Showing posts with label anggito. Show all posts
Showing posts with label anggito. Show all posts

BELAJAR MEMAHAMI KEHIDUPAN

Pembicara: Bpk. Anggito

(Bagian ke-4 dari 4 tulisan. Tiga materi sebelumnya: (1) Belajar Bersikap Sadar, (2) Memakmurkan Diri, (3) Belajar Mengamati Pikiran Kita.)

Kehidupan yang dimaksud disini adalah kehidupan dunia. Karena di alam dunialah manusia berada pada entitasnya yang paling lengkap (jasmani & ruhani). Dan manusia menjadi istimewa, karena pada saat ia hidup di dunia, ia berada pada fase terdekat pada penciptanya.

Tapi manusia pada umumnya hanya siap hidup pada entitas jasmaninya.

Kehidupan dunia bersifat materi. Pada kehidupan dunia, tubuh manusia tidak mengalami evolusi lagi. Materi adalah sesuatu yang terbatas, yang butuh materi hanya tubuh fisik.

Kehidupan dunia adalah sekolah paling lengkap bagi jiwa (karena jiwa menempati tubuh fisik). Sebuah jiwa tidak mungkin maju tanpa melalui kehidupan dunia. Pada kehidupan dunia ini jiwa harus terlibat, tapi tidak boleh terikat.

Pertanyaannya adalah, pembelajaran seperti apa yang harus diambil di dunia ini. Dalam pembelajaran di dunia ini, yang menjadi gurunya adalah: 'alam semesta'.

Pembelajaran seperti apa yang harus dialami jiwa ketika ia menempati kehidupan fisik di dunia:

(1) Prinsip dasar kasih sayang Allah di kehidupan dunia. Seluruh aspek kehidupan harus diawali dan diakhiri oleh prinsip dasar ini.

(2) Jiwa tidak boleh lengah agar jasmani tidak mengambil alih kendali. Sesungguhnya (seharusnya) jiwa adalah pemegang kendali (menjadi majikan).
Sang jiwa secara umum butuh bimbingan dalam menjalani kehidupannya di tubuh fisiknya, maka disinilah agama dibutuhkan.

Agama adalah suatu keyakinan. Keyakinan adalah produk pikiran.

Dalam agama Nasrani, ada konsep trinitas. Tuhan menjadi manusia dalam bentuk Yesus.
Dalam agama Hindu, ada konsep trimurti.
Dalam agama Budha, Tuhan tidak bisa dikonsepkan.

Dalam agama Islam, Tuhan tidak boleh diwujudkan dalam bentuk apapun, karena Tuhan tidak berwujud. Seorang muslim mengakui konsep Tuhan dalam imajinasi (bukan khayalan..!).

# Alam semesta hanya mengenal satu hukum: 'hukum keseimbangan'.
Dan kalau tidak ada keseimbangan, alam akan berusaha mengembalikan kepada keseimbangan itu.

Kasus: Adanya lumpur lapindo, banjir, itu adalah akibat kesalahan manusia.

# Intelektualitas itu perlu, tapi bukan satu-satunya yang diperlukan.
Kesadaran rasional harus diimbangi dengan kesadaran qalbu.

# Peristiwa kematian adalah peristiwa biasa. Yang kembali kepada Allah adalah jiwa manusia, tubuh fisik hanya sementara. Kehidupan ini hanya 'sebentar'.

# Seseorang memeluk agama tertentu bukan karena kebetulan. Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Jadikan ini sebagai dasar untuk tidak mudah menilai seseorang atau sesuatu.

# Keesaan adalah simbol. Kita akan kembali kepada Allah dalam keadaan sendiri.

# Takdir itu dipilih oleh manusia itu sendiri. Allah adalah pemegang grand design. Allah berkata, silakan kamu memilih, ketika kamu salah memilih, itu tanggung jawab kamu sendiri.

Hidup harus bernilai bagi jiwamu.
Untuk belajar, jiwamu tidak boleh takut untuk salah (belajar)
dan tidak boleh angkuh terhadap kebenaran.
Sekarangmu adalah tempatmu untuk belajar.
Belajarlah sebaik-baiknya,
agar jiwamu mencapai kemajuan evolusi yang diharapkan Tuhan.
[]

BELAJAR MENGAMATI PIKIRAN KITA

Pembicara: Bpk. Anggito

(Bagian ke-3 dari 4 tulisan. Materi lainnya: (1) Belajar Bersikap Sadar, (2) Memakmurkan Diri, (4) Belajar Memahami Kehidupan.)

Pikiran adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Sebegitu dekatnya sehingga sering tidak kita sadari.

Banyak orang merasa berpikir hanya ketika terjaga. Padahal pada saat tidur, bahkan ketika mati, kita tetap berpikir tapi dengan wahana yang berbeda.

Berpikir adalah aktivitas yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehingga sering kita larut dan jadi tidak bisa mengenali bahwa kita sedang berpikir.

Konteks berpikir itu konteks jiwa.

Pertanyaannya adalah.. dengan apa kita berpikir?
Ada 2 wahana: (1) panca indera, merupakan wahana untuk berpikir logis; jenis ini mendominasi manusia, menjadi sumber kehidupan manusia, berhitung untung-rugi; pusatnya di otak (fisik); (2) hati/qalbu, bekerja berlandaskan norma-norma agama; jenis ini menjadi penyeimbang agar manusia tidak didominasi pikiran otaknya.

Yang lebih baik adalah menyeimbangkan keduanya. Permasalahannya, dari dua jenis ini yang mana yang tetap berfungsi dalam berbagai kondisi.

Bukankah ketika tidur panca indera beristirahat; bukankah ketika seseorang meninggal, otak fisiknya kehilangan kekuatan; lalu pikiran manakah yang masih berfungsi.. [Ada sisi lain yang bertugas mengamati agar keduanya ini tetap berjalan. Pengamat, yang berada di luar pikiran.]

Pikiran adalah energi—relatif halus dan ringan, serta cepat berubah. Penggerak utama pikiran adalah keinginan. Keinginan timbul dari rangsangan panca indera.

Eksistensi pikiran seseorang dengan eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang berbeda.
Tuhan memberi kebebasan kepada manusia untuk mengelola pikirannya sendiri, maka manusia harus bisa memenej pikirannya.

Alam bawah sadar seseorang luasnya tidak terbatas. Berbagai persoalan tertumpuk di alam luas itu. Dan itu bisa sesekali muncul pada saat kepekaan meningkat.

Pada saat seseorang meninggal, kadang keinginan duniawinya masih menumpuk, sakaratul maut adalah saat terakumulasinya keinginan-keinginan inderawi ketika saat harus berpindah alam. Sehingga kadang seseorang sangat lama untuk menyadari bahwa ia telah berpindah alam (dan ini yang sangat dikhawatirkan). Maka banyak-banyaklah kita mengendalikan pikiran (: keinginan). Maka ketika hidup jangan menciptakan keinginan-keinginan yang tidak realistis, yang akan membuat jiwa kita jadi jauh dari kehidupan kita.

Misal, ketika kita mencintai seseorang tapi tidak dapat terwujudkan, maka keinginan itu akan tersimpan di alam bawah sadar, dan suatu saat akan muncul. Maka jangan berkeinginan yang muluk-muluk.

Jangan ciptakan keinginan-keinginan yang tidak perlu karena ia memerlukan kesempatan untuk diwujudkan. Kendalikan keinginan.

# Mengendalikan keinginan.

'Keinginan' selalu ingin memisahkan kemudahan dengan kesusahan--padahal keduanya adalah satu paket dari kehidupan. Kita cenderung menyiapkan jiwa kita hanya untuk menghadapi satu hal, yaitu kemudahan.

Misal ketika seseorang berharap sesuatu A (kesenangan), maka seluruh energi dan emosi disiapkan ke arah itu, tapi ketika A tidak didapat, ia kecewa.
Baiknya, prediksi boleh A, tapi jiwa kita harus disiapkan untuk kemungkinan terjadi dan tidak terjadi. Jika terjadi bersyukur, jika tidak terjadi juga tidak apa-apa. Inilah jiwa yang tenang.

Pikiran seharusnya tidak boleh terpaku pada dua kutub yang ekstrim alias tidak terpengaruh oleh dua kutub. “Apakah jiwamu sama tenangnya ketika mendapat hal yang menyedihkan dan menyenangkan?”

Lalu, tidak boleh berkeinginankah..?
Merencanakan sesuatu itu perlu, tapi dasarnya adalah kekinian. Berambisi boleh, tapi pertanyaannya adalah apakah jiwa kita siap jika ambisi itu gagal atau berhasil.
Setiap ambisi itu disesuaikan dengan kondisi kejiwaan kita (disinilah peran pengamat berada), sehingga tidak membebani jiwa.
Misal, seseorang dengan ambisi besar tapi ketika tidak tercapai ia bisa bersikap tenang, biasa-biasa saja, artinya jiwanya tenang.

Perlu yang namanya mengistirahatkan keinginan, bukan meniadakan. Mengistirahatkan dalam arti memberi ruang kosong pada jiwa kita. Bukankah mangkok berguna ketika kosong, ruang kosong itu menyiratkan kegunaan. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang memiliki ruang untuk berdialog dengan Tuhan. Maka istirahatkan jiwa dari keinginan-keinginan yang tidak perlu.

Bagaimana memenej alam bawah sadar?
Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita memenej alam sadar kita (baca: terjaga) agar alam bawah sadar kita tidak terbebani dogma-dogma, aturan-aturan, pikiran-pikiran atau sesuatu yang dipaksakan. Kuncinya ada pada agama, yaitu: lakukan sesuatu dengan ikhlas.

Keikhlasan berdampingan dengan memaafkan. Ketika kita kehilangan sesuatu, kita merasa ikhlas tapi jika rasa kehilangan itu masuk ke dalam hati, jadi seolah-olah ikhlas tapi tidak ikhlas. Artinya, pikiran ikhlas tapi hati tidak.

Kalbumu adalah pintu masuk Tuhan ke dalam manusia.

# Keinginan untuk maju, maju, maju..! Pertanyaannya maju dalam hal apa?
Trend di negara-negara Barat, kemajuan materi yang tinggi tidak bisa memberi sesuatu yang mereka cari, sehingga sekarang mereka lari ke agama-agama Timur, sesuatu yang bisa memberi apa yang mereka cari.

Soal benar-salah adalah wilayah pikiran, soal baik-buruk adalah wilayah moral. Wilayahnya berbeda. Jangan lakukan apapun yang membebani jiwamu.

Surga dan neraka bisa kita ciptakan sendiri bahkan di saat kita masih hidup. Misal kita bisa ciptakan surga dalam rumah tangga kita.

Tuhan pada hakekatnya tidak mencampuri kebebasan berpikir manusia. Tidak ada yang melarang manusia untuk berpikir tentang apapun. Tapi harus diingat bahwa kebebasan berpikir ada rambu-rambunya. Kebebasan berpikir diberikan untuk menjalani kehidupan.

Manusia bisa berpikir apa saja, tidak terbatas, padahal pikiran itu sendiri terbatas. Karena pikiran itu hanya bisa menerima fakta-fakta empiris (yang adanya di wilayah panca indera).

Jangan isi jiwamu dengan kegaduhan. Istirahatkan jiwamu. Kualitasmu tidak ditentukan oleh pikiranmu, melainkan oleh ruh-mu (sang jiwa yang tenang). Maka isilah hidupmu dengan hal-hal yang akan memperkaya batinmu.[]

MEMAKMURKAN DIRI

Pembicara: Anggito

(Bagian ke-2 dari 4 tulisan. Materi lainnya: (1) Belajar Bersikap Sadar, (3) Mengamati Pikiran, (4) Belajar Memahami Kehidupan.)

Kita sering tidak sadar dengan apa yang kita lakukan.

#
Jika kita melakukan kebaikan semata-mata untuk sesuatu di luar diri, maka manfaat yang didapat juga untuk hal-hal di luar diri, dan tidak akan bisa memakmurkan diri.

Ciri bahwa kebaikan itu dilakukan atas dasar sesuatu di dalam diri, kita melakukannya tanpa pretensi, so akan lupa.
Tapi jika dilakukan karena sesuatu di luar diri, seumur hidup akan ingat. Misal, itu masjid yg saya bangun, itu anak yatim yg saya biayai, maka ketika ia memilih jalan lain, kita kecewa.

Sesuatu yang baik jika bukan berdasar kebaikan sendiri, nonsen. Banyak orang berbuat baik tapi tidak menjadi baik. Misal, pejabat korup naik haji juga.

Sholat itu kan untuk mencegah perbuatan keji & munkar, sifatnya preventif. Bukan untuk menghapus perbuatan keji & munkar.

Kekeliruan besar: Kelak timbangan pahala baik lebih besar dari pahala buruk, maka pahala baik akan menghapus dosa-dosa. Tidak ada konsepnya dosa bisa dihapus.

#
Agama apapun hakekatnya memiliki nilai-nilai kebaikan universal.
Agama adalah keyakinan, so tidak bisa diperdebatkan.

Seringkali kita memaknai perintah agama dengan hanya fokus pada perintahnya, tidak fokus pada makna dibalik perintahnya, so kehilangan arti ibadah yang memakmurkan diri kita.

#
Instrumen di dalam jiwa yang luar biasa halus: ego. Ia bisa masuk kepada siapapun, ulama, penguasa, atau siapapun. Kepada ulama misalnya ia jadi mengatasnamakan agama untuk sesuatu apapun. Ego itu masuk begitu halusnya, tidak disadari.

Ego itu adalah representasi dari dominasi tubuh fisik.

#
Bagaimana cara mengetahui sesuatu itu berasal dari hati, dan bukan dari pikiran kita (atau sebaliknya)?

Pikiran itu membedakan benar-salah, berhitung untung-rugi. Sedangkan hati, membedakan baik-buruk, berhitung sama sekali bukan untung-rugi, melainkan manfaat-tidak manfaat.

Kesadaran rasional, pusatnya di otak. Kesadaran qalbu, pusatnya di dada (hati?).

#
Takut pada kematian, menganggap kematian sebagai hukuman. Yang benar, kematian adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang sangat besar.

Adalah pemahaman yang keliru jika kematian diartikan sebagai akhir dari segalanya. Yang benar, kematian adalah perpindahan eksistensi saja, malah merupakan awal dari segalanya.

Kalau ibadah kita telah bisa benar-benar menyentuh jiwa kita.

#
Bedanya sukma dan ruh?

Manusia terdiri dari jasmani dan ruh(ani). Jiwa itu letaknya di antara jasmani dan ruh. Jiwa lebih dekat kepada jasmani, bagian-bagiannya adalah: akal, hati, pikiran, emosi, dan perasaan. Ruhahi lebih dekat kepada Tuhan. Ruh adalah satu entitas yang tidak terjelaskan. Dalam konsep kepercayaan Timur, ruh adalah entitas yang dimana Tuhan ada di dalamnya.

Untuk mengenal ruh, harus mengenal jiwa.

#
Misi jiwa di dunia adalah untuk ber-evolusi. Sekolahnya di kehidupan dunia. Tapi jasmani (baca: dunia) tidak boleh dinafikan, dunia adalah tempat jiwa belajar.

Ayat Quran: Aku hidupkan engkau, Aku matikan engkau, empat kali. Apakah kamu tidak berpikir?
Empat kali ini diterjemahkan sebagian ulama sebagai 4 alam: rahim, dunia, barzakh dan akhirat.

Dalam agama lain ada konsep bahwa setiap jiwa akan ber-reinkarnasi ratusan kali sampai dia sadar sebagai ruh (dalam kepercayaan Timur).

Tahapan kesadaran:
  • Sadar sebagai fisik
  • Sadar sebagai jiwa. Masuk ke tahap mengendalikan jiwa, kesadaran masih dalam konteks pikiran, tahap mencapai jiwa yang tenang.
  • Sadar sebagai ruh. Kesadaran di luar konteks pikiran. Kesadaran dimana Tuhan tidak terjangkau.

#
Hati (qalb'), sifatnya labil (bolak-balik).
Dalam al Quran ada konsep nafsul muthmainnah, artinya jiwa yang tenang, jiwa yang makmur, jiwa yang tidak terpengaruh dualitas. Tidak terpengaruh dualitas artinya standar, tidak berpihak pada keduanya, susah-senang sama saja.

#
Kebahagiaan adalah kebutuhan jiwa, yang sifatnya immateri.

Misal beli baju bagus, dipakai 1-2 kali, terasa bahagia. Setelah 3 kali dipakai, dst, rasa bahagia itu hilang, mengapa?
Karena jiwa hanya punya satu kebutuhan, yaitu rasa cukup.
Sesuatu yang berlebihan, lari ke yang bersifat materi, lalu masuklah ego.

#
Tuhan tidak bisa dijangkau oleh pikiran, Tuhan tidak bisa dilibatkan dalam dualitas. Baik-buruk, senang-susah, dsb adalah konteks dualitas.

Tuhan Maha Perkasa + Maha Kuasa, adalah dualitas. Dalam hal ini Tuhan menurunkan konteksnya ke konteks pikiran untuk bisa terjangkau oleh manusia.

Tuhan tidak bisa dipikirkan, tetapi hanya bisa dirasakan (konsep ihsan dalam Islam).
Orang Kristen merasakan Tuhan dalam personifikasi Yesus.
Orang Islam merasakan Tuhan sebagai imajinasi.

#
Beda spiritualitas dan taqwa? Ketenangan jiwa adanya di mana?

Spiritualitas adalah inti agama, merupakan kebenaran universal (bukan untuk agama tertentu, tapi untuk semua agama).
Spiritualitas ~ ruh. Semua gerak kehidupan alam semesta harus difokuskan pada ruh. Dan ruh itu adalah satu: “RUH KETUHANAN”.
Agama adalah wilayah fisik. Sadar sebagai ruh artinya belajar mengatasi dualitas.

Ketaqwaan adalah bagian dalam agama. Ketaqwaan adalah ketaatan orang dalam menjalankan agama--semua perintah agama, yang tujuannya satu: “meruhanikan jasmani”.

Bila taqwa hanya diartikan fisik, tidak akan menyentuh ruh/jiwa.
Jiwa yang tidak tenang, ada yang benar akan menyanjung-nyanjung, ada yang salah akan memaki-maki.

#
Mengapa kita dihidupkan di dunia? Mengapa kita diciptakan ada laki-laki dan perempuan? Ini adalah misteri agung penciptaan (perlu pemahaman lintas agama).

Penciptaan Tuhan adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Semua dicipta untuk mengalami evolusinya masing-masing.
Evolusi fisik, fisik manusia adalah sebaik-baik penciptaan, so tidak akan berevolusi lagi.
Evolusi ruh, ruh akan terus berevolusi, sebelum mengenal jiwa dengan baik, ruh tidak akan dikenali. Untuk mengenal ruh, harus mengenal jiwa.

#
Kita menyatakan sesuatu itu 'ada', berdasar apa?
Biasanya hanya berdasar materi-fisik.

Tuhan tidak bisa dirasakan oleh jiwa, tetapi oleh RUH.
Pada saat kita mengenal Tuhan (:merasakan Tuhan), itu adalah saat dimana ruh kita bersatu atau mencapai kesadaran ruh Tuhan.

#
Jangan pernah mengajarkan pada anak didik bahwa Tuhan itu penghukum dlsb yang sejenis. Imajinasi yang salah pada anak-anak, bahwa Tuhan adalah penghukum, salahnya sampai tua imajinasi kita tidak berubah.

#
Rasulullah di gua Hira untuk bertafakur (perenungan). Meditasi itu hanya beda istilah.

Quran diturunkan untuk membenarkan masyarakat Arab yang peradabannya sangat rendah. Rasul yang ummi (tidak bisa baca tulis), lalu bagaimana beliau bisa memahami Quran yang teks (sepenuhnya teks). Ada hadits Qudsi untuk pemahaman yang lebih tinggi. Hadits Qudsi tidak dimuat dalam al Quran.


Sebuah jiwa tahu apa yang ingin ia capai,
sebelum ia masuk tubuhmu di bumi.
Namun kepribadianmu membuat pencapaian tujuan itu tertunda.
Maka, makmurkan jiwamu,
agar ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Renungan.. akan mengantarmu untuk mengenal Tuhan..
[]

Firman Allah kepada Nabi kita
(dengan demikian kepada seluruh ummatnya):

“Kebijaksanaan di dalam tindakan-Ku menciptakan engkau adalah
untuk melihat bayangan-Ku dalam cermin jiwamu, cinta-Ku dalam hatimu.”

BELAJAR BERSIKAP SADAR

Pembicara: Anggito

(Bagian pertama dari 4 tulisan. Materi lainnya: (2) Memakmurkan Diri, (3) Mengamati Pikiran, (4) Belajar Memahami Kehidupan.)

Manusia terjaga tapi tidak sadar.

Kesadaran fisik, seseorang merasa sadar ketika dalam keadaan jaga, dalam hal ini kesadaran seolah didominasi oleh panca indera.

Bagaimana agar orang tetap sadar, tidak kehilangan kesempatan untuk menghayati setiap saat yang terjadi. Moment to moment, untuk setiap hal yang terjadi, dan meninggalkan jejak pada ingatan.

Misal, bernapas, bagaimana orang bisa menyadari bahwa bernapas terjadi pada saat terjaga dan tidak terjaga. Yang artinya, kesadaran seseorang itu tidak didominasi oleh panca indera saja.

Apakah engkau menyadari ketika engkau sedang makan?
Apakah engkau menyadari ketika engkau sedang berjalan?
Ternyata tidak. Pikiran kita kemana-mana. Ternyata kita kehilangan moment.

Tidakkah kau sadari bahwa di setiap napasmu itu kau mengecap setiap makanan.
Ingat, rasa syukur bisa hilang karena kita tidak sadar.

Ketika kita mencoba sadar pada setiap menit/setiap detik yang kita lakukan, dengan itulah kita mencoba mendisiplinkan pikiran. Misal,
Jika ketika shalat kita sadari setiap ayat yang dibaca, setiap gerakan yang dikerjakan dst.
Jika ketika melihat orang yang kekurangan, setiap jengkal hati diisi dengan belas kasih.

Sadar itu harus disengaja.

Kesadaran dengan panca indera,
Saya sadar ketika melihat pemandangan karena kesadaran penglihatan berfungsi.
Saya sadar ketika merasakan hembusan angin karena kesadaran peraba berfungsi.

Ketika mimpi, kita sadar melihat kucing, tapi kesadaran penglihatan tidak berfungsi.

Ketika mendengar suara musik yang indah, suara adalah fenomena, telinga adalah sarana, mendengar adalah substansi. Yang mendengar itu bukan telinga, telinga itu sarana, bedakan dengan mendengar yang dikerjakan oleh jiwa.

Saya bisa mendengar suara Tuhan tanpa telinga. Saya bisa melihat Tuhan tanpa mata.

Manusia itu harus sadar akan jiwanya. Harus belajar sadar. Peningkatan kesadaran tidak mungkin terjadi tanpa tubuh fisik. Ada 3 cara untuk belajar sadar, (1) bernapas dengan sadar (2) menjadi pengamat bagi diri sendiri (3) mempertahankan sikap sadar dengan tersenyum. Ketiga cara itu mengarah pada mendisiplinkan pikiran agar tidak mengarah kemana-mana.

Ad. 1 Bernapas dengan sadar. Napas adalah inti.

Ketika marah, napas memburu. Tenangkan, napas mereda, pikiran tenang.
Anda masih berjiwa ketika Anda bernapas. Kesadaran bernapas adalah titik awal.
Belajar menghayati napas, menjadi terlatih untuk tidak tertarik pada salah satu dari dua kutub: terlalu bahagia, napas memburu; terlalu marah juga napas memburu. Tidak tertarik pada salah satu dari dua kutub, artinya menjadi jiwa yang tenang.

Ad. 2 Menjadi pengamat bagi diri sendiri.

Ketika berjalan di sawah. Katakan bahwa saya sedang berjalan di sawah.

Ketika sedih, kita sadar bahwa kita sedang sedih. Artinya, kita berada di luar kesedihan itu.
Napas dikendalikan, dipusatkan, perhatikan napas Anda, tenang, pikiran terkontrol, kesedihan disadari (terkontrol), tidak terjebak dalam dualitas dua kutub (senang-sedih).

Ketika melewati jalan macet, disadari, dihayati, dinikmati. Tanpa kita terpengaruh (larut) dalam dualitas dua kutub (macet dan tidak macet).
Macet dan tidak macet adalah dua kutub. Pikiran bisa secara sadar untuk memilih macet atau memilih tidak macet (dengan berangkat lebih pagi).

Ad. 3 Mempertahankan sikap sadar dengan tersenyum.

Supaya ia meninggalkan jejak pada ingatan, maka perbuatan kesadaran yang kita lakukan itu harus punya identitas, yaitu dengan tersenyum. Tersenyumlah ketika bangun tidur, pertahankan sampai sore.

Tersenyum pada orang yang menjengkelkan kita, artinya kita tidak terikat pada orang itu. Kita tidak terpengaruh oleh perbuatannya. Kita tidak terjebak pada dualitas itu (jengkel-tidak jengkel). Kita sadar, merdeka.

Melihat kucing yang mencuri lauk kita, tersenyum, hmm.. kucing itu sudah menjalankan tugasnya dengan baik. (Kitanya yang lengah.) :)

#
Pada pikiran, ada kesadaran rasional yang berpusat di otak.
Pada perasaan, ada kesadaran qalbu yang berpusat di dada.

Apakah kesadaran bisa menemukan kebenaran?
Kebenaran ilmu pengetahuan menggunakan kesadaran pikiran.
Kesadaran agama menggunakan kesadaran moral.

#
Banyak orang bertanya tentang poligami.
Dari segi spiritual, saya tidak boleh mengomentari perbuatan orang.
Berusaha mencari jawaban, dan menemukan.. Manusia, senang memanipulasi pikirannya. Tahu mana yang benar/salah, tapi mengatasnamakan agama untuk membenarkan perbuatannya. Dari sudut fiqih, mungkin dibenarkan, tapi dengan syarat tertentu. (!) Bahkan dari sudut fiqih, hal ini menjadi perbincangan yang tidak ada selesainya.

Tapi, ingat.. Jangan pernah melukai hati perempuan. Ingatkah engkau akan satu organ di mana Allah melekatkan (menitipkan) cinta-Nya di dalam rahim (rahim = kasih sayang). Allah pun sangat memuliakan perempuan. Maka ketika melukai hati seorang perempuan, ingatlah kamu pada ibumu.

#
Manusia itu harus sadar akan jiwanya. Peningkatan kesadaran tidak mungkin terjadi tanpa tubuh fisik. Jiwa tidak bisa matang (maju) tanpa tubuh fisik. Misal, makan berlebihan, membebani fisik. Makan yang baik, memelihara fisik.

Fisik umurnya sepanjang dunia, selanjutnya akan hancur dimakan bumi.
Jiwa umurnya abadi, everlasting.

Pekerjaan mengingat adalah fungsi pikir. Tapi ia adalah pekerjaan fisik, yaitu otak.

Misal, saya sakit hati. Ingin membalas tapi tidak ada waktu. Seakan-akan hilang, tapi sesungguhnya tidak pernah hilang. Ia tetap ada, suatu saat akan muncul, dalam bentuk apapun.

Pikiran adalah energi. Energi tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk. Belajar sadar adalah mendisiplinkan pikiran.

Pada saat sakaratul maut, tubuh/otak (fisik) berhenti berfungsi. Maka semua yang ada/pernah muncul, dimunculkan kembali, semua. Maka, jangan pernah berpikiran buruk, benci, dll. (Agar khusnul khatimah pada saat sakaratul maut.)

#
Apakah ambisi Anda menunggangi pikiran. Apakah ambisi Anda untuk kesombongan. Itu semua permainan pikiran.

Ambisi itu baik, asal tidak melampaui kemampuan Anda. Atau misal seberapa besar ego mendominasi dalam ambisi ini. Apakah misal saya siaran di radio ini untuk tujuan tertentu, misal untuk mencapai posisi tertentu, di situ ego yang masih mendominasi.

Belajar sadar artinya kita menjadi tuan dalam pikiran kita sendiri. Pikiran sangat diperlukan, tapi tidak pernah boleh mengendalikan hidup kita.

Hidup selalu ada dualitas, baik-buruk, bagus-jelek, panas-dingin, dsb. Dengan menjadi sadar (belajar sadar), kita tidak akan terjebak pada dualitas itu.
[]