Showing posts with label rumi. Show all posts
Showing posts with label rumi. Show all posts

Jalaluddin Rumi dan Kehormatan

Suatu malam, Maulana Jalaluddin Rumi mengundang gurunya, Syams Tabrizi, ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Maulana Rumi. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi.

“Apakah kau bisa menyediakan minuman khamr (arak) untukku?”

“Memangnya anda juga minum?” Rumi kaget mendengarnya.

“Iya...” jawab Syams.

”Maaf, saya tidak mengetahui hal ini,” Rumi belum juga percaya.

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah...”

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan khamr?”

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya.”

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang.”

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman.”

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur.”

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman di mana terdapat penjual arak.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman di mana terdapat penjual arak, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar. Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak, “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin Rumi yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke kedai penjual arak dan membeli arak!”

Orang itu berkata sambil menyingkap jubah Rumi. Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang...”

Orang-orang lalu bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga surban di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi, “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan.”

“Ini bukan cuka, ini arak...” bantah seseorang.

Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat.”

Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.

Sumber: Kumpulan Kisah Maulana Jalaluddin Rumi

Rumi: Tentang Cinta

The rational mind is a denier of Love,
Though it may pretend to be an intimate.
It is clever and knowing, but not empty of itself.

- Jalaluddin Rumi


Cinta itu tidak mampu dijangkau dengan akal pikiran.
Ia tidak dapat dikuantifikasi ataupun dinalar dengan logika matematika.
Ia pun tak tertampung oleh hitungan timbangan untung-rugi.

Adapun akal akan selalu mencari alasan, rasionalisasi serta jawaban akan segala sesuatu.
Namun dia akan kelu di hadapan cinta.
Bahkan seorang Rumi berkata nalar pikiran seseorang bisa menghalangi sapuan cahaya cinta.
Walaupun ia tahu akan banyak hal, karena sang pikiran masih dipenuhi oleh dirinya sendiri: ambisi diri, kejayaan diri, kemuliaan diri dan eksistensi dirinya. Itu memang natur sang akal.

Hanya kekuatan cinta yang mampu memaafkan orang yang menorehkan luka demikian dalam di hati, karena memaafkan itu tidak masuk akal.
Hanya daya cinta yang mampu menyambung silaturahmi justru dengan orang yang memutus silaturahmi dengan kita, karena akal akan memberi sinyal untuk menjauhi.
Hanya cinta yang menggerakkan orang tua untuk merawat dan mengurus anak-anaknya dengan kasih sayang karena akal akan menghitung semua itu sangat merepotkan dan menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga.

Begitulah, akal terlalu pendek jangkauannya untuk mengerti sebuah tindakan cinta.
Begitu pun saat Sang Pecinta mengirimkan sapuan pembersihannya pada raga dan jiwa kita, sesakit apapun rasanya hanya hati yang mencinta yang bisa melihat kebaikan di balik itu semua dan meraih dengan penerimaan yang baik.

When Love comes suddenly and taps on your window, run and let it in but first shut the door of your reason.

- Jalaluddin Rumi

Manusia Paripurna, Insan Kamil

Mulyadhi Kartanegara

Hanya mereka yang mampu mentransenden diri konvensional, yang akan mampu menjadi manusia paripurna.

Maksudnya mentransenden itu melampaui. Jadi mereka yang bisa melampaui diri yang konvensional, yaitu diri yang dibentuk oleh sebuah masyarakat dan bukan yang diperoleh sebagai sebuah pencaharian yang intens.

Kebanyakan kita masih memiliki diri konvensional, sebuah istilah yang digunakan oleh seorang psikolog Iran, Reza Arasteh. Diri konvensional merenurut beliau adalah diri yang dibentuk oleh masyarakat, seperti etniciti, mazhab, sekte, nasionalitas dsb. Misalnya saya orang sunda, tapi sebagai seorang sunda kita masih belum bisa mengatasi diri sundanis, sehingga memandang etnis yang lain sebagai berbeda, lebih buruk dsb. Demikian juga kita masih terbentuk oleh mazhab dan sekte tertentu dan menganggap mazhab lain salah atau kurang sempurna dibanding dengan yang lain. Demikian juga diri nasionalis dan juga religius. Manusia paripurna adalah manusia yang mampu mengatasi semua sehingga memperlakukan manusia dari manapun asalnya, apapun kulit warnanya, apapun mazhabnya, nasionalitasnya bahkan agamanya, dengan penuh perhatian, cinta, simpati dan kasih sayang, tanpa buruk sangka dan projudis.

Apakah agama bisa juga disebut sebagai salah satu sekat?

Sebenarnya pada insan kamil itu tetap berpegang pada agama yang dicintainya, hanya saja sikap mereka tidak eksklusif. Bahwa Islam sebagai rahmatan lil alamin itu mereka terapkan dengan bersikap sangat baik kepada siapapun. Sementara sebagian kita masih sering melihat mereka yang tidak beragama sama sebagai lawan ataupun musuh, sehingga Islam tidak muncul dengan wajah yang memancarkan banyak cinta dan kasih.

Selain manusia paripurna/sempurna, insan kamil juga sering diterjemahkan manusia universal. Dan itu karena, memanglah orang seperti ini memiliki visi atau pandangan yang mendunia. Bicara cinta universal untuk menyayangi umat manusia se-alam dunia, apapun latar belakangnya. Sebagai contoh adalah Jalaluddin Rumi.

Ketika saya diundang ke Turki (Istanbul dan Konya) ada 150 pemakalah dari seluruh dunia, dengan bahasa, ras, mazhab dan agama yang berbeda-beda. Semuanya menghormati dan mencintai Mawlana Jalaluddin Rumi. Waktu saya merenung dan merasa bangga bahwa ada seorang Muslim, yang sudah hidup 800 tahun yang lalu, tapi masih mampu di zaman modern ini, menyatukan hati umat manusia dari seluruh penjuru dunia, dan beliau dicintai dengan tulus bukan hanya oleh orang-orang Islam tapi oleh penganut agama yang berbeda-beda. Sungguh sangat susah kita menemukan tokoh seperti itu pada saat ini. Dalam hati saya masih sangat merindukan munculnya orang seperti beliau.

Pernah suatu saat, kata almarhumah Annemarie Schimmel yang saya dengar sendiri, ada orang tertarik pada Jalaluddin Rumi, dan ingin tahu lebih lanjut tentangnya. Prof. Annemarie Schimmel bertanya apakah ia tahu tentang Nabi Muhammad dan tentang Islam. Ternyata orang itu tidak tahu banyak. Memang begitulah. Rumi lebih dikenal di Barat bahkan daripada Nabi Muhammad sendiri. Yang seharusnya tentulah tidak begitu.

Rupanya pada saat Rumi masih hidup pun beliau sudah dikenal, bahkan oleh orang-orang terkenal seperti gubernur yang berkuasa saat itu di Saljuk barat. Mawlana Rumi sendiri sebenarnya merasa aneh, kenapa orang-orang lebih mengenal dia daripada Nabinya sendiri.

Dikisahkan, suatu ketika sang gubernur datang kepada Mawlana Rumi untuk meminta nasehat atau peunjuk. Beliau bertanya, mengapa tuan datang kepada saya? Sang gubernur menjawab, "Untuk mendapatkan bimbingan."
"Kenapa meminta bimbingan kepada saya? Sudahkan Anda membaca al-Qur'an?" tanya Rumi.
"Ya," jawabnya.
"Sudahkan Anda membaca hadits?"
"Ya," jawabnya.
"Sudahkan Anda menjalankan apa yang dianjurkan keduanya?"
"Belum," jawabnya.
Lalu dengan tenang dia berkata: "Nah kalau al-Qur'an dan hasits saja Anda tak dengar dan ikuti, bagaimana saya yakin bahwa Anda akan mengikuti petuah saya."

Ini adalah anjuran dari Mawlana Rumi, bahwa sebelum Anda mengenal yang lain, maka kenalilah Allah yang menurunkan al-Qur'an dan Rasulullah dengan hadits-hadits indahnya. Ikutilah keduanya, sebelum kita mengikuti yang lain. Karena sesungguhnyalah Rasulullah adalah panutan para wali, dialah insan kamil par excellence.

***

Rumi: Sufi, Takdir, Cinta, Manusia

Meskipun sufi sering dikesankan orang yang fatalistis, pasrah kepada Allah, namun Jalaluddin Rumi, sebagai seorang sufi, justru sering membangkitkan kita untuk memilih takdir kita, untuk tidak menyerah begitu saja. Adalah keliru, menurut beliau, orang yang berpangku tangan, lalu mengharap rizki dari Tuhan.

Dengarlah pesan beliau:

"Anda diberi tangan,
Kenapa enggan direntang?
Anda diberi kaki,
Kenapa dibiarkan lumpuh?
Sesungguhnya mereka adalah
alat yang diberikan Tuhan,
Untuk kita gunakan.
Sekalipun tak sepatah kata
Kita dengar dari-Nya.
Kebebasan memilih adalah hadiah besar dari-Nya.
Sedangkan menggunakannya
Adalah cara untuk berterima kasih pada-Nya.
Jangan berhenti di tengah jalan..
Jangan lekas menyerah dan putus asa,
Jangan fatalis, jangan jadi jabariah...
Karena sesunguhnya mereka,
Telah mencampakkan hadiah,
Yang sudah berada
dalam genggaman mereka.
Ingatlah Allah telah
memasang tangga di depan kita.
Bukan untuk sekedar melihatnya,
Tetapi agar kita daki hingga puncaknya.
Kalau anda ingin bertawakkal pada Allah,
Bertawakkallah dengan karya.
Tebar benih, barulah bertawakkal pada-Nya.


Takdir menurut Rumi adalah hukum kehidupan. Dan hukum kehidupan adalah apabila anda melakukan ini atau itu, maka semua yang kita lakukan akan menuai konsekwensi. Kalau anda maling, ada konsekwensinya, kalau anda berbuat baik ada konsekwensinya, tapi anda tidak dipaksa Allah untuk maling atau berbuat baik, semua terpulang pada pilihan anda.

Sufi tidak selalu diasosiasikan dengan kelesuan dan kelusuhan. Justru kata Jalaluddin Rumi,

Seorang sufi haruslah manusia yang tangguh.
Ia harus seperti Singa Jantan,
Yang mana hewan lain mengais sisa makananannya.
Atau seperti burung Rajawali Peliharaan Raja,
Yang dengan kepakan sayapnya yang panjang dan lebar,
Melesat cepat ke istana...
Perlu beberapa bulan bagi sang zahid untuk sampai ke sana,
Tapi sang sufi hanya perlu beberapa hari saja.

Cinta, kata Rumi, adalah kekuatan fundamental alam semesta,
Langit berputar karena pesona gelombang cinta.
Kalau bukan karena cinta,
Dunia sudah lama mati,
Dan beku seperti salju.
Cintalah yang bertanggung jawab atas perkembangan alam,
Atas bersatu dan berpisahnya atom-atom,
tumbuhnya pepohonan,
Serta bergerak dan berkembangbiaknya hewan-hewan.
Setiap atom cinta pada kesempurnaan,
Maka ia meretas ke atas laksana tunas.
Karena daya dan kekuatan cinta,
Maka alam terbang dan mencari,
Seperti laron-laron mencari cahaya..
Dengan cinta, batu bisa jadi permata,
Dengan cinta, debu bisa menjadi emas berharga.

Manusia adalah mikrokosmos, karena terkandung di dalamnya
Segala unsur alam semesta.
Tapi manusia sempurna,
Kata Rumi, sebenarnya adalah makrokosmos itu sendiri,
Karena sesungguhnya karena manusialah
Alam semesta dicipta oleh Tuhannya.
Sebagaimana buah,
Sekalipun muncul di tahap akhirnya,
Tapi justru karena mengharap buahlah,
Maka sang petani menanam pohon.
Tanpa mengharap buah, tanya Rumi, akankah petani menanam pohon?
Manusia, karena itu,
Tak lain daripada tujuan akhir penciptaan dunia.
Ia berkata: Kalau bukan karena engkau,
Tak akan Aku menciptakan dunia.

Memahami Al-Quran

dari dinding fb pak Al: Penjelasan yang puitis dan luar biasa dari Rumi, bahwa bukan nalar atau 'ilmu alat setumpuk yang dikuasailah' yang bisa membuat seseorang memahami Al-Quran beserta makna batinnya, tapi "kesucian hati" untuk membaca "kitab suci" (hanya kesucian yang mengenali kesucian lainya) serta pengajaran langsung dari Allah, itulah kunci untuk membuka kekayaan Al-Quran. Sebuah 'skak mat' dari Rumi bagi kalangan yang sering arogan dan membangga-banggakan ilmu hasil belajar secara nalar saja... 

*************************************

Ketika al-Qur'an diturunkan,
ramai kaum tak beriman mencemoohkan.

(Mereka mengatakan):
"Itu hanya kisah dan cerita masa lalu;
bukan penelitian yang baru,
bukan pemikiran yang canggih;

Bahkan anak kecil pun bisa memahaminya:
hanya tentang hal-hal yang diperintahkan
dan hal-hal yang dilarang.

Kisah tentang Yusuf--
tentang betapa tampannya dia,
kisah ayahnya Ya'qub,
Zulaikha dan gairahnya.

Naskah biasa saja,
semua orang dapat memahami maknanya:
tidak terdapat bagian yang membingungkan akal."

Dia berkata:
"Jika menurutmu mudah,
buatlah satu surat saja yang semisal [1]
dan semudah al-Qur'an ini.

Kerahkanlah jin, manusia dan cerdik-pandai
diantaramu, menandingi dengan satu ayat
yang semisal."

Ketahuilah, kalimah dalam al-Qur'an itu
memiliki pengertian literal
dan makna-dalam yang sangat agung.

Dan di balik makna-dalam itu,
terdapat lapisan makna ketiga
yang didalamnya semua kecerdasan hilang akal.

Tentang makna lapis ke empat dari al-Qur'an:
sama sekali tak ada yang dapat memahaminya,
kecuali Tuhan, yang bagi-Nya tak ada sekutu,
yang bagi-Nya tak ada suatu pembanding.

Karena itu anakku,
jangan membaca al-Qur'an
hanya demi makna luarnya belaka.

Azazil memandang sang Insan,
dan didapatinya dia tersusun
hanya dari tanah liat belaka.

Aspek luar al-Qur'an itu seperti jasmani insan:
ciri-cirinya tampak;
sementara jiwanya tersembunyi.

Boleh jadi kau tinggal bersama
sanak-saudaramu selama seratus tahun,
tapi tak setipis rambut pun mereka pernah
mengenal jiwamu.

Catatan:
[1] Qs Al Baqarah [2]: 23

Sumber:
Rumi: Matsnavi III: 4237 - 4249
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh mas Herman Soetomo.

Dunia dalam Pandangan Penyair Sufi

Abdul Hadi W. M. - Facebook Notes

Iqbal, dalam bukunya yang terkenal Membangun Kembali Pemikiran Agama Dalam Islam, mengatakan bahwa menurut pandangan al-Qur'an "manusia itu bukanlah orang asing di dunia ini dan bumi bukanlah penjara bagi manusia, bukan tempat penyiksaan." Bumi malah merupakan tempat terbaik bagi manusia dalam mengembangkan kemampuan rohaninya. Apabila al-Qur'an menurunkan kisah kejatuhan Adam dari jannah (surga), al-Qur'an bermaksud menunjukkan kebangkitan manusia dari keadaan primitif (bersahaja) dengan selera naluri rendahnya, menuju kesadaran bahwa ia memiliki pribadi yang merdeka, yang mampu untuk bersikap ragu-ragu dan mampu pula untuk membangkang.

Filosof-penyair Muslim terkenal itu menyitir ayat suci yang menya-takan, "Dan Kami telah mendirikan bagimu bumi serta di dalamnya Kami berikan hal-hal yang menegakkan kehidupan. Betapa kurangnya rasa terima kasihmu."(Q. 7:10). Memang, menurut al-Qur'an, bumi tidak diciptakan dengan sia-sia, dan karenanya tidak boleh dinafikan. Ibn '' Arabi, pemikir sufi dari Spanyol, dengan tegas menyatakan bahwa dunia ini bukanlah suatu ilusi. Dunia itu nyata sebab merupakan ayat-ayat Tuhan. Oleh karena dalam diri manusia juga terbentang ayat-ayat Tuhan, maka upaya mengidentifikasikan manusia dengan dunia atau masyarakat adalah mungkin. Dengan perkataan lain dunia dan masyarakat mempunyai hu-bungan dengan manusia, baik secara jasmani maupun secara rohani.

Pandangan Iqbal tentang dunia, pun Ibn 'Arabi, mewakili pandangan sufi yang benar dan sesuai dengan amanat kitab suci. Iqbal malah mengutip sebuah ayat lagi dalam kitab suci, "Dan Kami telah menyebabkan engkau tumbuh dari bumi." Dalam sebuah sajaknya, penyair sufi penulis Musya-warah Burung yang masyhur, Fariduddin "Attar menulis:

Ketika Singa Tuhan Sayidina Ali hadir di sebuah majelis
Secara terus terang seseorang mengutuk dunia.
"Dunia itu" jawab Haidar, “tak layak dikutuk."
Celakalah kau jika mengucilkan diri dari hikmah
Dunia, Nak, adalah sebuah ladang
Untuk didatangi siang dan malam
Apa saja yang memancar dari martabat dan kekayaan iman
Semuanya diperoleh dari dunia ini.
Buah hari esok adalah kembang benih hari ini
Dan orang yang ragu akan merasakan buah pahit penyesalan
Dunia ialah tempat terbaik bagimu
Di dalamnya kau dapat menyiapkan bekal buat hari kemudian
Pergilah ke dunia, tapi jangan tenggelam oleh hawa nafsu
Dan siapkan dirimu bagi dunia lain
Jika kau berlaku demikian, dunia akan pantas bagimu
Akrabilah dunia semata demi tujuan mulia ini

Sajak ini ditulis sehubungan dengan peristiwa yang dialami oleh Khalifah keempat, Sayidina Ali, seperti tersebut dalam kitab Nahj al-Balaghah. Amirul Mukminin dikisahkan kedatangan seseorang yang mengutuk, menyumpah dan melaknati dunia. Dunia dikatakan oleh orang itu sebagai penuh kesalahan, sumber kehancuran. Padahal dalam perspektif Islam, sebagaimana dikatakan Murtadha Mutahhari, hubungan manusia dengan dunia bukanlah seperti hubungan antara seorang tawanan dengan penjaranya. Hubungan manusia dengan dunia bisa diuinpamakan sebagaimana hubungan antara petani dengan ladangnya, atau antara pedagang dengan pasar. Dunia merupakan sebuah sekolah bagi manusia, tempat melatih diri untuk mencapai kesempurnaan. Halangan untuk men-capai kesempurnaan ialah hawa nafsunya, yang membuatnya demikian terikat dan terbelenggu oleh dunia.

Nasir Khusrau, penyair sufi yang juga dikenal sebagai filosof di antara para penyair (hakim al-syu'ara) mempersembahkan puisi ini dalam kumpulan diwannya:

O Dunia, betapa tepat dan hakiki kau
Pun jika kau tak setia padaku.
Sakit dan celaka kau tampaknya bagi mata yang murung
Namun indah dan segar jika orang memandangmu dari dalam
Bila terkadang kau mematahkan satu atau dua orang sampai berkeping
Banyak orang patah kausatukan dan pulihkan kembali.
Kau busuk bagi orang yang kotor
Murni bagi yang tak cela
Jika ada yang mengutukmu, katakan olehmu,
"Kau tak memahami aku yang sesungguhnya."
Kau telah tumbuh dariku. Jika kau bijak,
Mengapa kau kutuk pohon di mana kau adalah dahannya?
Tuhan menjadikan aku sebagai jalan bagi perjalananmu mendaki
Dan kau telah tinggal di jalan rendah ini.
Tuhan menanam sebuah pohon yang dari batangnya kau tumbuh
Jika kau tumbuh lurus, kau akan selamat
Dan jika kau menyimpang bengkok, akan termakan nyala api
Ya, setiap orang membakar dahan-dahannya yang bengkok
Dan tak peduli apa kayu kenari atau cemara
Kau anak panah Tuhan yang ditujukan pada musuh-Nya
Mengapa kau aniaya dirimu dengan senjata ini?

Dalam sajak ini Nasir Khusrau menyatakan bahwa dunia ini me-rupakan laluan manusia dalam perjalanannya mendaki ke alam ketuhanan, dan agar pendakian berjalan dengan baik, maka terlebih dahulu jalan untuk mendaki hams diperbaiki. Jadi dunia harus diperbaiki sebagai persiapan jalan menuju akhirat, menuju Tuhan.

Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Adam adalah khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi, namun untuk menjadi khalifah yang baik dia harus menyempurnakan dirinya. Iqbal menunjukkan dua cara penting dalam menyempurnakan diri, yaitu melalui 'cara intelektual' dan 'cara vital'. Cara yang pertama bertalian dengan pemupukan ilmu pengetahuan, pe-nalaran dan pengasahan akal. Cara kedua, melaiui iman atau cinta ('isyq), dan pelajaran tentang cinta banyak diberikan oleh nabi-nabi, wali-wali dan para muttaqin yang telah mencapai makrifat.

Rumi melukiskan bahwa Adam lebih tinggi kedudukannya dari ma-laikat oleh karena ia memiliki ilmu pengetahuan. Namun dia jatuh ke bumi, oleh karena ilmu pengetahuan saja memang tidak cukup. Maka sebelum turun ke bumi, ia meminta petunjuk (hidayah) kepada Tuhan. Sejak itulah, dalam perspektif Islam, akal saja dipandang tidak cukup dan karenanya Islam menolak rasionalisme ekstrem. Akal harus dibimbing oleh Wahyu Ilahi.

Menurut para penyair sufi, seluruh alam semata ini digerakkan oleh daya tarik dan gravitasi umum: Seluruh partikel saling menarik satu sama lain untuk menyusun suatu pola. Jadi di dalam semesta ini terdapat pola saling menarik antara bagian-bagian. Demikian pula antara manusia dengan bumi tempat hidup, antara manusia dengan sesamanya, serta lingkungan tempatnya hidup. Wahshi Kirmani menulis dalam sajak sufi-nya:

Setiap zarrah yang menari terserap oteh kekuatan pesona yang sama
Yang menariknya menuju tujuan istimewa yang pasti
Dibawanya sekuntum bunga ke sisi kumpulan bunga lain
Dan didorongnya sedikit percikan api memburu himpunan kawan-kawannya
Dari api ke angin, dari air ke debu
Dari bawah rembulan ke puncak langit
Dari kawanan ke kawanan dari himpunan ke himpunan
Kau akan melihat pesona di setiap hal yang bergerak
Dari angkasa raya sampai ke benda-benda bumi fana.

Walaupun para penyair sufi memandang dunia sebagai suatu yang tak boleh disia-siakan, dan memandangnya sebagai memiliki tujuan yang mulia yaitu sebagai ladang untuk bercocok tanam, sebagai pasar untuk menggelar barang dagangan, namun mereka menolak sikap terikat kepada dunia. Keterikatan pada dunia, seperti sering ditulis dalam al-Qur'an, melahirkan penjajahan benda-benda atas manusia, yang derajatnya lebih tinggi dari benda-benda. Dalam sajaknya Nasir Khusrau sekali lagi menulis:

Tak pernah aku jatuh jadi mangsa dunia
Sebab tak lagi ia membelenggu hatiku
Akulah nyatanya sang pemburu dan dunia adalah mangsaku
Walau sekali ia pernah mendesakku jadi buruannya
Walau banyak orang jatuh tertusuk anak panahnya
Dia tak bisa menjadikan aku sebagai sasarannya
Jiwaku terbang mengatasi gelombang dahsyat dunia
Dan tak lagi aku takut pada ombak dan pasangnya.

Dalam Islam memang bertarung melawan sikap keduniawian, ma-terialisme, sikap terikat pada dunia, merupakan upaya manusia yang penting menuju kebangkitan kembali identitas dan.kepribadi-annya. Se-seorang harus mampu menentang setiap perbudakan dari selain Allah dan membebaskan diri dari belenggu selain Allah. Hafiz menulis dalam sajaknya:

Aku abdi dari kemurahan hatinya
Siapa bebas dari noda keterikatan pada segala di bawah kolong langit
Kecuali cinta kepada Tuhan kekasih sejati,
Akan riang bahagia dan redam segala dukanya
Terus terang kuumumkan, dengan gembira kumaklumkan
Aku abdi cinta dan bebas dari dua dunia
Kecuali demi nama Kekasih yang terukir di lubuk hati
Guru takkan mengajarkan padaku kata-kata lain.

Dalam Matsnawi Jalaluddin Rumi menyatakan bahwa tidak perlu ada pertentangan antara kehidupan dunia dan ukhrawi. Kehidupan yang satu merupakan laluan menuju kehidupan yang lain, dan antara keduanya terdapat benang penghubung yang batasnya samar. Kehidupan duniawi dan keakhiratan merupakan bagian dari satu kesatuan, dan karenanya tidak terpisahkan. Islam mengajarkan bahwa kehidupan sosial yang baik tidak mesti berbenturan dengan nilai-nilai transendental yang ingin ditegakkan dalam kehidupan. Bahkan Rumi berpendapat bahwa hidup merupakan anugerah yang harus diterima dengan penuh tanggung jawab, sebab anugerah itu datang dari Sang Pencipta. Kepercayaan kepada Yang Gaib, sisi kehidupan transendental, merupakan keharusan bagi setiap orang beriman. Namun kepercayaan kepada Yang Gaib ini tidak harus membuat orang beriman menolak keperluan berikhtiar dan mengusahakan kehidupan dunia. Bah­kan dalam Matsnawi Rumi mengingatkan agar selalu memulihkan pertalian antara kehidupan politik dan ekonomi dengan agama, karena setiap waktu hubungan itu dapat retak. Kata Rumi:

Jika kau percaya Tuhan, percayalah pada-Nya ketika bekerja
Tanamlah benih, kemudian barulah bertopang kepada Yang Maha Kuasa.

Rumi juga menganjurkan pembacanya bekerja keras dan menjauhkan diri dari sikap bersantai, termasuk dalam beribadah dan menuntut ilmu pengetahuan:

Lebih baik bertarung dengan pedih daripada bersantai
Di jalan ini biarlah kau tertempa dan tergosok dan ditantang terus.

Namun Rumi mengingatkan pula:

Jangan bangun rumahmu di tanah orang lain
Bekerjalah demi cita-citamu sendiri, jangan terjerat orang asing
Siapa orang asing itu kecuali nafsu keduniawianmu?
Ialah penyebab kesedihan dan malapetakamu
Selama kau cuma merawat dan memanjakan tubuhmu
Jiwamu takkan subur, takkan pula kukuh.

Dengan demikian tidak ada alasan buat kita untuk mengatakan bahwa sastra sufi, dan sastra sufistik, merupakan suatu pelarian dari kehidupan. Sebaliknya, ia merupakan upaya pencerahan dan pemulihan kembali kondisi kemanusiaan kita yang dapat saja rapuh disebabkan cinta kita yang berlebihan kepada dunia.