Showing posts with label kisah hikmah. Show all posts
Showing posts with label kisah hikmah. Show all posts

Jalaluddin Rumi dan Kehormatan

Suatu malam, Maulana Jalaluddin Rumi mengundang gurunya, Syams Tabrizi, ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Maulana Rumi. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi.

“Apakah kau bisa menyediakan minuman khamr (arak) untukku?”

“Memangnya anda juga minum?” Rumi kaget mendengarnya.

“Iya...” jawab Syams.

”Maaf, saya tidak mengetahui hal ini,” Rumi belum juga percaya.

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah...”

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan khamr?”

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya.”

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang.”

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman.”

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur.”

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman di mana terdapat penjual arak.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman di mana terdapat penjual arak, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar. Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak, “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin Rumi yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke kedai penjual arak dan membeli arak!”

Orang itu berkata sambil menyingkap jubah Rumi. Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang...”

Orang-orang lalu bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga surban di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi, “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan.”

“Ini bukan cuka, ini arak...” bantah seseorang.

Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat.”

Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.

Sumber: Kumpulan Kisah Maulana Jalaluddin Rumi

Sang Pemilik Ombak

"Sekiranya seorang yang sempurna imannya mengguncang sebuah gunung niscaya gunung itu akan bergeser dari tempatnya." Demikian sabda Nabi Isa 'alaihissalam.
Begitu pula sabdanya kepada seorang pengikutnya dari kaum Hawariyin yang menemuinya di lautan, lalu ia pun berjalan bersama Nabi Isa di atas air.

Isa a.s. kemudian berkata, "Berikan tanganmu wahai orang yang tipis keimanannya!" Kemudian orang itu pun berjalan bersama sang nabi di atas ombak.
Lalu Isa a.s. bertanya, "Apakah engkau takut kepada ombak?"
Ia menjawab, "Ya."
Isa a.s. pun berkata, "Tidakkah selaiknya kau takut kepada Sang Pemilik ombak?"

***

Bagi seorang yang derajat imannya sudah kuat, keadaannya di dunia tidak memengaruhi penghadapan hati dan kebersyukurannya kepada Allah Ta'ala.
Seperti ketabahan Ayyub a.s. yang menerima sekujur raganya didera penyakit dan kehilangan orang-orang yang dikasihinya.
Lalu dedikasi seorang Nuh a.s. yang melaksanakan tugas menyampaikan risalah selama 950 tahun lamanya, walaupun ia telah diberi pengetahuan perihal hanya akan ada beberapa orang saja yang menjawab seruannya.
Juga kebersahajaan Rasulullah Muhammad s.a.w, beliau pernah ditawarkan oleh Jibril a.s. emas seluas dataran Mekkah yang dengannya beliau bisa membangun kerajaan yang megah dan berdakwah dengan gagah perkasa.

Akan tetapi sang Ayyub memilih menerima tamu yang dikirim Sang Kekasihnya walaupun itu berupa sesuatu yang menyakitkan.
Nabiyullah Nuh a.s. tetap berdiri tegak melaksanakan tugasnya merenda hari hingga memenuhi waktu tugasnya selama 950 tahun, walau telah mengetahui secara kuantitatif hasil yang akan didapatkan bisa dibilang "tidak berhasil".
Dan sang insan yang mulia, Rasulullah Muhammad s.a.w lebih memilih lapar - mengikat batu di perutnya demi mengganjal rasa lapar dan hidup dalam kesederhanaan seraya berkata "..aku lebih senang sehari lapar dan sehari kenyang. Tatkala hari yang aku merasakan lapar, aku merendah diri dan berdo’a kepada-Mu, sementara tatkala hari yang aku merasakan kenyang, aku bersyukur dan memuji-Mu."

Hamba yang sejati, walaupun kekuatan iman mereka mampu mengubah dunia, mereka tidak lakukan itu seenaknya,
demikian etika luhur yang mereka bangun dengan Sang Khalik.
Adalah mudah bagi mereka hanya sekadar menghilangkan penyakit dari tubuh, mengubah daun menjadi emas atau melakukan sekian banyak mukjizat. Namun mereka adalah manusia-manusia yang telah mati dari keinginan pribadinya, karena jiwanya sudah demikian berserah diri dalam karsa Allah Ta'ala.

Lagipula, mukjizat yang paling hebat di dunia ini sesungguhnya adalah ketika seseorang berubah menjadi baik hatinya (taubat) dan manakala seorang insan tertransformasi jiwanya. Hal yang satu ini tak ada yang bisa mengintervensi karena datangnya cahaya hidayah murni kuasa Allah Ta'ala.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Oleh karena itu dikatakan Al Qur'an sebagai mukjizat terbesar yang dibawa Rasulullah Muhammad saw, jauh melebihi kedahsyatan pagelaran mukjizat Musa a.s. yang membelah lautan. Karena Al Qur'an mampu dengan efektif mentransformasi jiwa-jiwa manusia yang terpuruk dan lalai dengan kehidupan akhiratnya.

Masalahnya sudah sejauh mana kita telah ditransformasi oleh Al Qur'an? Sudah sedekat apa interaksi kita dengannya? Sudah sesering apa waktu kita luangkan untuk sekadar beraudiensi dengannya?

Sang Nabi Isa a.s. menguji tauhid seseorang dengan dihadapkan dengan gelombang di lautan. Kita pun sudah pasti pernah, sedang dan akan berhadapan dengan gelombang kehidupan kita masing-masing yang kita dibuat termehek-mehek karenanya, yang kita dibuat susah tidur malam dibuatnya, hingga tak jarang membuat orang berputus asa dari janji Allah dan dengan mudahnya memalingkan wajah kepada berhala-berhala kehidupan yang selalu menggapai-gapai manusia-manusia yang lemah imannya itu.

Kiranya pertanyaan Sang Nabi relevan untuk kita renungkan, saat kita masih dibuat khawatir oleh bayangan tentang hari esok, dibuat resah oleh doa-doa kita yang belum dikabulkan dan dibuat gentar hati oleh kekurangan rezeki lahir dan batin. Semua ombak-ombak kehidupan yang membuat kita takut. Hingga sang Nabi pun berkata, "Tidakkah selaiknya kau takut kepada Sang Pemilik ombak?" []

- disalin dari fb Tessa Sitorini

⁠⁠⁠Rezeki Kurma Busuk

Jika tiba-tiba rezeki saya "down", maka saya akan selalu mengingat kembali tentang yang dialami oleh Abdur Rahman bin Auf dengan kisah kurma busuknya.

Rasulullah saw pernah bersabda bahwa Abdur Rahman bin Auf r.a akan masuk surga belakangan karena proses hisabnya paling lama terhadap kekayaannya yang melimpah.

Maka mendengar hal ini, Abdur Rahman bin Auf r.a pun memutar kepala berfikir, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin lagi supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan oleh para sahabat menjadi busuk. Lalu harganya pun jatuh.
Abdur Rahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Para sahabat pun semuanya bersyukur. Alhamdulillah.. kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdul Rahman bin Auf.

Sahabatpun bergembira.
Begitu pula Abdul Rahman bin Auf r.a juga bergembira.
Semua happy!

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdul Rahman bin Auf r.a gembira juga sebab...
jatuh miskin!

MasyaAllah.. hebat.
Coba kalau kita?
Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdul Rahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga lebih cepat, sebab sudah jadi org miskin.

Namun, subhanallah. Rencana Allah itu memang terbaik.

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah KURMA BUSUK!

Utusan Raja Yaman tersebut akhirnya memborong semua kurma Abdul Rahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat harga kurma biasa.

Allahuakbar..

Hikmah adalah.. yang banyak membawa rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

ALLAH swt lah Yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat special buat kita, bahwa hal ini membuat kita semakin YAKIN bahwa rezeki itu totally dari Allah.
Bukan hanya karena usaha kita semata yang sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak.

Kadang-kadang, KEYAKINAN dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat..

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita.

Al-Busthomi dan Seekor Anjing

Kebiasaan al-Busthomi suka berjalan sendiri di malam hari. Ia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya, anjingnya berjalan lurus tidak menghiraukan sang Syekh, namun ketika sudah hampir dekat, al-Busthomi tiba tiba mengangkat gamisnya kuatir tersentuh anjing yang najis itu. Anehnya, anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana al Busthomi bisa mendengar anjing itu berkata padanya,

"Tubuhku dan gamismu sama sama kering tidak akan menyebabkan najis padamu, kalo pun engkau merasa terkena najisku, engkau tinggal basuh 7x dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Tapi jika engkau mengangkat gamismu karena menganggap dirimu yang berbaju badan manusia itu lebih mulia dariku, dan menganggap yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka NAJIS yang menempel di HATI mu itu tidak akan BERSIH walau kau basuh dengan AIR 7 SAMUDERA".

Al Busthomi kaget dan minta ma'af. Sebagai permohonan ma'afnya dia mengajak anjing itu untuk bersahabat, dan jalan bersama. Tapi Anjing itu menolaknya;

"Engkau tidak pantas berjalan denganku, mereka yang memuliakanmu akan mencemoohmu, dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada Sang Pencipta wujud ini, lihatlah aku juga tidak menyimpan sepotong tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum untuk bergantung." Anjing itu pun meninggalkan al Busthomi.

Al-Busthomi masih terdiam dan air matanya menetes: "Yaa.. Tuhanku, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tak pantas, bagaimana aku merasa pantas berjalan dengan-MU. Ampuni aku hamba-Mu yang hina ini dan sucikanlah hatiku dari najis di hatiku."

Rintangan-Rintangan di Jalan Menuju Tuhan

[Obrolan Sufi – Robert Frager, Ph.D.]

Kisah ini dikutip dari karya sufistik klasik Rumi, yakni Matsnawi.

Suatu hari, ketika Nabi Musa a.s. turun dari Gunung Sinai, seseorang bertanya, “Apakah kau bisa mengundang Tuhan untuk datang dan makan malam bersama kita?”

Nabi Musa a.s. menjawab dengan marah, “Kita tidak bisa mengundang Tuhan utk datang makan malam. Tuhan tidak makan malam. Tuhan tidak terbatas. Tuhan melampaui batasan kebutuhan akan makanan. Selain itu, Tuhan tdk memiliki mulut. Tuhan jauh melampaui bentuk ragawi manusia! Tuhan tidak seperti kau dan aku. Tuhan ada dimana-mana dan Tuhan adalah segalanya.”

“Apa kau yakin kita tidak bisa mengundang Tuhan untuk makan malam bersama kita?”

“Ya!”

Ketika Nabi Musa a.s. kembali ke Gunung Sinai, Tuhan bertanya tentang undangan tersebut. Nabi Musa a.s. berkata, “Aku bilang bahwa Kau tidak dapat makan.”

Tuhan berkata, “Tidak, Musa. Kembalilah dan katakan kepada mereka untuk menyiapkan pesta besok sore dan Aku akan datang.”

Bisakah kita bayangkan bagaimana perasaan Nabi Musa a.s.? Dia harus kembali dan mengatakan kepada kaumnya bahwa ia salah, bahwa Tuhan akan datang untuk makan malam bersama mereka. Ia harus katakan itu setelah sebelumnya mengatakan dengan tegas bahwa Tuhan tidak punya mulut, Tuhan tidak makan atau minum, dan Tuhan mestinya tidak dianggap sama seperti manusia. Tentu saja, itu akan terasa sangat berat baginya. Namun perintah Tuhan harus dijalankan. Pesan-Nya harus disampaikan.

Semua orang sangat senang mendengar kabar itu. Mereka menyiapkan sebuah pesta besar keesokan harinya. Para juru masak membuat hidangan terbaik. Semua orang sibuk mempersiapkan pesta tersebut.

Di tengah-tengah kesibukan persiapan pesta, seorang lelaki tua datang. Dia  apakah ia bisa mendapatkan makanan atau minuman?

Nabi Musa a.s. menjawab, “Tuhan akan datang utk makan malam. Tunggu sampai Tuhan datang. Tidak seorang pun boleh makan sebelum Tuhan datang!”

Para juru masak menyuruh orangtua itu bekerja mengambil air.

Waktunya makan malam tiba dan berlalu, tetapi Tuhan tdk muncul juga. Malam semakin larut. Makanan mulai jadi dingin. Tentu saja orang-orang mengeluh kepada Nabi Musa a.s.

“Pertama kau mengatakan bahwa Tuhan tidak makan, lalu kau bilang Tuhan akan datang untuk makan malam bersama kita dan sampai sekarang Tuhan belum juga muncul. Nabi macam apa kau?”

Nabi Musa a.s. yang malang tidak tahu harus berkata apa.

Keesokan harinya, Nabi Musa a.s. kembali naik ke Gunung Sinai dan mengeluh, “Wahai Tuhan, aku sudah bilang kepada kaumku bahwa Engkau tidak makan. Kemudian Engkau mengatakan akan datang makan malam, tetapi Engkau tidak muncul.”

“Aku sudah datang. Aku kehausan dan kelaparan, tetapi tidak seorang pun memberiku sesuatu untuk dimakan dan diminum. Lelaki tua yang datang dari gurun pasir adalah salah satu hamba-Ku dan ketika kalian memberi makan hamba-Ku, kalian memberi-Ku makan; sewaktu kalian melayani hamba-Ku, kalian melayani-Ku.”

Ini merupakan pelajaran yang indah. Dengan melayani makhluk Tuhan, kita melayani Tuhan dan pelayanan itu merupakan ibadah.

Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa imaji apapun yang kita punya mengenai Tuhan sesungguhnya merupakan gambaran yang tidak sempurna. Gagasan apapun yang kita miliki tentang Tuhan adalah konsep yang dibatasi, tidak cukup, dan terdistorsi berbagai batasan yang kita miliki. Konsep apapun yang kita pegang menyangkut Tuhan, lebih banyak salahnya ketimbang benarnya.

Kisah Abu Dzar

Suatu hari pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar, ketika ‘Umar sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiga pemuda bangsawan yang tampan memasuki majelisnya. Dua orang di antaranya berkata, “Kami berdua bersaudara. Ketika ayah kami sedang bekerja di ladangnya, dia dibunuh oleh pemuda ini, yang sekarang kami bawa kepada tuan untuk diadili. Hukumlah dia sesuai dengan Kitabullah.” Khalifah ‘Umar menatap orang yang ketiga dan memintanya berbicara.

“Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, Allah, Yang Selalu Hadir, mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang sebenarnya,” kata si terdakwa itu.

“Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun. Aku tiba di Madinah tadi pagi untuk berziarah ke makam Rasulullah saw. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku untuk menyucikan diri dan berwudhu. Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon kurma yang bergelantungan melewati tembok. Segera setelah aku melihatnya, aku menarik kudaku menjauhi ranting-ranting tersebut. Pada saat itu juga, seorang lelaki tua yang sedang marah mendekatiku dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke kepala kudaku, dan kudaku langsung mati. Karena aku sangat menyayangi kuda itu, aku kehilangan kendali diri. Aku mengambil batu itu dan melemparnya kembali ke orang tersebut. Dia roboh dan meninggal. Jika aku ingin melarikan diri, aku dapat saja melakukannya, tetapi ke mana? Jika aku tidak mendapatkan hukuman di sini, di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan hukuman yang abadi di akhirat nanti. Aku tidak bermaksud membunuh orang itu, tetapi kenyataannya dia mati di tanganku. Sekarang tuanlah yang berhak mengadili aku.”

Khalifah berkata, “Engkau telah melakukan pembunuhan. Menurut hukum Islam, engkau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang telah engkau lakukan.”

Walaupun pernyataan itu berarti satu pengumuman kematian, pemuda itu tetap bersabar; dan dengan tenang dia berkata, “Kalau begitu, laksanakanlah. Namun, aku menanggung satu tanggung jawab untuk menyimpan harta kekayaan anak yatim yang harus kuserahkan kepadanya bila ia telah cukup umur. Aku menyimpan harta tersebut di dalam tanah agar aman. Tak ada seorang pun yang tahu letaknya kecuali aku. Sekarang aku harus menggalinya dan menyerahkan harta tersebut kepada pengawasan orang lain. Kalau tidak, anak yatim itu akan kehilangan haknya. Beri aku tiga hari untuk pergi ke desaku dan menyelesaikan masalah ini.”

‘Umar menjawab, “Permintaanmu tidak dapat dipenuhi kecuali ada orang yang bersedia menggantikanmu dan menjadi jaminan untuk nyawamu.”

“Wahai Amirul Mukminin,” kata pemuda tersebut, “Aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mau. Hatiku sarat dengan rasa takut kepada Allah; yakinlah bahwa aku akan kembali.”

Khalifah menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu memandang kepada para pengikut Rasulullah saw yang mulia yang tengah berkerumun di sekeliling khalifah. Dengan memilih secara acak ia menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari dan berkata, “Orang ini akan menjadi jaminan bagiku.” Abu Dzar adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw yang paling dicintai dan disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, Abu Dzar setuju untuk menggantikan pemuda itu.

Sang terdakwa itu pun dibebaskan untuk sementara waktu. Pada hari ketiga, kedua penggugat itu kembali ke sidang khalifah. Abu Dzar ada di sana, tetapi terdakwa itu tidak ada. Kedua penggugat itu berkata: “Wahai Abu Dzar, Anda bersedia menjadi jaminan bagi seseorang yang tidak Anda kenal. Seandainya dia tidak kembali, kami tidak akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami.”

Khalifah berkata: “Sungguh bila pemuda itu tidak kembali, kita harus melaksanakan hukuman itu kepada Abu Dzar.” Mendengar kata-kata tersebut, setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, karena Abu Dzar, orang yang berakhlak sempurna dan bertingkah laku sangat terpuji, merupakan cahaya dan inspirasi bagi semua penduduk Madinah.

Ketika hari ketiga itu mulai berakhir, kegemparan, kesedihan dan kekaguman orang-orang mencapai puncaknya. Tiba-tiba pemuda itu muncul. Dia datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan berkeringat. “Aku mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir,” dia berkata terengah-engah, “Maafkan aku karena baru tiba pada menit terakhir. Terlalu banyak yang harus aku kerjakan. Padang pasir sangatlah panas dan perjalanan ini teramat panjang. Sekarang aku telah siap, laksanakanlah hukumanku.”

Kemudian dia berpaling kepada kerumunan massa dan berkata, “Orang yang beriman selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya sendiri adalah orang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat orang-orang berkata, ‘Orang-orang Islam tidak lagi menepati ucapannya sendiri?’”

Kerumunan massa itu kemudian berpaling kepada Abu Dzar dan bertanya apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. Abu Dzar menjawab, “Tidak, sama sekali. Tetapi, saya tidak merasa mampu untuk menolaknya ketika dia memilih saya, karena hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan haru dan kasih sayang yang tersisa dalam Islam?”

Hati dan perasaan kedua penggugat itu tersentuh dan bergetar. Mereka lalu menarik tuduhannya, seraya berkata, “Apakah kami harus menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di dalam Islam?”

(Diambil dari kitab karya seorang sufi yaitu Ibn Al-Husain As-Sulami, judulnya "Futuwwah: Konsep Pendidikan Kekesatriaan di Kalangan Sufi", Bandung: Al-Bayan, 1992, hlm. 13-15.) -- disalin dari sini

Bahaya Fitnah

“Kyai, maafkanlah saya yang telah memfitnah pak kyai dan ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan kyai.

Kyai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kyai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kyai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kyai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kyai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—

“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kyai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

“Maaf, Kyai?” Aku berusaha memperjelas maksud kyai Husain.

Kyai Husain tertawa, seperti kyai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kyai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kyai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud kyai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata kyai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

***

Keesokan harinya, aku menemui Kyai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kyai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”

Kyai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”
Aku terkejut mendengarkan permintaan kyai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.

***

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.

***

Hari berikutnya aku menemui Kyai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kyai Husain. “Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kyai Husain.

Kyai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kyai?” Aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab kyai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kau hitung!”

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”
“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.
“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim…
Astagfirulloh hal-adzhim…”
Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kyai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim...”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!

“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kyai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata, “Fitnah-fitnah itu bukan hanya tentang dirimu dan seseorang yang kau sakiti. Ia lebih luas lagi. Demikianlah, anakku, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan...”

Copas dari grup WA. Mungkin bisa menjadi pelajaran.

Arab Badui yang Berbahagia

PADA suatu hari, ketika Rasulullah Muhammad saw sedang thawaf di Ka'bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya berthawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah saw meniru zikirnya: “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di satu sudut Ka'bah dan berzikir lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah saw yang berada di belakangnya pun berzikir lagi “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang tersebut merasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kau kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah saw tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekali pun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walau pun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.

Rasulullah saw pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?”

“Ya,” jawab Nabi SAW.

Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah saw.

Melihat hal itu Rasulullah saw menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit; dia berkata, “Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: 'Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, dan akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi lalu Rasulullah saw pun menyampaikan kepada laki-laki tersebut apa yang baru saja disampaikan oleh Jibril. Orang Arab itu berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengan-Nya.”

Rasulullah bertanya: "Bagaimana engkau akan membuat perhitungan dengan-Nya?"

Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirah-Nya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawan-Nya.”

Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah saw pun menangis karena kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata pun meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: 'Berhentilah engkau menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, para malaikat penjaga Arsy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga Arsy berguncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di surga nanti.”

Betapa bahagianya orang Arab badui itu mendengar berita tersebut dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.