar Pustaka

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York, NY: Bantam Books.
Goleman, D. (2011). The brain and emotional intelligence: New insights. Northampton, MA: More Than Sound LLC.

Budhy Munawar-Rachman, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP) Universitas Paramadina.

Tasawuf

Ulasan Buku: Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth, The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition
 
  
Melihat perkembangan Islam di Indonesia dua puluh lima tahun belakangan, salah satu pertanda paling menyolok adalah perhatian pada tasawuf, di samping segi sosial-politik Islam yang seringkali muncul secara kontroversial. Kalau kita memperhatikan laporan media-massa, kita akan mendapatkan betapa sering muncul laporan mengenai perkembangan tasawuf, seolah-olah ada kecenderungan baru cara keberagaman masyarakat yang beralih ke cara Sufistik. 
 
Media massa sering memberitakan laporan yang “unik” mengenai kajian-kajian tasawuf itu, misalnya kita lihat ada kursus “Sufi Dancing”, ada “spiritual gathering” mengenai masalah kematian dan alam kerohanian, ada kajian mengenai kedokteran Sufi, juga psikologi Sufi yang memberi konseling atas krisis kehidupan, di sebuah TV bahkan muncul acara dengan rubrik tasawuf. Walhasil, tasawuf telah menjadi pertanda ekspresif fenomena keagamaan dewasa ini.
 
Keberagamaan Sufistik: Pengalaman Mistik
 
Tasawuf adalah segi batin dari agama. Segi lahirnya biasanya disebut syari'ah, yang terutama berisi hukum-hukum keagamaan formal (fikih), yaitu mengenai apa yang seorang beragama harus lakukan, dan apa yang dilarang. Tasawuf di samping memberi segi batin dari aspek formal keagamaan itu, juga memberi visi mengenai arti hidup beragama. Ibn al-Arabi seorang filsuf mistik paling terkemuka, membagi empat tingkat praktik dalam memahami tasawuf, yaitu syari'ah (segi esoterik hukum-hukum agama); thariqah (tarekat, sebagai jalan mistik); haqiqah (hakikat, mengenai kebenaran); dan ma'rifah (makrifat atau gnosis, yaitu pengalaman kesatuan dengan Yang Ilahi). 
 
Keempat tingkat itu dirumuskan: pada tingkat hukum (syari'ah) ada kesadaran "milikmu dan milikku", dimana hukum-hukum agama akan mengatur hak dan kewajiban antarpribadi, seperti penataan hubungan di antara orang-orang. Dalam tingkat jalan Sufi (thariqah), rumusannya menjadi "milikku adalah milikmu, milikmu adalah milikku", karena itu para Sufi diajarkan mengenal sesama Sufi sebagai saudara, untuk membuka diri masing-masing, membuka hati, termasuk derma untuk sesama dan perkembangan Sufi. Pada tingkat kebenaran (haqiqah), ada pengalaman baru "tidak ada milikku, dan tidak ada milikmu". Pada tingkat ini ada minimalisasi atas egosentrisme, dan mereka "dari luar masuk ke dalam” mencari pengalaman batiniah yang paling asli (fitrah, primordial). Dan, yang keempat adalah pada tingkat gnosis (ma'rifah) dimana yang ada "tak ada saya, dan tak ada Anda", yang ada hanya Allah. Seorang Sufi akan merealisasi pengalaman bahwa yang ada seluruhnya adalah Allah, dan tidak ada satu pun yang terpisah dari Allah: Sebuah pengalaman mistik yang sekarang sering disebut "panteisme”, yang populer dalam tasawuf dengan “wahdat al-wujud” (kesatuan keberadaan). Keempat tingkat ini adalah perjalanan, dan menjadi tujuan Sufisme, dimana pengalaman sebelumnya mendasari pengalaman selanjutnya. 
 
Maka tidak heran dalam keberagamaan tasawuf ini, pengertian yang mendalam mengenai "jalan hati" (“the path of heart”), yang tidak lain adalah "jalan kepada cinta, “the path to love” mendapat perhatian, sehingga segi-segi psikologi-spiritual menjadi begitu penting dalam jalan ini, khususnya dalam mencapai tingkat kedirian (“nafs”) yang dari sini kita bisa sampai pada pengalaman kesatuan dengan yang Ilahi itu (yang disebut “ihsan”, yaitu "seolah-olah kita melihat Tuhan, kalaupun tidak, kita tahu bahwa Tuhan melihat kita"). 
 
Tujuan jalan hati dan cinta adalah untuk mencapai "gunung dari cahaya gnosis dalam hati yang terdalam". Sabistari, seorang penyair Sufi mengatakan, "Kalau kita bisa membelah setetes air (memasuki hati kita), kita akan mendapatkan tujuh samudera (pengalaman menyatu dengan Yang Ilahi). Cahaya gnosis itu ada dalam hati manusia, yang hanya bisa didapat lewat perjalanan hati dan cinta. Lewat jalan hati dan cinta ini manusia pun menemukan kembali Dirinya yang Sejati. Kerinduan pada Diri yang Sejati ini (jiwa yang penuh ketenangan, “al-nafs al-muthmainnah”) menjadi cita-cita kaum Sufi.
 
Tasawuf positif dan dialog kemanusiaan
 
Untuk memahami makna tasawuf itu, memang diperlukan pengertian yang mendalam: yakni maknanya dalam keseluruhan keberagamaan, dan kaitannya dengan penciptaan kehidupan kemanusiaan yang lebih baik. Inilah yang disebut "tasawuf positif", sebuah tasawuf yang terbuka kepada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia untuk pertumbuhan, keseimbangan dan harmoni. Dengan tasawuf positif ini, terbuka juga kemungkinan dialog dengan berbagai ragam spiritualitas agama-agama, maupun non-agama yang semuanya sebenarnya dewasa ini menghadapi masalah besar bersama yaitu ancaman kemanusiaan!
Macam-macam tasawuf telah berkembang mengatasi krisis global kemanusiaan. Karena itu dialog di antara sesama penganut tasawuf dari berbagai agama, bisa menyumbangkan wacana untuk mengatasi berbagai krisis kemanusiaan. Apa yang disebut Hans Kung dengan "kebutuhan akan Etika global" tampaknya bisa dipenuhi dengan kerja sama agama-agama, dimulai dari pandangan positif terhadap hal yang paling dasar dari agamanya sendiri, “the heart of religion”, yaitu hakikat tasawuf itu sendiri, yang bisa mempertemukan berbagai agama. Dari sini kita bisa merambah kepada dialog bahkan “passing over” ke arah agama lain, untuk menggali dan mendapatkan kekayaan perspektif rohani. 
 
Kalau kita mengamati perkembangan kesadaran mengenai tantangan etika global itu, perkembangan tasawuf (dalam hal ini "tasawuf antar-agama") memang telah melandasi usaha-usaha bersama mencari sebuah alternatif atas pandangan kebudayaan modern yang mekanistik, sekularistik, ke arah cara pandang yang lebih ekologis dan holistik. Di sini tasawuf bertemu dengan spiritualitas agama-agama (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, mistik Kristen, new age, spiritualitas dari kearifan lokal dan seterusnya), yang bersama-sama diharapkan dapat mendorong massa yang kritis untuk melihat dunia ini secara baru. Inilah yang disebut Marilyn Ferguson sebagai “The Aquarian Conspiracy” (konspirasi Aquarius) yang menjadi pertanda dari kebangkitan tasawuf di awal milenium. 
 
Tasawuf memang mempunyai filsafat yang begitu mendalam mengenai spiritualitas dan segi-segi religiusitas keberagamaan, sehingga harapan banyak kalangan mengenai “healthy spirituality” memang bisa diperoleh dari tasawuf positif ini, di tengah ancaman "keberagamaan yang sakit" yang muncul karena otoritarianisme dalam beragama, yang dalam tasawuf digambarkan sebagai “nafs ammarah bi 'l-su” (nafsu yang mendorong kepada keburukan, Q. 12:53). 
 
Tasawuf menjanjikan penyelamatan. Apalagi di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialis, hedonis, sekular, plus kehidupan yang makin sulit secara ekonomis maupun psikologis itu, tasawuf memberikan obat penawar rohani, yang memberi daya tahan. 
 
Dalam wacana kontemporer, sering dibahas tasawuf sebagai obat mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari kehidupan di dunia ini. Ketidakjelasan atas makna dan tujuan hidup ini memang sangat tidak mengenakkan, dan membuat penderitaan batin. Maka mata air tasawuf yang sejuk dan memberikan penyegaran dan penyelamatan pada manusia-manusia yang terasing itu. 
 
Mewujudkan cita-cita ini, bukanlah hal yang berlebihan. Apalagi dewasa ini tampak perkembangan yang menyeluruh dalam ilmu tasawuf dalam hubungan inter-disipliner. Beberapa contoh bisa disebut di sini, seperti pertemuan tasawuf dengan fisika, dan sains modern yang holistik, yang membawa kepada kesadaran arti kehadiran manusia dan tugas-tugas utamanya di muka Bumi, segi yang kini disebut “The Anthropic Principle”; pertemuan tasawuf dengan ekologi yang menyadarkan mengenai pentingnya kesinambungan alam ini dengan keanekaragaman hayatinya, didasarkan pada paham kesucian alam; pertemuan tasawuf dengan penyembuhan alternatif yang memberikan kesadaran bahwa masalah kesehatan bukan hanya bersifat fisikal, tetapi lebih-lebih ruhani. Tasawuf juga telah memberikan visi keruhanian untuk psikologi, seperti pertemuan tasawuf dengan psikologi baru yang menekankan segi transpersonal; dan lain-lain pertemuan interdisipliner yang intinya sama: semua menyumbang kesadaran bahwa arti tasawuf dewasa ini bukan hanya pada kesalehan formal, tetapi justru terutama etika global! Untuk itu tasawuf memang perlu wujud dalam cara hidup. Cara hidup tasawuf bukan terutama benar dari formalnya, tetapi bagaimana nilai-nilai tasawuf itu menjadi “way of life”! Inilah pesan pokok Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya The Garden of Truth ini.
 
Tasawuf Tanpa Substansi
 
Melihat perkembangan Islam di Indonesia, belakangan ini memang kelihatan ada pergeseran orientasi keberagamaan dari kesalehan formal kepada kesalehan sufistik. Persis pada titik ini ada "demam tasawuf" yang sedang melanda masyarakat Islam ini begitu mengkhawatirkan dan perlu mendapat perhatian. 
 
Seperti kita tahu, Islam di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa sehingga kini tampak sangat formalis dalam beragama, seolah tidak ada lagi segi religiusitasnya. Bentuk-bentuk kesalehan formal dan kesalehan individual begitu menonjol. Keberagamaan sangat semarak, rumah ibadah berkembang pesat di mana-mana, jumlah orang naik haji meningkat, tetapi dari segi substansial, sebagai bangsa, keberagamaan rupanya belum mencerminkan nilai-nilai Islam. Apa yang disebut egalitarianisme, keadilan, kesadaran humanitarian, hormat kepada hukum, dan hak-hak asasi manusia, kesadaran lingkungan, kebersihan, penghargaan terhadap orang yang lemah, sikap inklusif dan pluralis, dan seterusnya, yang jelas merupakan nilai-nilai dasar agama, ternyata tidak tercermin dalam kehidupan masyarakat. Padahal kegairahan dalam beragama begitu tinggi, suasana keagamaan begitu menyolok.
Nah, kita sangat mengkhawatirkan demam tasawuf belakangan ini. Kalau demam tasawuf itu hanya kepanjangan saja dari kesalehan formal, lantas apa maknanya? Antara tasawuf dan bukan tasawuf tidak ada bedanya: sama-sama kesalehan formal yang tidak mencerminkan religiusitas! Demam tasawuf, mudah-mudahan tidak hanya merupakan kelanjutan dari kesalehan formal, yang kalau hanya begini, ya ibarat buih dalam lautan: tidak bermakna apa-apa secara sosial! Nasr dalam buku ini memberi uraian yang mendalam dan luas tentang tasawuf dan nilai-nilai itu. 
 
Maka kita berharap demam tasawuf ini, tidak merupakan langkah mundur dalam beragama, tetapi merupakan awal dari perkembangan Islam di Indonesia yang diharapkan dapat mewujudkan kehidupan keagamaan yang lebih terbuka, inklusif-pluralis, yang memberi rahmat kepada semua orang. Demam tasawuf semoga merupakan salah satu pertanda dari tumbuhnya kesadaran baru dalam mencari sumbangan agama-agama terhadap tantangan etika global di atas. Namun itu semua tergantung dari kemampuan kita dalam menyajikan tasawuf yang positif, bukan yang eksesif!
 
Seyyed Hossein Nasr yang dikenal sebagai filsuf Islam kontemporer, dalam buku ini memberi kita perspektif yang mendalam tentang tasawuf positif itu. Buku ini juga sering disebut sebagai buku yang memadatkan pikiran-pikiran Seyyed Hossein Nasr tentang tasawuf dan spiritualitas, yang sebelumnya tersebar dalam puluhan bukunya.

Berfilsafat Untuk Mencapai Kebahagiaan

Oleh: Budhy Munawar Rachman

Tidak alasan bagi manusia untuk berfilsafat, kecuali untuk mencapai kebahagiaan

Tinjauan buku singkat: E.F. Schumacher, A Guide for the Perplexed (1977)

Dewasa ini, kehidupan kemanusiaan kita mengalami krisis yang luar biasa. Salah satu pertanda krisis itu adalah semakin dangkalnya pengertian modern kita mengenai kehidupan manusia. Ini terutama terlihat dari pemahaman seratus tahun belakangan ini mengenai apa yang disebut sains, dan kaitannya dengan pengertian mengenai kemanusiaan. Krisis ini akhirnya, memudarkan kepercayaan pada percobaan modern untuk membahagiakan manusia. Dan semakin banyak pemikir-pemikir yang sering dianggap “aneh” yang menyarankan bahwa pemulihan harus datang “dari dalam diri manusia”, bukan hanya lewat pemecahan politis dan sistemik. Salah seorang pemikir yang dianggap aneh itu adalah E.F. Schumacher.

Buku A Guide for the Perplexed ini ditulis oleh ekonom-filsuf E.F. Schumacher, yang sebelumnya terkenal karena bukunya Small is Beatiful, yang telah menjadi semacam kitab suci para aktivis LSM pada era 1970an dan 1980-an. Buku A Guide for the Perplexed ini adalah filsafat di balik buku Small is Beatiful yang mendunia, sebagai perlawanan atas gagasan bahwa besar (hal yang massif) itu efisien.

Ada beberapa istilah penting dalam buku Schumacher A Guide for the Perplexed yang perlu mendapat perhatian seperti: “pemulihan harus datang dari dalam,” mengenai “manusia dan tingkat-tingkatnya yang lebih tinggi,” mengenai masalah “konvergen” dan “divergen” dan beberapa istilah lain. Seyyed Hossein Nasr, menyebut “His posthumous work Guide for the Perplexed is one of the most easily approachable introductions to traditional doctrines available today.” Jadi buku E.F. Schumacher ini bisa disebut sebagai buku pengantar tentang filsafat perennial yang bagus.

Peta Filosofis

Menurut Schumacher, kita memerlukan sebuah peta filosofis, yang bisa menjelaskan kita berada di mana sekarang ini, sekaligus arah perjalanan hidup kita. Selama ini peta-peta yang disodorkan oleh saintisme, yaitu sebuah paham materialisme modern, telah membiarkan tidak terjawab banyak masalah-masalah penting dari hidup manusia. Bahkan menganggapnya sebagai “bukan masalah!”

Saintisme misalnya menganggap tidak bermakna pertanyaan-pertanyaan abadi filsafat dan agama, seperti: Mengapa kita ada di dunia ini. Kita berasal dari mana? Dan akan ke mana setelah kematian nanti? Apa arti dan tujuan hidup? Dan seterusnya, pertanyaan-pertanyaan perennial, yang “anehnya” oleh Schumacher ditekankan bahwa harusnya filsafat (modern) membawa manusia ke jalan itu. Tapi nyatanya semakin modern filsafat semakin jauh dari usaha menjawab pertanyaan tersebut

Oleh saintisme manusia dinilai hanyalah, tak lain dari, “suatu mekanisme biokimia pelik yang dimotori oleh suatu sistem pembakaran yang memberi tenaga kepada komputer-komputer dengan fasilitas-fasilitas penyimpanan yang luarbiasa guna memelihara informasi bersandi”. Juga sebuah pandangan reduksionistik yang misalnya lewat psikoanalisa Freud, akan menganggap perjuangan kepada nilai-nilai kemanusiaan tertinggi hanyalah, tak lain dari, “mekanisme-mekanisme pertahanan diri, dan bentukan-bentukan reaksi.”

Maka, pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa yang harus saya lakukan” apalagi “Apa yang harus saya lakukan agar selamat sebagai manusia”; pertanyaan-pertanyaan teleologis yang menyangkut tujuan hidup, akan dianggap aneh.

Keadaan dunia sekarang ini betul-betul krisis, karena tidak menganggap lagi apa yang berabad-abad sebagai pertanyaan paling penting (perennial questions), dan telah menyibukkan para filsuf, sebagai pertanyaan yang tak bermakna. Dari sudut filsafat, inilah sebenarnya agenda besar Schumacher yang dapat kita temui dalam buku ini, mencoba menjawab dengan cara yang bisa dipahami orang modern, pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Menurut Schumacher, keadaan dunia modern sekarang ini membawa kita perlu melihat lagi peta filosofis kita: Apakah peta kita itu telah memuat apa yang sungguh-sungguh penting dalam hidup kemanusiaan. Schumacher mencoba membeberkan pada kita peta yang perlu kita telaah sungguh-sungguh, yang meliputi Empat Kebenaran besar, yang dengan caranya masing-masing agama-agama besar dunia, dan filsafat sampai sebelum masa modern telah berusaha menjelaskan mengenai Empat Kebenaran ini, yaitu Kebenaran mengenai: (1) “Dunia”; (2) “Manusia” yaitu perlengkapan yang digunakan untuk berhadapan dengan “Dunia”; (3) Cara belajar tentang dunia; dan (4) Apa yang dimaksud dengan “hidup” di dunia.

Empat Kebenaran perenial ini berisi: Kebenaran tentang dunia, menyangkut “Empat Tingkat Eksistensi”. Kebenaran tentang perlengkapan yang digunakan manusia untuk berhadapan dengan dunia, adalah “Asas Ketepatan” (adaequatio). Kebenaran tentang cara belajar tentang dunia meliputi “Empat Bidang Pengetahuan.” Dan Kebenaran tentang “Cara hidup di dunia” meliputi pembedaan antara dua jenis masalah, yaitu konvergen (bertitik temu), dan divergen (bertitik pisah).

Peta filosofis ini, memang bukan segala-galanya, seperti peta bukanlah teritorinya. Tetapi untuk mengerti teritori tetaplah diperlukan peta sebagai “petunjuk jalan” supaya kita tidak tersesat, atau bingung. Dan menarik buku Schumacher ini sebenarnya merupakan peta filosofis untuk kita, dalam menemukan jalan menuju kebahagiaan kehidupan manusia.

Menurut Schumkacher, para filsuf modern, pada umumnya bukanlah pembuat peta, yang setia dengan kesinambungan apa yang telah dibuat pendahulu mereka dalam tradisi filsafat yang panjang. Malah mereka adalah seperti yang telah dilakukan Descartes, bapak filsafat modern, “berpatah arang dengan tradisi, main sapu bersih, memulai dari awal, dan berusaha menemukan sendiri segala sesuatunya!” Apa yang dilakukan Descartes dan para pengikutnya, sampai masa kini, akhirnya malah “mundur dari kebijaksanaan” setelah mereka menyadari menurut mereka, bahwa jangkauan pikiran manusia sangat terbatas, dan bahwa tak ada alasan untuk menaruh perhatian kepada hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia. Ada skeptisisme yang mewarnai epistemologi modern, sehingga mereka menyerah, terutama untuk mengetahui masalah-masalah metafisika. Sementara kearifan tradisional dan perenial, yang juga tahu mengenai kelemahan pikiran manusia, mereka juga tahu bahwa tetap ada kemungkinan manusia sanggup melampaui dirinya sendiri menuju tingkat-tingkat yang makin lama makin tinggi.

Keadaan epistemologi modern telah memiskinkan pengertian kita mengenai manusia. Banyak wilayah dari apa yang telah diusahakan oleh pemikiran-pemikiran tradisional, selama ribuan tahun, tidak lagi termuat dalam peta filosofis modern. Filsafat modern juga telah kehilangan dimensi vertikal. Ketika filsafat dihadapkan pada pertanyaan, “Apakah yang harus saya perbuat dengan hidup saya?” Jawaban filsafat akan bersifat, paling jauh, adalah utilitarianisme seperti: “Jadikanlah dirimu senyaman-nyamanmu!” Atau “Bekerjalah demi kebahagiaan sebanyak-banyak orang!”. Hakikat manusia menurut pandangan modern, akibat pengaruh teori evolusi, adalah hewan “yang sedikit lebih tinggi” (tetapi tetap hewan!).

Pikiran mengenai “lompatan eksistensi” yang sangat disadari oleh para filsuf sepanjang zaman, telah diabaikan sedemikian rupa, dan dianggap kabur. Para filsuf modern menyamaratakan semua, dan menghindari istilah hirarki seperti “lebih tinggi” atau “lebih rendah.” Bandingkan dengan jawaban filsafat tradisional atas pertanyaan itu. “Kebahagiaan manusia ialah bergerak menuju kepada “yang lebih tinggi”, mengembangkan bakat-bakatnya yang “tertinggi”, memperoleh pengetahuan tentang hal-ihwal yang “lebih tinggi” dan yang “tertinggi”, serta bila mungkin, bertemu dengan Tuhan. Dan bila manusia tidak mengerjakan tugas perenialnya ini, maka berarti ia bergerak menuju kepada yang “lebih rendah”, dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang “lebih rendah” yang ada padanya seperti pada hewan, sehingga ia pun menjadikan dirinya sendiri tak bahagia, bahkan mungkin putus asa.

Suatu kepercayaan umum dewasa ini, banyak orang-orang modern tidak percaya lagi bahwa kebahagiaan yang sempurna dapat dicapai dengan metode-metode yang sama sekali tidak dikenal oleh filsafat modern. Dan ini wajar, karena tanpa pengertian kualitatif mengenai “yang lebih tinggi” dan “yang lebih rendah” maka mustahillah memikirkan pedoman hidup yang melampaui segala bentuk egoisme. Itu sebabnya memikirkan kembali adanya tingkat-tingkat eksistensi dan kaitannya dengan filsafat menjadi hal yang penting sekali, supaya kita jangan memiskinkan filsafat hanya pada pengetahuan mengenai “hal-hal yang rendah” (seperti sains) sambil menutup diri mengenai “hal-hal yang tinggi” (seperti spritualitas manusia).

Buku ini memang bukan buku sederhana, tapi begitu Anda bisa menangkap maksud dan isi buku ini, Anda akan berterima kasih pada Schumacher yang telah memberi peta filosofis tersebut, sehingga Anda jadi tahu ke arah mana Anda akan menjalani hidup ini.